
Sepulang dari menjenguk sang ibu, Elena langsung pergi ke butik untuk mengambil gaun pesanannya. Setelah itu ia kembali ke asrama ditemani oleh Haruto.
"Telfon aku jika kau membutuhkan sesuatu." Katanya lalu melenggang pergi menuju kamarnya sendiri.
Elena langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang hampa. Tidak ada lagi bentuk kehangatan dari sebuah senda gurau bersama dengan Sunghoon. Elena memeluk tubuhnya sendiri sembari memperhatikan bayangannya yang terpantul ditembok.
Tidak ada yang berubah, ada atau tidak adanya Sunghoon. Di dalam bayangan tetap hanya Elena yang terlihat. Dirinya, sendirian.
Semakin larut, gadis itu akan semakin tenggelam ke dalam masa-masa ketika bersama Sunghoon. Indah sekaligus menyakitkan untuk dikenang.
"Apakah disana kau merindukanku?" Pertanyaan itu berulang kali terus dipertanyakan olehnya. Apakah Sunghoon merindukan Elena seperti Elena yang setiap hari merindukannya?.
Elena ingin sekali bertemu dengan Sunghoon, gadis itu ingin memeluknya walau hanya sebentar saja. Ia ingin rindunya terobati. Air matanya jatuh menembus sprei, dadanya mulai terasa sesak setiap mengingat Sunghoon. Seringkali ia tidak bisa mengontrol emosinya ketika berurusan dengan perasaan. Elena akan terus menangis hingga kelelahan dan pada akhirnya tertidur.
Dia tertidur sembari meringkuk, matanya sembab dan hidungnya terlihat merah. Jaket rajut milik Elena tiba-tiba saja melayang dan mendarat ditubuh gadis tersebut. Tirai jendela yang tadinya terbuka sekarang sudah tertutup. Malam ini, Elena akan tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk.
Di tempat lain, Sunghoon merasakan denyutan ditangan kanannya. Ia melihat benang merah yang mengikat lengannya tersebut, benang itu terlihat menyala memberitahu bahwa Elena sedang dalam keadaan patah hati. Sunghoon hendak menyentuhnya namun tidak jadi. Viola menghampiri Sunghoon lalu mengecup bibir lelaki tersebut.
"Sudah selesai?" Tanyanya dan Sunghoon mengangguk.
"Mau melihat bintang?" Ajaknya dan Sunghoon pun mengangguk lagi.
Keduanya saling berpegangan tangan sembari menikmati angin malam dan pemandangan bintang yang cantik. Viola tampak berseri-seri senang sementara Sunghoon tidak merasakan apapun. Dia tampak kebingungan, harus Sunghoon anggap siapa wanita disebelahnya ini. Elena sebagai hambanya? atau Viola sebagai kekasihnya yang sudah bangkit dari kematian?.
"Ku dengar selama kau berkelana mencari sihir, kau bertemu dengan seorang gadis yang mirip denganku. Apakah itu benar?" Tiba-tiba saja Viola bertanya demikian.
Sunghoon mengangguk. "Dia sangat mirip denganmu." Jawabnya pelan.
"Rupanya reinkarnasi itu nyata adanya, ya."
Sunghoon tidak menanggapi, dia sedang melamun kosong.
"Kau belum bertemu dengan Raja?" Viola mengubah topik pembicaraan.
"Sepertinya ayah sedang sibuk, aku akan mencoba menemuinya lagi besok."
"Kau akan menjadi Raja kan, Liam?" Mendadak Sunghoon tidak suka dipanggil Liam tapi itu adalah nama aslinya. Ia harus kembali terbiasa.
"Tentu, walau aku sedikit ragu."
Viola tersenyum, ia menggenggam tangan Sunghoon lalu menempelkan kepalanya ke lengan lelaki jangkung tersebut. "Aku akan selalu mendukungmu." Gumamnya memejamkan mata.
...****...
Semua siswa sudah berkumpul di lapangan sekolah, menikmati makanan dan minuman kelulusan.
Elena gelisah karena mendadak ia tidak percaya diri dengan gaunnya.
"Oh ayolah, El. Aku sudah menunggumu hampir satu jam, kapan kau akan keluar dari asrama....?" Haruto agak berteriak diluar sana.
Mau tak mau Elena harus percaya diri, lagi pula ini sudah malam. Tidak akan ada yang memperhatikan gaunnya yang mencolok. Mungkin.
Haruto mundur satu langkah ketika pintu kamar Elena terbuka. Senyumnya mengembang ketika melihat betapa cantiknya gadis tersebut.
"Wah~ aku menyesal sudah marah-marah tadi. Kau cantik sekali." Katanya mencubit pipi Elena hingga gadis itu harus memukul lengan Haruto.
Ia berjalan sembari memandangi gaun siswi yang lain, tampak begitu bagus dan cantik. Begitulah wanita, mereka akan berlomba-lomba memilih warna yang mencolok agar terlihat lebih bersinar dari yang lainnya.
Dari kejauhan Elena bisa melihat Nicholas tengah memperhatikannya. "Selamat atas nilai sempurna mu." Seru Haruto membuat Nicholas terkekeh malu.
Lelaki itu menyapa Elena dengan senyuman hangat.
Tidak lama Jay dan Sunoo menghampiri mereka, memberi selamat pada Nicholas dan memuji Elena yang terlihat sangat anggun.
"Kau datang untuk menghadiri acara perpisahan tetapi tidak ikut ujian?" Haruto menyinggung Sunoo.
"Aku bisa lulus tanpa mengikuti ujian, toh aku sudah sering melakukan ujian kelulusan." Jawabnya tertawa bersama dengan Jay.
Untuk pertama kalinya Sunoo tersenyum manis pada Elena. "Apa rencana mu setelah ini?" Tanyanya tiba-tiba.
Elena terdiam sebentar. "Em~ mungkin aku akan pergi ke perguruan tinggi." Jawabnya tidak yakin.
"Sekolah lagi ya, membayangkannya saja sudah membuatku merinding." Haruto menyentuh tengkuk lehernya.
Elena memperhatikan Sunoo yang sedang mengobrol dengan Haruto. Apakah Sunoo tahu sesuatu tentang Jake dan Sunghoon?. Apakah dia tahu keberadaan Sunghoon ada dimana sekarang?.
"Ulah para Vampir, ya?" Tanya Haruto.
"Ku pikir akan ada kehadiran kelompok baru."
"Mungkinkah pemberontakan?" Jay memandangi Sunoo dengan serius.
Sunoo mengangkat bahu tidak tahu.
Elena mendengarkan perbincangan mereka semua sebelum akhirnya sentuhan tangan Nicholas membuatnya terkejut.
"Kau terlihat kedinginan." Lelaki itu memberikan jasnya pada Elena.
"Terimakasih." Gumam Elena.
Suara alunan musik diputar lebih keras kali ini. Beberapa siswa mulai menari bersama pasangan masing-masing. Elena terdiam memperhatikan teman-temannya, di hari kelulusannya ia merasa kesepian. Tidak ada seikat bunga kelulusan dari sang ibu, tidak ada yang mengajaknya menari sebagai pasangan, dan juga tidak ada yang membuatnya senang.
Elena bisa melihat ada beberapa pasangan yang berciuman secara diam-diam dibalik tirai dan ruangan. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat bintang-bintang, berharap Sunghoon ada disisinya dan mengatakan 'Selamat atas kelulusan mu'.
Tiba-tiba saja ia menghembuskan napasnya. "Setidaknya Jake ada disini untuk menggantikan Sunghoon." Elena kembali mengatupkan bibirnya.
"Ku pikir kau jatuh cinta pada Sunghoon."
Elena menoleh pada Nicholas lalu tersenyum kecil. "Kau tahu, ketika Sunghoon tidak ada disisiku maka Jake yang akan mengisi kekosongan itu tapi sekarang mereka berdua tidak ada disini." Ia menundukkan kepalanya.
Nicholas memperhatikan Elena untuk beberapa saat. "Siapa yang lebih kau rindukan? Sunghoon atau Jake?"
"Tentu saja kehadiran Sunghoon." Elena langsung menjawab.
Dengan jawaban itu, Nicholas meyakini bahwa Elena bisa membuat Sunghoon berhenti melangkah untuk menjadi seorang Raja. Nicholas bisa menggunakan Elena untuk mengendalikan Sunghoon. Karena bagaimanapun juga, Nicholas tidak sudi Raja berikutnya adalah seorang MiX.
Yang pantas menjadi Raja di tanah Luga Ru adalah dirinya.
Nicholas.
"Kau sangat ingin bertemu dengannya?"
Elena menoleh. "Tentu tapi tidak tahu dengan Sunghoon. Aku takut kalau justru ia tidak ingin bertemu denganku." Gadis itu menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Kau pasti akan bertemu dengannya, nanti." Kata Nicholas dan Elena mengangguk-angguk.
Gadis itu juga berharap kalau dirinya bisa bertemu dengan Sunghoon dalam keadaan baik-baik tanpa rasa khawatir apapun.
.
.
.
"Kau tahu apa yang akan terjadi ketika salah satu Raja dari sebuah kaum adalah seorang MiX. Maka hal pertama yang akan terjadi adalah peperangan saudara. Para pangeran lain akan mencoba untuk menjatuhkannya sebagai Raja karena bagaimanapun juga seorang MiX tetap lebih rendah dan tidak pantas menjadi pemimpin." Jelas Sunoo pada Jay.
"Apakah teror di Kota ada hubungannya?"
"Aku tidak tahu tapi kalau kemungkinan memang berkaitan, sepertinya seseorang sedang merencanakan kehancuran kandidat Raja."
Haruto yang berada ditengah-tengah Jay dan Sunoo mulai merasa jengah dengan percakapan mereka.
"Aku tidak tahan lagi. Aku akan bergabung dengan sepupuku." Katanya melenggang pergi.
Sunoo memperhatikan kepergian Haruto.
"Aku yakin kalau Jake masih hidup." Lanjutnya membuat Jay mengkerutkan alis.
"Apa maksudmu Jake yang melakukan teror di Kota?"
"Aku tidak mengatakan itu. Aku hanya berpikir kalau Jake sedang bersembunyi, merencanakan sesuatu yang lebih jahat. Mungkin."
Jay menghembuskan napasnya dengan malas.
"Benang merah yang terikat diantara Sunghoon dan Elena akan membuat para pemberontak mengincar gadis tersebut. Seandainya Sunghoon bersikeras naik takhta, maka Elena akan menjadi sasaran empuk untuk membatalkan Sunghoon sebagai Raja."
to be continued....