
Suara sepatu terdengar nyaring ketika ia memijakkannya ke atas marmer. Untuk pertama kalinya ia gugup ketika hendak bertemu dengan sang ayah. Sunghoon menarik napasnya lalu masuk kedalam ruang makan yang sudah dihadiri oleh anggota keluarga. Sunghoon memberi hormat lalu duduk ditempat yang sudah disediakan.
Ia melihat lurus ke bangku kosong yang dimana itu adalah tempat Nicholas.
Di atas meja makan ini hanya Raja dan Ratu saja yang menyantap makanan mengingat Sunghoon tidak bisa mengkonsumsi makanan manusia. Ia sesekali menyeruput minumannya.
"Kapan kau akan kembali ke Istana Vampir?" Tanya ayahnya membuat Sunghoon terkejut.
"Aku tidak ada rencana untuk kembali." Jawabnya tersenyum kesal.
Sontak ibu tirinya langsung membulatkan mata.
"Kembalilah sebelum hal buruk terjadi. Liam sudah dinyatakan tiada jadi kau bisa menjalani kehidupan baru sebagai kaum Vampir." Mata hijau lelaki paru bayah itu mengingatkan Sunghoon pada tatapan bencinya Nicholas.
Dibalik meja tangannya mengepal kuat. "Apakah makan malam ini ditujukan sebagai acara pengusiran diriku?" Sunghoon bertanya sembari menyeringai.
"Aku tidak percaya kalau kehadiran diriku membuat posisi seseorang terancam padahal aku baru saja tiba beberapa hari yang lalu." Sunghoon memainkan pisau kecil di atas piring.
"Ku pikir perbuatan ayah itu sangatlah kejam, menyebarkan rumor tentang Putra Mahkota yang meninggal dunia agar Pangeran ke dua bisa naik takhta menjadi seorang Raja. Astaga, licik sekali keluarga ini."
Ayahnya memandangi Sunghoon dengan serius. "Sekalipun kau dinyatakan hidup, kau tetap tidak akan bisa menjadi seorang Raja. Karena kau cacat."
Seketika itu juga Sunghoon menggebrak kan meja.
"Apa salahnya dengan diriku yang berbeda? Sebuah perbedaan tidak akan berarti apapun. Kau harus ingat kalau diriku tercipta karena perbuatanmu pada ibuku." Sunghoon menarik napas untuk menenangkan dirinya. Sorot matanya menatap tajam pada sang ayah.
"Jaga ucapanmu itu." Ratu menegur.
Sunghoon terkekeh hambar. "Aku tidak percaya bahwa satu-satunya keluarga yang ku punya di dunia ini justru mengusirku. Dengar, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan Istana ini lagi. Terimakasih atas jamuan makan malamnya yang hangat, aku permisi." Lelaki itu membungkuk lalu pergi keluar.
Ratu menggerutu kesal karena Raja tidak bisa tegas pada Sunghoon. Ia mulai mengomel dan khawatir tentang keselamatan Nicholas.
Sunghoon kembali ke kediamannya, ia mengacak-acak semua benda yang ada dirumahnya. Dilemparnya guci ke tembok hingga berkeping-keping. Ia melampiaskan semua kemarahannya pada barang. Perasaannya terasa sangat sakit ketika mengingat percakapan dengan sang ayah. Sunghoon berteriak hingga terdengar ke rumah rakyat.
"Apa yang salah dengan diriku?!." Tekannya menarik-narik rambut.
Sunghoon merasa dibuang ketika sang ayah menyuruhnya mengubah identitas.
Sebegitu tidak berartinya Sunghoon dalam kehidupan Raja?.
Lantas untuk apa beliau mengumumkan Sunghoon sebagai Putra Mahkota jika pada akhirnya Sunghoon tidak diizinkan naik takhta?. Untuk apa dirinya dicari hingga ke pelosok dunia jika pada akhirnya Sunghoon diminta mengganti identitas?.
Ia terduduk dilantai sembari menangkup wajah. Berharap ada seseorang yang bisa menenangkan nya. Sunghoon mulai berhalusinasi kalau sang ibu tengah memeluknya, mengusap kepalanya dengan lembut dan mengatakan 'semuanya akan baik-baik saja'.
Bumi sangat kejam, bahkan pada makhluk abadi seperti Sunghoon. Sedari kecil dirinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari sang ayah. Sunghoon selalu direndahkan karena terlahir MiX, tidak direndahkan secara publik tetapi direndahkan secara tertutup. Dirinya selalu dipaksa untuk mengalah dan membiarkan Nicholas menjadi nomor 1.
Tapi kali ini Sunghoon akan bertarung dengan Nicholas untuk mendapatkan posisi kursi Raja.
Tiga Bulan Kemudian.
Sinar matahari muncul dari sela-sela dedaunan, Elena mendongak dan pada saat itu juga cahaya menusuk matanya. Dengan cepat ia membereskan buku-bukunya dan pergi dari taman.
Elena masih belum terbiasa dengan padatnya Kota. Tiga tahun ia menghabiskan waktunya di asrama dekat pegunungan, suasana yang sepi dan santai membuat Elena tidak bisa berpaling. Sangat berbeda dengan keadaan Kota yang sibuk.
Sesekali Elena pergi ke jembatan tua yang menampakkan pemandangan sungai. Disana ia akan diam selama berjam-jam hanya untuk menikmati suara arus air. Elena duduk diatas bebatuan, hembusan angin kecil membuat tubuhnya merinding.
Keningnya berkedut ketika menyadari bahwa ada sekawanan anak muda yang hendak melompat dari atas tebing ke sungai. Mereka hanya memakai celana pendek.
Gadis itu ikut terkekeh ketika melihat para anak muda saling menjahili satu sama lain. Tanpa mereka sadari ada salah satu remaja yang terlihat lebih kecil dari mereka tengah mencoba untuk mengecek seberapa tinggi jaraknya. "Dia bisa terjatuh." Gumam Elena dan benar saja, anak itu terperosok lalu jatuh kedalam air.
Elena dengan spontan langsung berteriak begitu pun dengan anak muda yang lainnya. Beberapa dari mereka langsung terjun ke bawah ketika tahu temannya tidak kunjung muncul ke permukaan. Dengan cepat Elena pergi kepinggir sungai untuk mengecek barangkali anak itu butuh pertolongan untuk pergi ke rumah sakit. Dengan susah payah Elena sampai ditumpukkan bebatuan, sepatunya basah karena beberapa kali langkah kakinya salah pijak.
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Elena.
Kedua anak muda itu kebingungan dengan kehadiran Elena. "Siapa kau? bagaimana bisa kau ada disini?" Ia balik bertanya.
"Apakah itu lebih penting saat ini? Kita harus membawanya ke rumah sakit. Kebetulan mobilku terparkir diatas sana." Seru Elena panik.
Anak kecil itu tidak sadarkan diri, ada banyak luka di kaki dan wajahnya.
"Tidak terimakasih. Kami akan membawanya pulang." Tolak remaja itu.
"Kalau begitu biar ku antar, rumah kalian pasti jauh dari sini."
"Aku bukan orang jahat, sungguh. Aku hanya ingin membantu kalian." Jelasnya.
"Baiklah, kami akan menerima bantuanmu karena kau cantik."
Jawaban itu membuat Elena terkejut. Dasar bocah, tahu apa mereka tentang cantik?.
Pada akhirnya Elena mengangkut ke lima anak remaja itu ke mobilnya. Mengantar mereka semua ke pemukiman yang berada jauh dari Kota. Ia memarkirkan mobilnya disebelah mobil tua pengangkut jerami. Karena sudah malam, desanya jadi terasa menyeramkan.
Belum keluar dari mobil saja orang-orang sudah menyerbu, khawatir dengan keadaan para bocah yang baru tiba.
"Apa yang terjadi dengan Shio?" Tanya seorang lelaki dewasa dengan wajah yang datar.
Lelaki itu mengambil alih bocah bernama Shio, ia menggendongnya dengan perlahan.
"Shio terjatuh ketika hendak melompat dari tebing untuk berenang, paman." Jelas bocah bermata hazel.
Lelaki itu tidak menjawab, ia melihat liontin yang dipakai Elena lalu membawa pergi Shio.
Elena terdiam kikuk ketika memperhatikan para orang tua yang sedang mengomeli anak-anaknya.
"Terimakasih sudah mengantar anak kami." Salah satu ibu membungkuk pada Elena.
"Ah, tidak perlu segitunya. Keadaan memang memaksa aku harus membantu mereka." Ujar Elena sungkan.
"Kalau begitu, menginaplah satu malam di desa kami. Berbahaya jika wanita cantik sepertimu berkeliaran malam-malam seperti ini."
Elena terdiam, ia ingat dengan obat sang ibu yang baru saja dibeli olehnya tadi siang.
"Terimakasih atas tawarannya tapi sepertinya aku harus pulang malam ini juga." Tolak Elena membuat para ibu khawatir.
"Baiklah, semoga kau sampai dengan selamat."
Elena mengangguk, ia berpamitan lalu masuk kedalam mobil dan pergi dari desa Luga Ru.
Tidak ada penerangan disepanjang perjalanan, hanya lampu mobilnya yang menjadi sumber cahaya utama. Ia melirik jam tangan yang baru menunjukkan pukul 7 malam masih terlalu sore untuk langit segelap ini.
Awalnya Elena tidak memikirkan hal mistis atau semacamnya, ia fokus menyetir menuju jalanan utama. Tapi mendadak tubuhnya merinding ketika melintasi jembatan tua tempat biasa ia menyendiri. Elena merasa jembatan itu tampak berbeda saat dilewati malam hari.
Sesekali matanya melirik kaca spion, Elena tahu tidak ada kendaraan lain dibelakangnya tapi gadis itu merasa sedang diikuti oleh sesuatu. Tubuhnya mulai terasa tidak nyaman, Elena menarik napas dan menambah kecepatan mobil. Lalu satu detik kemudian suara benturan terdengar dari atas mobilnya, seperti ada seseorang yang mendarat disana. Elena tidak peduli, ia terus melaju tampa menginjak rem.
Manusia macam apa yang mendarat di mobil? memangnya dia Spiderman?. Dan juga ini jauh dari pemukiman, tidak akan ada orang pada jam segini. Elena mencoba untuk menyadarkan dirinya, berusaha tetap berpikir jernih walau pada akhirnya tidak bisa. Gadis itu melihat ada seorang perempuan tengah berdiri di tengah-tengah jalan. Rambutnya yang pirang menutupi wajah wanita tersebut.
Elena menekan klakson, mobilnya yang sedang melaju dengan sangat cepat tiba-tiba saja melayang di udara lalu terpontang-panting diaspal. Beruntung Elena menggunakan seatbelt. Mobilnya dalam keadaan terbalik, Elena meringis kesakitan, tangannya mencoba untuk membuka sabuk pengaman. Samar-samar Elena bisa mendengar suara langkah kaki dari sepatu boot.
Ia merangkak keluar dari mobil, aroma bensin menyeruak menusuk hidungnya. Tiba-tiba saja rambutnya ditarik secara paksa. "Akhh~" Pekiknya kesakitan, matanya bertemu dengan mata merah dari perempuan pirang.
Wanita itu memperhatikan Elena dengan seksama. "Beritahu aku dimana keberadaan Sunghoon!." Katanya mencengkeram rambut Elena hingga beberapa rambut berhasil tercabut dari kepala.
"A...ak..aku tidak tahu dia ada dimana." Jawabnya mencoba melepas cengkeraman.
Lagi-lagi wanita itu menarik kepala Elena hingga ia menengadah. "Kau bisa kehilangan kepalamu jika tidak mau memberitahu keberadaan Sunghoon." Wanita itu menyeringai membuat tubuh Elena merinding.
"Aku benar-benar tidak tahu." Ujarnya parau.
Senyuman itu semakin mengembang ketika aroma tubuh Elena terbawa angin. Ketiga wanita tersebut mengambil napas dalam-dalam menikmati udara segar. Si wanita pirang mulai mengendus leher Elena.
Ini bukanlah pertama kalinya ia bertemu dengan vampir, Elena mulai tidak terlalu takut menghadapi penghisap darah. Tangannya bergerak masuk kedalam saku celana, ia meraih sebuah pisau lipat lalu ditusukkannya benda tajam itu ke leher wanita pirang. Cengkeramannya terlepas, Elena berlari ke sembarang arah. Yang terpenting untuknya adalah menyelamatkan diri sebelum menjadi hidangan makan malam para iblis vampir.
Langkah kakinya tidak secepat para penghisap darah, salah satu vampir berhasil melukai tangan Elena. Gadis itu berteriak kesakitan karena tangannya tercakar dan mengeluarkan darah. Ia tidak punya lagi senjata yang bisa dipakai. Jantungnya berdetak sangat kencang membuat para vampir semakin terpancing. Elena mencari ranting pohon untuk digunakan sebagai senjata. Ia memperhatikan sekitar dengan was-was.
Hening, hanya desiran angin yang terdengar ditelinga nya. Elena merobek pakaiannya untuk menutupi luka ditangan. Nafasnya memburu, ia tidak bisa melihat apapun karena gelap.
"Tertangkap." Kata seseorang muncul dari belakang.
Kaki Elena ditarik hingga tubuhnya terjatuh ke tanah membentur bebatuan. Mereka tertawa senang ketika bermain dengan tubuh Elena yang sudah mengeluarkan luka-luka. Salah satu dari mereka mencolek darah Elena lalu menjilatnya.
Matanya langsung berubah menjadi merah, taring mencuat keluar dari sela-sela giginya. "Dia membuatku lapar." Katanya memainkan lidah dipermukaan bibir.
Dan tiba-tiba saja, sebuah benda tajam melesat hingga membuat kepala salah satu vampir terlepas menggelinding ke tanah. Elena membulatkan matanya dengan sempurna, gadis itu terdiam syok sampai tidak bisa berteriak. Tubuhnya terkulai lemas, pandangannya mulai kabur. Sebelum matanya benar-benar gelap, Elena bisa melihat punggung seorang pria asing.
to be continued...