DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
19. Sunghoon I



Berlari secepat kilat menghindari makhluk kegelapan yang tersebar dimana-mana. Mereka mencoba untuk keluar dari dimensi lain.


Matanya yang tajam berhasil menghindari tombak runcing yang melesat ke arahnya. Sebelum akhirnya tanpa ia sadari ada sebuah gumpalan air yang menghantam perutnya sampai lelaki itu terpental berpuluh-puluh meter.


Julius terkejut menyadari temannya terkena serangan.


Sunghoon tidak terbentur apapun karena ia bisa mengendalikan dirinya. Ia berlari menaiki pohon, lompat ke satu ranting dan ranting yang lainnya. Matanya menatap kebawah melihat sasaran empuk, tangan Sunghoon terulur dengan cepat sembari mengeluarkan bola api berwarna hitam. Gumpalan api itu meluncur menembus tubuh Tryco, makhluk yang berada di kegelapan paling dalam.


Tryco berteriak sangat kencang sampai akhirnya hancur menjadi abu.


Julius naik ke atas pohon mengikuti Sunghoon tapi ranting yang dipijak oleh Julius meleleh karena terkena sihir Tryco yang lain. Ia hampir terjatuh tapi kecepatannya sangatlah bagus, Julius sudah berada di pohon baru. Matanya mengkilap dan berubah menjadi merah kehitaman, kedua tangannya bergerak membuat akar-akar pohon keluar dari tanah lalu menenggelamkan satu persatu makhluk Tryco.


Semakin gelap kegelapan maka akan semakin banyak jumlah Tryco yang bermunculan.


Sunghoon dan Julius saling berpandangan, mereka turun dari pohon lalu mulai menciptakan sebuah barrier tapi gagal karena satu Tryco melempar api merah ke tangan Sunghoon. Untungnya dia bukanlah vampir rendahan yang bisa mati dalam sekejap saat terkena api merah.


"Mereka terlalu banyak." Ujar Julius memperhatikan sekitar.


"Gerbangnya didepan sana, kita bisa melawan mereka semua. Keluarkan lagi akar-akarnya, aku akan membunuh semua Tryco yang ada disini." Kedua tangan Sunghoon menciptakan sebuah gumpalan api yang cukup besar.


Julius mengunci semua makhluk Tryco menggunakan akar-akar pohon, gumpalan api yang dibuat Sunghoon semakin besar. Keduanya melangkah maju dan tanpa aba-aba Sunghoon melepas gumpalan tersebut membuat semburan air panas meluap ke atas membunuh Tryco dan merusak beberapa pepohonan.


Masa bodoh dengan tanaman, mereka berlari menuju gerbang dan tepat saat memijakkan kaki di tanah pegunungan Huyl, dimensi kegelapan menghilang ditelan cahaya pagi. Matahari mulai naik membuat Sunghoon dan Julius semakin panik.


"Sial." Umpat Julius berlari masuk ke dalam sembarang lumbung.


Mereka bersembunyi dari sinar matahari. Sunghoon menggerakkan telunjuknya membuat sebuah papan besar menutupi jendela. Kini keduanya sudah aman.


Lumbungnya lembab juga dipenuhi oleh sarang dan jerami yang berserakan dimana-mana. Beberapa kusennya sudah berderit saat dipijak oleh tikus.


"Kau harus istirahat." Ucap Julius.


"Kalau aku bergelantung di atas sana kemungkinan lumbungnya akan runtuh." Sunghoon meraih buku yang digenggam oleh Julius.


Mereka berdua berhasil mendapatkan kembali kitabnya, ada banyak sekali rintangan dan negosiasi yang dilalui Sunghoon. Terlebih ia menjadi bingung mengenai sesuatu. Saat ini Sunghoon menjadi bimbang, ia merasa sudah salah mengambil keputusan tapi dirinya itu adalah orang yang selalu melanggar peraturan dan janji sehingga Sunghoon tidak terlalu khawatir kalau-kalau tidak sesuai dengan rencana. Tangannya mengusap kitab dengan pelan tapi fokusnya teralih pada benang merah yang mengikat disekitar lengan Sunghoon.


Sunghoon tertawa kecil mengingat bahwa benang merah tersebut akan membawa sebuah malapetaka besar.


Julius memperhatikan Sunghoon. "Bebanmu tampaknya semakin berat."


Senyum kecil terkuak di bibir Sunghoon. "Aku tidak percaya baj*ngan itu mulai berani mengusik diriku."


...****...


Rembulan menyinari kamar rawat Elena, angin kecil masuk ke dalam membuat tirai bergoyang. Lilin-lilin yang awalnya menyala kini hanya tinggal dua buah saja yang masih mengeluarkan api, sisanya padam karena hembusan angin yang mendadak kencang.


Matanya langsung terbuka saat ranjang berderit, Elena menoleh mantap ke ujung ranjang tepat kedua kakinya berbaring.


"Sepertinya aku membangunkan mu." Gumam Sunghoon tersenyum lembut.


Elena tidak menyahut. Ia masih dalam keadaan sadar tak sadar.


"Sepertinya aku bermimpi, lagi." Gadis itu kembali memejamkan matanya tapi hawa dingin menyengat pipinya. Ia tidak jadi menutup mata, Elena langsung menoleh ke sisi kanan.


Sunghoon tengah berbaring disisi Elena, tangan kirinya dijadikan penopang kepala sementara tangan kanannya membelai pipi Elena. "Ku pikir aku bermimpi." Dia menarik tangan Sunghoon dari pipi tembam nya.


"Kau sering memimpikan diriku?" Sunghoon bertanya.


"Kata siapa, tidak pernah kok." Ia menyangkalnya.


Sunghoon terkekeh saja mendengar jawaban Elena yang gengsi.


"Kau berhasil menemukan kitabnya?"


"Yah aku menemukannya, rupanya tidak semudah yang dibayangkan."


"Ada apa?"


"Aku dan Julius hampir mati tenggelam di kegelapan."


Elena mengernyitkan keningnya. "Apakah kitabnya baik-baik saja? tidak rusak?." Satu detik kemudian Elena meringis kesakitan karena Sunghoon menyentil keningnya.


"Kau tidak mengkhawatirkan diriku? dasar gadis kejam."


"Buktinya kau kembali dengan selamat, tidak ada luka sedikitpun sementara kalau kitabnya rusak, kan aku tidak bisa membacanya dan ritual bodoh yang kau katakan itu tidak akan berjalan dengan lancar." Elena bersungut-sungut menatap Sunghoon dengan keningnya yang berkerut.


Dia tidak menjawab melainkan hanya menatap saja. "Aku merindukanmu, El." Gumam Sunghoon membuat kerutan di kening Elena menghilang. Kini raut wajah gadis itu berubah menjadi tenang.


Elena menelan ludahnya, Jay melarang dirinya untuk menceritakan kejadian malam karnaval pada Sunghoon. "Aku ceroboh sampai mematahkan kakiku saat pelajaran olahraga." Satu set kebohongan diciptakan oleh nya.


Dan Elena mulai berpikir 'Sunghoon bukan vampir yang bisa membaca pikiran kan?'.


"Kau mematahkan kakimu? bagaimana bisa? astaga apakah Jay tidak ada disekitar mu? sehingga hal seperti ini terjadi." Sunghoon menyibak selimut. Sebuah gips patah tulang menempel di kaki kanan Elena.


"Kakiku patah bukan kesalahannya Jay tapi memang kesalahan diriku." Elena membela teman vampir Sunghoon.


"Baiklah, lain kali kau harus bisa lebih berhati-hati. Tubuhmu itu sangat berharga untukku."


Pikiran Elena langsung tidak stabil. Dirty Mind.


"Mau ku sembuhkan?"


"Menggunakan sihirmu?"


Sunghoon mengangguk, "Tapi tidak hanya mantra, ada caranya."


"Cara?"


Sunghoon bergerak, kedua tanganya ada disetiap sisi tubuh Elena. Lelaki itu kini berada diatas Elena.


"Apa yang akan kau lakukan?" Elena panik.


"Aku bisa menyembuhkan mu dengan cara.... kita harus berciuman." Sunghoon menyeringai membuat Elena merinding.


"Hentikan! Aku akan memilih pergi kedokter saja dari pada harus berciuman dengan mu." Elena mendorong tubuh Sunghoon.


Lelaki itu tertawa karena berhasil mengerjai Elena.


"Astaga, wajahmu lucu sekali." Sunghoon tidak berhenti tertawa.


"Dasar menyebalkan!." Elena melempar bantal ke wajah Sunghoon.


Gadis itu merasa lebih baik, rasa takutnya sedikit hilang saat Sunghoon kembali. Ya, walaupun Sunghoon menyebalkan tapi Elena menyukainya.


Mengingat Nicholas sudah menolak perasaan Elena secara tidak langsung. Ia menjadi memikirkan perasaan nya terhadap Sunghoon.


"Sunghoon." Panggil Elena membuat lelaki itu berhenti tertawa.


"Apakah aku boleh tahu kenapa kita harus menjalani ritual?"


Sunghoon terdiam, ia berpikir sejenak.


"Kau ingat saat aku mengatakan bahwa aku tidaklah sepenuhnya vampir?"


Elena mengangguk.


"Kau adalah manusia pertama yang mengetahui identitas diriku. Tiga hari lagi adalah ulang tahunku, kenaikan akan terjadi karena ayah angkat ku akan memberikan sebagian kekuatannya untukku. Jauh sebelum sihir yang saat ini berada di tubuhku, aku punya kekuatan yang besar. Kekuatan yang mungkin akan membuatku Overpowered. Tapi sayangnya kekuatan itu direnggut lalu disegel karena sebagai mestinya aku adalah kaum serigala." Sunghoon berhenti bercerita untuk menatap Elena yang sedang memperhatikannya serius.


"Ibuku seorang vampir dan ayahku seorang werewolf. Mereka menikah secara diam-diam sampai akhirnya ibu melahirkan diriku dan beliau tidak bisa diselamatkan. Aku bisa tahu kalau ibuku tidak mendapatkan pengakuan yang layak karena ayahku adalah seorang raja. Ayah menyembunyikan pernikahannya dengan ibuku, vampir memang berhati dingin tapi mereka juga bisa merasakan rasa sakit hati."


Elena merasa iba dan bersimpati pada Sunghoon, tanpa ia sadari tangannya sudah menggenggam tangan Sunghoon yang sedikit hangat.


"Aku sangat membenci ayahku. Setelah menyembunyikan pernikahannya dengan ibuku, dia juga menyembunyikan identitas ku yang setengah vampir. Mengumumkan diriku sebagai putra mahkota serigala dan yang paling membuatku ingin membunuhnya adalah aku diakui sebagai anak dari istri keduanya yang sesama werewolf."


Elena berkaca-kaca mendengar cerita Sunghoon. "Itu pasti sangat menyakitkan." Gumam Elena menggigit bibirnya menahan tangis.


"Sekarang aku merasa lebih baik karena bisa keluar dari istana untuk sementara waktu."


"Kau akan kembali?"


Sunghoon mengangguk pelan. "Aku menginginkan hubungan yang harmonis antara serigala dan vampir, itu semua karena ibuku. Beliau yang membuatku menginginkan hal tersebut. Maka dari itu aku perlu lebih kuat dari siapapun. Menjadi raja dari setengah vampir dan setengah serigala." Sunghoon menoleh melihat Elena, lagi.


"Karena aku adalah bagian dari MiX, aku tidak bisa membaca kitab. Oleh karena itu aku mencari seorang hamba yang akan membantuku menjadi lebih kuat. Dan aku menemukan mu."


Elena tidak senang mendengar itu, tidak ada rasa bangga juga. El, tahu bahwa pada akhirnya setelah Sunghoon menjadi raja maka hubungan keduanya akan berhenti. Elena, tidak lagi dibutuhkan oleh Sunghoon. Dan ucapan Nicholas benar, bahwa gadis itu hanya dimanfaatkan saja.


to be continued....




(Sumber Picture : Pinterest.)