
Bertanya pada Sunoo tidak menghasilkan apapun, vampir yang satu ini tidak menyenangkan sama sekali. Ia adalah vampir terjutek yang pernah Elena temui.
Saat perjalanan menuju kelas, Elena bertemu dengan Gisel. Siswi itu melambaikan tangannya pada Elena.
"Kau baik-baik saja? ku dengar kau digigit oleh vampir. Apakah benar vampir yang dimaksud Heeseung itu adalah Chika?" Pertanyaan Gisel membuat Elena terkekeh.
Ia mengangguk membenarkan semua pertanyaan Gisel.
"Pasti sangat buruk untukmu yang masih awal mengenal kehidupan vampir."
"Sedikit, aku sudah mulai sangat terbiasa kok." Jawabnya tersenyum tipis.
Karena jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai mereka harus mengakhiri percakapan dan setuju akan mengobrol lagi dilain waktu. Elena berlari menuju kelas Sains, ia semakin panik saat melihat pak guru sudah berjalan menuju kelas. Elena berlari sekencang mungkin untuk sampai terlebih dahulu. Ia berhasil tapi langkahnya terhenti saat melihat Sunghoon berada didalam kelas. Lelaki itu sedang duduk ditemani siswi-siswi lain disisi kanan dan kirinya. Mendadak Elena menjadi kesal. Rasa kesalnya bahkan berlipat-lipat.
"Ku beri waktu 10 detik kalau kau mau keluar dari kelasku." Ujar pak guru menyadarkan Elena.
Gadis itu membungkuk lalu berjalan menuju bangku yang kosong yaitu pojok paling belakang. Ia duduk bersama seorang siswa introvert. Bahkan sangking pendiam nya Elena tidak tahu bahwa siswa tersebut adalah teman sekelasnya.
Elena tidak fokus mengerjakan tugasnya terlebih teman sebangku yang ia pilih sepertinya tidak cocok. Elena beberapa kali menjatuhkan pulpennya kebagian meja si berkacamata.
"Kau tidak bisa diam?"
Sontak gadis itu agak melotot sedikit.
"Galak sekali." Gumam Elena meraih kembali pulpennya lalu mulai mencatat.
Waktu berjalan agak lama membuat Elena bosan dan kesal. Dibelakang ia bisa melihat semua aktifitas para siswa terlebih Sunghoon tampak nya sangat suka dikerumuni para siswi.
"Awas saja kalau kau merengek sesuatu padaku." Elena mendelik sebal.
"Sepertinya Chika sudah menggigit mu ya."
Elena langsung menoleh. "Dari mana kau tahu tentang itu?"
Remaja bernama Daniel itu membetulkan kacamata nya yang melorot. "Aku tidak hanya mengetahui tentang itu, aku juga mengetahui semua tentang vampir. Lelaki yang selalu menempel pada mu itu adalah vampir." Yang dimaksud Daniel adalah Sunghoon.
"Dan si ambisius Nicholas adalah seorang serigala sementara pria muda yang sedang mengajar adalah seorang hamba. Sama sepertimu." Daniel menoleh pada Elena sebentar lalu kembali menatap layar besar didepan.
Elena tertegun sejenak. "Apakah kau juga seorang.....
"Tidak, aku manusia. Aku hanya peka akan makhluk lain di dunia ini. Dan vampir salah satu yang membuatku fanatik untuk menggali informasi tentang mereka." Bisiknya sembari menulis.
Berbeda dengan Elena ia lebih fokus mengobrol dari pada belajar.
"Lalu kau tahu dari mana mengenai Chika yang menggigit diriku?"
"Karena aku siswa yang tidak mencolok, kau bahkan tidak akan sadar bahwa aku berada di karnaval malam itu. Dan jujur saja aku menyaksikan semua kejadian mencekam saat itu."
Elena mengatupkan bibirnya tidak percaya, kenapa lelaki ini mengatakan semuanya dengan santai padahal malam karnaval adalah mimpi buruk bagi Elena.
"Kenapa kau bisa sangat santai membicarakan ini?"
"Elena, bisakah kau menjelaskan apa itu Evolusi?" Pertanyaan tembak dari pak guru membuat Elena terkejut.
Ia berdiri. "Em..anu Evolusi adalah..." Elena terbata-bata tidak bisa menjawab. Seluruh siswa menatapnya kecuali Nicholas dan Daniel.
"Yak~ kau tidak mau membantuku?" Bisik Elena menyenggol lengan Daniel tapi remaja itu tidak terusik sama sekali.
"Evolusi sebuah perubahan pada sifat-sifat yang diwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi selanjutnya." Tanpa diduga Nicholas menjawab pertanyaan pak guru.
Elena mengangguk-angguk kikuk. Ia malu dan merasa menjadi siswa paling bodoh.
"Kau mendengarnya, Elena? Kau boleh duduk kembali dan berhenti mengajak ngobrol Daniel."
Sontak semua siswa langsung menertawakan Elena.
"Ish, padahal kau yang mengajakku berbicara duluan." Elena menggerutu lagi.
"Ketika satu organisme bereproduksi, maka keturunannya akan memiliki sifat-sifat yang baru dan tidak mungkin akan 100% sama dengan organisme terdahulunya. ^Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi. Perubahan yang terjadi pada kromosom dan gen merupakan materi dasar dari evolusi, isolasi biasanya menyebabkan munculnya spesies baru dan seleksi alam oleh adanya perbedaan reproduksi dan mutasi." Pak guru menekan slide selanjutnya yang menampakkan sebuah gambar, salah satunya foto seorang manusia yang bagian kanan tampak seperti vampir sementara bagian kirinya terlihat seperti manusia.
"Mari ambil contoh dari seorang vampir yang menikah dengan manusia."
"Saem, kenapa harus selalu menggunakan makhluk yang tidak ada di dunia sebagai contoh sains?" Pertanyaan itu mengundang siswa yang lain juga berkomentar.
"Jangan-jangan saem adalah fans garis kerasnya Edward Cullen."
Gelak tawa langsung menyelimuti kelas. Hanya orang-orang yang tahu nyatanya ada vampir yang tidak tertawa dikelas ini.
"Dasar bocah aneh." Gumam Elena pada siswa menyebalkan itu.
Pelajaran usai, diakhiri dengan kuis singkat yang secara mendadak masuk ke jadwal. Elena membereskan semua buku-bukunya dan berlari untuk mengejar Sunghoon tapi lelaki itu sudah menghilang.
"Elena buru-buru sekali." Haruto memperhatikan punggung Elena.
"Mau mengerjakan tugas malam ini?" Lanjut Haruto bertanya pada Nicholas.
Nicholas berpikir sejenak. "Tidak bisa, aku harus menemui ayah." Katanya menolak.
...****...
Di tanah Luga Ru, tanah kekuasaan milik para Serigala. Tirani mengetuk pintu dengan pelan lalu masuk kedalam setelah sang tuan rumah mengizinkan. Ia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Aku memanggilmu untuk memberi kejelasan padaku mengenai ini." Sang Ratu melempar robekan baju padanya.
Tirani langsung meraih kain tersebut dan mengendusnya. Dia mencium bau Putra Mahkota.
"Aroma tersebut adalah aroma milik Liam. Sepertinya beberapa waktu yang lalu ia menginjakkan kakinya ke istana. Aku sudah menyuruh para serigala yang lain untuk melacak aroma itu di seluruh kawasan Istana. Dan aromanya tercium sampai ke tempat sekolah Nicholas."
Tirani mencoba untuk mengontrol ekspresi wajahnya. Ia terkejut karena sepertinya sebentar lagi identitas Putra Mahkota akan terungkap.
"Ku dengar beberapa kali kau pergi ke sana, apakah sebenarnya kau sudah tahu bahwa Liam bersembunyi disekolah itu?" Pertanyaan Ratu membuatnya tersudut tapi Tirani tetap menutup mulut.
"Hamba tidak tahu Yang Mulia."
Ratu mengangkat kedua alisnya dan sedikit tersenyum. "Seharusnya aku tidak perlu bertanya padamu karena aku tahu bahwa kau tidak mungkin memberitahu tentang Liam. Kau adalah salah satu pengikut setianya Liam."
Tirani menundukkan kepalanya sembari memegangi kain baju milik Liam. Sampai mati pun ia tidak akan pernah memberitahu.
"Apakah Liam akan menampakkan dirinya kalau mengetahui bahwa mengikuti setianya sudah menjadi abu?" Ancamnya.
"Apapun keingintahuan Yang Mulai mengenai Pangeran Liam, hamba tidak bisa memberitahu sekalipun itu mengancam nyawa hamba. Karena pada dasarnya hamba sudah berjanji bahwa hamba akan bungkam jika seseorang bertanya tentang Pangeran Liam." Jelas Tirani tegas walaupun tangannya yang gemetar tidak bisa disembunyikan.
Ratu tertawa hambar setelah mendengar ucapan Tirani dan satu detik kemudian wajahnya berubah menjadi serius.
"Dengar Serigala rendahan! aku tidak akan pernah sudi kalau anak itu kembali ke tanah Luga Ru. Dia tidak boleh kembali untuk selamanya. Kehadirannya hanya akan membawa kesialan, terlebih dia bisa mengancam kedudukan Nicholas sebagai kandidat terkuat menjadi Raja berikutnya. Akan ku suruh para serigala untuk melenyapkan anak tersebut."
.
.
.
Ditempat lain Sunghoon tengah bergelantung di atap-atap kamarnya. Ia tidak kembali ke asrama karena masih marah pada Elena.
Sunghoon sedang dilanda rasa cemburu dan tiba-tiba saja ia tertawa. "Astaga, aku tidak percaya bahwa aku benar-benar punya perasaan pada Elena." Gumamnya mendarat dengan mulus di atas marmer. Ia berjalan melihat jendela yang dipenuhi dengan bulir air hujan.
Mendadak ingatannya terlempar ke beberapa hari yang lalu.
Saat itu Sunghoon dan Julius sedang mengendap-endap keluar dari kawasan para Serigala tinggal. Saat sedang mengawasi sekitar tiba-tiba saja pandangannya fokus pada seorang perempuan yang amat dikenali olehnya. Perempuan itu tengah mengobrol dengan Nicholas.
"Apakah wanita itu benar-benar Viola?"
to be continued....
(^) Sumber Google \= Evolusi
Stay Safe dan selalu pakai masker yaa✧◝(⁰▿⁰)◜✧