
"Buku itu tidak akan memberi petunjuk apapun." Jelas Sunghoon membuat Elena merasa sia-sia.
"Ku pikir buku ini adalah bagian dari kitab yang hilang." Katanya membuka halaman pertama. Disana terdapat tulisan "Prajurit mata, apa itu?" Tanya Elena membuka halaman berikutnya.
"Prajurit mata adalah kumpulan vampir yang bisa menggunakan sihir api dan air."
"Apakah kau termasuk?" Elena bertanya lagi.
Sunghoon mengangguk. "Aku salah satu anggota dari Prajurit Mata."
"Memangnya ada berapa banyak anggota?"
"Empat orang." Jawab Sunghoon memutar stir mobil ke kanan.
"Apakah para Prajurit Mata lebih kuat dari vampir bangsawan?"
"Tentu saja, bahkan mereka berpotensi menjadi seorang Raja." Sunghoon melirik sebentar ke arah buku yang sedang dibaca oleh Elena.
"Kau menemukan buku itu diperpustakaan?"
Elena mengangguk mengiyakan.
"Black Eyes, Red Eyes dan White Eyes. Kau bilang ada 4 anggota tapi disini tertulis hanya ada tiga Prajurit Mata saja." Elena kebingungan.
"Itu artinya ada warna mata yang ganda." Sunghoon memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang menjulang tinggi dihiasi rumput liar yang sudah merambat ke seluruh besi dan tembok.
Elena mengkerut kan alisnya, dia memperhatikan Sunghoon yang sudah keluar dari mobil. "Kenapa kita berhenti disini?." Gumamnya kebingungan, Elena menyimpan buku tersebut lalu turun dari mobil.
"Hey~ tunggu aku." Teriak Elena berlari mengejar Sunghoon yang sudah jauh. Dia kesulitan untuk melangkah karena rumput yang sudah tinggi.
"Ah~ apa yang siluman itu cari ditempat seperti ini." Elena menggerutu sembari terus berusaha mengejar Sunghoon.
Setelah beberapa saat akhirnya Elena melihat sebuah rumah megah yang tampak sangat menyeramkan.
"Tempat apa ini?" Tanyanya sembari ngos-ngosan.
"Kau akan tahu nanti." Sunghoon menggenggam tangan Elena.
Elena menatapnya namun kali ini ia biarkan. Keduanya berjalan memasuki rumah tersebut, hawa dingin dan debu terasa ditubuh Elena. Saking kotornya Elena sampai tidak kuat untuk menahan bersin. Rumahnya benar-benar tidak terawat, ada banyak sekali serangga yang hinggap di atap-atap.
Elena masih belum tahu apa tujuan Sunghoon ketempat ini.
"Apakah ada orang disini?" Bisik Elena.
"Temanku tinggal disini dan mungkin kau juga mengenalnya." Jawab Sunghoon masih menggenggam tangan Elena.
Saat sampai dilantai dua, gadis itu bisa melihat kaki seseorang dibalik kursi.
"Apakah Heeseung sudah membaik?" Tanya Sunghoon membuat Elena kebingungan.
Dibalik kegelapan seseorang muncul dengan mata merah dan gigi taring yang mencuat. Elena langsung tersentak ketakutan, ia bersembunyi dibalik punggung Sunghoon. Napasnya terengah-engah, tubuhnya merinding parah.
Sunghoon yang melihat Elena ketakutan langsung meminta temannya itu untuk kembali ke wujud manusia.
"It's okay, dia temanku tidak akan menyerang mu." Ujar Sunghoon tersenyum pada Elena namun gadis itu menggeleng tidak mau keluar dari balik punggung Sunghoon.
"Julius apakah kau mengenal Elena?" Tanya Sunghoon langsung.
Mendengar itu Elena langsung mengintip untuk melihat siapa yang dimaksud Sunghoon.
Julius memicingkan matanya melihat Elena.
Perlahan dia menggeleng. "Aku tidak pernah melihatnya." Jawab Julius berjalan menuju tempat duduk.
Ditempat duduk itu Heeseung tengah tertidur pulas setelah meminum banyak sekali darah manusia juga hewan.
Sunghoon dan Elena juga melihat keadaan Heeseung. Wajahnya pucat sekali, ada banyak sekali noda merah dipakaian juga bibirnya. Kuku panjang dan kotor.
"Apa yang terjadi padanya?" Elena bertanya sembari menggenggam tangan Sunghoon lebih kencang.
"Kau tahu, kak Hee adalah vampir baru. Dia sering kali tidak bisa mengontrol diri saat mencium darah, oleh sebab itu kemarin ia menggigit kekasihnya. Dan keadaannya semakin memburuk sekarang."
Penjelasan Sunghoon membuat Elena meringis, entah harus kasihan pada Heeseung atau Gisel. Yang pasti saat ini keadaan Heeseung sangatlah membuat Elena takut.
"Dia akan pulih dalam waktu dekat ini." Gumam Julius membuka sebuah pintu dan Sunghoon mengikutinya sembari menarik tangan Elena.
Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan yang cukup bersih, ada banyak sekali buku-buku besar terpajang di rak raksasa. Lilin menyala dengan api yang bergoyang tertiup angin.
Julius mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Kau mau minum sesuatu?" Tanyanya pada Elena tapi gadis itu menggelengkan kepala.
Elena duduk dipinggir Sunghoon dan Julius melihat ada sebuah benang yang mengikat mereka berdua. Julius menyadari bahwa keduanya terlibat perasaan yang bisa menghancurkan sebuah hubungan kerabat.
"Kau kehilangan kitab itu dimana?" Julius langsung bertanya keinti.
"Di perjalanan menuju kota tepatnya dipinggir lumbung hitam." Jelas Sunghoon menikmati jamuan darah kental yang disediakan pelayan.
Sementara Elena terdiam, sesekali ia memperhatikan para pelayan yang berdiri disisi kanan dan kiri.
"Mereka manusia." Seru Julius dan gadis itu sadar bahwa pria vampir dihadapannya itu berbicara padanya.
"Well~ sepertinya kitab tersebut sudah di curi oleh bangsa serigala. Lumbung tersebut dekat dengan hutan tempat makhluk berbulu itu berkumpul."
"Tentu agar para vampir tidak lagi memperluas sihir, dalam kehidupan serigala tidak ada sihir yang ada hanya kekuatan. Sehingga kaum werewolf selalu berusaha untuk melenyapkan kitab-kitab tentang sihir karena pada dasarnya kalau vampir menggunakan sihir itu tidak adil untuk serigala."
"Kenapa serigala tidak punya sihir?" Tanya Elena tiba-tiba.
"Dengan cakar, hidung dan tubuh besar werewolf itu sudah cukup untuk membuat mangsa meninggal. Sementara vampir yang berevolusi dijaman modern seperti sekarang mereka akan mudah mati jika tidak punya sihir. Bayangkan saja, kami selalu hidup didalam kegelapan dan yang paling parah adalah kami tidak bisa terpapar matahari. Banyak orang yang mengatakan kami tampan tapi para vampir tidak tahu wujud mereka seperti apa sebenarnya. Kami tidak timbul dicermin, bisa meraba dan merasakan saja sudah cukup." Jelas Julius meneguk minumannya.
Elena langsung menoleh pada Sunghoon, lelaki itu tersenyum lembut padanya.
"Kenaikanmu sebentar lagi, kau harus segera menemukan kitab tersebut." Julius kembali ke topik utama.
"Aku perlu bantuanmu, akan berbahaya jika Jake dan Sunoo mengetahui kitabnya hilang. Mereka bisa menyakiti Elena." Sunghoon mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Tidak perlu khawatir aku dan Jay akan membantumu."
"Kalau begitu aku tidak perlu ikutkan?" Tanya Elena kikuk.
Julius memperhatikan Elena yang sedang berbicara dengan Sunghoon. Dia merasakan ikatan dengan Elena terlebih kalung yang dipakai Elena membuatnya penasaran.
Elena menghembuskan napasnya perlahan, lega karena tidak perlu ikut perjalanan mencari kitab. Sebagai gantinya dia harus berada didekat Jay.
Sesampainya di lorong asrama Sunghoon menyuruh Elena masuk namun gadis itu tidak mau.
"Kau akan pergi selama seminggu?" Tanyanya lagi.
Sunghoon mengangguk. "Aku harus menemukan kitabnya El, sebelum hal buruk terjadi."
"Hal buruk apa?"
"Aku perlu semua kekuatanku kembali. Jika tidak, aku tidak akan pernah bisa kembali ke tanah Luga Ru." Sunghoon menyentuh pundak Elena.
"Berjanji padaku untuk tidak pernah jauh dari Jay." Katanya seolah memohon.
"Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi?"
"Kalau menuruti ucapanku maka kau akan selalu aman." Ujarnya mengusap pelan kepala Elena.
Mendadak ia tidak mau ditinggalkan Sunghoon, Elena terdiam untuk beberapa saat.
"Aku pasti akan kembali." Imbuh Sunghoon membuat Elena merasa lebih baik.
Gadis itu mengangguk lalu memeluk Sunghoon.
Tentu Sunghoon terkejut karena ini tidak seperti Elena yang biasanya. Sunghoon membalas pelukan Elena.
"Kita tidak boleh seperti ini." Gumam Sunghoon lantas Elena langsung melepas pelukannya.
"Berpelukan tidak boleh tapi berciuman boleh? dasar aneh." Gerutunya mengeluarkan kunci asrama.
"Itu yang ku maksud, karena aku akan pergi dalam seminggu seharusnya kita tidak boleh berpelukan. Yang dibolehkan adalah berciuman dan tidur bersama." Sunghoon mengeluarkan mimik wajah yang menyebalkan.
"Ish dasar otak mesum!."
...****...
Sebuah pintu yang terbuat dari batu terbuka lebar menampakkan akses jalan tangga menuju ruang bawah tanah. Tiga orang pria mulai menuruni tangga tersebut, pintu bergerak dengan sendirinya kembali menutup.
Mereka duduk diatas kursi batu yang sudah dibuat khusus untuk masing-masing prajurit namun ada satu kursi yang kosong. Mereka tidak mengundang salah satu anggota.
Jay menjentikkan jarinya membuat api muncul dari celah ukiran meja.
"Aku tak percaya kita kembali mengadakan rapat, apakah ada sebuah misi? menculik lagi manusia untuk dijadikan vampir?" Jay membuka obrolan.
"Heeseung bahkan belum pulih, tidak ada manusia yang harus dijadikan vampir." Ujar Julius serius.
"Lalu kenapa kita berkumpul dan dimana Sunoo?." Tanya Jay kebingungan.
"Ada sebuah misi rahasia dan Sunoo tidak diperbolehkan tahu." Sunghoon mulai menjelaskan.
Jay mengkedutkan alisnya.
"Kitab yang dipegang oleh Elena hilang, aku dan Julius akan mencarinya sementara tugasmu menjaga Elena. Jangan sampai kalung yang dipakai olehnya jatuh ke tangan makhluk yang salah."
"Aku tahu kau akan menjadi seorang raja ditanah Luga Ru tapi apakah perlu sejauh ini? akan ada berapa banyak lagi kekuatan yang kau tampung?" Jay mulai mendebat Sunghoon.
"Aku tidak akan mengambil kekuatan yang lain, aku hanya perlu kekuatanku yang sebelumnya kembali. Dan juga aku lebih membutuhkan darah suci dari para makluk yang ada dunia ini."
"Kalau sampai Jake tahu identitas dirimu, dia pasti akan merebut semuanya. Dia bahkan sudah mengawasimu." Jay menatap Sunghoon dengan seksama.
"Aku tidak mau Cranium menjadi hancur...."
to be continued.....
...'PRAJURIT MATA' ✓...