DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
12. Suka



Jauh ditengah-tengah pantai, dua pasang Siren tengah berenang memikat satu sama lain. Saling menggoda agar kelak bisa kawin. Perlahan Siren betina mulai mengeluarkan nyanyian khasnya membuat Siren jantan terlena dan terbuai. Sirip ekornya menyala terang, siapa yang tidak terpikat oleh paras cantik seorang putri duyung?. Siren jantan itu mendekat lalu menabrakkan tubuhnya pada tubuh Siren betina. Mereka saling bergelayut membuat cahaya dari kedua ekor itu semakin cerah. Namun, kenikmatan mereka terganggu saat sebuah arus besar menghantam keduanya membuat mereka terpisah satu sama lain. Saking besarnya arus ombak, Siren betina itu terbawa ke tepi pantai sampai tubuhnya membentur batu karang.


Dia meringis kesakitan, ada beberapa luka dilengannya. Makhluk setengah manusia itu mencoba untuk memulihkan dirinya namun tidak bisa.


"Maaf sudah mengganggu perkawinanmu."


Sontak wanita itu langsung menoleh ke sumber suara, matanya melebar saat melihat topeng legend yang ditakuti oleh para pemegang liontin.


"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya perlahan menjauhkan diri. Kakinya belum juga muncul padahal dia berada di daratan.


"Singkat saja, aku tidak akan berbuat buruk padamu. Asalkan kau memberi liontin itu padaku." Katanya berbicara dibalik topeng.


"Sudahku katakan, aku tidak akan memberikan liontin ini pada sembarang makhluk." Tegasnya membuat Tirani mulai marah.


Satu detik kemudian, Siren itu berteriak sangat keras karena dibuat kesakitan oleh mantra. Teriakan seorang duyung bisa membuat para duyung-duyung yang lainnya terpanggil. Tetapi, dengan cepat lelaki itu membuat ombak yang lebih besar untuk menyingkirkan serangga yang akan menganggu dirinya.


Saat tangannya akan meraih liontin, tiba-tiba saja ia tersengat sesuatu seperti listrik. Dia terkejut setengah mati.


Sang Siren tertawa saat melihat lelaki bertopeng itu kesakitan.


"Hanya ada satu orang yang bisa menyentuh semua liontin suci, dia adalah makhluk terpilih."


"Beritahu aku siapa dia?!" Katanya sangat menekan.


Siren itu tersenyum licik. "Dia adalah... seorang hamba. Seorang hamba terpilih."


...****...


Suara ketukan pintu membuat Elena turun dari ranjang hotel, dengan langkah yang gontai gadis itu membuka pintu dan sedikit terkejut saat melihat Nicholas.


"Apa aku membangunkanmu?"


Elena menggeleng pelan. "Tidak." Singkatnya.


"Mau mencari angin bersamaku?"


Elena terdiam sejenak lalu mengangguk.


Desiran ombak bersama hembusan angin membuat malam menjadi sunyi. Entah akan kemana yang pasti mereka berdua hanya berjalan lurus mengikuti arah pasir.


"Maaf sudah membohongimu." Kata Nicholas membuat Elena tersenyum kecut.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku hanya syok saja waktu itu."


Nicholas mengangguk lalu meraih tangan kanan Elena, membuat gadis itu sedikit terkejut namun membiarkan Nicholas untuk menggenggamnya.


"Beritahu aku jika kau tidak nyaman."


"Jika perlu jujur, aku tidak pernah merasa terganggu saat bersamamu. Aku benar-benar nyaman." Ujar Elena membuat Nicholas tersenyum lega.


Setelah berkeliling, keduanya kembali ke hotel. Namun, kehadiran Sunghoon yang berada didalam kamar Elena membuat Nicholas dan gadis itu terkejut.


"Wah~ sepertinya aku memergoki kalian sedang berselingkuh." Ucapan Sunghoon membuat Elena terkejut lagi.


Nicholas langsung melepas genggamannya lalu berpamitan, Elena hendak menjelaskan semuanya tapi tidak diizinkan oleh Sunghoon.


Pintu kamar itu langsung tertutup dan terkunci begitu saja. Elena sangat marah bahkan meneriaki Sunghoon.


"TIDAK BISAKAH KAU TIDAK MENGGANGGU DIRIKU SEHARI SAJA? KAU TAHU, NICHOLAS AKAN SALAH PAHAM DENGAN UCAPANMU." Katanya berteriak menembus kamar hotel lain.


"Astaga~ suaramu jelek sekali saat sedang berteriak." Ledeknya membuat Elena semakin geram.


"KAU! AKU BENAR-BENAR SANGAT MUAK DENGAN MAKHLUK SEPERTIMU! KAU BAHKAN TIDAK LEBIH BAIK DARI JAKE DAN JAY! KAU VAMPIR IDIOT YANG......


Suara pecahan lampu membuat tubuh Elena melonjak kaget, ruangannya berubah menjadi gelap. Keheningan menyelimuti Elena, dia tidak bisa melihat apapun.


"Kau membandingkan diriku dengan mereka seolah-olah kau mengenal Jake dan Jay lebih jauh dari pada diriku. Kau benar-benar berpikir bahwa mereka lebih baik dari pada aku? Haha~ kau terlalu terbuai oleh paras ketampanan. Mereka tidak lebih baik dariku tapi juga tidak lebih buruk dariku. Singkatnya, aku lebih baik dari mereka tapi juga bisa lebih buruk dari mereka." Suara Sunghoon membuat Elena terdiam, bahkan tidak mengambil napas untuk beberapa saat.


Ia berjalan mundur mencari keberadaan pintu, Elena menyesal sudah mengatai Sunghoon. Dia lupa bahwa dirinya adalah manusia lemah yang bisa dibunuh kapanpun oleh makhluk seperti Sunghoon.


"Akh." Pekik Elena saat merasa punggungnya berbenturan dengan tubuh seseorang.


"Sunghoon?" Panggil Elena perlahan. Tangannya mulai meraba tubuh lelaki itu. "Maafkan aku." Gumamnya menyesal, pada saat itu juga lampu kembali menyala membuat Elena membelalak karena yang ia sentuh adalah sebuah lemari.


"Aku berani bersumpah kalau tadi aku sedang meraba tubuhmu." Ujar Elena malu.


Sunghoon masih berbaring diatas kasur, memperhatikan Elena yang malu. Sebenarnya yang di sentuh oleh Elena tadi memanglah Sunghoon, namun lelaki itu dengan cepat melesat kembali ke atas ranjang. Mengusili hambanya.


"Kau mau merabaku? kemarilah~ berbaring bersamaku disini." Sunghoon menepuk-nepuk ranjangnya.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Sunghoon.


Elena menggeleng, "aku hanya kesal saja karena ucapanmu itu bisa membuat Nicholas salah paham." Jelas Elena.


"Kau sangat menyukainya?" Ia mengangguk.


"Itu sebabnya aku takut Nicholas salah paham, sebab aku sangat menyukainya."


"Apakah Nicholas juga menyukaimu?"


"Entahlah aku tidak pernah menanyakannya."


"Syukurlah~ ku pikir kau memang tidak perlu mengungkapkan perasaanmu." Kata Sunghoon lega.


Tetapi, Elena mengangkat alisnya. "Apakah kau menyukaiku?".


Sunghoon menoleh menatap Elena. "Aku sudah menciummu dua kali, apakah itu tidak cukup untuk mengutarakan perasaanku?."


Elena mengangkat bahunya. "Ku pikir itu hanya main-main saja.".


"Apakah aku perlu menidurimu terlebih dahulu agar kau tahu bahwa aku juga sangat menyukaimu?"


Elena bergeming, reaksi khasnya saat tertekan. "Aku tidak percaya kalau seseorang yang mengaku dirinya raja vampir sangatlah buruk dalam menyaring kata-kata." Seru Elena menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau mengataiku lagi?"


"Ah~ maaf-maaf. Aku tidak akan mengataimu lagi, kecuali kau memang minta dikatai." Elena menoleh melirik Sunghoon yang sedang memejamkan matanya.


Aneh, dia merasa dirinya menjadi begitu labil. Tadi, ia sangat marah pada Sunghoon tapi sekarang ia kembali di buat nyaman. Padahal di sepanjang percakapan lelaki itu sangatlah menyebalkan.


"Apakah hubunganmu dengan Jake baik-baik saja?" Tanya Elena tiba-tiba.


"Kenapa kau bertanya itu?" Sunghoon bergumam dengan mata yang masih tertutup.


"Interaksi kalian begitu aneh, seolah tidak akrab dengan baik."


"Nanti juga kau akan tahu sendiri seiring berjalannya waktu."


Elena mengangguk dengan mata yang masih memperhatikan Sunghoon. Lelaki jangkung itu berbaring dengan kedua tangannya yang terlipat di perut. Warna tubuhnya tidak terlalu pucat seperti biasanya.


"Apakah kau sudah tahu bahwa Nicholas itu seorang serigala?" Gadis itu terus bertanya mengganggu waktu istirahat Sunghoon.


Sunghoon membuka matanya lalu melirik Elena. "Kau juga sudah tahu?".


Elena mengangguk. "Aku berharap kalau Haruto dan Chika bukan makhluk aneh seperti kalian."


Sunghoon terdiam, "kemarilah~ kau harus tidur agar esok fit kembali."


"Aku tidak mau tidur bersamamu."


"Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya sedang menjagamu."


"Kenapa kau harus menjagaku?"


"Itu karena kau menjadi hambaku yang paling berharga."


Elena sedikit tidak suka dengan kata 'hamba' namun ia mengikuti kata Sunghoon. Gadis itu berbaring disisi Sunghoon yang menyandarkan punggungnya ke kepala kasur.


"Kau punya aroma tubuh yang wangi, Elena."


"Kau mau menggigitku?"


Sunghoon terkekeh. "Tentu saja tidak, untuk apa aku menggigitmu. Kau tidak terlihat lezat walaupun aroma tubuhmu wangi."


"Kau kan belum mencobanya." Gerutu Elena tidak terima dengan ucapan Sunghoon.


"Kau ingin aku mencoba dirimu? sekarang? dengar El, kau tidak akan bisa jalan jika aku mencobamu malam ini. Aw!." Sunghoon berlagak kesakitan saat Elena memukul dadanya pelan.


"Maksudku mencoba darahku, bukan tubuhku!."


Sunghoon tertawa kecil sangat senang karena bisa bercanda dengan gadis yang mirip dengan tunangannya itu.


to be continued....