DARKNESS - ENHYPEN

DARKNESS - ENHYPEN
34. Stuck In The Moment



Kegaduhan yang dibuat Elena membuat Raja dan Ratu menoleh. Mereka menatap wajah Elena yang terkejut, Raja sedikit memicingkan matanya ketika melihat Elena.


"Bukankah dia anak kecil yang berteman dengan Nicholas dulu?" Tanyanya pada Ratu.


"Elena tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, dia sekilas terlihat seperti Viola." Ratu memperhatikan Elena dari atas hingga bawah. Ia langsung terkejut ketika melihat Liontin yang dipakai gadis tersebut. "Elena memakai Liontin kebangkitan." Gumamnya dan ternyata Raja sudah memperhatikan kalung itu sedari tadi.


"Kau baik-baik saja?" Tanya EJ dan K khawatir, mereka langsung menarik Elena jauh-jauh dari serpihan gelas.


Nicholas menundukkan kepalanya dan samar-samar tersenyum setelah itu ia memanggil pelayan untuk membersihkan lantai. Lelaki itu meminta maaf kepada semua tamu yang merasa terganggu. Matanya bertemu dengan mata Sunghoon, mereka saling bertatapan dengan isi kepala mengutuk satu sama lain.


"Selamat Ulang tahun." Senyuman manis dikeluarkan Viola untuk Nicholas.


"Terimakasih sudah datang." Nicholas mengecup tangan perempuan berambut pirang itu.


Sunghoon dan Nicholas saling berjabat tangan. "Semoga kau diberkati." Ujar Sunghoon dengan nada yang monoton.


Nicholas mengangguk lalu memperkenalkan Elena.


"Perkenalkan, dia teman kecilku."


"El...Elena." Kerongkongan Elena rasanya tersumbat, dia tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata.


Dia hanya menatap Viola tidak mau menatap lelaki dihadapannya. Elena masih tidak percaya bahwa Tuhan mempertemukan dirinya dengan Sunghoon. Entah betulan Sunghoon atau bukan yang pasti saat ini jantungnya berdetak sangat kencang. Terkejut.


"Namaku Viola, senang bertemu denganmu. Kau cantik sekali." Senyuman yang tercipta di wajah Viola sangat indah dan sempurna. Elena saja merasa begitu kagum, pantas Sunghoon bisa jatuh cinta.


Para tamu saling berbisik ketika menyadari bahwa ada sedikit kemiripan antara Viola dan Elena.


"Terimakasih. Sepertinya aku harus pergi." Elena mengangkat sedikit dressnya lalu berjalan meninggalkan kerumunan. Dadanya terasa sangat nyeri, ia merasa sudah dipermainkan oleh Sunghoon. Elena pergi meninggalkan gedung tanpa berpamitan pada Nicholas. Air matanya jatuh seiring langkahnya terburu-buru untuk sampai di gerbang utama.


Kakinya terasa lemas, "Dia mirip sekali dengan Sunghoon." Lirihnya keluar dari gerbang. Ia melangkah menuju mobil Jay terparkir.


Sekali lagi jantungnya terasa seperti mencelos jatuh ke lantai. Napasnya langsung memburu, mata cokelat Elena bertemu dengan mata terang milik Sunghoon. Mereka bertatapan lama sekali. Dengan kasar Elena menghempaskan tangan Sunghoon.


"Jangan menyentuhku." Ujarnya hendak kembali melangkah namun Sunghoon mencegahnya.


Perlahan pandangan Sunghoon turun menatap Liontin. "Kenapa kau masih memakai kalung ini." Katanya kembali menatap Elena.


Bukan jawaban kata-kata yang diterima olehnya, melainkan sebuah tamparan mendarat di pipinya.


"Menjauh dariku!." Pekiknya mendorong tubuh Sunghoon.


Mendadak keadaan menjadi sunyi. Mereka terdiam ketika menyadari Sunghoon benar-benar masih hidup.


Belum sempat mengatakan semua kalimat yang mengarah ke reaksi terkejut. Mereka sudah di kepung oleh para penjaga werewolf. Terlebih pada penjaga sudah mengeluarkan cakar dikuku-kukunya.


"Aku tidak ada maksud untuk menyerang pangeran kalian." Serunya mundur untuk melindungi Elena.


"Apa yang kalian lakukan di tanah Luga Ru?" Tiba-tiba saja Nicholas muncul bersama dengan K dan EJ. Mereka melihat ke arah Elena yang sedang dijaga oleh dua Vampir.


"It's Okay. Mereka tidak berbahaya." Ujar K mencoba untuk menenangkan para penjaga.


"Aku tak ingin masalah kalian menghancurkan pesta ulang tahunku." Nicholas berjalan ke dekat Sunghoon lalu berbisik. "Bereskan masalah yang sudah kau buat tanpa harus membawa kaum serigala untuk ikut campur." Imbuhnya meninggalkan tempat.


Julius mencoba untuk menenangkan Elena.


"Pangeran Liam." EJ memanggil.


"Maaf sepertinya aku sudah salah orang."


Perkataan Sunghoon membuat Elena terkesiap marah.


"Salah orang katamu? Aku yakin 100% bahwa semua orang yang ada disini mengetahui siapa dirimu. Benar, sebaiknya kita memang tidak perlu saling mengenal. Aku akan memilih untuk menghapus tentangmu didalam memori otakku dan kalau bisa aku memilih untuk tidak pernah bertemu dengan dirimu." Air matanya tidak bisa berhenti keluar, ia berjalan ke dekat Sunghoon sembari berkata.


"Kenapa kau meninggalkan diriku begitu saja? Tidak bisakah kau memberitahu aku sebelum pergi? Setidaknya aku bisa memelukmu untuk yang terakhir kali, setidaknya aku tahu bahwa kau baik-baik saja ketika pergi. Aku mengkhawatirkan mu, aku takut kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu selama kau menghilang." Ia menangis sembari memukuli Sunghoon. Dadanya terasa sangat sesak, sakitnya berkali-kali lipat ketika Sunghoon ada dihadapannya. "Kenapa kau jahat sekali padaku. Apa salahku sehingga kau meninggalkan diriku?"


Begitupun yang dirasakan oleh Sunghoon, ia juga merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Lelaki itu sadar bahwa selama dirinya pergi Elena merasa sangat kehilangan. "Maafkan aku." Gumamnya sembari mengepalkan tangan. Ia tidak bisa memeluk Elena.


"Maafkan aku, Elena." Katanya sekali lagi lalu pergi masuk ke dalam kawasan istana.


Tangis Elena semakin menjadi, rasa sakit di dadanya semakin nyeri. Ia jatuh ke tanah tidak bisa menopang beban berat badannya.


Pelayan membukakan pintu untuk Sunghoon. Raut wajahnya terlihat begitu kesal. Dadanya juga terasa sakit karena sudah membuat Elena terluka, wanita yang dicintainya secara diam. Sunghoon menyadari bahwa dirinya sudah menjadi seseorang yang pengecut. Tidak bisa menyelesaikan masalah dan jujur mengenai perasaannya pada Elena. Ia melempar semua barang yang ada di kamarnya. Menghancurkan benda yang terbuat dari kaca hingga membuat penjaga pintunya dengan lancang masuk kedalam untuk menenangkan Sunghoon.


Elena dan Sunghoon saling menyakiti dan tersakiti.


to be continued......


[Edit Naskah]