
Masih dimalam yang sama namun berbeda tempat. Mirae masuk kedalam sebuah club malam. Dia berjalan dengan seksi membuat kaum pria tergoda. Dadanya yang besar dan pinggulnya yang kencang menjadi pusat perhatian utama terlebih wajahnya yang terlihat seperti malaikat.
Mirae tersenyum ramah pada setiap lelaki yang bertemu mata dengannya. Saat ia duduk di hadapan bartender, seorang lelaki muda dengan pakaian rapih menarik perhatiannya. Mirae mengedipkan matanya membuat lelaki itu tersenyum malu.
Ia memesan segelas cocktail, tak lama lelaki berjas itu menghampirinya. Mengajak berkenalan dan berbincang ringan selayaknya orang baru kenal. Keduanya saling tertawa saat membahas hal-hal yang lucu. Kemudian, Mirae mendekatkan bibirnya ke telinga si lelaki dan berbisik.
"Ayo kita lewatkan malam ini dengan menyenangkan."
...****...
"Aku rasa kau perlu mengecek keberadaan Mirae, semalam aku mendapatkan kegelapan dan ku pikir itu perbuatan Mirae karena aku belum sempat mengunjunginya." Ujar Sunghoon membuka tirai hotel membuat wajahnya mengeluarkan cahaya cantik seperti glitter.
"Maaf sudah merepotkanmu dan.. terimakasih." Imbuhnya menutup panggilan.
Sunghoon bergeming untuk beberapa saat memikirkan Mirae yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Ia merasa bahwa akan ada kekacauan yang di buat oleh putri vampir tersebut.
"Kau bisa mati." Gumam Elena saat terbangun dari tidur mendapati Sunghoon tengah tersorot matahari pagi.
"Kenapa? kau takut ku tinggal mati?"
"Hah~ jangan membuat pagiku menjadi berantakan." Katanya bangkit dari tidur. Sunghoon tersenyum melihat rambut Elena yang acak-acakan, ia menghampirinya dan duduk dihadapan Elena.
"Kau sangat cantik walaupun baru bangun tidur." Seru Sunghoon mencubit gemas pipi Elena.
Gadis itu langsung membuka matanya lebar-lebar, jantungnya mendadak berdetak sangat kencang. Ada rasa senang juga malu.
"Sudahku katakan untuk jangan menggodaku." Elena menepis tangan Sunghoon.
"Aku serius, kau sangat cantik. Bagaimana, apakah tidurmu nyenyak?."
"Yah~ aku tidak bermimpi buruk hari ini. Mungkin kebetulan." Ia turun dari ranjang lalu menatap Sunghoon sebentar. Jarak keduanya sangatlah dekat.
Sunghoon mengangkat alisnya tidak mengerti.
"Kulitmu lebih pucat dari pada kemarin. Apakah vampir juga sering berubah-ubah warna kulit?" Tanya Elena masuk kedalam kamar mandi.
"Kau hanya salah lihat, bagaimana mungkin warna kulitku berubah-ubah." Sunghoon menyentuh leher belakangnya.
Elena tidak menjawabnya, gadis itu sudah menutup pintu toilet rapat-rapat.
Liburan satu hari yang di adakan oleh sekolah kini sudah berakhir. Semua siswa bergegas masuk kedalam busnya masing-masing. Begitupun dengan Elena, ia sudah berpisah dengan Sunghoon karena Sunghoon satu bus dengan ketiga saudaranya.
Saat hendak menyimpan tasnya dengan cepat Nicholas membantunya dan itu membuat Elena terbantu.
"Terimakasih~." Seru Elena lalu duduk.
Kesenangan Elena tidak sampai disitu saja, Nicholas bertukar tempat duduk dengan Haruto sehingga mereka berdua kini duduk bersebelahan. Di kursi bagian kiri, Haruto dan Karen tidak berhenti bertengkar, berbeda dengan Nicholas dan Elena yang masih malu-malu.
"Maaf sudah membuatmu tidak nyaman semalam." Kata Elena membuka obrolan.
"Kau menjalin hubungan dengan Sunghoon?"
"Tentu saja tidak! dan itu tidak akan pernah terjadi!." Jawab Elena penuh penekanan seolah ia jijik jika harus menjalin asmara dengan Sunghoon.
Nicholas tersenyum kecil melihat jawaban Elena yang menurutnya lucu.
"Kalau begitu bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Ya~ tanyakan saja." Elena langsung bersedia, gadis itu semakin kagum dengan kesopanan Nicholas.
"Em.. kenapa Sunghoon menempel padamu?"
Elena terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Nicholas dan itu membuat Nicholas tidak enak. "Kau tidak perlu menjawabnya jika itu terlalu lancang."
Ia langsung menyentuh tangan Nicholas dan menggenggamnya. "Aku tidak bisa menjawabnya sekarang tapi aku berjanji pasti akan memberitahumu." Ucap Elena membuat Nicholas kebingungan.
Sunghoon yang melihat interaksi keduanya menjadi kesal. Ia menjentikkan jarinya membuat makanan yang dipegang Haruto langsung berhamburan ke tubuh Nicholas. Sontak Nicholas langsung melotot pada Haruto.
"Aku tidak tahu kenapa makanannya tumpah padamu." Kata Haruto panik.
Elena merasa ada yang aneh, ia melihat ke arah jendela dan mendapati Sunghoon tengah tersenyum di bus seberang.
"Dasar lelaki menyebalkan." Desis Elena membuat Nicholas langsung menoleh.
Sepertinya interaksi saat liburan membuat Elena dan Nicholas semakin akrab. Keduanya lebih sering mengobrol bersama dan itu menjadi suatu kemajuan bagi Elena.
Haruto memperhatikan Nicholas yang sering tersenyum akhir-akhir ini. "Kau jatuh cinta pada sepupuku kan?" Tebak Haruto membuat Nicholas langsung merapatkan bibirnya.
"Percuma ditutupi, aku sudah tahu."
"Aku tidak jatuh cinta padanya." Nicholas melirik Elena yang duduk di urutan bangku paling bawah bersama dengan Chika.
"Aku hanya ingin tahu kenapa Elena dekat dengan Sunghoon. Aku tidak mau sepupumu itu dalam bahaya." Katanya sembari menyalin tulisan dari papan tulis ke buku.
"Kau berpikir kalau Elena akan digigit?" Haruto masih belum mengerjakan tugas pelajarannya.
"Mungkin lebih parah." Sahut Nicholas menyikut lengan Haruto memberitahu kalau pak guru memperhatikan mereka. Dengan cepat Haruto mengerjakan tugasnya. Saat pak guru itu kembali menghadap papan tulis, Haruto kembali berbisik. "Kau tidak usah khawatir, selagi liontin hati itu di pakai, Elena akan baik-baik saja.".
...****...
Tangannya membawa kotak kardus berisikan buku-buku milik sekolah. Sesekali Elena berhenti di lorong karena kelelahan. Ia sudah berjalan cukup jauh dari gedung asrama ke gedung perpustakaan lama.
Sekolahnya membangun dua perpustakaan, yang satu perpustakaan untuk buku-buku usang dan yang satunya lagi perpustakaan dengan buku-buku terbaru. Keringat yang keluar dari keningnya mengucur sampai menyentuh pipi, perlahan Elena mengelapnya lalu melanjutkan langkah kaki.
Keadaan gedung perpustakaan lama cukup sepi dan sangat besar. Kemungkinan jika terjadi sesuatu di gedung ini, orang-orang tidak akan mengetahuinya. Pijakan dari sepatu pantofelnya mencipta gema membuat Elena sedikit ketakutan. Terlebih dirinya sudah tahu bahwa disekolah ini bukan hanya ada manusia biasa.
Elena sampai di meja penjaga perpustakaan, ia harus mengisi buku laporan agar kelak terbukti sudah mengembalikan buku tahun lalu.
"Silahkan di simpan pada tempatnya." Seru penjaga perpustakaan tanpa mau membimbing Elena.
Gadis itu mengangguk lalu mulai masuk kedalam labirin rak buku yang menjulang tinggi. Elena mendongak melihat atap perpustakaan, ada banyak sekali lukisan manusia yang apik. Sekolahnya memang layak disebut istana.
Ia berhasil menyimpan buku ke masing-masing tempat, hanya saja tersisa dua buah buku lagi yang letaknya entah dimana. Elena naik ke lantai dua dan tiga, mencari rombongan buku sejarah. Tapi, langkah kakinya terhenti saat ia melihat punggung seorang lelaki tengah berdiri menghadap tembok. Elena juga menyadari kalau ada siswa perempuan yang tubuhnya tertutupi oleh tubuh jangkung si lelaki.
'Mungkinkah pelecehan?' Pikirnya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Elena memberanikan diri.
Siswa lelaki itu melepas genggamannya dan pada saat itu juga tubuh si gadis melorot ke bawah. Siswa perempuan itu sudah tak sadarkan diri. Mata Elena melebar ketika melihat leher gadis itu mengeluarkan banyak sekali darah. Buku yang dipegang oleh Elena jatuh kelantai, ia menutup mulutnya syok.
Perlahan tubuh lelaki berseragam hitam itu berputar dan menunjukkan diri pada Elena. Kakinya merasa menjadi jeli, ia jatuh ke lantai saat tahu bahwa lelaki dihadapannya adalah Heeseung. Kakak kelas yang selalu bergabung dengan grupnya Sunghoon. Yakni Triple Kill.
Elena tidak bisa menggunakan semua tenaganya yang tiba-tiba saja menghilang. Ia memperhatikan Heeseung, mata yang merah, tubuh pucat dan darah segar yang menempel di mulut serta seragamnya tidak lupa taring yang mencuat membuat Elena membelalak ketakutan.
Jantung Elena berdetak sangat kencang, ini adalah kali pertama untuknya melihat seorang vampir betulan. Ia pikir vampir terlihat keren saat sedang menghisap darah tapi nyatanya sangatlah menyeramkan.
Tubuhnya bergetar hebat saat Heeseung melangkah untuk mendekati Elena. Sesekali ia melirik ke arah gadis yang kini mungkin sudah meninggal. Mungkinkah Elena juga akan bernasib sama?. Tapi, secara mendadak tubuh Heeseung jatuh ke lantai. Nalurinya sebagai manusia yang baik muncul, rasa takut Elena menghilang berubah menjadi perasaan khawatir. Gadis itu langsung mendekati Heeseung.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya ragu-ragu untuk menyentuh Heeseung. Saat Elena menyentuh tangannya, remaja vampir itu meringis semakin kesakitan.
"Kk...khh..cepat pergii...ti...tingg..galkan akuhh..." Ujar Heeseung terbata-bata.
Elena tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi gadis itu menuruti Heeseung. Ia pergi meninggalkan Heeseung untuk mencari Sunghoon. Bagaimana pun juga Heeseung perlu ditolong.
Ia berlari sekencang mungkin menghiraukan petugas perpustakaan yang menatapnya dengan curiga. Elena tidak tahu harus mencari Sunghoon kemana, sekarang hampir jam makan malam. Dan para vampir tidak makan maka kemungkinan besar Sunghoon tidak akan berada di kantin. Ia berlari ke arah gedung asrama.
"Oh Tuhan, terimakasih." Gumamnya saat melihat Jake tengah berjalan di lorong.
Ia terkejut saat melihat Elena berhenti dihadapannya dengan keadaan berkeringat. "Kakak Hee. Kak Heeseung.."
"Apa? ada apa dengan kak Hee?" Mendadak Jake langsung khawatir.
"Aku tidak bisa menjelaskannya, kau harus segera menolongnya." Elena meraih tangan Jake lalu menariknya untuk ikut berlari.
Menuju gedung perpustakaan itu lumayan lama, dan Jake tidak terbiasa dengan berlari.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Tanyanya berhenti berlari.
"Gedung perpustakaan yang dulu, ayo cepatlah." Saat Elena hendak meraih lagi tangan Jake, kali ini sebaliknya. Ia yang meraih tangan Elena dan satu detik kemudian mereka sudah berada di gedung perpustakaan tepat di lantai tiga.
Dengan cepat Jake menghampiri Heeseung yang tergeletak dilantai dengan tubuh kejang-kejang.
Elena yang belum terbiasa dengan teleportasi masih sempat bergeming sebelum akhirnya ia ikut menghampiri Heeseung.
"Aku harus membawanya ke rumah Cranium, kau.. bisa kah kau mengurus gadis itu."
"Maksudmu aku harus menguburnya?" Tanya Elena lagi-lagi syok.
"Dia belum mati. Bawa saja ke uks, aku akan menyuruh Hanabi untuk mengobatinya. Aku pergi dulu." Jake serta tubuh Heeseung langsung menghilang. Dan tak lama seorang wanita berambut panjang yang dimaksud Jake muncul.
Gadis itu tersenyum pada Elena sembari menggerutu.
"Cinta manusia memang selalu merepotkan."
to be continued....
(Sumber Pic : Pinterest).