
Kakinya bergerak ke atas dan ke bawah, gadis itu menggigit pulpen sembari memperhatikan punggung Jake. "Tumben sekali dia memilih tempat duduk dibawah, apakah sengaja agar aku bisa melihat gerak-gerik nya?" Tanya Elena dalam hati.
Lagi-lagi Elena tidak memperhatikan saem padahal ujian kenaikan kelas akan segera tiba. Ia masih asik memperhatikan punggung Jake dengan isi otak yang dipenuhi ucapan Sunghoon.
"Aku tidak peduli dengan Jake yang ku pedulikan saat ini hanyalah perasaanku pada Sunghoon. Tidak pada siapapun." Gumamnya mulai mencatat setelah tahu bahwa lima menit lagi bel akan berbunyi.
Setelah hujan berhenti terik matahari mulai muncul sontak Elena langsung menoleh ke belakang dan melihat Sunghoon tengah berganti tempat duduk ke pojok. Bangku asalnya terkena sorot matahari.
Tiba-tiba saja ponsel seorang siswi yang duduk disebelahnya mengeluarkan getaran. Elena bisa melihat sedikit bahwa ada pesan masuk tapi mendadak seluruh ponsel siswa berbunyi dan bergetar begitupun milik bu guru.
Elena mengecek pesan dari grup dan membelalakkan matanya.
...TEROR GUNUNG HUYL...
Seluruh sekolah kembali digemparkan dengan penemuan jasad di pegunungan Huyl yang jaraknya tidak jauh dari asrama dan sekolah. Semua siswa dan siswi dilarang untuk keluar asrama, mereka diharuskan sudah berada di dalam ruangan masing-masing sebelum jam 8 P.M.
Setelah melaksanakan makan malam, Elena berjalan menuju asramanya. Ia celingukan karena tidak menemukan satu siswa pun diluar. Angin berhembus kencang membuat aroma tubuh Elena tercium oleh seseorang yang sedang bersembunyi di semak-semak. Mendadak tubuhnya langsung merinding, Elena tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung berlari memasuki asrama, walaupun sudah berada di gedung tapi Elena tetap merasa ketakutan. Ia berlari di tangga mengabaikan suara sepatunya yang gaduh. Masa bodoh dengan menganggu ketenangan orang, saat ini ia sedang ketakutan.
Tepat saat di anak tangga terakhir lantai 3, Elena menghembuskan napasnya cukup lega. Ia takut tapi juga penasaran, tangannya menyentuh gagang tangga besi yang dingin. Jantungnya berdetak sangat kencang, keringat dingin mengucur dari sela-sela pelipis nya. Elena menelan ludah lalu mengintip kebawah, seolah ada sebuah kilatan dan angin yang cukup kencang baru saja melesat melewati lobi asrama. Angin berhembus ke atas menerpa wajah Elena.
"Vam.. ARGHHHHH!." Elena berteriak saat seseorang menepuk pundaknya. "Kau mengagetkan ku!." Pekik Elena terengah-engah.
"Sesuatu mengganggu mu?" Tanya Sunghoon ikut melihat lobi dari lantai 3.
Elena ragu mengatakannya. "Aku merasa ada yang memperhatikan ku didekat taman depan karena ketakutan aku berlari dan aku penasaran, makanya aku mengintip ke bawah."
Sunghoon terdiam. "Kau tidak terluka kan?" Lelaki itu mulai mengecek seluruh tubuh Elena.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi jantung mu masih berdetak sangat kencang, kau pasti masih ketakutan."
"Karena teror di gunung Huyl aku jadi mudah takut." Ujar Elena melangkah menuju kamarnya.
"Kau tidak perlu takut, aku akan selalu berada di sisimu." Sunghoon membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Elena untuk masuk.
Tapi gadis itu tidak beranjak, ia terdiam memperhatikan ranjang Chika yang kosong dan rapih. Biasanya ranjang itu akan selalu berantakan dipenuhi dengan pakaian dan sisa makanan ringan.
"Aku merindukan temanku." Gumamnya sedih.
Sunghoon memahami perasaan Elena tapi dia tidak setuju jika Elena harus kembali berteman dengan Chika.
"Apakah kau tahu dimana rumah Cranium?" Elena bertanya.
"Kau.. tahu rumah Cranium? Dari siapa?" Sunghoon menarik tangan Elena untuk masuk kedalam kamar.
"Jake bilang kalau Chika dikurung dirumah Cranium." Elena mendaratkan bokongnya di ranjang Chika, tangannya mulai mengusap sprei putih tersebut.
"Kau sangat merindukannya?"
Elena mengangguk.
"Aku akan membawamu untuk bertemu dengannya setelah ritual besok selesai." Sunghoon mengeluarkan sebuah buku dari saku hoodie nya. Bagaimana bisa benda sebesar itu bisa muat didalam saku?.
"Kau perlu mempelajarinya."
"Hanya dalam satu malam?"
Sunghoon mengangguk. "Kau bisa bertanya padaku kalau ada yang tidak kau pahami."
"Aku tidak paham semuanya." Seru Elena jadi malas. Ia pindah ke ranjangnya lalu mulai membaca kita tersebut. Seperti biasa tulisan nya bergerak.
Tangan Elena menyentuh aksara bertuliskan 'Black Eyes' setelahnya ia membuka lembaran baru. Elena ingat kalau dirinya pernah membaca bagian tersebut.
"Seorang hamba diwajibkan untuk meneteskan darahnya di atas cawan raksasa bersatu dengan darah milik sang Tuan...
"Cawan bisa diganti dengan menggunakan gelas suci lainnya. Saat bulan purnama sudah bersinar dan terlihat maka seorang hamba harus mengucapkan mantra dengan sekali tarikan napas. Jika tidak maka mantra-nya akan tertolak dan menyambar menghukum sang tuan." Elena menoleh sendu menatap Sunghoon.
"Semuanya akan baik-baik saja, El."
"Tapi bagaimana jika ternyata ritualnya gagal? apa yang harus aku lakukan saat kau tersambar petir karena salahku?."
"Aku percaya padamu."
Elena menggeleng. "Aku tidak mau melakukannya." Tolak Elena mentah-mentah. Ia tidak bisa melakukan ritual besok, Elena takut kalau Sunghoon terkutuk dan mati karena kesalahannya.
"El, aku tak punya waktu lagi. Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu, jam 12 malam tepat tanggal ulang tahunku bersamaan dengan bulan purnama muncul secara sempurna. Aku akan menerima transfer kekuatan dari ayah sambung ku setelah menerimanya, ritual kita akan dilaksanakan dan seluruh kekuatan ku akan pulih. Aku akan menjadi makhluk yang sempurna. Aku membutuhkan mu untuk melakukan semuanya." Sunghoon menyentuh tangan Elena dengan tatapan penuh harap.
Elena menggenggam tangan Sunghoon. "Kau sangat ingin menjadi seorang Raja?"
Sunghoon menatap ke sisi lain sebentar lalu kembali eye contact dengan Elena. "Aku sudah ditakdirkan menjadi seorang Raja, sekalipun aku tidak mau tapi itu sudah takdirku."
Sunghoon terdiam tidak menjawab, Elena menelan ludahnya perlahan.
"Rupanya kau memang tidak mau merubah takdirmu sendiri." Gadis itu menarik napas lalu kembali membaca kitab.
"Takdir itu tidak bisa dirubah Elena." Ujar Sunghoon.
Elena tidak bisa fokus, pandangannya menjadi buram karena matanya berkaca-kaca. Dan mungkin sebentar lagi air matanya akan jatuh ke pipi.
"Apakah kita masih bisa bertemu setelah kau menjadi Raja?" Pertanyaan Elena sedikit menyayat hati, gadis itu tahu bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Sunghoon akan begitu sibuk dengan kerajaannya. Dia akan mengurus semua rakyat werewolf dan pol*tik kerajaan. Tidak ada lagi waktu untuk bertemu dengan manusia sepertinya.
"Aku akan selalu mengunjungi mu." Gumam Sunghoon tersenyum lembut. Tangannya yang besar menyentuh pipi Elena, diusapnya pelan membuat Elena agak geli. Suhu tubuh Sunghoon sangat dingin tapi Elena menghiraukan itu.
Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, menyalurkan perasaan masing-masing lewat mata. Lampu kuning remang-remang membuat ruangan terasa begitu pas dengan keadaan keduanya yang sedang dilanda rasa bingung.
"Kau semakin cantik, Elena." Tiba-tiba saja Sunghoon memuji.
Elena terkesiap karena tidak terbiasa dengan pujian lelaki dihadapannya. "Sedang bergurau ya?" Kata Elena membuat Sunghoon tersenyum lagi.
"Sepertinya kau kelelahan, ayo kita berbaring. Kau bisa membacanya sembari tiduran." Sunghoon merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menarik Elena kedalam pelukannya.
Elena menahan senyumannya, untung saja Sunghoon tidak bisa melihat raut wajah Elena yang kesenangan. Sunghoon memeluk Elena dari belakang agar gadis itu tetap bisa membaca sebagian kitabnya malam ini. Setidaknya Elena harus tahu hal-hal penting yang ada didalam buku panduan.
Selagi Elena membaca, Sunghoon memainkan rambut panjang Elena. Sesekali ia mengendusnya karena wangi dan bulu kuduk Elena langsung merinding.
"Jangan mengganggu konsentrasi ku." Ucapnya menegur.
"Shampo apa yang kau pakai?"
"Apakah itu penting untuk kau ketahui?" Tanya Elena membuka lembaran baru.
"Aku suka wanginya, sangat lembut tapi sayang tidak mencerminkan sikapmu yang kasar." Setelah memuji Elena kini Sunghoon malah meledeknya.
"Jangan membuatku marah ya, ini sudah malam."
"Justru itu yang aku inginkan."
"Kau ingin aku marah-marah?" Elena bertanya dengan sewot.
Sunghoon mengangguk. "Pendiam dan santai itu bukanlah dirimu. Aku menyukai dirimu yang selalu meledak seperti gunung berapi. Menakutkan dan mematikan."
"Hey~ kata-kata mu itu berlebihan sekali." Elena terkekeh.
"Kau tidak kedinginan?" Mendadak lelaki berhoodie hitam itu mengubah topik pembicaraan.
Sebenarnya Elena kedinginan tapi gadis itu mengabaikan rasa dingin yang ditorehkan dari Sunghoon. Elena tidak perduli, dia sangat suka dipeluk olehnya.
"Sedikit." Jawab Elena.
"Mau ku buat panas?"
"Kau mau membuat api disini?" Elena menoleh agak mendongak.
Sunghoon menggeleng lalu berbisik pada Elena. "Aku cukup pintar dalam membuat suhu panas di atas ranjang. Kau bisa banjir keringat."
Elena mendesis saat melihat raut wajah Sunghoon yang mesum. "Ku pikir kau tidak pantas menjadi seorang Raja. Otakmu kotor sekali."
"Ingin bercinta itu kan manusiawi."
"Kau bukan manusia Sunghoon." Elena mengingatkan.
"Vampirawi?"
Siku Elena menyikut perut Sunghoon. "Jangan membuat kosa kata sendiri."
"Ish. Aku serius Elena."
"Serius perihal apa?"
"Bercinta denganmu."
to be continued.....
(Sumber Picture : Pinterest.)
Happy reading~
Selalu jaga kesehatan ya semuanyaaa🤍.