
Tangannya memegang sebuah undangan cantik yang ditujukan untuk dirinya.
"Party?"
Sunghoon mengangkat alisnya. "Kau tahu kaum vampir sangat suka dengan party."
"Haruskah aku datang?" Tanyanya pada Sunghoon.
Sunghoon mengangguk, tangan kanannya masih senantiasa didalam saku celana. "Aku bisa menjemputmu jika kau tidak punya tumpangan."
"Aku bisa pergi sendiri." Jawabnya menolak.
"Aku tidak mau ikut berteleportasi lagi denganmu." Imbuh Elena menyimpan undangan itu ke dalam tasnya.
"Aku juga tidak sudi kekuatanku terbuang sia-sia hanya untuk menjemputmu. Akan lebih berguna untuk membunuh seseorang."
"Ya ya ya, terserah kau saja." Elena malas menanggapi lelaki jangkung itu.
"Apakah itu benar-benar sebuah hiburan atau mungkin hanya kedok saja untuk membantai manusia sebagai santapan para vampir?"
Sunghoon menggeleng, "kami tidak mungkin memakai cara memalukan seperti itu. Toh para vampir tidak akan berperang dalam waktu dekat ini jadi kami tidak sedang haus." Jelas Sunghoon.
"Apa kau sudah mendengar kabar tentang menghilangnya kak Lucy? ku dengar dia sudah menghilang selama dua hari." Tiba-tiba saja Elena membahas berita hangat tersebut.
Sunghoon memasang wajah sedikit terkejut. "Maksudmu Lucy dari kelas tiga?".
Elena mengangguk. "Ini adalah keempat kalinya aku mendengar berita siswa menghilang. Apakah itu kerjaan para vampir?".
Sunghoon mengangkat bahu. "Bisa saja itu kerjaan makhluk lain." Singkatnya menjentikkan jari.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Elena was-was.
"Memasang barrier untukmu."
"Barrier?"
"Sudahlah, aku ingin kau datang ke party karena disana akan ada banyak manusia. Kau perlu bersenang-senang." Katanya mengecup bibir Elena.
Sontak gadis itu langsung menampar wajah Sunghoon namun tangannyalah yang terluka. Elena meringis kesakitan, ia pegangi tangannya yang mengeluarkan darah. Ada luka goresan yang cukup panjang ditelapak tangannya. Elena menatap Sunghoon dengan tajam. "Itu bukan salahku." Gumam Sunghoon tak berdosa.
Tiba-tiba saja pintu asramanya terbuka menampakkan Chika dengan wajah yang pucat dan mata yang melotot. Elena kaget karena dia tidak pernah melihat ekspresi wajah seperti itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Elena menyentuh lengan Chika.
Chika menghirup udara dalam-dalam lalu menatap Sunghoon sebentar setelah itu tersenyum pada Elena. "Aku kebelet pup." Ucapnya berlari ke kamar mandi.
Elena masih memperhatikan kepergian Chika. Tangannya yang terluka digenggam oleh Sunghoon, "kau harus menjauhi benda-benda tajam mulai sekarang."
"Kau pikir aku ini putri tidur?"
"Lebih tepatnya kau putri didalam hatiku." Ujar Sunghoon membuat Elena tertawa.
"Sejak kapan vampir menggombal." Serunya menahan senyuman.
"Kau suka ku gombali?"
"Tentu saja tidak!." Katanya bohong.
Gadis itu menatap Sunghoon sejenak, dia tidak begitu kenal dengan Sunghoon bahkan baru bertemu beberapa waktu yang lalu. Tapi itu semua tidak menutup kemungkinan ia nyaman, ya walaupun Elena tidak suka dengan sikap kurang ajarnya Sunghoon.
Terlepas dari dia betulan vampir atau bukan, Elena tidak terlalu memikirkanya yang terpenting hidupnya aman.
...****...
Kakinya mengayuh sepeda, pakaiannya yang serba hitam membuat ia tidak terlihat dijalanan sepi. Hanya suara angin dan roda yang terdengar dikupingnya. Jarak tempuh menuju rumah party para vampir cukup dekat sehingga Elena tidak mau repot-repot menggunakan mobil.
Elena juga merasa heran pada Chika yang menolak ajakannya, padahal Chika adalah seseorang yang sangat suka dengan pesta. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri yang dipenuhi oleh pepohonan dan semak-semak rimbun. Elena langsung menoleh saat mendengar suara pijakan kaki. Gadis itu sempat berhenti namun tidak terlalu ambil pusing dan melanjutkan perjalanannya.
Kedatangan Elena yang menggunakan sepeda membuat Sunghoon terkejut. Lelaki itu menembus dinding rumah dan muncul tepat dihadapan Elena. Gadis itu hampir menjatuhkan sepedanya jika seandainya Sunghoon tidak menyeimbangkan benda tersebut.
"Kau tidak punya kendaraan yang keren?" Tanya Sunghoon membuat Elena tersinggung.
"Kau pikir berapa harga sepeda ini?" Kata Elena sewot.
"Maksudku tidak bisakah kau menggunakan otak udangmu itu? kau berkeringat dan itu akan berbahaya." Jelas Sunghoon memandangi Elena yang masih mengeluarkan raut wajah kesal.
"Maksudmu keringatku bau, begitu?"
"Astaga~ bagaimana bisa Tira menjadikanmu hamba untukku." Gumam Sunghoon lelah. "Sudahlah ayo masuk." Ajaknya menarik tangan Elena.
"Tunggu, apa maksudmu dengan kata 'hamba' ?" Elena menghempaskan genggaman Sunghoon.
"Kau hanya salah dengar." Katanya menarik lagi tangan Elena tetapi gadis itu hempaskan kembali.
"Ku tanya sekali lagi apa maksud dari kata hamba?" Tanyanya penuh penekatan.
Sunghoon terdiam sejenak sembari menarik napas. "Akan ku jelaskan di asrama nanti."
"Kalau begitu aku akan kembali ke asrama sekarang juga." Elena bertingkah seperti anak kecil.
Sementara Sunghoon, lelaki itu memperhatikan pohon besar yang rimbun dan tidak bercahaya. Ia merasa ada kehadiran sosok lain dibalik pohon tersebut. Segera mungkin Sunghoon membawa Elena kedalam rumah. "Well, kita bicarakan itu didalam." Katanya pasrah dan Elena tersenyum senang karena pada akhirnya Sunghoon mau menuruti dirinya.
Kerumunan orang di setiap sudut dan lorong membuat Elena merasa sesak. Dia belum terbiasa dengan yang namanya party apalagi mengingat ditempat ini bukan hanya ada manusia tetapi juga ada vampir. Beberapa kali tubuh Elena diendus oleh orang tidak dikenal, aroma keringat Elena membuat para vampir tergoda namun untungnya gadis itu berada di sekitar Sunghoon.
Salah seorang remaja lelaki dengan rambut pirang tengah menggenggam gelas cantik yang berisikan air minum tersenyum pada Elena. Elena tahu bahwasannya senyuman itu tidak biasa. Dia juga bertemu dengan ketiga teman Sunghoon yang populer disekolah. Heeseung, dia lelaki yang sangat ramah dan pintar sementara Jake remaja yang satu ini sedikit misterius bagi Elena. Senyumannya memiliki banyak arti yang tidak Elena pahami. Dan yang terakhir adalah Jay, lelaki yang terlihat coolboy namun sangat ramah.
Hawa dingin menjalar ditangan Elena saat ia bersentuhan dengan Jake.
"Sepertinya Sunghoon sudah memberitahumu mengenai kami." Gumam Jake datar.
"Kau tidak takut datang ke pesta para penghisap darah?" Tanya Jay tiba-tiba berada di belakangnya.
Tubuh Elena yang tersentak kaget membuat Jay tertawa kecil. Baginya itu sangatlah lucu. "Rileks, aku tidak akan menerkammu seperti serigala." Kata Jay berdiri disebelah Jake.
"Aku tidak takut karena Sunghoon mengatakan bahwa party ini tidak hanya diisi oleh vampir." Seru Elena mencari keberadaan Sunghoon yang tiba-tiba saja menghilang.
"Yang dikatakan Sunghoon benar, kami tidak hanya mengundang vampir tapi itu juga bukan berarti yang kami undang manusia biasa." Penjelasan Jay membuat Elena berpikir keras. Ia tidak paham.
"Maksud Jay, dipesta ini tidak hanya ada manusia dan vampir tapi ada juga makhluk lain."
"Apakah itu serigala?" Dengan refleks Elena langsung bertanya mengenai penjelasan Heeseung
"Kau juga mengetahui tentang werewolf?" Jake balik bertanya.
"Yah~ jika berkaitan dengan vampir kemungkinan besar juga ada serigala bukan? dan kebetulan beberapa waktu yang lalu, Sunghoon membawaku berteleportasi dan kami bertemu dengan sekumpulan......
Elena tidak melanjutkan kalimatnya saat Sunghoon meletakkan jaket dipundaknya.
"Sepertinya yang kalian bicarakan begitu menarik." Sindir Sunghoon sembari menyuruh Elena untuk mendouble jaketnya.
"Dari mana saja kau?" Elena bertanya dengan kesal.
"Mencari jaket untukmu. Kami harus pergi ke atas. Permisi." Sunghoon menundukkan kepalanya pada Jake dan Jay lalu meninggalkan mereka.
Jake memperhatikan kepergian Sunghoon dan Elena, rasa curiganya pada Sunghoon semakin menjadi saat mendengar ucapan Elena mengenai werewolf dan teleportasi. Jake tahu betul kalau membawa manusia berteleportasi itu adalah salah satu hal yang berbahaya di dunia vampir. Banyak sekali peraturan yang dilanggar oleh Sunghoon sebagai Vampir.
to be continued...
extra :
Chika menghirup dalam-dalam seragamnya yang terdapat bercak darah milik Elena. Gadis itu merasa bahwa darah milik Elena adalah narkoba yang membuatnya candu dan terbang.
Chika merasa sangat teler sehingga ia tertawa terbahak-bahak saat menghirup pakaian itu.....