
"Bercinta denganmu." Kata-kata itu keluar dengan mulus dari mulut Sunghoon.
Elena yang sedang membaca buku langsung terdiam tidak bergerak sama sekali. Gadis itu mengalami syok. Jantungnya berdetak sangat kencang. Elena tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengalami situasi seperti ini. Apa yang harus dia lakukan jika seorang lelaki mengajaknya untuk bercinta?.
"Aku tidak paham dengan ucapan mu." Pura-pura tidak tahu adalah jalan ninja untuk Elena melewati pertanyaan seperti tadi.
"Baiklah kali ini aku meloloskan mu." Sunghoon tersenyum dan membiarkan Elena untuk membaca kitabnya dengan tenang.
Hanya dentingan jam dan desiran angin yang terdengar. Lampu utama tidak digunakan karena Elena suka penerangan yang agak padam. Gadis itu mulai bisa fokus, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Tangannya menyentuh setiap kosa kata yang tertulis di kertas usang.
Keningnya sesekali berkedut karena mendapatkan penjelasan yang mencengangkan.
"Ngomong-ngomong dimana kita akan melakukan ritualnya?" Elena memecah keheningan.
"Peternakan dipertengahan jalan dekat sungai."
Setelah mendapat jawaban, Elena tidak mengeluarkan suara lagi. Selagi gadis itu membaca buku, Sunghoon mulai bermain sihir ditangannya. Elena terkejut saat melihat sebuah api keluar dari jari telunjuk lelaki itu. "Ini bukan pertama kalinya aku melihatmu mengeluarkan api dari tangan tapi aku tetap saja terkejut."
"Itu karena kau tidak terbiasa."
"Bisa kau matikan? bagaimana jika terjadi kebakaran disini?"
"Aku bisa memadamkannya dengan air." Sunghoon menjentikkan jarinya, api yang tadi menghilang dan digantikan dengan bola-bola air kecil.
"Wah~ kau benar-benar seorang dukun."
"Aku lebih merasa terhormat dipanggil seorang penyihir dari pada dukun."
"Ya ya ya, terserah kau saja." Elena memutar bola matanya lalu menutup buku dan menyimpannya disisi ranjang. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Sunghoon.
Tangannya memeluk dan mengusap punggung lelaki tersebut.
"Aku mengantuk." Elena memejamkan matanya. Ia masuk kedalam dekapan Sunghoon.
"Tidurlah~." Sunghoon mengecup ubun-ubun Elena.
"Sunghoon, apakah kau menyukaiku?"
Lantas Sunghoon terdiam sebentar. "Ya~ aku menyukai dan mencintaimu." Jawab Sunghoon tanpa ragu namun Elena tidak merasakan apa-apa saat lelaki itu berterus terang.
"Kau tahu, aku takut kalau kita tidak pernah bertemu lagi. Apakah kita harus mengambil foto?" Elena merogoh ponselnya lalu membuka kamera.
Gadis itu mengangkat tinggi-tinggi tangannya tapi hal yang tidak terduga menyakiti hatinya. "Ah~ aku lupa. Kau tidak mungkin muncul di kamera." Ujarnya lirih, Elena menyimpan kembali ponselnya.
Sunghoon tahu bahwa saat ini Elena sedang ingin membuat sebuah kenangan yang indah. Kenangan yang dapat diingat.
"El." Sunghoon memanggil.
"Hm?." Gadis itu mendongak.
Sunghoon mencium bibir Elena lalu menutup matanya. Elena terkejut tapi kali ini ia tidak bersikeras menjauhkan Sunghoon dari dirinya. Tangan Elena naik menyentuh tengkuk leher Sunghoon. Gadis itu membuka mulutnya menyambut mulut Sunghoon dengan baik.
Benar yang dikatakan lelaki berdarah Serigala dan Vampir itu, dia merubah suhu dingin menjadi panas. Membuat Elena banjir keringat karena ulahnya. Sesekali gadis itu mengerang tidak tahan membuat Sunghoon semakin terpancing.
Malam yang amat panjang untuk keduanya, mereka menghabiskan malam ini dengan membuat kenangan yang tidak akan pernah hilang dalam ingatan.
...****...
"Aku mencintaimu Sunghoon." Tiba-tiba saja kata-kata itu muncul kembali. Sunghoon terkekeh didalam mobil mengingat kejadian semalam.
Dia memarkirkan mobilnya didepan gerbang dan memilih untuk berjalan kaki menuju lapangan. Dia baru saja mengambil beberapa pakaian formal untuk acara malam ini.
Sekolah mengadakan upacara pemakaman untuk orang-orang yang ditemukan meninggal dunia di gunung Huyl. Seluruh siswa membawa karangan bunga dan diletakkan di foto para mendiang. Acaranya terbuka sehingga para penduduk desa Huyl bisa ikut serta melaksanakan upacara pemakaman.
Elena meletakkan bunganya didepan foto Lusy. Ia mendoakan agar Lusy bisa hidup lebih di tenang di alam yang baru. Matanya jatuh pada sebuah pigura cokelat keemasan. "Cantik sekali." Puji Elena ketika melihat wajah seorang wanita berambut pirang, terlihat seperti blasteran. Gadis tersebut adalah salah satu korban kebrutalan orang pedalaman Huyl.
Ya~ walau kenyataannya, perbuatan keji itu adalah perbuatan para vampir. Bukan manusia.
Beberapa orang menangis karena belum bisa menerima kepergian kerabat serta keluarganya.
Saat kembali ketempat duduk Elena melihat Sunghoon tengah berbicara dengan Jay didekat pohon. Mereka tampak sangat serius.
Elena menyentuh liontin nya. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan jam setengah 11 malam. Hanya tinggal beberapa jam lagi ritual akan segera dimulai.
Gadis itu mencoba untuk rileks, sesekali mengingat-ingat mantra yang sudah dihapal olehnya. Tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dan meminta bantuan.
Dari kejauhan Jake memperhatikan Sunghoon, ia tidak berkedip sama sekali. Matanya yang tajam, bibirnya yang terkatup rapat membuat Jake terlihat begitu tegas dan dingin seolah sedang menyimpan dendam didalam hatinya.
"Bukankah wanita pirang itu kenalan mu?" Tanya Heeseung pada Sunoo.
"Aku tidak mengenalnya." Ketus Sunoo. Dia pura-pura tidak mengenali, padahal beberapa malam yang lalu Sunoo sempat bertemu dengan gadis pirang itu tapi entah bagaimana wanita tersebut bisa menjadi korban mutilasi.
Angin berhembus kencang membuat beberapa bunga terbawa angin, awan hitam bergerak dengan sangat cepat menyapu awan lainnya. Tampaknya hujan akan turun sebentar lagi.
Sunghoon menjemput Elena yang sedang berada di aula.
"Tempatnya berubah, seseorang mengetahui rencana ku. Kita akan melakukan ritual di rumah bekas milik Julius." Ujar Sunghoon menekan kunci mobil lalu membuka kan pintu untuk Elena. "Pasang sabuk pengamannya." Tambah Sunghoon menutup pintu lalu memutari mobil dan membuka pintu mobil pengemudi.
Remaja itu memberikan kitab pada Elena dan menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana dengan cawan nya?"
"Julius sudah mengurusnya." Jawab Sunghoon fokus mengendarai mobil.
Elena berusaha membaca kembali kitab tersebut barangkali ada yang terlewat. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Sunghoon. Jika seandainya ada kecerobohan dari dirinya maka kemungkinan besar Sunghoon akan menjadi korban.
Rintik hujan mulai menutupi kaca mobil, Elena menoleh kebelakang ketika tahu ada yang mengikuti mereka.
"Aku meminta Jay untuk mengawal." Jelas Sunghoon.
Elena mengangguk saja, jantungnya mulai berdetak sangat kencang. Telapak tangannya mengeluarkan keringat. Gadis itu mulai merasa ketakutan, apakah semuanya akan berjalan dengan lancar? apakah ini semua betulan atau hanya mimpi saja?. Elena menarik dan menghembuskan napasnya mencoba untuk menenangkan diri.
Mendadak hujannya sangat lebat, gemuruh petir juga terus terdengar entah menyambar bagian apa. Sesekali kilatannya membuat Elena terkejut.
Gadis itu kembali menoleh kebelakang namun merasa ada sesuatu yang aneh.
"Sunghoon~ aku rasa yang mengikuti kita dibelakang bukanlah Jay." Kata Elena membuat Sunghoon melihat kaca spion.
Dan satu detik kemudian suara pecahan kaca mobil disusul dengan petir yang menyambar membuat keadaan semakin mencekam. Teriakan Elena membuat semuanya semakin dramatis.
Belum lagi sambaran petir yang mengenai batang pohon hingga mengeluarkan percikan api dan membelahnya menjadi dua. Sebentar lagi salah satu batang pohon itu akan jatuh menimpa mobil. Dengan cepat Sunghoon menarik tangan Elena dan keluar dari mobil tersebut. Ia melesat bagaikan angin.
Keduanya diguyur hujan, Sunghoon menoleh melihat Elena yang sudah tidak sadarkan diri. Dia celingukan mencari tempat yang aman, matanya yang tajam melihat gubuk kecil yang sudah sangat usang. Dibaringkannya Elena di sana, ada luka di bagian pipi gadis itu. Sunghoon tersenyum kecut melihat gadisnya terbaring lemas. Tiba-tiba saja Sunghoon teringat dengan kitabnya, kitab itu pasti tertinggal didalam mobil.
Lelaki berjas itu menutup gubuknya dan berlari ke mobil, namun tubuhnya langsung melayang dan menghantam sebuah batu. Sunghoon meringis kesakitan, dia tidak sadar bahwa seseorang yang jahat tengah membuntuti nya. Kakinya kembali berdiri dengan tegak, Sunghoon menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari siapa yang sudah menyerangnya.
"Aku tidak berkelahi dengan seorang pengecut." Katanya memperhatikan sekitar. Hujan yang deras tidak mengganggu penglihatan Sunghoon yang tajam.
Ia bisa melihat ada seseorang dibalik pohon.
Sunghoon melempar gumpalan air ke arah pohon tersebut dan seseorang misterius itu bisa menghindarinya.
"Apa yang kau inginkan?" Teriak Sunghoon mendongak ke atas untuk melihat lelaki yang mengenakan jas, sama seperti dirinya.
Mungkinkah seseorang dari sekolah?.
"Semua yang ada padamu." Jawab lelaki itu sembari melompat ke atap gubuk yang sebentar lagi akan roboh.
Sunghoon mengernyitkan keningnya, takut kalau Elena tertimpa reruntuhan.
"Serahkan semua kekuatanmu maka wanita yang ada didalam akan baik-baik saja." Ujarnya tersenyum licik.
Sunghoon tidak bisa memastikan siapa lelaki tersebut karena lelaki itu memakai topeng.
"Kau mau kekuatanku? maka rebut lah." Gumpalan air panas yang cukup besar kini melayang tepat menyentuh pakaian lelaki tersebut.
Segera mungkin Sunghoon menyerangnya lagi tanpa ampun, agar dia bisa melihat siapa lelaki dibalik topeng itu. Tangannya bergerak memberi insting pada bebatuan, hingga puluhan batu itu mengarah pada musuhnya.
Musuh yang dihadapi Sunghoon tampaknya sangatlah pandai, dia bisa menghindari beberapa batu sementara beberapa batu lainnya berhasil menggesek tubuh lelaki itu.
Selagi Sunghoon sibuk menyerang, ia tidak sadar dengan kakinya. Kedua kaki Sunghoon sudah terikat oleh akar besar, dia tidak bisa bergerak.
"Bodoh." Si topeng mengejek Sunghoon.
Sunghoon teringat akan sesuatu mengenai akar. "Julius?" Gumam Sunghoon lalu mengerang keras. Tubuhnya lagi-lagi melayang sangat jauh hingga mendarat tepat di atas mobil.
Mobil hitam itu jadi penyok.
Seseorang tertawa senang ketika Sunghoon merasa kesakitan. Lelaki itu berjalan dengan santai dan memasuki gubuk. Dia berjongkok dihadapan Elena yang belum sadarkan diri. "Wanita ini terlalu banyak menyimpan rasa sakit, maka akan lebih baik kalau dia tidak lagi ada di dunia ini." Katanya menyelipkan rambut ke telinga Elena.
"Kau tidak seharusnya berharap bisa hidup bersama dengan makhluk terkutuk seperti kami, Elena." Tambahnya menyentuh jerami.
Sentuhannya bisa menciptakan api, perlahan apinya mulai menjalar. Tubuh Elena juga mengambang di udara.
"Bagaimana? kau sudah menentukan pilihanmu?" Lelaki itu membalikkan tubuhnya menghadap Sunghoon yang sudah berdiri tegak dengan keadaan yang kacau.
"Kau tidak punya banyak waktu, sebentar lagi lolongan Serigala akan terdengar."
"Siapa kau? dan apa alasanmu melakukan ini?." Tanya Sunghoon terbatuk-batuk.
Lagi-lagi lelaki itu tertawa namun kali ini lebih menyeramkan. Dibalik topeng lelaki tersebut, Sunghoon bisa melihat matanya yang merah menyala.
"Tentu untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Melebihi keinginanmu."
Bagai kutukan, petir menggelegar membuat tanah sedikit bergetar. Sepertinya sang pencipta sama sekali tidak sudi jika lelaki itu harus menjadi seorang pemimpin.
"Kalau begitu, langkah-i mayat ku terlebih dahulu."
to be continued....