DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
27. Without



Elena Pov.


"Maka aku harus membunuhnya."


Napasku memburu, aku baru saja bermimpi didalam mimpi. Jantungku berdetak sangat kencang dan tanpa aku sadari tanganku langsung menyentuh perut yang datar tapi kemudian perasaan kagetku berubah. Aku menangis saat menyadari bahwa mimpi tadi hampir menjadi mimpi yang indah. Kedua tanganku menangkup wajah, rasanya begitu sesak seolah menyakitkan.


"Sunghoon..." Ku panggil namanya dengan lirih.


Dan kemudian aku teringat sesuatu. Kenapa aku berada di asrama? bagaimana dengan ritualnya? apa yang terjadi?. Aku pergi berlari ke asrama Sunghoon, pintunya terbuka dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat petugas kebersihan tengah mengosongkan asrama nomor 13.


"Kenapa kalian mengosongkan ruangan ini?" Tanyaku pada salah satu petugas.


"Kepala sekolah menyuruh kami mengosongkan ruangannya karena katanya siswa yang menempati kamar ini sudah pindah."


Rasanya jantungku jatuh kelantai.


"Kalian yakin tidak salah ruangan?" Tanyaku memastikan.


Tapi kata para petugas mereka sudah mengosongkan dan membersihkan ruangan yang benar.


Apa yang sudah terjadi? kenapa Sunghoon tiba-tiba saja pindah sementara sebentar lagi kelulusan akan digelar.


Karena aku masih tidak percaya, aku memutuskan untuk bertanya pada kepala sekolah dan jawabannya tetap sama 'Sunghoon pindah sekolah'.


Aku terdiam di kursi, melamun memikirkan Sunghoon yang tiba-tiba saja pergi. Tepat ketika sebuah mobil sedang parkir aku langsung ingat dengan kejadian semua kaca jendela mobil pecah tapi sialnya aku tidak ingat apa-apa lagi.


"Apa yang terjadi pada malam itu?" Gumam ku mengacak-acak rambut.


"Kau sudah bangun, astaga Elena aku mencari mu ku pikir kau pergi mencari Sunghoon." Haruto terengah-engah, ia menyentuh lututnya.


Aku mengangkat alis sedikit. "Kau tahu Sunghoon pergi ke mana?" Tanyaku antusias.


Haruto terdiam lalu menggeleng. "Aku tidak tahu dia pindah kemana. Yang terpenting sekarang ini kau sudah bangun, kau tertidur selama tiga hari."


"Apa? Tiga hari?" Aku terkejut tidak percaya, bagaimana mungkin aku tertidur selama itu.


Haruto mengangguk lalu melepas jas sekolahnya dan menyimpannya dibahuku. "Kau harus kembali ke asrama untuk istirahat, wajahmu masih pucat."


"Aku mau mencari Sunghoon." Kataku melepas jas Haruto lalu berjalan di lorong koridor.


Haruto mengejar dan menarik tanganku secara paksa. "Kau harus melupakannya Elena."


"Apa maksudmu aku harus melupakannya?" Aku menghempaskan tangan Haruto.


Haruto tampak kebingungan untuk menjawab.


"Kau tahu sesuatu? kau tahu alasan Sunghoon pindah? beritahu aku, Haruto." Mendadak pandanganku buram, mataku berkaca-kaca.


"Beritahu aku! kau pasti tahu sesuatu sehingga menyuruhku untuk melupakannya. Apa yang terjadi selama tiga hari itu? apa yang terjadi pada Sunghoon selama aku tertidur? kau tahu kan? kau tahu, Haruto?" Volume bicaraku langsung naik, air mata yang ku tahan tidak bisa ditahan lagi.


Rasanya aku menjadi sangat emosional, jantungku masih terasa sesak.


Haruto memelukku, dia mendekap tubuhku mencoba untuk menenangkan. Aku terisak dibalik dadanya, sakit sekali mengetahui Sunghoon pergi. Kenapa dia seperti ini? apakah aku membuat kesalahan? apa alasan Sunghoon meninggalkan sekolah? dan yang paling menyakitkan adalah, dia tidak berpamitan padaku.


Apakah setidak pentingnya itu aku dalam kehidupanmu, Sunghoon?. Sehingga kau bisa seenak jidat pergi meninggalkan aku.


Hari-hari berlalu dan dadaku masih terasa sangat sesak, seolah ada sesuatu yang mengganjal.


Aku mengikuti kelas seperti biasanya, berharap bisa mencari tahu keberadaan Sunghoon pada vampir yang lain tapi ternyata mereka juga tidak muncul disekolah. Semua anggota vampir bangsawan itu tiba-tiba saja menghilang seolah tahu akan direpotkan oleh diriku. Ku sandarkan punggung ke kursi, aneh, aku merasa tidak nyaman dengan tidak adanya para penghisap darah. Merasa kehidupanku tidak lagi menyenangkan.


Aku merindukan Sunghoon, mengingat sifatnya yang menyebalkan dan nakal membuatku semakin rindu. Aku tenggelam didalam masa-masa ketika kami bersama.


Tidurku tidak lagi nyenyak, mimpi buruk terus mengganggu. Aku memandangi space ranjang yang kosong, mengingat Sunghoon selalu berbaring di sana sembari memandangi aku. Menemaniku tidur sampai pagi. Aku menyesal dulu selalu mengusirnya.


"Kenapa kau meninggalkan aku......" Aku menyentuh dada yang mulai terasa lagi sesak. Setiap memikirkannya, setiap menangisinya nafasku akan terasa berat.


Hingga akhirnya aku menangis sampai pagi, tubuhku terasa sangat lemas. Bahkan Haruto menyuruhku untuk diam di asrama. Tepat di dekat kelas aku bertemu Gisel.


"Apa kau tau rumah Sunghoon?" Tanyaku langsung dan itu membuat Gisel terkejut.


"Aku tidak tahu rumah Sunghoon tapi aku tahu tempat mereka selalu berkumpul." Jawabnya melirikku dan melirik Haruto. Aku tahu kalau dibelakang sana Haruto sedang memberi isyarat pada Gisel untuk tidak memberitahu.


"Bisakah kau mengantar ku sana? kumohon padamu, aku ingin bertemu dengan Sunghoon sekali saja." Kataku menarik tangan Gisel. Aku benar-benar memohon padanya.


Gisel terdiam untuk beberapa saat.


Ia mengangguk pelan. "Aku akan mengantar mu kesana tapi aku tidak bisa menjamin kalau kau akan bertemu dengan Sunghoon." Ujarnya membuatku sedikit kecewa tapi tidak apa-apa aku akan terus mencarinya.


"Kau harus istirahat, kau terlihat begitu buruk El. Aku yakin Sunghoon akan marah kalau tahu kau tidak menjaga kesehatan." Lanjutnya membuatku tersenyum kecut.


Apakah mungkin Sunghoon masih khawatir dengan keadaanku sekarang?.


Setelahnya Gisel mengantarku ke tempat para bangsawan vampir berkumpul yaitu 'Rumah Cranium'. Aku sudah sering mendengarnya namun tidak tahu letak rumah itu dimana.


"Kau semakin tidak terlihat sehat, apakah ditinggalkan Sunghoon seburuk itu?"


"Mungkin sangat buruk. Aku merasa hidupku tidak berarti lagi. Berlebihan bukan?" Aku terkekeh hambar mengingat ternyata sebegitu berpengaruhnya Sunghoon untuk hidupku.


Setelah itu Gisel tidak bersuara lagi.


Kami memasuki kawasan rumah yang dipenuhi dengan pepohonan. Sudah seperti hutan tapi bukan hutan. Hanya bagian depannya saja yang rimbun. Haruto memarkirkan mobil sesuai arahan Gisel. Kami menuruni mobil dan langsung berjalan menuju pintu utama.


Haruto terus menemani aku, walau aku tahu tidak suka aku mencari Sunghoon tapi ia tidak bisa meninggalkan aku sendirian. Dia sepupu yang sangat menyayangi diriku.


Belum mengetuk pintu seseorang sudah membukanya dan mempersilahkan kami untuk masuk.


Aku memandangi Gisel yang menatap lurus, rupanya ia sedang bertatapan dengan Kak Heeseung.


Lelaki itu menyambut hangat kedatangan Gisel dengan ciuman ringan di kening dan itu membuatku dan Haruto tidak nyaman. Lebih tepatnya iri.


"Kau mencari Sunghoon?"


Aku mengangguk.


"Dia tidak ada disini, setelah kejadian malam purnama ia menghilang." Jelasnya lagi-lagi membuatku terdiam.


Sebenarnya apa yang terjadi pada Sunghoon sehingga ia menghilang secara mendadak.


"Kebetulan kau ada disini, seseorang ingin bertemu denganmu dan kemungkinan dia bisa memberi jawaban untukmu kemana perginya Sunghoon." Kak Heeseung mengantarku kesebuah ruangan lalu mempersilahkan aku untuk masuk.


Gisel tidak bisa ikut denganku karena dia punya tujuan juga untuk bertemu kekasih nya sementara Haruto dia dilarang untuk ikut. Dan aku tidak tahu alasannya kenapa kakak Hee melarang Haruto untuk ikut denganku.


Aku memasuki ruangan yang cukup besar, sebuah kamar dengan nuansa Eropa. Di atas ranjang ada seseorang tengah berbaring, dia adalah Jay. Lelaki itu terbaring dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia tampak seperti manusia biasa.


Kami saling bertatapan untuk beberapa saat.


"Apa yang terjadi padamu?" Tanyaku sembari melihat ada teko bening yang isinya terlihat jelas, yaitu darah.


"Jake menyerangku saat aku sedang mengawal kau dan Sunghoon."


to be continued....


stay safe selalu yaa Love༼ つ ◕‿◕ ༽つ.