DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
3. MiX



Ruangan rapat yang selalu digunakan oleh para tetua kini terisi lagi setelah beberapa ratus tahun tidak diadakannya rapat. Kehadiran sang raja membuat semua orang tunduk menghormati yang mulia.


Mahkota cantik dan mencekik itu akan segera di wariskan pada pangeran yang menurut tetua layak. Sebab putra mahkota yang dinobatkan sebagai raja selanjutnya menghilang setelah ketahuan menjalankan ritual terlarang. Beribu-ribu pasukan dikerahkan untuk mencari Liam namun tidak ada satupun dari mereka yang membawa manusia serigala itu kembali ke kerajaan.


Nicholas, pangeran ke delapan yang menurut para tetua bisa menggantikan posisi Liam sebagai kandidat seorang raja. Otaknya yang cerdas dan kehati-hatiannya terhadap kaum vampir membuat Nicholas menjadi kandidat raja selanjutnya.


Lelaki itu tampak berbeda saat menggunakan pakaian kerajaan, raut wajahnya yang dingin dan sorot matanya yang tajam membuat beberapa orang seringkali ketakutan. Rumor mengatakan bahwa Nicholas sama kejamnya seperti Liam.


"Tidak ada yang bisa menggantikan pangeran Liam untuk menjadi seorang raja." Seru Tirani tersenyum pada Nicholas.


"Dengan ketamakkan pengeran Liam terhadap kekuatan, posisi kaum serigala akan semakin tergeser dan mudah tertindas. Tidak pernah ada yang berhasil menyimpan semua kekuatan didalam satu tubuh, perlahan pangeran Liam akan mati digerogoti oleh kekuatannya sendiri." Ujar tetua Rupert disetujui oleh beberapa orang.


Keadaan semakin memanas disaat pengikut Liam protes untuk mempertahankan posisi tuannya sebagai kandidat raja selanjutnya. Tirani tahu kalau tuannya itu melakukan ritual bukan karena tamak tetapi untuk melindungi kaum serigala yang semakin menipis, dan tentunya ada alasan khusus untuk itu semua.


Yakni untuk melindungi rakyatnya, seorang raja harus lebih kuat dari siapapun. Dan Liam sedang melakukan itu.


...****...


Matanya terbuka saat suara ketukan pintu terdengar. Sunghoon membuka pintu asramanya dan mendapati Elena sedang berdiri sembari menggigit bibir bawahnya. "Apa yang kau lakukan disini?".


"Kau tahu Chika jarang sekali tidur di asrama dan akhir-akhir ini ada yang mengganggu tidurku."


"Lalu?"


Elena sedikit cemberut saat Sunghoon tidak peduli. "Bisakah kau menemaniku?" Pintanya ragu-ragu.


"Kau tidak perlu beralasan jika ingin tidur bersamaku. Aku tidak akan menolak." Ucapan Sunghoon membuat Elena kesal.


"Bagaimana bisa kaummu memilih dirimu sebagai raja sementara kau itu memiliki otak yang mesum. Sudahlah lupakan, aku akan terjaga sampai Chika pulang." Dengus Elena.


"Akhirnya kau mengakui bahwa aku ini seorang raja?" Sunghoon tersenyum menggoda. Elena memutar bola matanya lalu mengangkat tangan kanannya, "itu karena diriku mengantuk." Ujar Elena melenggang pergi meninggalkan Sunghoon yang masih berdiri diambang pintu.


Saat masuk kedalam kamarnya, Elena terkejut karena Sunghoon sudah berada di atas ranjangnya. "Hah~ aku lupa kalau kau juga seorang penyihir." Ledek Elena mengunci pintu.


"Aku ini raja vampir bukan penyihir." Sunghoon membenarkan.


"Ck! maling saja tidak akan mengakui kalau dirinya itu maling."


"Kau benar-benar tidak percaya kalau aku ini raja vampir?" Sunghoon bertanya sembari memainkan lampu tidur.


"Vampir tidak punya kekuatan supranatural." Elena menyilangkan kedua tangannya di dada. "Beritahu aku, berguru pada dukun mana kau ini?".


Sunghoon tertawa menanggapi ucapan Elena.


"Kau pikir vampir hanya bisa berlari cepat dan menghisap darah saja?"


Elena menggeleng. "Mereka tidak bisa terkena matahari dan perak, tidak terlihat di cermin, memiliki kulit yang pucat dan tidak punya detak jantung. Ah satu lagi, mereka tidak tidur."


"Woah~ kau tahu banyak tentang vampir." Sunghoon berkata dengan nada meledek.


Elena terlonjak kaget saat Sunghoon sudah berada dibelakangnya sembari berbisik. "Ciri yang kau sebutkan itu hanyalah ciri pada umumnya saja."


Elena membalikkan tubuhnya.


"Pernahkah kau membaca tentang kaum mix?"


"Mereka adalah kaum setengah manusia dan setengah vampir, pada awalnya mereka harus dibunuh karena mereka terlahir sebagai aib. Tetapi kebijakan itu berubah setelah salah satu seorang mix membuat rumah untuk vampir yang terlahir setengah manusia, sehingga kini kaum mix merajalela. Kau bahkan tidak bisa membedakannya karena kaum mix lebih terlihat seperti manusia, mereka punya detak jantung dan terlihat di cermin. Hanya saja mudah terbakar dan haus."


Penjelasan Sunghoon membuat Elena percaya tidak percaya sebab Elena tidak pernah membaca tentang kaum mix dan juga semuanya terlalu seperti cerita di dalam novel.


"Ku beritahu kau satu hal, kau membuka segel didalam kitab dan kau memiliki setetes darah yang berarti untuk...


Suara gedoran pintu membuat Sunghoon tidak melanjutkan perkataannya. Ketika Elena membuka pintu, aroma alkohol menyeruak menusuk hidungnya. Chika mabuk berat.


"Beri aku satu gelas minuman lagiiii.." Ujar Chika menarik rambut panjang Elena.


"Berapa banyak yang kau minum?" Elena memboyong Chika ke ranjang dengan susah payah.


Saat membalikkan tubuh untuk meminta bantuan Sunghoon, lelaki itu sudah menghilang tidak meninggalkan jejak apapun.


...****...


"Seingatku aku tidak membuat kerusuhan semalam." Dengan matanya yang masih teler, Chika memperhatikan keadaan asrama yang berantakan seperti kapal pecah. Dia sudah terlambat masuk sekolah.


Sementara Elena, gadis itu sibuk dengan buku biologinya. Tiba-tiba saja remaja lelaki duduk tepat di sebelahnya. Elena menoleh sejenak lalu menghiraukannya. Matanya berbinar saat melihat Nicholas baru saja masuk ke dalam kelas disusul oleh Haruto. Elena melambai-lambaikan tangannya lalu menyuruh Nicholas untuk duduk di sisi kanannya. Sementara Haruto melotot kaget melihat Elena dekat dengan Sunghoon.


"Kau suka pada lelaki ceking itu?" Pertanyaan Sunghoon membuat Elena memukul lengannya.


"Dia punya tubuh yang bagus!." Katanya bangga. "Tunggu, kenapa kau menempel terus padaku? kau biasa duduk diatas sana.".


"Ey~ bagaimana bisa aku jauh-jauh darimu." Sunghoon menggoda Elena lagi. Setelah itu dia dan Nicholas bertemu mata untuk pertama kalinya. "Apa kau mencium bau anjing, El?" Tanya Sunghoon.


Elena mengendus-endus. "Aku tidak mencium bau anjing, yang ku cium adalah aroma parfumenya Nicholas. Kau masih menggunakan parfume dariku?" Elena bertanya dan Nicholas mengangguk.


Sunghoon sudah tahu kalau Nicholas bukanlah manusia biasa, dia hanya senang mencari keributan makanya meledek 'anjing'.


Setelah pelajaran usai dan semua siswa berhamburan keluar, Nicholas menarik kerah Sunghoon dan membenturkannya ke tembok sampai tembok itu retak. Memang tidak nyeri tapi Sunghoon berlagak kesakitan.


"Aku tak pernah mengusikmu!." Katanya mengatupkan bibir. Mata Nicholas berubah menjadi hijau.


"Kekuatan para anjing masih lemah rupanya." Seru Sunghoon membersihkan pakaiannya yang kotor karena serpihan tembok.


Nicholas menahan dirinya agar tidak berubah wujud. "Ku peringati kau untuk tidak menggangguku dan membawa Elena kedalam masalahmu."


Sunghoon tersenyum kecil. "Gadis itu, dia memiliki apa yang ku butuhkan. Tidak mungkin aku melepasnya begitu saja."


Nicholas mengedipkan matanya dan perlahan warna hijau itu pudar digantikan warna cokelat.


"Kau mau merebutnya dariku? rebut saja jika bisa. Dia akan ku bunuh di malam purnama nanti."


Sementara disisi lain, Haruto tengah mencecar Elena dengan berbagai banyak pertanyaan.


"Kau berpacaran dengan lelaki pucat itu? hey-hey~ jangan bilang kau disandera olehnya."


"Astaga tidak bisakah sehari saja kalimatmu itu masuk akal? dengar Haruto, aku tidak punya hubungan apapun dengan Sunghoon dan aku tidak tahu kenapa kami menjadi dekat. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang." Setelah menjelaskan panjang lebar, gadis itu pergi meninggalkan Haruto yang masih butuh penjelasan.


to be continued....