DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
9. Cranium



Elena marah karena lagi-lagi Sunghoon berbuat seenaknya, tangan gadis itu terluka untuk yang kedua kalinya, ia sudah menampar Sunghoon tadi.


"Biar ku lihat." Katanya namun dengan cepat Elena menghindar. Matanya mengeluarkan air mata, Sunghoon yang melihat itu terkejut tidak mengerti.


"Apakah lukanya sangat sakit sehingga kau menangis?" Tanya Sunghoon panik.


"Apa dimatamu aku ini seperti seorang ******? tidak bisakah kau lebih sopan padaku?" Tanyanya parau, air mata Elena jatuh menyusuri pipinya. Kali ini ia merasa dilecehkan.


Sunghoon semakin terkejut saat mendengar ucapan Elena. Dia mulai kebingungan karena pasalnya tidak berniat untuk melecehkan. "Elena..aku.. aku sama sekali tidak mengganggapmu seorang ******. Tidak sungguh, aku sendiri tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengontrol diri untuk tidak menciummu. Kau terlalu menggoda untukku." Penjelasan Sunghoon tidak membuat Elena merasa lebih baik. Ia justru tambah marah.


"Sepertinya otakmu itu sakit!." Seru Elena menghentikan mesin cuci secara paksa. Gadis itu mengumpulkan semua cuciannya lalu pergi meninggalkan laundri. Sunghoon yang melihat kepergian Elena merasa frustasi.


"Padahal para wanita serigala sangat suka di kecup." Gumamnya mengusap rambut ke belakang. "Apa mungkin caraku berbicara membuat Elena kesal?" Imbuhnya kebingungan.


Lima Hari Sebelumnya.


Ia parkirkan mobil kuningnya didepan gerbang lalu berjalan masuk menuju kawasan rumah elit tempat dimana para vampir berkumpul.


Dia tidak perlu menyentuh gagang pintu untuk membuka jalan, cukup dengan insting saja pintu itu akan terbuka lebar dan menampakkan para pelayan yang sedang beraktivitas. Mereka semua menunduk saat melihat Sunghoon diambang pintu. Dia adalah seorang raja dikerajaan Rodus yang keberadaannya belum benar-benar diakui, saat ini Sunghoon masih menjadi raja terendah dan dia sedang berjalan menuju puncak yang lebih baik.


Walaupun posisi Sunghoon sebagai seorang raja, tetap saja posisi bangsawan Jake dan Sunoo lebih tinggi darinya. Gelar raja milik Sunghoon tidak ada apa-apanya. Bahkan raja dan ratu sebelumnya adalah pemimpin yang penakut dan mudah ditindas oleh kerajaan lain sehingga kehadiran Sunghoon sebagai pemimpin baru cukup membuat para bangsawan elit vampir sedikit guncang. Dia berhasil bergabung dengan Cranium berkat sifatnya yang cerdik dan kekuatannya yang melimpah dan vampir seperti itulah yang dibutuhkan di Cranium.


Sepatunya yang memijak marmer menimbulkan suara nyaring, ia berjalan dengan tangan kanan yang dimasukkan kedalam saku celana. Tuxedo hitam itu melekat sempurna ditubuhnya, dasi kupu-kupu hitam melingkar dibagian leher. Rambutnya tertata rapi dengan campuran gel yang membuat helaian itu mengkilap. Semerbak parfume khas milik Sunghoon menusuk hidung Jay. Remaja itu tersenyum saat melihat saudaranya begitu tampan.


"Tidak ada yang berubah, kau masih tampan seperti terakhir kali kita berburu." Puji Jay bersalaman dengan Sunghoon.


Keenam temannya itu sudah berkumpul diatas meja dengan hidangan yang melimpah. "Maaf aku terlambat." Sesal Sunghoon meraih secangkir gelas lalu menghirup aroma cairan kental itu.


"Sepertinya kau sangat sibuk dengan para manusia." Sindir Sunoo mengangkat gelasnya.


"Ya...aku hanya mencoba bersenang-senang dengan Elena, dia gadis yang lucu dan menyebalkan." Sunghoon tersenyum kecil saat menceritakan gadis itu.


Ia menyimpan kembali gelasnya ke meja lalu bertemu mata dengan seorang teman lama. Mereka tidak saling menyapa hanya saling melempar senyuman saja. Tak lama seorang pelayan menghampirinya sembari memberikan kotak berukuran sedang pada Sunghoon. Lelaki itu membukanya dan senyuman dimulutnya semakin melebar saat melihat topeng miliknya kini sudah diperbaharui.


Setelah semuanya berkumpul, kawanan vampir itu pergi ke ruang bawah tanah dengan wajah masing-masing yang tertutup topeng. Aura dingin dan menyeramkan terpancar, siapapun yang dilihat oleh vampir Cranium pada malam ini maka mereka akan masuk kedalam sebuah permainan.


Sebuah permainan yang dibuat oleh Heeseung dan Sunghoon.


Jake membuka pintu usang yang dipenuhi debu, diruangan gelap itu terdapat seorang manusia yang tubuhnya diikat oleh rantai dan mulutnya disumpal oleh kain. Gadis bermata biru itu sudah disekap selama satu minggu. Tidak ada lecet ditubuhnya, tidak ada pula sebuah luka. Dia masih dalam keadaan baik, sebab Cranium tidak akan menyakiti korbannya sebelum permainan dimulai.


Jantung gadis itu berdetak kencang sampai-sampai Sunoo tertawa karena ritme jantungnya sangat menghibur. Matanya yang bulat memperhatikan sekumpulan lelaki yang tidak dikenal olehnya. Ia berontak saat Jake membelai rambutnya. "Ssstt... kau bisa melukai tanganmu." Bisik Jake tersenyum menyeramkan dibalik topeng.


"Kau ingin bebas dari kami, kan?" Pertanyaan Jake membuat Lucy semakin memberontak, gadis itu menggoyang-goyangkan rantai yang mengikat kaki dan tangannya.


"Kau bisa bebas jika kau menang dalam sebuah permainan." Lanjut Jake kembali berdiri lalu bergabung dengan teman-temannya.


"Kami akan melepasmu ke hutan dan kau... harus berlari mencari jalan keluar. Jika kau menang, kau bebas. Jika tidak, itu artinya kau mati." Jelas Jake membuat tubuh Lucy mengejang dan bergetar hebat. Ni-Ki yang sangat tertarik dengan perasaan takut manusia, berjongkok tepat dihadapan Lucy yang mengeluarkan keringat dingin. "Cukup tidak tertangkap oleh kami, kau bisa lolos." Ujarnya sembari menghirup napas dalam-dalam. Ni-Ki sudah tidak sabar untuk mencicipi darah Lucy.


Satu detik kemudian ruangannya berubah menjadi hutan belantara yang luas. Lucy tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya, gadis itu juga baru sadar bahwa rantai yang mengikatnya serta penyumpal mulutnya sudah menghilang. Lucy langsung menoleh ke arah sekumpulan lelaki yang sedang memperhatikannya. "Larilah~." Perintah Jake, tanpa pikir panjang Lucy langsung berlari ke sembarang arah sementara para vampir, mereka masih diam ditempat memberi waktu untuk Lucy memutari hutan.


"Lain kali kita harus mencoba permainan petak umpat." Saran Jay, dia sudah bosan dengan permainan ini.


Setelah mengatakan itu, Jay berlari mulai mengejar Lucy. Disusul oleh Sunoo dan Heeseung yang naik ke atas pohon lalu Jake yang berjalan santai serta Ni-Ki yang menghilang layaknya hantu.


Permainan sudah dimulai, para anggota Cranium mulai mengincar dan mengecoh Lucy tapi berbeda dengan Sunghoon dan teman lamanya. Dia adalah Julius, sang pemiliki nama panggilan Red Eyes.


"Bagaimana kabar kerajaanmu?." Julius menggerakkan tangannya dan pada saat itu juga Lucy terjatuh membuat kakinya terluka, berdarah. Ni-Ki yang masih belum bisa mengendalikan diri langsung tergoda saat mencium aroma darah.


"Aku senang kau bisa kembali berkumpul dengan kami." Imbuh Sunghoon melonggarkan sedikit dasinya.


"Sunoo selalu menyuruhku untuk ikut berkumpul hanya saja aku tidak enak dengan Jake, dia tidak suka padaku saat aku mulai bergabung dengan prajurit mata." Jelasnya membuat Sunghoon terdiam.


Julius tersenyum saja. "So~ ayo kita buat permainan ini tambah seru." Ujar Julius berlari kencang meninggalkan Sunghoon.


Sunghoon terkekeh kecil lalu melayangkan tubuhnya ke atas dan mulai menggoda Lucy dengan mengeluarkan suara-suara menyeramkan.


Gadis itu berlari sekuat tenaga ke arah manapun untuk mencari jalan keluar. Satu dalam benaknya saat ini, ia harus menang agar bebas dari kejaran para lelaki gila itu.


Kakinya yang tidak beralas membuat ia sering terluka dan mudah sekali lelah. Tubuhnya yang dipenuhi keringat serta tanah dan lumpur yang menempel, tidak lupa darah yang keluar dari setiap luka ditubuhnya membuat Lucy tampak kacau malam ini. Seolah sinar rembulan menertawakannya dan tidak berpihak padanya. Ia menjerit meminta tolong sampai-sampai pita suaranya sakit, siapa yang akan mendengar teriakan Lucy?.


Hutan ini bukanlah hutan biasa, hutan ini sudah dirubah dengan sihir oleh Sunghoon agar kelak Lucy tidak menang. Mereka berbohong pada Lucy agar permainan semakin seru dan mencekam.


Sesekali Lucy bisa melihat bayang-bayang topeng hitam dibalik setiap pohong besar. Ia mendongak dan terkejut saat melihat penampakkan seorang lelaki menggunakan topeng burung, Lucy menjerit membuat semua anggota Cranium tertawa. Bahkan Sunghoon merasa terhibur saat mendengar teriakan Lucy.


Gadis itu berlari dan kembali terjatuh, entah untuk yang keberapa kali. Yang pasti kini ia sudah menangis sembari meracau minta dikasihani.


"KUMOHON! KUMOHON LEPASKAN AKU!." Teriaknya yang justru membuat para vampir tambah bersemangat.


Tiba-tiba saja keadaan menjadi sunyi, suara gelak tawa tidak lagi terdengar. Lucy mengusap air matanya lalu melihat kesekeliling dengan was-was, gelap dan hanya kegelapan yang bisa dilihat olehnya.


Satu detik kemudian Lucy berteriak merasakan nyeri ditangannya seolah ada yang mencakar lengannya namun entah siapa. Ia meringis kesakitan berusaha kembali melangkahkan kakinya namun seseorang menarik kakinya sehingga ia tersungkur dan terseret beberapa meter. Wajahnya sesekali tersayat oleh ranting dan pepohonan berduri. Rasa nyeri itu dikalahkah oleh rasa takutnya, Lucy terus berteriak minta tolong dan kesakitan. Namun malang ia bukanlah manusia yang beruntung malam ini.


Setelah berhenti diseret, tubuhnya langsung melayang dan punggungnya membentur sebuah pohon besar mengakibatkan suara retakkan terdengar lalu tubuh gadis itu jatuh ke dasar tanah.


Dia sudah tidak bergerak sama sekali, dipandanginya oleh Jay dengan seksama.


"Tidak asik! kau sangat lemah." Ejeknya sembari menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Lucy.


Para anggota Cranium terkejut saat mengetahui bahwa permainannya tidak sesuai ekspetasi.


"Hey~ apa-apaan ini. Kenapa kau membunuhnya begitu cepat?" Tanya Ni-Ki kesal.


"Aku tidak berencana membunuhnya." Seru Jay kembali berdiri.


"Ah! kau merusak permainan malam ini!." Ni-Ki menyalahkan Jay.


Begitupun dengan anggota lain, mereka juga kesal namun menahan emosinya.


Jake melepas topengnya lalu mengecek keadaan Lucy yang sekarat. Gadis itu mengalami patah tulang yang amat parah.


"Kau kalah, nona." Gumam Jake membelai pipi Lucy dengan sangat hati-hati.


Gadis itu masih sadarkan diri, ia bisa melihat wajah Jake dengan jelas namun sialnya Lucy sudah sekarat sehingga ia tidak bisa melaporkan kejadian ini pada polisi.


Napas Lucy yang melemah membuat Jake tersenyum, dia senang karena pada akhirnya bisa membuat lagi party dari darah si korban.


Permainan kali ini memang tidak cukup seru namun Cranium menikmatinya...


End


to be continued...