DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
1. Taken



Kursi tinggi nan cantik itu membuat siapapun yang duduk disana menjadi makhluk terpandang, memiliki segalanya namun harus merelakan seseorang yang dicintai. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Mahkota yang melekat di kepalanya seolah rantai yang membuatnya semakin tidak bebas. Dilahirkan menjadi seorang raja itu keberuntungan atau mungkin kesialan?.


...ZAMAN MODERN...


"Tidak paman, aku tidak mau menikah dengan Nicholas. Dia jelek, sangat jelek." Seru bocah kecil berkuncir dua itu. Dia mengerucutkan bibirnya dengan mulut yang masih mengoceh.


Sang paman tertawa renyah mendengar ucapan keponakannya. "Jangan seperti itu Elena, jangan sampai setelah kau besar nanti kau menelan ludahmu sendiri."


"Menelan ludah? apa maksudnya paman?" Kulit kening Elena berkerut.


"Setelah besar nanti kau juga akan tahu apa artinya. Well~ bergabunglah bermain dengan Haruto dan Nicholas, kau tidak boleh menjadi gadis yang murung." Ujarnya membuat Elena mengangguk semangat lalu berlari menghampiri kedua bocah lelaki yang sedang saling mengejar.


Dua minggu kemudian, kabar duka kembali menyelimuti keluarga besar Elena. Padahal satu bulan yang lalu ayah kandung Elena meninggal dunia dan sekarang di susul oleh pamannya. Haruto menangis dibalik pangkuan sang ibu, bocah lelaki itu sudah paham bahwa ayahnya telah tiada.


Elena yang baru saja pulih dari rasa kehilangan, kini terpuruk lagi. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, yang tersisa hanya Haruto dan sang ibu yang sakit. Keluarga besar Elena menjauhinya karena ibu Elena yang mengalami sakit jiwa, hanya pamannya yang peduli tapi sekarang pamannya pun pergi.


Elena tidak yakin bahwa Haruto tetap akan berteman dengannya, dia kembali menjadi gadis yang suka menyendiri. Memandangi anak-anak lain yang sedang bermain, tiba-tiba saja Nicholas dan Haruto menghampirinya dengan secorong eskrim strawberry.


"Ayo kita main petak umpat." Kata Haruto tersenyum lebar pada Elena.


Dan kini senyuman itu masih bisa Elena nikmati. Ketiga bocah itu sudah menginjak usia delapan belas tahun, mereka berada disekolah yang sama.


"Aku ingat bagaimana dulu hidungmu mengeluarkan ingus dan setiap kali kau menangis, ingusmu itu akan mengembung seperti balon." Haruto langsung tertawa saat mengingatnya.


Elena mencubit lengan Haruto dengan sangat keras sampai-sampai lelaki itu menjerit. "Kau akan mati jika menceritakan itu lagi." Ujar Elena kesal.


"Tidak bisakah kalian tidak bertengkar sehari saja?" Nicholas yang memiliki sikap dingin dan kalem terkadang merasa terganggu dengan pertikaian kedua temannya itu.


Elena hanya mendecak kecil saat dimarahi oleh Nicholas. Tiba-tiba saja keadaan kantin yang riuh mendadak menjadi hening. "Wah-wah para pengeran sekolah memang bisa membuat semua orang tidak berkutik."


"Kenapa kau menyebut mereka pangeran?" Tanya Elena memperhatikan keempat remaja lelaki yang baru tiba di kantin.


"Aku mendengar sebuah rumor yang mengatakan bahwa mereka semua keturunan bangsawan." Bisik Haruto sembari memasukkan cemilan kemulutnya.


"Bangsawan?"


Haruto mengangguk, tubuhnya sedikit mendekat ketubuh Elena, mata Haruto sedikit melotot dan mulutnya mengeluarkan suara yang sangat kecil namun membuat Elena tersentak. "Bangsawan vampir~." Bisiknya membuat Elena merinding.


"Berhenti mengatakan yang aneh-aneh." Nicholas menegur lagi, kini Haruto yang mendecak.


...****...


Buku-buku berserakan, sesekali ia menggaris bawahi kalimat yang menurutnya bagus. Saat berkedip, bulu matanya yang tebal membuat kesan bahwa gadis itu memanglah cantik. Napasnya sangat tenang ditambah dengan perpustakaan yang sunyi.


'Sekalipun vampir bergantung pada manusia, setan penghisap darah itu tetap saja tidak bisa berdampingan dengan manusia. Mereka mudah terbakar dan sangat lemah pada perak.'


Elena menggaris bahwahi kalimat itu, sedari kecil ayah dan pamannya selalu membacakan dongeng mengenai vampir dan serigala, tidak-tidak bukan hanya ayah dan pamannya tetapi semua keluarganya selalu menceritakan kisah makhluk abadi yang dipercaya sebagai mitos itu.


Elena tidak mengerti mengapa keluarganya sangat suka dengan cerita rakyat vampir dan serigala, begitupun dengan Haruto. Remaja itu sering sekali menceritakan vampir pada Elena.


Ia menutup rapat buku hijau yang baru saja dibaca olehnya, ia meraih buku lain yang jauh lebih tebal dan menarik covernya.


"Catatan Penghisap Darah." Gumamnya membaca judul, Elena mengusap ukiran-ukiran cantik di cover. Buku itu terlihat seperti buku kerajaan. Saat Elena membuka buku tersebut, cahaya orange keluar begitu cepat menembus atap. Matanya membelalak, jantungnya terasa copot. Gadis itu terpaku kaget. Cahaya apa itu tadi?.


Elena melihat ke sekeliling tetapi semua siswa yang berada di perpustakaan tidak terganggu seolah mereka tidak melihat cahaya itu.


Matanya menyipit saat melihat tulisan berwarna merah cukup besar di halaman pertama. "Black....Eyes..." Gumamnya membuat siswa lelaki menatap Elena tapi gadis itu tidak sadar.


"El?."


Elena menoleh dan mendapati Chika. "Yuk ke asrama." Ajaknya membuat Elena langsung menutup kembali buku itu.


Elena mengembalikan semua buku ke rak dan meminjam buku besar cokelat keemasan itu untuk dibawa ke asrama. Dia penasaran dengan isi dari buku 'Catatan Penghisap Darah.'. 


"Kau tahu tidak katanya besok ada siswa yang akan pindah asrama ke gedung kita. Rumornya dia tampan." Seru Chika gemas sendiri.


Elena hanya mengangguk-angguk saja, toh tidak penting untuknya. Mau pindahan asrama, pindah sekolah atau apalah itu, Elena tidak peduli.


Suara pijakan ranting di semak-semak membuat Elena langsung menoleh ke tempat gelap itu. Dia memperhatikan semak-semak dengan seksama barang kali yang dilihatnya salah. Ada dua cahaya kecil berwarna merah namun saat Elena mengedipkan mata cahaya itu menghilang.


"Mungkinkah bola mata Serigala?." Pekiknya dalam hati.


"Tunggu, bagaimana bisa aku langsung berpikir kalau itu mata serigala, sial sepertinya aku sedang berhalusinasi karena terlalu banyak membaca tentang mitos." Katanya menggerutu sendiri.


.......


.......


Kakinya tidak kenal lelah, dia masih terus berlari menghindari kejaran hewan buas. Hewan menyeramkan itu menggertak dengan taring yang berliur, tentu saja langkah kaki dirinya tidak secepat serigala. Gadis itu tersungkur lalu disergap, tanpa aba-aba kepalanya langsung dilahap dan...


Matanya terbuka, tubuhnya dibanjiri oleh keringat, napasnya tidak beraturan seolah Elena benar-benar berlari. Tangannya bergerak naik untuk memastikan kalau kepalanya masih ada. "Hah~" Hembusan napas lega terdengar jelas. Ia melihat jam dinding menunjukkan setengah dua pagi. Tiba-tiba saja ada suara keratan di dinding, suara itu semakin kencang seiring Elena ketakutan. Dia menoleh ke ranjang lain tetapi Chika tidak ada disana. Elena baru ingat kalau temannya itu berada di party.


Suara cakaran itu semakin kencang membuat tubuhnya bergetar hebat. Napasnya terasa sesak saat Elena mulai mendengar suara dehaman serigala. Dia tahu kalau dirinya tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi.


Matanya melebar saat melihat tangan serigala menembus dinding menyentuh marmer. Gadis itu langsung berteriak dan berlari ke arah pintu. Elena semakin histeris saat tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.


"Ada apa?" Tanya seorang lelaki melihat wajah Elena yang ketakutan.


Elena hendak memberitahu apa yang baru saja dilihat olehnya tapi dia tahu kalau orang dihadapannya ini pasti tidak akan percaya dengan ucapannya. "Ada serangga." Gumam Elena berbohong.


"Biar aku cek." Ujar lelaki jangkung itu. Dia masuk ke dalam ruangan Elena dan mengecek setiap sudutnya. Dia juga sempat melihat buku aneh di ranjang.


"Ah itu buku fantasi milik perpustakaan." Seru Elena dengan napas yang tidak beraturan.


Setelah mengecek semua sudut dan tidak mendapatkan apapun lelaki itu keluar dari kamar Elena. "Mau ku temani tidur sampai Chika datang?".


Sontak Elena terkesiap kaget. "Tidak perlu." Jawabnya singkat. Elena mengenali lelaki dihadapannya, dia adalah Sunghoon salah satu lelaki tampan yang kata Haruto keturunan bangsawan.


"Kau bisa memanggilku kalau ada apa-apa, kamarku nomor 13." Serunya membuat Elena mengangguk.


Dia memperhatikan ke pergian lelaki tampan itu, lorong yang gelap menenggelamkan si remaja dari penglihatan Elena.


Karena tidak berani sendirian di asrama, Elena memilih untuk menunggu Chika di lobi asrama. Dia juga sempat berpikir untuk pergi ke asrama Haruto tapi Elena mengurungkan niatnya. Akan dalam masalah jika tiba-tiba saja malam ini ada pengecekan.


Ia meraih jaketnya lalu menutup pintu. Saat melangkahkan kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu, Elena meraih benda itu. "Gelang? mungkinkah punya Sunghoon?" Ia mengangkat bahu lalu memasukkan gelang berbentuk hati itu ke dalam saku jaket.


...****...


Chika meletakkan nampan berisikan makanan di meja, gadis itu menggerutu saat duduk di kursi. Kesal karena antriannya diambil orang lain.


"Kau seharusnya diam ditempat agar antriannya tidak diambil oleh orang lain." Saran Elena sembari menghabiskan susu pisangnya.


Tiba-tiba saja dua orang lelaki menghampiri meja Chika dan Elena. Mereka adalah Haruto dan Nicholas, siapa lagi kalau bukan mereka?. "Selamat pagi sepupuku yang cantik." Seru Haruto membuat Elena mual pagi-pagi.


"Menurutku itu sesuatu yang berlebihan dilakukan oleh sepasang sepupu." Chika mengomentari.


"Kenapa? kau juga ingin ku sapa?"


"Eugh! tentu saja tidak. Aku tidak akan suka disapa oleh lelaki genit sepertimu." Chika berlagak jijik.


"Kau tidak makan lagi, Nick?" Tanya Elena khawatir.


Nicholas mengangkat alisnya. "Pencernaanku masih sakit." Katanya kembali memandang ke arah lain.


Rasa khawatir menyelimuti diri Elena, dia berencana untuk membeli obat ke apotek sekolah nanti. Agar Nicholas kembali bisa makan.


Diperpustakaan, ia menyentuh keningnya karena terlalu pusing mencerna rumus matematika yang beranak. Sesekali meregangkan tubuh untuk menghilangkan pegal. Elena memperhatikan Nicholas yang sedang membaca buku. Lelaki itu kini menjadi kesukaannya, benar yang dikatakan pamannya, Elena menelan ludahnya sendiri. Siapa yang akan mengira, bocah dekil itu kini berubah menjadi tampan, cerdas dan sopan, terlebih lelaki itu memang jarang bicara sejak kecil.


Saat sedang memperhatikan lelaki pujaan hatinya, mata Elena teralihkan pada Sunghoon yang berjalan melewati perpustakaan. Tiba-tiba saja Elena ingat dengan gelang yang ia temukan semalam.


Gadis itu berjalan mengikuti Sunghoon, langkah kakinya terlalu cepat untuk diikuti oleh Elena.


"Untuk apa dia ke belakang sekolah?." Elena bergumam, dia masih mengikuti Sunghoon dari belakang.


Saat tepat di ujung, Elena melihat Sunghoon tengah berbicara dengan salah satu siswa lelaki yang tidak Elena kenal. Gadis itu memperhatikan percakapan yang tampak mencurigakan baginya.


Tiba-tiba saja matanya membelalak, jantungnya terasa copot saat melihat segumpal api keluar dari tangan Sunghoon. Elena menahan napasnya ketika bola api itu di lempar ke arah siswa lelaki yang ada dihadapan Sunghoon.


Teriakan menggema membuat tubuh Elena merinding dan bergetar hebat. Matanya memerah seiring melihat ke anehan yang keluar dari setiap tangan Sunghoon.


"Pe..penyihir." Gumamnya membuat Sunghoon menoleh dan mengetahui keberadaan Elena.


Matanya nyaris keluar, Elena berbalik dan berlari untuk menghindari Sunghoon namun nasi sudah menjadi bubur. Sunghoon tidak akan membiarkan wanita itu pergi dan memberitahu semua orang mengenai dirinya.


Satu detik saja Sunghoon sudah berada dihadapan Elena menghadang jalannya. Gadis itu berteriak kaget dan takut.


Sunghoon tersenyum jahat lalu mencengkeram keras rahang Elena. Dia menutup matanya tidak mau melihat Sunghoon.


"Kenapa? kau takut?" Tanyanya semakin membuat Elena tidak berdaya.


"Bi..biarkan aku hidup." Pinta Elena terbata-bata. Dia tahu kalau saat ini dirinya dalam bahaya besar.


"Sejauh mana kau mengintip?"


"Aku tidak melihat apapun."


"Pembohong harus dibunuh." Bisik Sunghoon mendekatkan wajahnya ke wajah Elena.


Remaja lelaki itu memperhatikan Elena dengan seksama. "Kau akan mati jika tidak membuka mata." Imbuhnya membuat Elena terus-terusan ketakutan.


"Satu.." Sunghoon mulai menghitung dan tanpa pikir panjang Elena membuka matanya. Gadis itu terpaku saat melihat mata Sunghoon berwarna hitam gelap.


"Be....be...black Eyes."


Sunghoon tersenyum.


"Kau jadi milikku mulai sekarang."


to be continued..


Enjoy~ stay safe♡


...KEGELAPAN - TAKEN...


Trailer sudah tersedia di yt ung_kat ya~