
Jay berlari mencari keberadaan Elena disusul oleh Haruto dan Nicholas.
"Kalau terjadi sesuatu pada Elena, aku akan membunuhmu." Seru Haruto marah.
"Kau pikir itu salahku? Seharusnya kau lebih teliti dengan ucapan Chika." Jay langsung menghilang membuat Haruto terdiam.
Sementara itu Jake dan Sunoo menyadari bahwa Jay tidak kembali. Mata Jake juga melihat bahwa keberadaan Elena dan teman-temannya tidak ada.
"Sepertinya ada yang terjadi pada Elena." Ucap Jake masih celingak-celinguk.
"Hah~ aku sudah tahu bahwa gadis itu akan menjadi beban." Gumam Sunoo malas. "Aku tidak mau ikut-ikutan, kau juga kan?" Tanya Sunoo namun Jake membuat keputusan yang berbeda.
"Aku akan ikut mencari." Jake langsung melesat tidak meninggalkan jejak.
Sunoo yang melihat itu hanya bisa membuang napas. "Elena benar-benar berpengaruh untuk kehancuran Cranium." Ia tersenyum lalu menghilang.
Elena berhenti tepat didekat mobil, gadis itu menoleh untuk melihat Chika.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Elena merasa ada yang aneh dengan temannya itu.
Chika menatap Elena dengan menakutkan lalu angin pun bertiup sangat kencang membuat aroma darah Elena tercium kemana-mana. Chika memejamkan matanya sembari menghirup udara.
Satu detik kemudian matanya terbuka, Elena langsung melangkah mundur saat mengetahui warna mata milik Chika berubah menjadi merah, gadis itu panik.
Elena menganga untuk berteriak namun suaranya tersendat. Tangannya mencoba untuk menutupi luka tapi sia-sia darah Elena sudah sempat menetes ke tanah dan aromanya sudah menyebar.
Chika tersenyum lalu muncul tepat dibelakang Elena membuat gadis itu terkejut dan jatuh ke tanah.
"Chi..Chika..." Tubuh Elena bergetar hebat, keringatnya mengucur dan goresan luka ditangannya semakin terasa ngilu.
"Aku menunggu lama untuk momen ini." Chika menjongkokkan tubuhnya dihadapan Elena.
"Kau vampir~" Gumam Elena mengeluarkan air mata.
Senyuman Chika semakin lebar, tangannya mulai menyentuh kalung yang dipakai Elena. "Kau tidak seharusnya menjadi seorang hamba.... karena seharusnya..... kau mati tanganku.".
Elena meringis saat Chika menarik paksa liontin itu, masa bodoh dengan kalung pemberian ayahnya saat ini yang ada dalam benak Elena adalah menyelamatkan diri dari iblis penghisap darah.
Seolah cuaca tidak berpihak padanya, air hujan mulai turun ke bumi. Elena berlari kearah pemukiman desa tapi dirinya kalah dari Chika yang menggunakan sihir.
Kaki Elena diseret membuat gadis itu tidak berdaya, beberapa kali kepalanya berbenturan dengan batu-batu kecil. Elena berteriak meminta tolong namun tidak ada yang mendengar. Hujan semakin deras diselingi petir yang bergemuruh dan tidak lama gelak tawa Chika terdengar. Elena mencoba untuk bangkit, ia memaksakan kakinya yang lemas untuk menapak dan berlari.
Tapi,
JEDARRRRR!
Petir yang mengkilat membuat Elena terdiam, gadis itu bukan terkejut karena petir tapi karena kehadiran Chika yang menyeramkan. Taring yang mencuat, mata merah dengan sarat kelaparan. Tanpa basa-basi lagi Chika mencekik Elena sampai tubuh gadis itu melayang.
Elena tidak bisa bernapas, kedua tangannya mencoba untuk melepas cekikan Chika.
"Aku tidak sabar untuk mencicipi darahmu." Ujar Chika cekikikan.
Kedua kaki Elena mencoba untuk bergerak namun tidak bisa, tubuhnya menjadi kaku saat mata Chika mengkilat. Sudah bosan mencekik, ia lempar tubuh Elena sampai membentur mobil milik Haruto. Bagian pintunya penyok, seluruh tubuh Elena terasa sakit yang tanpa ia sadari kaki kanannya patah. Elena meraung kesakitan, tidak ada lagi air mata yang keluar saat ia menangis.
Chika melangkah dengan angkuh, percaya diri bahwa ia bisa menyantap Elena sesuka hati. Kini tangan Elena ditarik olehnya dan pada saat itu juga taring yang panjang dan panas tersebut menancap ditangan Elena.
Awalnya Elena terdiam kaget tapi seiring kencangnya Chika menghisap, Elena merasa tubuhnya panas seperti terbakar, gadis itu berteriak sampai menggema, tubuhnya mengejang tidak terkendali.
Chika terus menghisap darah Elena tanpa henti, kenikmatan yang ditorehkan olehnya membuat Chika menutup mata tanpa sadar seseorang ada didekatnya.
Lelaki itu menendang kepala Chika membuat tubuhnya melesat terpingkal-pingkal sangat jauh.
Jake memperhatikan Elena yang tidak sadarkan diri, tubuhnya bergerak tidak terkontrol. Dirinya kebingungan tidak tahu harus berbuat apa, saat ini Jake juga sedang berperang dengan diri sendiri. Darah Elena benar-benar berbahaya untuk semua vampir.
Jake tahu bahwa ia harus menyelamatkan Elena tapi itu mustahil untuk dilakukan karena kemungkinan besar Jake tidak akan bisa berhenti.
Mendadak Elena berteriak gadis itu sedikit sadar tapi kembali kehilangan akal sehatnya untuk sesaat. Jake menoleh ke kanan dan kiri lalu mendapati Jay berserta Haruto dan Nicholas sedang menuju kemari.
Mereka semua terkejut saat mengetahui kalau Elena sudah tergigit.
"Sial, apa yang terjadi? ada apa dengan Elena? Yak! lakukan sesuatu sebelum Elena mati!." Teriak Haruto pada Jay. Ia juga menoleh pada Nicholas.
"Kumohon jangan biarkan Elena kesakitan seperti itu." Imbuh Haruto sedih, dia sangat khawatir.
Jay menoleh pada Jake dan tentunya Jake tahu apa yang ada dipikiran Jay.
"Aku tidak akan melakukannya." Seru Jake tidak percaya diri.
"Kau menyukai Elena kan? Kau harus melakukannya agar dia selamat." Ujar Jay membuat Jake semakin bingung.
"Lakukan atau kau akan menyesal." Jay terus menekan Jake untuk mau menghisap racun yang ada ditubuh Elena.
Pada akhirnya Jake mau, ia berlutut lalu mulai menyentuh tangan Elena.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Haruto.
"Dia tidak akan membunuh Elena kan?" Haruto benar-benar tidak percaya.
"Sadarkan aku saat aku menghisap terlalu dalam." Pinta Jake, ia menatap Elena sebentar sampai akhirnya memejamkan mata lalu taring pun muncul dan menancap di lubang bekas Chika. Perlahan Jake mulai menghisap, ia tidak membuka matanya lagi.
Sementara diatas pohon, Sunoo sedang memperhatikan drama yang berlanjut. Sunoo tersenyum penuh arti ketika menyaksikan Jake yang sedang menyelamatkan Elena.
"Rupanya ini akan semakin seru." Gumam Sunoo lalu menghilang.
...****...
Jake terduduk lemas di atas kursi, tangannya masih menggenggam gelas berisikan darah. Seseorang menghampirinya lalu duduk di kursi yang sama.
"Kau sudah bertindak dengan benar Jake." Ujar kepala sekolah meletakkan liontin milik Elena dimeja.
"Apakah dia belum siuman?" Tanyanya masih menundukkan kepala.
"Elena kehilangan banyak tenaga, kakinya patah dan darahnya sedikit terkuras. Mungkin untuk sementara waktu ia perlu dirawat." Jelas beliau.
Jake mengangguk pelan lalu, "aku melihat kegelapan mengenai Elena saat menghisap racun ditubuhnya.".
"Apa yang kau lihat sebaiknya tidak kau beritahu pada siapapun."
Jake terdiam lalu mengangguk lagi.
Tiga hari setelah Elena tidak sadarkan diri, Jake kembali ke rumah NiKi. Ia berjalan menaiki tangga dan mendapati Haruto baru saja keluar dari ruangan tempat Elena dirawat.
Jake tidak berniat untuk bertegur sapa dengan Haruto tapi sepupu Elena yang memulainya.
"Terimakasih sudah menyelamatkan Elena." Ucapnya membuat Jake tersenyum kecil.
"Aku melakukan apa yang memang harus aku lakukan." Jawab Jake membuat Haruto terdiam beberapa saat.
"Apakah kau benar-benar menyukai Elena?" Tanyanya tapi Jake tidak menjawab.
"Sampai nanti." Katanya masuk kedalam.
Satu hal yang perlu diperhatikan, jendelanya terbuka dan Jake perlu menggunakan sihirnya untuk menutup jendela itu.
Saat membalikkan badan, Jake agak terkejut karena melihat Elena sedang terduduk sembari menatap ke arahnya.
"Ku pikir kau belum siuman." Gumamnya melangkah ke dekat ranjang.
Elena masih memandangi Jake. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya membuat Jake terdiam lalu terkekeh.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya itu." Jake mendaratkan bokongnya disisi ranjang.
"Aku baik-baik saja, mungkin." Seru Elena melihat bekas luka gigitan ditangannya.
"Maafkan aku, kau jadi punya bekas luka." Jake menyesal.
Perlahan Elena tersenyum. "Tidak apa, aku suka kok." Pernyataan gadis tersebut membuat Jake jadi salah tingkah.
"Apakah Chika masih hidup?" Tanya Elena mencoba meraih air minum.
"Dia dikurung dirumah Cranium." Jawab Jake meraih gelas lalu memberikannya pada Elena.
"Rumah Cranium?"
"Itu adalah rumah tempat vampir bangsawan berkumpul." Jake menjelaskan.
"Jadi vampir bangsawan itu betulan ada ya?"
Jake mengangguk, ia merogoh saku celananya.
"Milikmu." Jake menyimpan liontin hati milik Elena diatas selimut.
Elena meraih kalungnya lalu menyimpannya di nakas.
"Tidak mau dipakai lagi?"
Elena mengangguk. "Sepertinya untuk sementara waktu aku tidak akan menggunakan kalung ini." Ujarnya sedikit merinding.
"Kau pasti masih ketakutan." Jake menatap mata Elena lebih hangat.
Ingatan saat digigit oleh Chika kembali menyelimuti dirinya, rasa panasnya masih terasa sampai sekarang. Kejadian malam karnaval menjadi hal yang sangat menakutkan, ia mulai membenci kegelapan.
Elena memperhatikan kulit Jake yang pucat namun bersinar, gadis itu ingat saat Jake mencoba untuk menyelamatkannya. Mendadak jantungnya berdetak sangat kencang tapi kemudian Elena teringat pada Sunghoon.
Apakah Sunghoon tahu bahwa Elena menghadapi kejadian buruk?.
to be continued....