DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
6. Di Undang



Pada jaman dahulu, jaman sebelum vampir berani berbaur dengan manusia. Makhluk terkutuk itu harus bersembunyi di tempat yang gelap dan sepi. Gua adalah tempat tinggal mereka kala itu, mereka dilarang untuk keluar saat matahari terbit. Mereka hanya diizinkan keluar dari gua saat matahari tenggelam saja.


Kehidupan vampir pada jaman dahulu sangatlah menyedihkan, mereka berburu, berebut dan saling membunuh untuk bertahan hidup. Tempat tinggal vampir yang jauh dari manusia membuat mereka semakin brutal. Terlebih sihir vampir hanya terdapat pada keluarga bangsawan saja.


Para vampir biasa tentunya merasa tidak adil sehingga mereka mencuri kitab sihir dan bersama-sama menjalankan sebuah ritual. Ritual yang dilaksanakan pada malam purnama, ritual itu tentunya memerlukan sebuah darah. Darah seorang perempuan perawan atau laki-laki perjaka.


Tetapi para vampir tidak cukup pintar kala itu, mereka tidak bisa membedakan mana manusia perawan dan perjaka. Sehingga dengan acak mereka menculik anak-anak SMA manusia. Anak-anak tidak berdosa yang sedang berkunjung ke salah satu pegunungan.


Salah satu dari anak itu berhasil kabur sembari membawa kitab dan masuk ke lubang yang dimana adalah portal menuju kerajaan vampir. Alih-alih selamat, kehadiran manusia segar tentunya membuat para vampir kerajaan haus.


Mereka hendak membunuhnya namun dihalangi oleh seorang putri kerajaan. Putri melihat bahwa bocah lelaki itu membawa kitab sihir yang telah dicuri. Sang putri dapat merasakan keanehan dari anak lelaki itu.


Putri juga menyuruh bocah itu untuk membaca kitab, para vampir terkejut karena manusia biasa tidak bisa membaca kitab sihir milik makhluk yang berbeda dimensi.


Pada saat itu juga si bocah tidak diizinkan untuk kembali ke dunia manusia. Bocah itu harus menjadi pelayan seorang putra mahkota yang terlahir setengah vampir, sebab mereka yang terlahir berbeda tidak akan bisa membaca kitab-kitab sihir.


...***...


Elena memperhatikan Sunghoon yang sedang meminum minuman. "Apakah itu alkohol?" Tanyanya penasaran.


"Pencernaanku akan sakit jika meminum minuman manusia." Kata Sunghoon meletakkan gelas itu di meja kecil.


"Jadi apa maksudmu tentang hamba?"


"Kau hambaku, kau milikku dan kau pelayanku. Tidakkah itu cukup jelas untukmu?"


"Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku menjadi pelayanmu? kau pikir aku ini seorang budak?"


Sunghoon menelan sisa cairan darah di mulutnya. "Ada yang ingin ku tanyakan. Apakah kau pernah pergi keruang bawah tanah dirumahmu?"


Elena mengangkat alisnya. "Dari mana kau tahu ada ruangan bawah tanah dirumahku?".


"Kau tidak menjawab pertanyaanku."


"Kau sendiri juga tidak menjawab." Elena menyilangkan kedua tangannya didada.


"Akan ku beritahu kau tentang 'hamba' jika kau sudah melihat ruangan bawah tanah itu."


"KENAPA HARUS BERPUTAR-PUTAR DAN MENGHABISKAN TENAGA? KAUKAN BISA MEMBERITAHUKU SEKARANG JUGA!." Elena berteriak kesal dan teriakannya dapat didengar oleh Jake yang sedang mengobrol dengan para gadis cantik dibawah.


Sunghoon meringis sok merasa terganggu dengan teriakan Elena. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Elena yang sedang duduk disisi ranjang. Ranjang milik temannya yang bernama Sunoo.


"Kau harus berjuang terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu." Seru Sunghoon menyentuh wajah Elena dengan ujung jarinya.


Gadis itu terdiam seolah terhipnotis oleh tatapan Sunghoon yang lembut. Elena memperhatikan bola mata Sunghoon yang berwana cokelat terang. "Matamu..matamu seperti mata seekor anjing." Gumam Elena membuat Sunghoon mengangkat sedikit ujung bibirnya.


"Sebentar lagi warnanya akan berubah menjadi merah karena aku baru saja meminum darah." Jelas Sunghoon melihat bibir Elena yang pink. Lelaki itu hendak menciumnya namun dengan cepat Elena menutupi bibirnya. Gadis itu tidak mengizinkan Sunghoon untuk menciumnya, lagi.


"Jangan menciumku seolah aku ini adalah kekasihmu." Kata Elena memalingkan wajahnya.


"Memangnya kau punya kekasih?" Pertanyaan Sunghoon membuat Elena menggeleng pelan.


"Aku tidak punya kekasih tapi ada seseorang yang ku sukai. Jadi ku mohon jangan pernah menciumku lagi."


"Lelaki yang kau sukai itu, Nicholas?"


Elena langsung mengangguk. "Mulai sekarang jangan gombali aku lagi." Katanya memperingati, membuat Sunghoon terkekeh. Lelaki itu mengangguk saja dengan perasaan yang berat. Bukan rasa cemburu tapi gelisah, gelisah akan suatu hal.


Setelah berbincang-bincang yang tidak membuahkan hasil. Elena pergi meninggalkan Sunghoon. Lelaki itu juga keluar dari ruangan namun berjalan ke arah yang berlawanan. Sunghoon membuka sebuah pintu yang menunjukkan akses jalan tangga menuju bawah tanah. Lorong yang gelap dengan banyaknya sarang laba-laba. Lorong ini dibiarkan sedikit kotor karena para vampir sangat menyukai ruangan yang lembab dan dingin.


Ketiga makhluk misterius itu memberi salam kepada Sunghoon.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian." Seru Sunghoon menyentuh salah satu pundak dari tamunya.


"Kami menemui yang mulia dengan maksud untuk memberi laporan kecil. Ini mengenai makhluk air yang sedang kami selidiki, dia mengatakan bahwa dirinya tidak mau membantu yang mulia. Kami juga sudah gagal mengambil liontin bulan. Kami pantas dihukum mati."


Para pengikutnya langsung bersujud dihadapan Sunghoon, mereka sangatlah ketakutan tetapi Sunghoon tidak sekejam itu.


"Berdirilah~ aku tidak mungkin menghunuskan api kepada kalian. Kalian adalah pengikutku yang paling berharga. Terimakasih sudah memberi laporan dan menjalankan tugas, setelah ini biar aku sendiri yang mengurus para mermaid." Jelas Sunghoon tersenyum kecil.


Untuk kenaikkan tahtanya sebagai raja tertinggi dikerajaan vampir, Sunghoon perlu menikahi Mirae. Dia juga perlu darah suci dari berbagai makhluk untuk menyempurnakan kekuatannya. Sunghoon juga perlu menjadi seseorang yang lebih kuat dari siapapun agar ia ditakuti dan tidak khawatir pada makhluk yang akan mencelakainya.


Pertemuan rahasia itu berjalan dengan baik, Sunghoon kembali ke acara sembari mencari keberadaan Elena. Remaja itu terkejut saat mengetahui Elena sedang berbincang akrab dengan salah satu lelaki yang dikenalnya.


"Aku mencarimu ke sepanjang ruangan." Katanya sembari merangkul Elena.


"Partynya selalu meriah." Puji lelaki itu.


"Siapa yang mengundangmu kemari?" Tanya Sunghoon langsung. Elena memperhatikan keduanya dengan raut wajah penasaran.


Gadis itu kira Sunghoon tidak kenal dengan EJ. EJ adalah teman TK Elena bersama Nicholas dan Haruto.


"Kakakmu yang mengundangku, dia juga mengundang Nicholas dan K tapi sayang Nicholas tidak bisa hadir."


Elena yang mendengar nama Nicholas seketika itu juga matanya berbinar. "Kenapa Nicholas tidak bisa hadir?"


"Dia ada pertemuan keluarga." Jawab EJ lalu kembali menatap Sunghoon.


"Bisakah kau membawakan aku minuman?"


Elena terkejut karena Sunghoon menyuruhnya tetapi gadis itu menurut saja. Ia pergi meninggalkan Sunghoon bersama dengan EJ.


"Kau terus saja bergaul dengan para wanita-manusia."


"Manusia yang ku dekati semuanya spesial."


"Ya~ setelah mendapatkan apa yang kau inginkan, kau akan membunuhnya. Tapi kali ini, ku pikir aku tidak akan membiarkanmu membunuh Elena." Ujar EJ serius.


"Kenapa? apa dia berharga untukmu?"


"Dia manusia yang dikarunia keberuntungan untuk makhluk lain. Salah satunya makhluk seperti kita, kau boleh menfaatkannya tapi kau tidak boleh membunuhnya."


Sunghoon menepuk pundak EJ meminta lelaki itu untuk rileks. "Akan ku pikirkan." Singkat Sunghoon membuat EJ tidak puas.


"Kapan kau akan kembali pada kita?" EJ mengubah topik pembicaraan.


Sunghoon terdiam sejenak sembari memainkan permen loli miliknya "Entahlah~ ku pikir tidak ada tempat untuk makhluk sepertiku." Katanya dengan nada putus asa.


EJ mengatupkan bibirnya lalu menepuk pundak Sunghoon sekali. "Kau tidak seburuk itu. Para pengikutmu masih memperjuangkanmu disana, kau harus menampakkan diri dalam waktu dekat ini." Temannya itu membuat Sunghoon sedikit lebih baik.


"Ku pikir kehadiranku di kerajaan nanti akan mengancam seseorang."


EJ tahu siapa yang dimaksud oleh Sunghoon. "Dan kemungkinan besar pertarungan tahta akan segera dimulai." Imbuh Sunghoon tersenyum kecut.


to be continued...