DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
18. Flummox



Sepatu yang menapak di atas marmer membuat suara nyaring. Jake mengusap rambutnya ke belakang lalu mulai menaiki anak tangga. Istana tampak sepi, tidak ada pelayan yang berlalu-lalang, bahkan ia tidak melihat pendamping Mirae.


"Untuk apa kau datang kemari?" Suara seorang perempuan membuat Jake langsung mendongak ke atas. Rupanya ada Mirae di atas sana, ia sedang bergelantung bersama beberapa pelayan.


"Kau tidur?" Tanya Jake.


Mirae mendarat dengan mulus. "Aku mencoba untuk menenangkan diri, apakah kau datang kemari untuk memberi kabar mengenai Sunghoon?" Mirae mengedipkan matanya beberapa kali.


"Tidak, aku kemari untuk mengambil beberapa barang yang ketinggalan di ruanganku." Jake melanjutkan langkahnya.


Mendadak Mirae tidak suka di acuhkan oleh Jake.


"Bau mu tidak enak." Singgung Mirae sembari melangkah mengejar Jake.


"Itu karena aku belum mengganti pakaian setelah menghisap racun beserta darah Elena."


"Elena? bukankah itu nama gadis yang Sunghoon incar?"


Jake mengangguk.


"Apakah sesuatu telah terjadi? kenapa kau menghisap racunnya? seharusnya kau biarkan saja wanita itu mati agar Sunghoon tidak perlu menempel lagi pada gadis sialan itu." Mirae menjadi sangat kesal.


Jake menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan untuk berbicara dengan Mirae.


"Elena terlalu istimewa untuk mati." Gumam Jake membuat Mirae kebingungan.


"Kau tidak jatuh cinta padanya kan, jangan bilang kau melihat sesuatu saat mencoba menyelamatkan gadis itu?." Kening Mirae berlipat-lipat.


"Saat pertama kali menyentuhnya, aku merasa bahwa Elena bisa membawaku menjadi seorang raja. Dia punya aura hamba yang positif, itu sebabnya aku menyebut Elena fantastis. Tapi, aku sadar bahwa rupanya aku jatuh cinta pada Elena lebih dari perasaanku padamu. Elena mampu membuat hatiku goyah dalam sekejap tapi aku sadar bahwa aku tidak bisa memilikinya dan aku tahu kalau Elena sama sepertimu, kalian menyukai Sunghoon dibandingkan diriku."


Mirae terdiam mendengar ucapan Jake, ada getaran saat lelaki itu mengatakan cinta untuk Elena.


"Kau tidak boleh jatuh cinta pada manusia." Ujar Mirae membuat Jake menatap dingin.


"Lantas aku harus jatuh cinta pada siapa? sementara jatuh cinta padamu yang sesama vampir saja kita tidak bisa bersama." Jake tertawa hambar. "Aku tidak akan pernah memaksa perempuan untuk jatuh cinta padaku karena yang terpenting untukku bisa menjaga wanita itu dalam keadaan apapun." Lanjut Jake, tangannya menyentuh pundak Mirae lalu mengusapnya pelan.


"Kau tidak perlu khawatir mengenai hubunganmu dengan Sunghoon karena aku akan berhenti mencintaimu."


...****...


Kakinya masih belum pulih, rambut panjang cokelatnya tergerai. Wajah Elena masih agak pucat, ia meraba bekas gigitan ditangannya. Elena terdiam untuk beberapa saat, tangannya menyingkap selimut. Kakinya masih belum pulih tapi Elena memaksa kaki tersebut untuk bergerak dan hasilnya nihil. Tidak bisa digerakkan.


"Aku benci terus berbaring." Gumam Elena lalu menoleh ke arah pintu.


Alisnya terangkat saat mengetahui bahwa Nicholas ada diambang pintu. Lelaki itu tersenyum lalu mendekat dan duduk dipinggir kasur.


"Mau jalan-jalan?" Ajaknya.


Sebelum Elena menjawab Nicholas sudah berbicara lagi. "Pakai kursi roda." Imbuhnya meraih kursi roda lalu memindahkan Elena ke kursi tersebut.


"Kau hangat." Kata Elena membuat Nicholas tersenyum lagi.


"Itu karena buluku lebat." Nicholas mulai mendorong kursi roda.


Mereka keluar dari rumah NiKi menuju taman dekat danau dibelakang. Elena sedikit tidak percaya bahwa rumah tempatnya dirawat sangatlah besar. "Kau tidak merasa terganggu?" Tanya Elena membuat Nicholas bergeming beberapa detik.


"Maksudmu dengar para vampir? Aku baik-baik saja, toh beliau adalah kepala sekolah disekolah kita." Jelas Nicholas berhenti mendorong tepat didepan danau.


"Bagaimana denganmu, kau merasa baik?"


Gadis itu mengangguk sembari tersenyum tipis. "Aku hanya belum bisa melupakan kejadian malam itu, apalagi tentang Chika." Elena menelan ludahnya lalu memejamkan mata karena mulai ketakutan saat mengingat Chika.


Nicholas menyentuh pundak Elena dan mengusapnya perlahan. "Kau tidak perlu takut El, Chika sudah diurus oleh kaum vampir." Gumamnya tapi Elena tidak merasa lebih baik.


Ia merasa bahwa dirinya tidak aman saat Sunghoon tak disisinya.


"Terkadang menyenangkan terkadang tidak. Tergantung kau menjalani kehidupan." Nicholas duduk di atas rerumputan.


Angin berhembus agak kencang membuat kedua rambut manusia itu menari-nari.


"El~" Nicholas memanggil.


Elena menoleh sembari menaikkan alisnya.


"Apakah kau memiliki hubungan yang spesial dengan Sunghoon?" Pertanyaan Nicholas membuat Elena berpikir bahwa kemungkinan lelaki itu sedang memastikan agar bisa menembak dirinya.


"Tidak, aku tak ada hubungan apapun dengannya." Seru Elena semangat.


Nicholas tersenyum lega. "Syukurlah, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu jika kau terus berteman dengan para vampir."


Mendadak Elena terdiam, ia merasa ucapan Nicholas tidak benar.


Elena tahu bahwa nyawanya dalam bahaya jika berteman dengan vampir tapi disisi lain para vampir juga yang menjaga dirinya. Bahkan Jake menyelamatkan Elena.


"Ku pikir para vampir baik padaku."


"Kau berpikir begitu? ku rasa mereka baik padamu karena ingin sesuatu darimu, El."


"Apa maksudmu?" Elena mengkerut kan keningnya, tidak mengerti.


"Sunghoon memanfaatkan dirimu, dia ingin merebut liontin yang kau pakai, setelah mendapatkan apa yang dia mau maka kau akan dibunuh oleh nya. Dia sendiri yang berterus terang padaku." Nicholas menatap Elena dengan khawatir.


"Aku tidak mungkin membiarkan dia membunuhmu." Lanjutnya meraih tangan Elena.


"Kenapa? Kenapa kau tidak akan membiarkan Sunghoon membunuhku?" Elena bertanya demikian.


"Karena kau temanku, teman kecilku. Aku tidak mungkin membiarkan dia membunuhmu, El."


Elena tidak mengkhawatirkan ucapan Nicholas mengenai Sunghoon yang akan membunuhnya. Ia lebih fokus pada jawaban Nicholas tentang 'teman', rupanya gadis itu tidak menyangka bahwa lelaki yang disukainya sama sekali tidak punya perasaan yang sama.


"Kau tidak perlu khawatir, Sunghoon tidak mungkin membunuhku." Ujar Elena malas.


"Kau lebih memilih percaya pada vampir itu dibandingkan diriku?"


"Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini?" Tanya Elena sewot.


"Kau yang menyebalkan El, aku mencoba untuk menyelamatkan dirimu sebelum terlambat." Nicholas kesal.


"Menyelamatkan ku dari apa? kau bahkan tidak menyelamatkan aku saat Chika menghisap darahku." Volume bicara Elena langsung naik.


Nicholas langsung terdiam. "Itu karena diluar kendaliku." Katanya pelan.


"Itu artinya kau tidak bisa menyelamatkan aku." Seru Elena mendorong kursi roda.


Ia lelah berseteru dengan Nicholas terlebih perasaannya tidak berbalas sama sekali. Semuanya sia-sia, bunga yang tertanam dihatinya untuk Nicholas mati seketika. Apalagi setelah mengetahui bahwa betapa menyebalkan nya Nicholas saat membicarakan para vampir. Elena pikir kaum vampir tidak seburuk itu setelah mengenal Sunghoon dan teman-temannya.


Dan juga Elena nyaman saat didekat Jake dan Sunghoon. Aura Jake berubah seiring berjalannya waktu, sejak awal perkenalan Elena tahu bahwa Jake sangatlah tidak ramah. Namun rupanya Jake tidak begitu, dia punya caranya tersendiri untuk membuat Elena nyaman.


Sementara Sunghoon sejak awal mereka saling mengenal, remaja abadi tersebut selalu bersikap menyebalkan dan sesuka hati. Keduanya tidak pernah mau mengalah, selalu bertengkar namun kembali baikkan.


Tapi... Elena sadar bahwa ia sudah bergantung pada Sunghoon. Kehadiran Sunghoon merubah semuanya, Elena tidak suka lagi sendirian karena Sunghoon selalu hadir secara tiba-tiba. Sekarang dia tidak ada disisinya, pergi berkelana mencari sebuah kitab.


Tanpa gadis itu sadari bahwa ia merindukan Sunghoon.


to be continued...



(Sumber Picture : Pinterest)