DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
36. Curse



Pertemuannya dengan Sunghoon kemarin tidak bisa dilupakan. Ia tak pernah menduga kalau ternyata Sunghoon adalah penerus dari kaum serigala. Lantas apa hubungannya dengan Nicholas?.


"Apa selama ini Nicholas tahu kalau Sunghoon satu keluarga dengannya?" Elena memainkan jari-jarinya diatas cangkir.


Jika diingat-ingat Sunghoon dan Nicholas memang tak pernah akur. Yang terlihat seperti pertikaian biasa antara vampir dan serigala bukan karena masalah serius seperti perebutan tahta.


"Apa mungkin sebenarnya Nicholas tak tahu kalau Sunghoon adalah kakaknya? Lantas kenapa tak ada keributan diantara Sunghoon dan Nicholas kemarin?" Elena berpikir dengan keras mencoba menelaah semuanya.


Elena ingat saat Nicholas mengatakan kalau Elena akan bertemu dengan Sunghoon. Apakah pertemuan kemarin sudah direncanakan oleh Nicholas?.


"Nicholas mengundangku dan mempertemukan aku dengan Sunghoon. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Nicholas? Apakah ia sengaja agar Sunghoon goyah menjadi seorang raja?. Ah~ tidak mungkin. Nicholas tak mungkin ingin menjadi seorang raja. Ia tak seperti itu. Tapi bagaimana jika ia memang seperti itu? bagaimana jika ternyata Nicholas merencanakan hal buruk pada Sunghoon?." Elena langsung bersandar ke kursi. Kepalanya sakit sekali, sedari tadi siang ia tak bisa berhenti memikirkan Sunghoon dan Nicholas.


Gadis itu menghembuskan napas ketika mengingat Sunghoon masih peduli padanya.


"Aku ingin sekali mendengar Sunghoon menjelaskan semua yang sudah terjadi padaku."


...****************...


Di dalam aula yang sangat besar Sunghoon tengah berkelahi dengan seorang pria dewasa. Ia melesat kencang memanfaatkan timing yang tepat, cakarnya berhasil melukai punggung lelaki itu. Sunghoon tersenyum bangga namun terlalu cepat baginya untuk merasa menang. Tubuhnya sudah melayang membentur tembok hingga retak.


Pria dewasa itu sudah berubah menjadi serigala. Ia berjalan mendekati Sunghoon dengan taring yang tajam.


Ini bukanlah pertama kalinya Sunghoon bertarung dengan serigala. Ia langsung berlari kebagian belakang, mencari ruangan yang cukup luas agar leluasa bisa menyerang dan menghindar.


Sunghoon berlari dan hendak menancapkan cakarnya namun tubuhnya terkena serudukan. Ia terlalu gegabah melawan gurunya sendiri.


Serigala itu melepaskan Sunghoon.


"Kau perlu banyak belajar lagi." Ujarnya berubah menjadi manusia.


"Aku bisa menang jika menggunakan sihirku." Ujarnya merapihkan pakaian.


Gurunya tersenyum. "Kalau kau memang tak terkalahkan seharusnya kau bisa melawanku tanpa sihir."


"Aku tak bisa berubah menjadi serigala. Aku ini seorang campuran, seharusnya kau mengajari aku sebagai MiX bukan seorang werewolf."


Pria itu menutup kuping. "Pelajaran bela dirimu akan dilanjut besok malam di dekat danau. Jangan mengoceh. Seharusnya aku mengajar seorang murid di hutan dalam keadaan siang bolong. Bukan di aula yang panas seperti ini. Dasar tak tahu malu~." Jelasnya meninggalkan aula dengan kesal.


Begitupun dengan Sunghoon, ia juga kesal karena harus bertemu lagi dengan guru yang menyebalkan seperti Mr. Reo.


Saat keluar dari aula, Viola sudah menunggunya. Perempuan itu menggandeng lengan Sunghoon.


"Kau lelah?" Tanyanya.


Sunghoon menggeleng, ia melepaskan tangan Viola yang melingkar di lengannya.


Senyuman di wajah Viola langsung hilang.


"Apa aku membuatmu tidak nyaman?"


"Aku hanya sedang ingin sendiri." Gumamnya melangkah lebih dulu.


Kejadian semalam membuat Sunghoon tak bisa berpikir dengan jernih. Padahal ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menetapkan Viola sebagai wanita satu-satunya tapi tidak bisa. Sunghoon bisa menerima keadaan yang mendekatkan dirinya dengan Viola saat ini namun hatinya tak bisa seperti dulu lagi. Ada seseorang yang mengisi relung hati Sunghoon.


"El~ kau jauh-jauh dari kota, kemari? ada apa?" Tanya Nicholas seolah kejadian kemarin tak pernah terjadi.


"Apa Sunghoon ada disini?"


Nicholas agak terkejut.


"Kau jauh-jauh kesini untuk bertemu dengan Sunghoon?"


Elena menghembuskan napasnya.


"Kemarin, kau sengaja kan mempertemukan aku dengan Sunghoon? Rupanya kau tahu kalau Sunghoon masih hidup."


"Aku tak berniat menyembunyikannya darimu."


Elena tak memberi reaksi apapun.


"Panggil Sunghoon. Suruh dia untuk menemui ku disini."


"Kau tak punya wewenang menyuruh seorang pangeran seperti itu. ."


Elena membulatkan matanya. "Kalau begitu biar aku yang seorang manusia biasa ini memanggilnya."


"Hubunganmu dengan Sunghoon sudah berakhir. Dia akan menggelar pernikahan dengan tunangannya. Jadi lebih baik kau pulang dan jangan kemari lagi."


"Aku tak peduli dengan pernikahan sialan itu. Aku hanya ingin tahu satu hal, apa yang sudah terjadi pada malam ulang tahun Sunghoon sehingga Jake menghilang. Malam ulang tahun yang membuatku kehilangan mereka berdua." Elena melanjutkan langkahnya yang bersikukuh akan memanggil Sunghoon dengan mulutnya sendiri.


Nicholas menghembuskan napas memandangi Elena dari tempatnya. Langkah kakinya terhenti ketika bertemu dengan sekelompok anak-anak. Elena mengobrol dengan mereka.


"Kalian habis berlatih?" Tanya Nicholas yang tidak disadari Elena kalau lelaki itu sudah ada didekatnya.


"Kau tahu anak-anak ini?" Tanya Elena namun tak dijawab.


Kelima lelaki itu memberi salam pada Nicholas.


"Kami habis berlatih di air terjun, tuan." Jawab Yuma.


Nicholas mengangguk lalu melihat ke arah Shio.


"Tanganmu membaik?"


Shio mengangguk pelan.


"Mereka anak-anak yang baru saja mengalami perubahan." Nicholas menjawab pertanyaan Elena.


"Maksudmu mereka juga serigala?"


"Hm (iya). Pulanglah, ibu kalian sudah menyiapkan daging untuk disantap."


Elena memperhatikan kelima bocah itu berlarian setelah disuruh pulang oleh Nicholas.


"Kau membiarkan Shio berlatih dalam keadaan belum pulih?"


Elena langsung menoleh ketika Nicholas mengeluarkan suara.


Rupanya ia sedang berbicara dengan seorang pria bertubuh besar yang Elena kenali.


"Kau kemari lagi?" Tanya lelaki itu pada Elena.


"Kau mengenalnya juga?" Nicholas menarik tangan Elena. Ia sedikit menutupi Elena dari paman Reo.


Elena sedikit kebingungan namun tetap menjawab pertanyaan lelaki itu.


"Aku sedang mencari seseorang." Ujar Elena menghiraukan Nicholas.


"Tak ada orang biasa ditempat ini, nona."


"Aku mencari seorang vampir." Seketika itu juga Nicholas mencengkeram kuat tangan Elena membuatnya terkejut.


"Kau harus menjaga ucapanmu, nona. Tak ada vampir di tanah yang kami tempati ini." Ucap paman Reo.


"Tadi memang ada vampir yang lewat. Sepertinya ia masih bersembunyi, kau harus mencarinya sebelum vampir itu berhasil lolos." Kata Nicholas membuat lelaki dihadapannya mengerutkan kening.


"Aku akan menyuruh para penjaga untuk menangkapnya dalam keadaan hidup." Tampaknya paman Reo tahu kalau Nicholas sedang melindungi Elena.


"Kau bisa langsung membunuhnya." Jawab Nicholas.


"Tidak-tidak aku harus bertanya terlebih dahulu apakah vampir yang kami tangkap benar vampir yang nona ini lihat atau bukan. Jika kami salah menangkap vampir, kami bisa di hukum oleh tuan Raja." Ujarnya tersenyum lebar membuat Elena merinding.


Nicholas menahan raut wajahnya, ia harus tetap terlihat dengan tenang.


"Kami akan menangkap vampir itu sebelum fajar. Mohon ketersediaannya nona untuk menunggu. Saya permisi."


Lelaki itu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Aku harus menunggu disini?"


"Sial! aku mencoba membantumu agar terhindar dari masalah tapi malah tambah runyam."


"Aku tak mengerti, Nicholas."


"Kau tak boleh bicara sembarangan mengenai vampir disini. Aku takut kau mengatakan kalau Sunghoon setengah vampir dan serigala. Kalau kau mengatakan itu, maka kau bisa dicurigai sebagai hambanya. Kau bisa mati karena sudah membantu seorang MiX. Seperti Viola dan hamba Sunghoon yang dulu. Mereka mati karena sudah membantu Sunghoon menjalankan ritual." Nicholas mengusap rambut agak frustasi.


"Seharusnya kau pergi setelah aku mengusirnya mu tadi. Seandainya kau tidak keukeuh menemui Sunghoon, paman Reo pasti tak akan curiga padamu."


Elena terdiam tak mengatakan apapun. Apakah masalah ini bisa membuatnya bertemu dengan Sunghoon? lalu bagaimana jika paman Reo tahu bahwa tak ada vampir yang sedang bersembunyi. Apa yang diucapkan Nicholas barusan hanyalah kebohongan.


Lelaki dihadapannya melihat ke arah barat, matahari sudah ada diambang ombak. Sebelum tenggelam Nicholas harus mencari cara agar Elena tidak terkena masalah. Ia menarik tangan perempuan itu membuat langkah kaki Elena melewati gerbang menginjak bagian utama di tanah Luga Ru. Ia berada di wilayah serigala yang bahkan mungkin akan sulit bagi Elena menginjakkan kakinya untuk keluar.


to be continued...