DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
20. i'm falling in love with you



Cahaya bulan semakin terang menyinari ranjang yang digunakan oleh Elena.


"Tidurlah, kau harus istirahat. Dongengnya sudah selesai." Sunghoon menarik selimut sampai ke perut Elena.


Gadis itu sedang memikirkan betapa anehnya kalau Sunghoon tidak lagi disisinya. Mendadak Elena tidak ingin melakukan ritual, ia takut kalau Sunghoon meninggalkannya. Hidupnya berubah setelah mengenal lelaki tersebut, dia tidak lagi hidup monoton memperhatikan ibunya yang gila karena kematian Jungwoon.


Entah karena efek digigit oleh vampir atau karena dirinya yang masih dalam keadaan mengantuk. Elena menarik tengkuk leher Sunghoon lalu mencium bibirnya. Gadis itu memejamkan mata dengan napas yang keluar dari hidung secara lembut.


Kali ini Sunghoon lah yang terkejut, dia masih terdiam memperhatikan Elena yang sedang memejamkan mata. Sunghoon bisa mendengar betapa kencangnya detak jantung Elena.


Dan yang membuatnya tenggelam dalam ciuman adalah Elena bergumam didalam hatinya. 'Aku takut kehilanganmu.'.


Secara ajaib Sunghoon bisa mendengar kalimat tersebut. Lelaki itu tersenyum lalu menyambut baik bibir Elena. Saat ini bukan hanya perasaan Elena yang kalut dan bimbang tapi Sunghoon juga. Ia merasakan hal yang sama.


Keduanya larut dalam sinar rembulan yang cantik, malam ini berpihak pada mereka. Menebus rasa rindu dan mencoba untuk menghilangkan setiap kekhawatiran yang akan terjadi kedepannya.


Elena, gadis itu benar-benar memantapkan diri untuk jatuh cinta pada Sunghoon. Yang justru menjadi sebuah perjalanan awal malapetaka dimulai. Benang merah yang ada ditangan Elena semakin membesar, tidak lagi menjadi benang merah kecil layaknya cacing tanah. Semakin tebal benang tersebut maka akan semakin sulit untuk diputus.


Saat terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak, ia terkejut karena kakinya bisa digerakkan. "Apakah kakiku sembuh karena berciuman dengan Sunghoon semalam?" Elena kebingungan. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Gadis itu mendadak menyesal karena sudah mencium Elena, dia malu sekaligus senang.


Kepala sekolah menghampiri Elena dan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai luka dan kakinya. Elena menjelaskan bahwa Sunghoon yang mengobati nya dan beliau tersenyum kecil seolah tahu sesuatu. "Mulai saat ini kau harus memakai seragam berlengan panjang." Ujarnya membuat Elena terdiam.


"Luka ditangan mu bisa membuat keadaan menjadi buruk."


Elena mengangguk menuruti ucapan ibu NiKi. Sebelum menggunakan seragam, gadis itu memperhatikan luka gigitan ditangannya. Luka yang tampak menakutkan namun juga indah jika dipandang dari seni.


"Sunghoon tidak boleh tahu mengenai luka ditanganku. Ish~ karena insiden malam karnaval aku jadi harus berhati-hati." Tangannya mulai masuk kedalam lengan seragam, ia kancing kan satu persatu kancingnya lalu mulai menggunakan rok sekolah dan menuju loker untuk mengambil beberapa buku.


Tepat di ujung lorong Jake melihat Elena, ia sedikit terkejut karena melihat Elena sudah pulih. Jake mendekati Elena yang sedang sibuk dengan buku-bukunya.


"Kau sudah sembuh?"


Elena menoleh lalu mengangguk.


"Syukurlah, kau tampak bagus dengan seragam lengan panjang." Pujinya membuat Elena terkekeh.


"Kau pasti sangat senang meledekku."


"Hey, aku tidak meledek tahu. Ucapanku fakta bahwa kau sangat cocok dengan seragam ini, terlihat seperti gadis polos."


Elena langsung tertawa mendengar ucapan Jake.


"Sejak kapan kalian menjadi sangat dekat."


Elena tersentak kaget karena kehadiran Sunghoon. "Yak! kau mengangetkan ku." Teriaknya kesal.


"Tidur mu nyenyak?"


"Kau dari mana saja, aku tidak melihatmu saat bangun tidur." Elena berlagak kesal.


"Aku habis dari asrama untuk mengambil beberapa perlengkapan sekolah, aku tidak menemui wanita lain, kok." Katanya tersenyum menggoda dan Elena memukul pelan lengan Sunghoon.


Jake terdiam saja seolah menjadi hantu yang tidak terlihat oleh mereka berdua. Ia tahu bahwa Elena sudah terlebih dahulu mengenal Sunghoon dari pada dirinya tapi keadaan sekarang berbeda dengan dulu.


Dulu Jake tidak suka pada Elena karena gadis itu dekat dengan para werewolf dan vampir namun sekarang ia menyukainya karena mengabaikan ucapan Sunghoon untuk tidak menyentuh Elena. Saat acara liburan sekolah ke pantai, Jake menyentuh pipi Elena. Dan seketika itu juga Jake bisa melihat masa depannya yang akan menjadi seorang raja dengan bantuan Elena. Gadis itu berhasil membuat Jake penasaran dan berkat rasa penasarannya tersebut Jake malah jatuh hati pada Elena.


Ditambah saat ia mencoba untuk menyelamatkan nyawa Elena. Jake melihat Elena tengah terbaring di Red House yang kemungkinan besar gadis itu akan berubah menjadi seorang vampir.


...****...


"Ku dengar Chika di penjara oleh mereka, apakah itu benar?"


Elena melihat arah telunjuk Haruto yang mengarah ke meja makan tempat para vampir bangsawan. Gadis itu menggeleng pura-pura tidak tahu.


"Hey~ apakah setelah digigit vampir kau menjadi gagu?" Haruto sedikit berteriak karena kesal Elena tidak menjawab semua pertanyaannya dengan benar.


Elena melotot ikut kesal. "Kau sudah gila? bagaimana jika Sunghoon mendengar?" Ia menyimpan garpu dengan kasar, nafsu makannya baru saja menghilang.


Haruto langsung mengatupkan bibirnya lalu melihat ke arah Sunghoon yang sedang duduk. "Dia tidak mungkin mendengar, jarak meja makannya kan cukup jauh." Haruto bersungut-sungut.


"Terserah kau saja." Elena meraih minumannya lalu keluar dari kantin.


Haruto membuntuti. "Kau baik-baik saja kan?"


"Tentu saja tidak." Jawab Elena langsung.


"Aku sangat khawatir padamu, aku takut kalau kau tidak bisa diselamatkan saat itu." Nada bicara Haruto benar-benar menyentuh hati Elena.


"Malam itu tubuhmu kejang-kejang seperti ter setrum, tanganmu masih mengeluarkan darah dan kakimu terlipat kebelakang. Wujudmu sangat menyeramkan walau aku tahu bahwa kau masih menjadi manusia."


Elena terdiam membayangkan ucapan Haruto, gadis itu langsung bergidik hebat. "Apakah aku seburuk itu saat malam karnaval?" Ia bertanya.


Haruto mengangguk mantap. "Beruntung Jake menyelamatkanmu, ya~ walaupun awalnya aku berpikir bahwa dia juga akan menggigit mu tapi rupanya dia mencoba untuk menghisap racun yang ada ditangan mu sebelum menyebar lebih jauh. Astaga, sampai detik ini aku tidak percaya bahwa Chika menyerang dirimu." Kedua tangan Haruto menyentuh pundak Elena lalu ia mencondongkan tubuhnya.


"Mulai saat ini kau tidak boleh berpergian sendiri, kau bisa menghubungi aku. Kita kan masih keluarga dan menjagamu sudah sebagian kewajiban diriku." Haruto tersenyum.


Elena senang mendengar ucapan Haruto bahkan gadis itu ingin memeluk sepupunya tapi hal tersebut tidak akan pernah terjadi.


"Ya Tuhan~ sejak kapan kau menjadi lelaki dewasa. Jaga saja dirimu terlebih dahulu kalau sudah benar kau bisa menjaga diriku." Elena menepis kedua tangan Haruto lalu melanjutkan perjalanannya.


Haruto tahu bahwa Elena adalah perempuan yang sangat gengsi. Sehingga sikapnya yang seperti tadi tidak masalah untuknya.


Elena berjalan didampingi Haruto sampai depan kamar asrama. Setelah itu Haruto berjalan menuju kamarnya sediri. Elena membuka kuncinya lalu masuk kedalam dan mendapati Sunghoon tengah berbaring diatas ranjang.


Elena tidak berkomentar apapun karena ia sudah terbiasa. Ini hari pertama untuk Elena tidur sendirian di asrama tanpa ditemani Chika. Secercah rasa sedih terasa, mengingat pertemanan keduanya yang sangat dekat membuat Elena tidak percaya bahwa selama ini Chika adalah seorang vampir yang mengincar dirinya.


"Kenapa diam disitu?" Tanya Sunghoon membuyarkan pikiran Elena.


Gadis itu menyimpan buku pelajarannya di meja lalu duduk disisi ranjang. Kedua tangannya membuka kancing rompi dan dasi. Sunghoon memperhatikan Elena sejenak. Ia perhatikan dengan seksama tubuh gadis tersebut.


"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Tanya Sunghoon membuat Elena bingung.


"Apa? memang apa yang harus aku sembunyikan?"


Sunghoon terdiam, mata keduanya saling bertaut.


"Kenapa memandangi aku seperti itu? seolah aku sedang tertangkap basah." Elena menggerutu pasalnya wajah Sunghoon sangat serius. Tidak seperi biasanya.


Sunghoon bangkit, ia menurunkan kedua kakinya dan memijak lantai vinyl dengan sepatu yang masih terpasang.


"Aku mendengar percakapan mu dengan Haruto."


to be continued...