
Setelah mendapat telpon dari Puma-pelayan rumahnya yang paling setia. Elena langsung pergi ke kota untuk melihat keadaan ibunya yang semakin memburuk. Padahal baru tiga hari yang lalu ibunya di bawa kerumah sakit.
Dengan mengendarai mobil milik Chika, gadis itu melaju dengan cepat.
Sementara disisi lain, Sunghoon mengetuk pintu asrama Elena tetapi yang diharapkan tidak muncul.
"Elena tidak ada disini, dia sedang menjenguk ibunya." Jelas Chika memandangi Sunghoon seolah tahu sesuatu.
"Maaf sudah mengganggu kalau begitu."
"Kau.. kau tidak sepenuhnya vampir kan?" Pertanyaan Chika sedikit menohok untuk Sunghoon.
Sunghoon menarik napas dan tidak menjawab pertanyaan Chika, ia melanjutkan langkah kakinya menuju tangga.
Jeritan mengerikan menggema membuat tubuh Elena merinding. Kedua tangan dan kaki ibunya di ikat ke sisi tiang ranjang, matanya melotot berwarna merah.
Irina menatap Elena dengan tatapan seolah ingin membunuh. "KAU~ KARENA KAU JUNGWONKU MATI! KARENA KAU SUAMIKU MATI. ANAK IBLIS, KAU ANAK IBLIS!." Ibunya mulai meracau buruk tentang Elena.
Elena sudah terbiasa dengan caci maki yang ditorehkan ibunya. Elena paham betul mengapa ibunya seperti itu.
"BUNUH DIA! DIA TIDAK PANTAS UNTUK HIDUP! KEMBALIKAN JUNGWONKU, KEMBALIKAN JUNGWONKUUUUUUU!." Irina berteriak diselingi tawa dan isak tangis.
Para pelayan sudah kelelahan menangani nyonyanya yang tidak kunjung sembuh, sudah tiga belas tahun Irina seperti ini. Berteriak, menangis, tertawa, meracau, dan mencoba bunuh diri. Semua itu menjadi rutinitas Irina setiap saat. Seolah bukan sakit kejiwaan, obat pun tidak mempan menyembuhkan Irina.
"Nona, sebaiknya nona menunggu dibawah saja."
Elena mengangguk, dengan ragu dia meninggalkan ibunya dalam kondisi buruk. Puma mengatakan kalau ibunya akan membaik saat Elena ada disisinya tapi sepertinya itu semua salah. Irina sering kali semakin menjadi-jadi saat melihat Elena.
Gadis itu menuruni tangga dengan gontai.
Sejak lahir Elena tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Hanya caci maki dan perbuatan buruk yang didapat dari sang ibu.
Elena tidak pernah meminta untuk dilahirkan, semuanya adalah takdir, jadi dia tidak seharusnya di perlakukan buruk.
Elena juga tidak pernah membunuh kakak kembarnya, Yang Jungwon. Tuhan yang merenggut nyawa Jungwon bukan Elena.
Dan juga setelah ke pergian ayah dan pamannya, Elena menjadi sendirian. Tidak ada yang membacakan dongeng untuknya, tidak ada yang mengecup keningnya saat ia terlelap dimalam hari. Hanya ayah, paman dan Haruto yang menganggap keberadaan Elena. Sehingga saat beliau meninggal dunia, Elena sangat terpukul, kala itu usianya 6 tahun. Usia dimana Elena sedang tumbuh besar dan penasaran akan segala hal.
Ia mengusap air matanya yang jatuh ke pipi, menarik napas dalam-dalam lalu pergi keluar dari rumah megahnya yang menyimpan kepedihan amat dalam. Kehadiran Sunghoon saat Elena membuka pintu membuatnya merasa tertolong. Gadis itu langsung memeluk Sunghoon dan menangis didalam dekapannya. Suhu dingin menjalar ketubuh Elena, sekarang gadis itu mulai percaya kalau Sunghoon memanglah vampir. Tidak ada suara detak jantung saat Elena menempelkan telinganya ke dada bidang milik Sunghoon.
Ia usap pelan kepala Elena dan membiarkan gadis itu untuk menangis. Sunghoon membawa Elena berteleportasi ke sebuah peternakan sapi dan domba. Gadis itu mendongak menatap Sunghoon, "kenapa membawaku kesini?".
"Kau perlu bertemu dengan teman-temanmu." Ujarnya menunjuk dengan dagu ke arah sekumpulan domba yang sedang memakan rerumputan.
"Menyebalkan!." Pekiknya melepas pelukan.
Sunghoon menghembuskan napasnya, lega melihat Elena berhenti menangis.
Tadi, saat ia bersentuhan dengan Elena. Sunghoon bisa masuk kedalam masalalu gadis itu. Masalalu yang cukup mengerikan untuk seorang manusia.
"Kau terpuruk karena ibumu?"
Elena menoleh kebingungan, "apa maksudmu?".
"Terkadang aku bisa melihat masalalu seseorang dengan menyentuhnya, namun hanya waktu tertentu saja berbeda dengan temanku Ni-Ki. Dia memang dikaruniai kekuatan seperti itu sejak lahir." Serunya meraih tangan mungil Elena. "Dan sentuhan kali ini, aku tidak melihat apapun." Imbuhnya tersenyum.
"Apa yang kau lihat tentang masalaluku?" Elena menarik tangannya dari genggaman Sunghoon.
"Tidak banyak, hanya teriakan ibumu yang mengatakan kau adalah anak iblis dan pembawa sial."
Elena langsung menahan napasnya saat Sunghoon mengucapkan itu, faktanya itu adalah kata-kata yang sangat dibenci oleh Elena.
"Kau membunuh kakakmu?"
Elena langsung menatap Sunghoon dengan tajam. "Apakah kau melihat aku membunuhnya?".
"Tidak, aku hanya mendengarnya dari ucapan ibumu."
"Aku tidak pernah membunuhnya, Jungwon memang sudah mati sejak lahir." Tekan Elena mulai jengah dengan pembahasan itu.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk melupakan semuanya.
"Lain kali jangan membawaku kemari." Ujar Elena mendongakkan kepalanya untuk merasakan sedikit sinar matahari. Mendadak dia ingat sesuatu, Elena menoleh untuk mengecek keadaan Sunghoon.
"Kau terbakar." Serunya panik. Tubuh remaja itu sudah mengeluarkan kepulan asap dengan cepat Elena mendorongnya ke dekat pepohonan.
Sunghoon yang sedari tadi fokus pada Elena baru tersadar. "Hampir saja aku menjadi abu." Gumamnya menjentikkan tangan dan pada saat itu juga cuaca berubah menjadi mendung tidak secerah tadi.
Elena memiringkan kepalanya merasa kalau kekuatan Sunghoon itu sangatlah tidak wajar dan juga seperti ada yang aneh dengannya. Padahal sedari tadi mengobrol, tubuh Sunghoon tidak mengeluarkan asap. Lalu bagaimana bisa dia mengubah cuaca? bukankah kekuatan itu mustahil dilakukan oleh seorang vampir?.
Tiba-tiba saja tubuh Elena ditarik kebelakang, gadis itu mengintip di balik punggung lebar milik Sunghoon.
Sekitar enam sampai delapan orang lelaki berhenti tepat dihadapan mereka. Elena bisa merasakan kalau Sunghoon memegangi tangannya-terlalu kencang.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya lelaki berambut hitam dengan postur tubuh yang tegak dan berotot. Elena bisa menebak bahwa lelaki itu adalah ketua gengnya.
"Kami hanya sedang menikmati cuaca cerah." Seru Sunghoon dengan nada yang hati-hati.
"Pulanglah sebelum kau terbakar matahari." Imbuhnya melenggang pergi bersama pasukannya yang menertawakan Sunghoon.
"Kau kenal mereka?" Tanya Elena langsung setelah Sunghoon melepas genggamannya.
"Mereka para serigala."
Elena menganga sejenak lalu tertawa hambar, dia tidak percaya kalau cerita didalam novel benar-benar nyata adanya. "Ah benar aku lupa akan hal itu. Jika ada vampir tentunya ada manusia serigala." Elena menyentuh keningnya frustasi.
"Kita harus pulang." Lelaki itu mengulurkan tangannya.
Pelan-pelan Elena meletakkan tangannya diatas tangan milik Sunghoon. Bukan hawa dingin yang didapat tetapi kehangatan yang membuatnya secara tidak sadar merasakan kenyamanan.
...****...
Jake memperhatikan wanita pujaannya, perempuan berambut panjang dengan kulit seputih susu ditambah bola mata yang besar berwarna merah.
Dia sedang di dandani karena bagaimanapun juga penampilan adalah nomor satu mengingat Mirae adalah seorang putri.
"Beritahu Sunghoon untuk tidak bermain lama-lama dengan gadis manusia itu. Bagaimanapun juga dia akan menjadi tunanganku." Jelasnya mengangkat cermin tetapi tidak ada pantulan dirinya, Mirae tidak bisa melihat wajahnya secantik apa.
"Aku bisa menjadi raja untukmu." Seru Jake menyentuh patung phoenix.
"Kau tidak sekuat Sunghoon dan bahkan kau tidak seambisius Sunghoon. Kau juga bukan seorang raja, kau hanyalah pangeran yang entah kapan akan naik tahta. Aku tidak sudi memiliki pasangan seperti siput." Katanya menyinggung.
Jake tersenyum kecewa mendengar ucapan Mirae.
"Aku bisa melakukan apapun bahkan merebut kekuatan Sunghoon sekalipun, asalkan kau bersedia menjadi ratuku. Lagi pula Sunghoon itu hanya seorang raja dari kerajaan kecil, dia tidak akan berpengaruh untuk kerajaanmu."
Mirae mengernyitkan dahinya. Dia bisa melihat kalau Jake bersungguh-sungguh untuk merebut posisi Sunghoon.
"Mirae, kau lupa sesuatu tentang Sunghoon. Dia adalah vampir yang bahkan namanya tidak tercatat di red house, dia membantai raja, ratu serta rakyat di kerajaan Rodus lalu naik tahta begitu saja. Kau pikir itu tidak mencurigakan? dia bahkan bisa tidak minum darah manusia dalam jangka satu minggu. Kau tidak berpikir bahwa dia seorang Mix?" Pernyataan Jake membuat Mirae terdiam.
"Kau pikir seorang Mix bisa membaca kitab? ayolah Jake berhenti berpikir buruk tentang Sunghoon. Dia adalah bagian dari kita, dia adikmu bahkan ibumu sangat menyayanginya."
"BERHENTI MENUTUP MATA MIRAE!." Tiba-tiba Jake berteriak, dia sudah muak dengan Mirae yang masih saja mendukung Sunghoon.
"Kau menerima segalanya tentang Sunghoon karena kau benar-benar jatuh cinta padanya, kau harus sadar bahwa pernikahan kau dan Sunghoon nanti hanyalah untuk gimmick dan juga tidakkah kau khawatir kalau Sunghoon itu berasal dari para serigala?"
"CUKUP!." Kini Mirae yang membentak, gadis itu menepis tangan pelayan yang sedang memoles lipstik darah ke bibirnya.
"Sudahku katakan Sunghoon tidak mungkin berasal dari serigala. Dia tidak memiliki tato werewolf, Sunghoon meminum darah manusia, dia juga akan terbakar saat terkena matahari. Ciri-ciri mana yang kau kira dia itu adalah manusia serigala?" Mirae bertanya dengan nada yang menyatakan bahwa Jake tidak mungkin bisa menjawab pertanyaannya.
"Kau menyembunyikan semua kecurigaanmu terhadap Sunghoon." Ujar Jake melenggang pergi dari singgasana Mirae.
Wanita itu memerintahkan pelayannya untuk pergi, tangannya mengepal menahan amarah. Kenapa Jake sebegitu berusahanya untuk menggulingkan Sunghoon? padahal mereka sudah ribuan tahun bersama.
to be continued...