DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
28. Without II



"Jake menyerangku saat aku sedang mengawal kau dan Sunghoon."


Aku membelalakkan mata tidak percaya dengan ucapannya yang baru saja terdengar.


"Jake katamu?"


"Aku tahu kau tidak akan percaya, tapi ini kenyataannya. Dia melempar ku dari dalam mobil sampai tubuhku jatuh dan tertabrak mobil lain. Untungnya aku bukan manusia biasa yang tubuhnya akan langsung hancur saat terhantam benda berkecepatan tinggi." Jelasnya membuatku agak syok.


"Apa alasan Jake menyerang mu?" Kataku.


"Dia tahu bahwa Sunghoon akan menjalankan ritual, Jake bahkan sudah mengetahui Sunghoon seorang MiX. Dia selama ini selalu menganalisa gerak-gerik Sunghoon." Jay mendudukkan tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya ke Headboard.


"Dia mencoba untuk mengambil kekuatan Sunghoon saat bulan purnama muncul." Lanjutnya membuatku semakin tertegun. Apakah mungkin yang menyerang aku dan Sunghoon malam itu adalah Jake?.


"Kau kemari untuk mencari Sunghoon kan? Tidak ada yang tahu keberadaan nya dimana sekarang begitupun dengan Jake. Dia juga menghilang dan kemungkinan besar Jake sudah mati karena beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Sunghoon. Dia menjengukku sembari meminta maaf atas kecelakaan yang menimpa diriku."


"Sunghoon tidak mengatakan apapun padamu? dia tidak menitip pesan untukku?" Aku benar-benar berharap kalau Sunghoon menyimpan satu kata untuk disampaikan padaku.


"Tidak ada. Aku bahkan tidak percaya bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir kami bertemu. Kau harus berhenti mencarinya, Elena."


Rasanya kakiku menjadi jeli, aku terduduk lemas di atas marmer. Tidak percaya bahwa Sunghoon benar-benar tidak berpamitan padaku, kenapa dia sangat jahat padaku. Kenapa dia seperti ini?.


"Apakah aku bisa untuk melupakannya?" Tanyaku lemas.


"Kau pasti bisa, El." Jawaban Jay tidak membuatku merasa bisa melakukannya.


Sunghoon sudah pergi meninggalkan teman-teman vampirnya dan Jake dinyatakan meninggal saat berperang dengan Sunghoon.


Diperjalanan pulang Haruto sengaja menyalakan musik sembari bernyanyi. Aku tahu niatnya adalah menghiburku tapi suasana hatiku tidak mudah berubah.


Aku memperhatikan jendela disepanjang perjalanan. "Bisa kau hentikan mobilnya." Kataku dan Haruto menurut.


Aku langsung keluar dari mobil mengabaikan Haruto yang berteriak dibelakang.


Ada banyak sekali rumput yang terlihat seperti bekas terbakar. Aku memperhatikan jalanan yang sepi, otakku mengingat saat kejadian penyerangan pada mobil Sunghoon. Tepat disini.


Aku memperhatikan sekitar dan mencoba untuk mengingat-ingat lagi tapi tidak ada yang muncul didalam ingatanku kecuali insiden kaca mobil pecah. Mendadak aku kesal pada diriku yang bodoh ini.


"Apa yang kau lakukan disini?" Akhirnya Haruto sampai di tempatku.


Aku tidak menjawabnya, aku pergi ke dekat batu besar yang terlihat seperti sudah terbentur. Batunya terlihat penyok dan retak. Aku merasakan kehadiran Sunghoon saat menyentuh batu tersebut. Mendadak aku membayangkannya, membayangkan tubuh Sunghoon terlempar ke batu ini. Pasti sangat sakit.


"Hahh~~ apakah kau baik-baik saja, Sunghoon?" Lirihku lagi-lagi menangis. Tapi dengan cepat ku seka air mataku dan kembali berdiri dengan tegak.


Haruto memperhatikan aku, dia mungkin sedang berpikir bahwa aku terlihat seperti gadis yang terkena pelet.


"Ayo kita pulang Elena."


"Tunggu, biarkan aku disini untuk beberapa saat lagi." Kataku mendongak merasakan hangatnya sinar matahari. Hari ini sangat cerah seolah cuaca tahu bahwa para vampir sedang tidak berkeliaran.


"Apakah Jake juga tidak pernah masuk sekolah?" Aku bertanya pada Haruto yang sedang sibuk memainkan abu menggunakan ranting.


"Para vampir bangsawan tidak pernah muncul disekolah semenjak kau tertidur selama tiga hari." Jelasnya membuat lingkaran sedang.


"Mungkinkah mereka juga akan pindah sekolah?"


Haruto menggeleng tidak setuju. "Kepala sekolah hanya mengumumkan kepindahan Sunghoon dan Jay yang sedang sakit. Sementara Sunoo dan Jake tidak ada yang tahu dimana mereka."


"Bagaimana kalau ternyata Jake sudah tidak ada di dunia ini."


"Apa maksudmu, Elena?"


"Tidak. Aku hanya asal bicara. Ayo kembali ke asrama."


Aku bergegas menuju mobil tapi tiba-tiba saja mataku melihat sebuah cahaya yang diciptakan oleh matahari. Aku meraih benda tersebut dan alangkah terkejutnya aku ketika tahu bahwa ini adalah gelang milik mantan kekasihnya Sunghoon. Kenapa lagi-lagi aku menemukan benda ini?.


Tunggu, seingat ku Sunghoon tidak pernah menggunakannya lagi. Lantas, apakah dia memakainya saat hendak melakukan ritual?.


"Rupanya gelang ini masih berarti ya.." Aku tersenyum kecut.


...****...


Aku termenung sembari memandangi ponsel, tidak ada kenangan berupa benda diantara kami. Aku hanya bisa mengingat semua kenangan dengan Sunghoon didalam memori otak. Seandainya memori otak bisa melakukan transfer file, pasti sudah ku cetak semua kenangan bersama Sunghoon.


Sebenarnya apa yang membuat Sunghoon menghilang, padahal ritualnya belum dilakukan. Dia bilang, dia sudah menunggu dengan lama untuk melakukan ritual memulihkan sihir. Tapi mendadak lelaki itu menghilang.


Aku penasaran mengenai pertarungan Sunghoon dan Jake. Mungkinkah kejadian tersebut menjadi pemicu Sunghoon meninggalkan sekolah lalu menghilang?.


Tiba-tiba saja, aku merasa Sunghoon ada disini. Hembusan angin khas milik Sunghoon baru saja terasa, aku langsung terduduk di atas ranjang memperhatikan sekitar ruangan.


Astaga apa yang kau lakukan Elena, Sunghoon tidak ada disini. Itu hanya sugesti saja.


Aku tahu bahwa aku masih tidak bisa menerima kalau Sunghoon pergi, lebih tepatnya tidak mau menerima kenyataan yang telah terjadi. Pada dasarnya didalam lubuk hati, aku yakin bahwa Sunghoon punya alasan tersendiri untuk menghilang. Dan aku juga yakin bahwa Sunghoon akan kembali padaku. Sebisa mungkin aku akan mencari informasi keberadaan Sunghoon.


Aku akan selalu menunggumu untuk kembali padaku.


Sampai kapanpun.


Sampai Tuhan mencabut kehidupanku di dunia.


Dan ku teruskan untuk menunggumu di Surga.


Elena Pov End.


to be continued......