DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
26. Pertarungan



"Kalau begitu, langkah-i mayat ku terlebih dahulu."


Matanya mengkilat menampakkan mata hitam yang sering disebut 'Black Eyes'. Mata terkutuk yang diciptakan hanya untuk seseorang dari kegelapan yaitu Sunghoon.


Dia mengerahkan sihirnya pada kerangka mobil, benda itu melayang-layang sampai menabrak tubuh si lelaki bertopeng beberapa kilometer. Tapi tubuh lelaki itu baik-baik saja. Kini dia sudah berada tepat di belakang Sunghoon, tangannya mendorong punggung Sunghoon sampai lelaki itu terbang ke sembarang arah.


Sebelum membentur pepohonan, Sunghoon merubah tubuhnya menjadi belasan kelelawar.


Para kelelawar itu berputar-putar di udara lalu terbang dengan cepat ke arah pria yang sedang mendongak memperhatikan. Sampai jarak keduanya cukup dekat, para kelelawar berubah kembali menjadi Sunghoon.


Ketika memijakkannya kakinya ditanah tangannya mencekik leher lelaki itu, Sunghoon menyeretnya sampai ke batu besar.


"Beraninya kau mengganggu ritualku." Sahut Sunghoon menancapkan kukunya ke leher si pengganggu. Dari kuku itu mengeluarkan sebuah asap, lehernya nyaris terbakar jika seandainya dia tidak menepis cekikan.


Saat menepis tangan Sunghoon, topengnya melayang membuat identitas lelaki itu ketahuan.


"Jake..." Gumam Sunghoon terkejut.


Petir menyambar lagi ke beberapa titik pepohonan. Sunghoon terdiam sedikit syok.


Jake tersenyum dan beberapa detik kemudian matanya mengkilat lalu dari tangannya mengeluarkan bola-bola api biru yang mengarah pada Sunghoon. Lelaki itu menghindar sebisa mungkin walau tidak sempurna.


"Serahkan ritualnya padaku." Ujar Jake melangkahkan kakinya. Dia terus menyerang Sunghoon dari berbagai sisi.


Tidak hanya bola api tapi juga bola air yang mendidih bisa diciptakan oleh Jake. Sunghoon sedang dalam keadaan lemah dan ia tidak bisa menghindar dari sihir yang ditorehkan Jake. Tubuh Sunghoon terseret hingga ke dekat gubuk, ia tersungkur di atas lumpur yang kini mengotori seluruh pakaian dan tubuhnya.


Lalu, lolongan Serigala terdengar sangat kencang sebagai tanda bahwa sebentar lagi bulan purnama akan muncul.


Jake berjalan mendekati Sunghoon sembari melihat bulan. "Woah~ malam yang cukup menyenangkan." Katanya melonggarkan dasi.


Lelaki itu memperhatikan Sunghoon yang sedang berbaring. Kakinya menginjak tangan Sunghoon hingga suara retakan terdengar. Ia berteriak bersamaan dengan suara lolongan kedua dari Serigala.


Jake menarik rambut Sunghoon hingga kepala lelaki itu sedikit mendongak. Dihadapannya kobaran api menari-nari. "El~" Panggil Sunghoon dengan lirih.


"Gadis itu sangat indah, bukan? kau masih bisa menikmatinya jika memberikan ritual ini padaku." Jake menyeret Sunghoon sampai sangat dekat dengan kobaran api. Lelaki itu meringis kesakitan.


"Jangan membuatku menjadi begitu jahat, Sunghoon."


Sunghoon memperhatikan Elena yang masih tak sadarkan diri. "Bukankah kau juga menyukainya?"


"Tidak sedalam perasaanmu." Jawab Jake memainkan kobaran api tersebut.


"Kalau kau mau membunuhnya, bunuh saja. Toh rencana ku setelah melakukan ritual ini adalah melenyapkannya."


Jake menoleh terkejut mendengar pernyataan Sunghoon dan satu detik kemudian lelaki itu berteriak sembari melepas cengkeramannya. Jake tidak bisa melihat karena Sunghoon baru saja menyemburkan tanah ke wajah lelaki itu. Melihat kesempatan, Sunghoon langsung meninju wajah Jake.


Satu..dua..tiga... dan seterusnya tanpa henti.


Disisi lain, seseorang tengah berdiri didepan jendela yang menampakkan gemuruh hujan disertai angin. Jari-jarinya memainkan sebuah cincin yang melingkar dijari manis. Tampaknya lelaki itu sedang gugup.


Tidak lama seorang perempuan menghampirinya dan memeluk pria tersebut dari belakang.


"Sudah saatnya."


Lelaki berambut pirang itu melirik jam dinding.


00.00


"Selamat Ulang Tahun Anakku Sunghoon." Gumamnya lalu memasuki ruangan.


Dia duduk di atas kursi batu menghadap sebuah buku berukuran raksasa. Bukunya melayang di udara sembari di kelilingi dengan api. Ada banyak sekali bercak darah di setiap lembaran buku.


Sebelum mengucapkan sebuah mantra, lelaki itu melihat istrinya sejenak.


"Aku percaya padamu." Ujarnya tersenyum lembut.


"Aku Rillian Park dengan ini dihadapan kitab saksi akan memberimu kekuatanku." Matanya mengkilat menjadi putih. Sebuah darah keluar dari telapak tangannya, darah itu berjatuhan dan mendarat di atas kertas.


Sebuah darah jatuh tepat di kata. 'Hole'.


Sebelum 00.00.


Kali ini Sunghoon menarik kerah Jake tinggi-tinggi dan melemparnya ke sembarang arah.


Hujan masih mengguyur mereka.


Jake menyentuh dadanya yang terasa sakit, ia bangkit lalu mengeluarkan kembali sihirnya. Sunghoon menepis semuanya lalu melempar skop yang ada didekat gubuk. Skop itu melayang ke arah Jake dan kali ini ia menghindar dengan cara melayang lalu mendarat di batang pohon.


Matanya mengeluarkan sebuah cairan hitam. Ia terlalu banyak menggunakan kekuatan. Sebelum Sunghoon berlari dengan cepat Jake mengeluarkan gumpalan air yang cukup besar, sihirnya menguras semua tenaga karena pada dasarnya tubuh Jake sangatlah lemah.


Gumpalan air itu dilempar dan dengan sigap Sunghoon menangkapnya.


Jake melotot terkejut, ia mendongak melihat langit yang bergemuruh lalu tidak lama sebuah petir menembus gumpalan air yang sedang dipegang Sunghoon. Petir itu menyambar jantung Sunghoon hingga terasa begitu sakit. Sunghoon berteriak sangat keras, aliran listrik yang begitu kuat membuat tubuhnya tidak berdaya.


Sebuah kekuatan masuk ke dalam tubuh Sunghoon dengan mendadak sehingga lelaki itu mengalami Overpowered. Dia sedang dalam keadaan menggunakan sihir lalu ditambah dengan transfer sihir yang begitu kuat dari ayah angkatnya.


Petir itu masih menyambar jantungnya, mata Sunghoon membelalak.


Jake terdiam tidak percaya bahwa kekuatan yang masuk ke dalam tubuh Sunghoon sangatlah besar. Kekuatan itu terlihat begitu kuat. Tubuh Jake merinding tapi tidak merasakan takut, justru ia semakin ingin merebut kekuatan itu dari Sunghoon. Lelaki itu berlari hendak menyabotase dan Sunghoon menyadarinya, dia memaksakan diri untuk mengeluarkan gumpalan api.


Gumpalan api yang begitu besar, sebelum Jake mengacau, Sunghoon melempar gumpalan api tersebut sampai menembus tubuh Jake. Tubuhnya melayang-layang, Sunghoon juga bisa mendengar teriakan Jake yang kesakitan. Tepat ketika api itu mendarat disebuah gerobak, apinya meledak membuat getaran yang sangat besar. Jake tenggelam kedalam ledakan api merah.


Perlahan cahaya dan juga gemuruh petirnya mulai meredup. Sunghoon terduduk lemas dengan kepala yang menunduk. Kedua tangannya terkulai lemas, lelaki itu tidak terlihat bernafas.


Rintik hujan masih berjatuhan, cahaya rembulan menyinari tubuh Sunghoon. Lalu sebuah lolongan serigala mulai terdengar lagi, kali ini serigala itu melolong sangat keras seolah keberadaannya tidak jauh.


Jari-jarinya bergerak secara mendadak. Sunghoon membuka matanya, mata hitam itu sudah hilang dan diganti ke mata asal. Angin berhembus sangat kencang membuat deritan gubuk terdengar. Dan tanpa disadari oleh Sunghoon, warna rambutnya mulai berubah. Rambut hitamnya memudar digantikan dengan warna silver.


Dia masih menunduk memperhatikan kedua tangannya yang merah karena terbakar api. Ia juga merasakan sesuatu yang sesak di dadanya. Matanya melihat ke sekitar, kacau dan berantakan. Lalu ia ingat dengan Elena, lelaki itu bergegas masuk ke dalam gubuk yang sebentar lagi akan runtuh karena sudah dikuasai api. Elena masih tertidur, gadis itu dilindungi oleh barrier yang muncul diciptakan oleh liontin nya.


Sunghoon mengangkat tubuh Elena dan membawanya keluar, menjauh dari kawasan api. Tidak lama gubuk itu runtuh dan dilahap habis oleh api yang diciptakan Jake. Langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah mobil putih menghampirinya.


...****...


Cawan raksasa, darah, mahkota, kematian.


Matanya terbuka saat mendengar sebuah bisikan. Lagi-lagi Elena bermimpi aneh.


Wanita itu memperhatikan sekitar ruangan dengan seksama. Ia mengerjapkan matanya untuk membiasakan bias cahaya yang masuk ke retina.


Kedua kakinya dimasukkan kedalam sandal, Elena berjalan ke dekat jendela. Matahari pagi yang hangat membuatnya terasa nyaman. Lalu tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang, Elena tersenyum kecil.


"Tidurmu nyenyak?" Gumam Sunghoon dan Elena mengangguk.


"Aku tidak sabar dengan kelahiran putra mahkota." Ucap Sunghoon mengusap perut Elena yang buncit. Keduanya tampak begitu tidak sabar menunggu kelahiran anak pertama.


"Bagaimana jika yang lahir adalah anak perempuan?" Tanya Elena menoleh pada Sunghoon.


Lelaki itu tersenyum lalu berbisik.


"Maka aku harus membunuhnya."


to be continued.....