
Tangannya menggenggam buku kitab cokelat, gadis itu berjalan keluar dari asrama dengan semerbak harum parfume yang enak. Sunghoon memperhatikan Elena dari belakang. "Mau kemana dia? kenapa membawa kitab?." Tanyanya pada diri sendiri.
Tidak lama setelah Elena pergi, Sunghoon merasakan aura negatif dari kamar asrama Elena. Ia bisa melihat sedikit kegelapan bahwa mobil milik Elena akan bertabrakan dengan sebuah truk tangki air.
"Kau menggunakan sihir?" Gumam Sunghoon sudah berada disudut kamar Elena.
Chika terlonjak kaget, akibat sihirnya diganggu, gadis itu jadi sedikit tidak bisa mengendalikannya membuat sebuah cermin milik Elena pecah menjadi serpihan menyedihkan.
"Jadi kau yang membuat Elena sering kali mimpi buruk, kau itu
setengah manusia dan vampir. Dari mana kau belajar sihir?" Sunghoon mengulurkan tangannya ke arah pecahan cermin, sedikit demi sedikit potongan-potongan tajam cermin itu mulai merampung hingga kembali ke bentuk semula.
"Itu bukan urusanmu." Ketus Chika panik.
"Well~ Ku tanya satu hal lagi, apa kau juga mengincar Elena?"
"Ya! aku mengincarnya sejak awal kami bertemu disekolah ini lalu kau datang dan menghancurkan semuanya!." Chika nyaris berteriak dihadapan Sunghoon.
Lelaki itu tertawa melihat raut wajah Chika yang marah.
"Wah~ sepertinya aku benar-benar menghancurkan rencanamu. Untuk apa kau mengincar Elena?"
"Kau sendiri?" Chika balik bertanya.
"Itu rahasia, aku tidak mungkin memberitahumu apalagi kau juga mengincar Elena."
Chika memandangi Sunghoon dengan seksama. "Aku memang seorang Mix tapi aku sangat pandai melihat mana yang vampir dan mana yang bukan. Kau... kau punya aura yang aneh, kegelapan yang kau miliki itu sangat menyeramkan. Siapa kau sebenarnya?"
Mata cokelat Sunghoon menatap Chika lekat-lekat. "Aku seorang raja dikerajaan Rodus, itu sebabnya aku memiliki aura yang menyeramkan."
Cepat-cepat Chika menggeleng. "Aura dari seorang raja vampir tidak seperti aura milikmu. Kau janggal dan memiliki ciri-ciri seperti para prajurit mata."
Sunghoon langsung tersenyum, "Kau seorang Mix yang pandai, sepertinya aku akan menghasut Elena untuk pindah asrama, karena jika dia dekat-dekat denganmu maka rencanaku bisa gagal." Saat hendak keluar dari ruangan, tiba-tiba saja Chika mengucapkan sesuatu yang mengejutkan tentang ibunya Elena. Tapi, Sunghoon abaikan.
Rambut cokelatnya dibiarkan tergerai hingga pinggang, Elena menyalakan musik agar perjalanannya tampak menyenangkan. Jalanan menuju kota itu sepi sebelum akhirnya nanti sampai dijalan utama yang padat kendaraan dan polusi. Dikursi belakang ada kitab yang menemani perjalanannya menuju kediaman sang ibu. Dia berencana pergi keruang bawah tanah yang dikatakan oleh Sunghoon, untuk mengetahui apa maksud dari 'hamba'.
Tapi tiba-tiba saja hembusan angin yang kencang membuat Elena menoleh ke sisi kanan, gadis itu terkejut sampai sedikit oleng dan cepat-cepat menginjak rem. Decitan mobil membuat keadaan menjadi mengerikan, untungnya Elena bisa mengendalikan kendaraannya walaupun harus keluar jalur.
"KAU GILA HAH? KAU MENCOBA MEMBUNUHKU? DIMANA OTAKMU? DASAR TOLOL!." Elena langsung memarahi Sunghoon sementara lelaki itu masih bengong memperhatikan jalanan dibelakang Elena. Disana terdapat sebuah truk cukup besar berwarna merah dan putih.
Suara klakson berdengung sangat kencang membuat Elena yang hendak melanjutkan amarahnya terhenti dan menoleh ke arah jendela mobil. Matanya membelalak seperti akan keluar, semakin mendekat mobil itu maka semakin cepat Elena berjuang menyelamatkan dirinya. Ia membuka sabuk pengaman lalu tiba-tiba saja tangannya ditarik dan suara hantaman terdengar menusuk telinga membuat Elena menutup matanya.
Mobil itu terseret bermeter-meter, bagian kemudinya ringsek tertubruk. Setelah beberapa menit barulah mobil truk itu berhenti melaju, sang sopir langsung turun dan mengecek keadaan mobil milik Elena. Keningnya mengkerut keheranan karena tidak melihat ada satupun penumpang disana, saat melihat kepulan asap dan tercecernya air bensin, sopir itu langsung melajukan mobilnya meninggalkan kendaraan tersebut.
Tangannya mencengkeram kuat kemeja yang digunakan oleh Sunghoon. Elena merasakan kehangatan dari suhu tubuh remaja lelaki itu, perlahan Elena membuka matanya dan dia baru sadar kalau ternyata jarak wajah mereka sangatlah dekat. Elena sedikit menjauhkan wajahnya kebelakang sementara tangannya melingkar dileher Sunghoon.
"Kau menggunakan kekuatanmu?" Tanya Elena mengintip kebawah. Mereka tengah melayang-layang di udara, dilindungi gelembung yang sering dikatakan barrier.
"Ternyata aku yang membuat kecelakaan itu terjadi." Gumam Sunghoon menaruh insting untuk turun kembali ke aspal. Perlahan gelembung itu bergerak kebawah.
"Memang kau pelakunya, seandainya saja kau tidak berbuat aneh-aneh sudah ku pastikan aku akan baik-baik saja." Jawab Elena mendelik.
"Sepertinya 'penglihatanku' terganggu." Imbuh Sunghoon menurunkan tubuh Elena. "Kau berat." Ledeknya berjalan menuju mobil.
"Dasar menyebalkan." Elena menggerutu tidak terima. Ia menyusul untuk mengecek mobilnya yang terus mengeluarkan asap.
"Tunggu, kemana perginya truk itu?"
"Dia kabur."
"Apa? kenapa tidak kau cegah? dia harus ganti rugi atas kerusakan mobilku!. Astaga, parah sekali." Elena menyetuh mobil yang sudah tidak berbentuk itu.
"Semuanya karena kau, karena kau!." Gadis itu terus menyalahkan Sunghoon.
"Ada yang lebih parah dari kerusakan mobilmu, kitabnya hilang." Seru Sunghoon sembari menutup pintu mobil, perlahan mobil itu kembali kebentuk semula.
"Kau pikir aku akan peduli? masa bodoh dengan kitab sialan itu!." Elena masuk kedalam mobilnya yang sudah diperbaiki. "Jangan ikuti aku!." Ujarnya kasar tanpa mau berterimakasih pada Sunghoon yang sudah menyelamatkan dirinya dan memperbaiki mobilnya itu.
Sunghoon tidak peduli dengan ocehan Elena, dia tetap masuk ke dalam mobil yang sudah dikunci. "Dasar penyihir gila!." Seru Elena, lagi.
Sunghoon menjadi pendiam. Lelaki itu memejamkan matanya disepanjang perjalanan membuat Elena tidak enak hati. Sesekali gadis itu mengecek ke pintu belakang barangkali Sunghoon salah lihat, tetapi kitab itu memang tidak ada disana.
"Apa aku dalam masalah sekarang?" Tanya Elena memutar stirnya, gadis itu menyalakan klakson meminta satpam membukakan pintu.
Elena bergidik membayangkan kedua vampir itu membunuh dirinya. "Mungkin kitabnya terjatuh saat mobilku terseret tadi."
"Kau pikir kitab itu benda hidup, jikalau pun terseret, kemungkinan besar kitabnya akan jatuh ke bawah kursi tidak mungkin menghilang."
"Kau sudah mengeceknya dengan benar?"
Sunghoon mengangguk. "Sepertinya ada seseorang yang sudah merencakan ini."
Elena bergeming.
"Yang terpenting Jake dan Sunoo tidak boleh tahu." Gumamnya keluar dari mobil disusul oleh Elena.
Sunghoon memperhatikan rumah besar itu dari luar, dia juga memperhatikan jendela dilantai tiga.
"Untuk apa kau kemari?" Tanyanya meraih secarik daun kering dari rambut Elena.
"Aku mau melihat ruang bawah tanah." Katanya melirik Sunghoon sekilas.
Sunghoon tersenyum kecil. "Kau masih ingin tahu tentang, hamba?"
Elena mengangguk lalu melanjutkan langkah kakinya. Suasana yang sepi dengan suhu ruangan yang dingin membuat orang asing yang mampir merasakan aura janggal. Berbeda dengan Elena yang sudah terbiasa. Seperti tidak ada kehidupan, bahkan keberadaan Puma pun tidak ada. Suara teriakan-teriakan ibunya pun ikut lenyap. Elena mendongak melihat ke lantai atas. "Kemana perginya para pelayan?"
Sunghoon memperhatikan setiap bingkai yang terpampang di tembok putih kusam.
"Siapa lelaki ini?"
"Beliau ayahku."
Sunghoon mengangguk-angguk saja, saat sedang mencari lilin untuk penerangan. Kehadiran Puma dengan sekumpulan pelayan yang lain membuat jantung Elena jatuh ke usus.
"Selamat siang nona, tumben sekali nona berkunjung kerumah, ada apa?" Puma adalah pelayan yang terkadang sedikit tidak sopan. Pertanyaan macam apa itu? memangnya tidak boleh anak pemilik rumah ini berkunjung?.
"Ada barang-barang yang mau ku ambil digudang bawah tanah." Satu kalimat kebohongan berhasil dirancang olehnya.
Puma tersenyum lalu mengangguk mengerti. Dia juga tersenyum pada Sunghoon.
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Nyonya sedikit membaik, beliau juga sudah mau untuk berjalan-jalan ditaman."
"Kau tidak mendoktrin isi pikiran ibuku dengan boneka lagi kan?"
Puma tersenyum semakin lebar. "Tentu saja tidak, nona."
Elena percaya kali ini. Setelah berbincang ringan, gadis itu langsung pergi keruang bawah tanah. Banyaknya debu dan sarang laba-laba membuat Elena merasa jijik.
"Bisakah kau menyingkirkan semua kotoran ini dengan sihirmu?"
"Aku tidak mau membuang-buang kekuatan hanya untuk membersihkan sarang serangga."
Elena mendecak kesal menanggapi Sunghoon.
"So, apa kaitannya ruang bawah tanah ini dengan hamba?" Elena mulai membahasnya.
Gadis itu bersama dengan Sunghoon tengah memperhatikan benda-benda usang yang terkumpul.
"Kau bekerja keras untuk tahu perihal hamba. Elena, apakah kau berpikir bahwa kitab itu milik sekolah?"
Elena mengangguk. "Tentu, karena aku menemukannya di perpustakaan."
"Kau salah. Kitab itu sengaja aku simpan disana." Sunghoon memperhatikan jidat Elena yang berkerut kebingungan.
"Aku perlu seseorang untuk membacakan kitab itu, karena aku tidak bisa membuka kitab dan membacanya."
"Kenapa?" Tanya Elena langsung.
"Aku...tidaklah sepenuhnya seorang vampir."
to be continued...