Come & Hug Me

Come & Hug Me
< KENANGAN >



Din ayo bus kita udah ada tuh." Revan langsung menarik tangan Andini. Mereka berdua duduk bersebelahan. Andini berada di dekat jendela. Tak ada percakan yang keluar dari mulut mereka di sepanjang perjalanan. Andini masih termenung dengan ingatan masa lalunya.


"Din......" Revan menggoyangkan tubuh Andini. Ini kita udah sampe di halte pertama. Kamu gak akan turun gitu? Atau mau turum di halte kedua bareng aku?"


Andini tersadar dan membenarkan duduknya. "Aku turun duluan yah." Andini beranjak dan keluar dari bus.


"Loh kok kamu ngikutin aku, bukannya tadi kamu bilang mau turun di halte kedua." Andini menghentikan langkahnya.


"Ehh siapa yang ngikutin. Aku mau ke toko roti ibu aku dulu. Kamu mau ikut? Ibu aku pasti senang kalo aku mengajak seseorang. Ibu aku juga pasti senang melihat kamu. Dan pastinya akan bangga sama aku baru sehari pindah aku udah punya temen baru, mana cantik lagi." Revan berniat untuk mengajak Andini dan mengenalkan pada ibunya dengan perasaan bahagia.


"Emm... makasih tawarannya, aku mampir lain kali aja. Udah sore banget, aku pengen cepet-cepet rebahan aja."


Padahal dalam hatinya, Andini sangat ingin menerima tawaran dari Revan. Karena Andini yakin pasti ayah dan kakaknya belum pulang.


"Oh yaudah, hati-hati di jalan ya Din.... salam buat ayah dan ibu kamu."


Degh....


Ibu.... Andini kangen sama ibu....


Andini meninggalkan Revan sementara Revan berjalan menuju toko roti ibunya itu.


Sesampainya di rumah. Benar saja dugaannya tak pernah meleset. Andini tak melihat mobil ayah atau pun kakaknya.


Apa mereka selalu bersenang-senang setiap hari sepeninggal ibu, sampai lupa waktu untuk pulang. Cih...


Mereka bertiga tinggal satu atap, tapi jarang sekali bertatap muka apalagi berkomunikasi layaknya keluarga.


Andini langsung naik ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Tiba-tiba terlintas Revan dalam fikirannya. Andini tersenyum kala mengingat kejadian-kejadian tadi di sekolah bersama si anak baru itu.


Air muka Andini berubah murung dan sedih, rasa bersalah terus terlintas dalam benaknya. Wajah Revan yang kesakitan oleh perbuatan Alex selalu terbayang.


Kemudian Andini mengingat pertemuan pertamanya, pertama kali ledua mata mereka bertatapan langsung.


"Aaaaaaaaaa......."


Kenapa momen pertama bertemu aku di pergoki sama dia sedang mimpi mantap-mantap.


"Aaaaaaaaaa......."


Gi**mana kalo dia mikir aku ini cewek mesum, cewek aneh.


"Aaaaaaaaaa......."


Andini menenggelamkan wajahnya dengan bantal. Membayangkan kejadian itu membuat Andini malu-malu sendiri.


Gimana nih besok, apa aku pura-pura mati aja buat naha malu. Oke... aku bakal pura-pura gak liat dia. Buat dia seolah kasat mata. Hahaaa..... Andini mencoba menghibur dirinya yang malu setengah mati.


Dari arah pintu "Non, kenapa? Ada apa teriak-teriak apa ada maling?"


Andini mencoba bangun dan melihat Bi Inah "Ehh engga, heheh lagi mimpi kayanya."


Waduh apa tadi aku teriak kenceng banget yah.


"Oh yaudah kalo gitu Bibi ke bawah lagi mau nyiapin makan malam." Pergi meninggalkan kamar Andini.


Selesai makan malam Andini menonton TV di temani Bi Inah. Mereka sesekali ngobrol tentang kenangan-kenangan disaat ibu Andini masih hidup.


Jam menunjukan pukul 21.00. Kakak dan ayahnya masih saja belum pulang. Andini sudah terbiasa dengan hal itu belakangan ini.


"Bi aku naik yah, udah ngantuk. Bibi sebaiknya tidur juga gak usah nunggu kak Mira sama ayah. Cih...aku saja gak mau ketemu mereka yang sekarang selalu asik dengan dunianya, melupakan ibu dengan mudahnya." Andini beranjak.


Pintu terbuka, Andini melihat kakaknya masuk dengan jalan sempoyongan, ditemani teman laki-lakinya.


Cih... ganti lagi?


"Wah kak Mira ko udah pulang sih, padahal belum pagi loh. Pake bawa-bawa tuyul masuk rumah kalo ada yang ilang gimana?" Menghampiri kakaknya.


"Ehh... adik... kakak.... yang... paling... cantik... belum tidur.... oh iya kenalin..... temen kaka.... mau... nginep kasian.... kalo.... pulang... kemaleman."


"Bi, antar dulu kak Mira ke kamar aku mau beresin dulu tuyul ini." Mendorong laki-laki itu keluar. "Kamu, cowok gak bener sana pupang jangan ganggu lagi kak Mira, ngerti."


"Pak Anto.... sini Pak. Bawa laki-laki ini keluar jangan lagi biarin masuk ke rumah ini."


"Baik, Non"


"Ehhh bentar dulu, Pak Anto tolong bawa kunci mobil kak Mira biarin dia pulang jalan kaki aja."


Laki-laki itu diam tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya dan Andini pun masuk dan kembali duduk di sofa. Bi Inah pun sudah kembali dan mendekat pada Andini.


"Non, sebainya Non juga langsung tidur aja. Bukannya tadi Non udah ngantuk. Biar bibi aja yang matiin televisinya."


"Iya bentar lagi Bi."


Kalo udah kaya gini mah ngantuk ilang. Dasar kak Mira!!


"Bibi kalo udah ngantuk duluan aja gak apa-apa ko. Bentar lagi juga aku naik." Andini merebahkan tubuhnya ke sofa.


"Mana bisa Non. Bibikan harus bukain pintu kalau Tuan sudah pulang. Kalo Bibi tidur nanti bisa kebablasan." Mendekati Andini lalu memijat kakinya.


"Aduh makasih Bi." Merasa pijitan bi Inah membuat rileks dirinya.


"Emang ayah suka pulang jam berapa?"


"Tidak tentu, Non. Tapi biasanya jam 11.00 atau paling lambat jam 02.00." Beralih memijat kaki yang satunya.


"Udah udah Bi. Makasih yahh, aku mau ke kamar aja." Andini langsung pergi.


Jam menunjukan pukul 06.00. Andini telah bersiap dan langsung turun. Dimeja makan telah siap sarapan untuk Andini. Andini langsung memakannya.


Seperti biasa dia sendiri di meja makan yang sama, saat ibunya masih ada. Dulu selalu ada tawa dan canda sebelum ia berangkat ke sekolah. Berantem yang gak penting dengan kakaknya untuk menarik perhatian ayah dan ibunya. Selalu ada cium pipi ayah dan ubu sebelum berangkat.


Rasanya kehangatan da kebahagian yang dulu ia rasakan kini lenyap bersama ibunya yang telah tiada dan mungkin tidak akan pernah kembali seperti ibunya.


Kak Mira yang berubah, tiap hari pulang malam selalu dengan keadaan mabuk. Andini bahkan tidak tahu bagaimana nasib kuliah kakaknya kalo keadaan kakaknya seperti ini. Yang Andini kesalkan adalah sifat kakaknya yang bergonta-ganti pasangan. Dan bahkan selalu menginap. Andini tak bisa membayangkan apa yang mereka perbuat di kamar. Suara desahan dan rintihan selalu terdengar ke dalam kamarnya. Entahlah ayahnya mengetahui atau tidak. Atau membiarkan saja. Hanya kemarin malam saja Andini berani mengusir teman laki-lakinya itu, karena Andini sudah benar-benar muak dengan perilaku kakaknya.


Ditambah ayahnya, tak pernah betah di rumah selalu sibuk dengan urusan kantornya. Padahal yang ia tahu, dulu sewaktu ibunya masih ada ayahnya tak pernah pulang telat, selalu menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dan bertanya pada anak-anaknya.


Andini harus mulai terbiasa dan memang sudah terbiasa keadaan yang tak akan seperti dulu lagi.


Keadaan itu lah yang membuat Andini pun berubah. Andini tak seceria dan terbuka seperti dahulu. Tak lagi meladeni Vivian yang selalu usil dan tak meladeni Alex yang mengejar-ngejarnya. Dia lebih memilih diam dan mengurangi pergaulan bersama teman-temannya.


Seperti menarik diri dalam kearamaian. Di kelas pun ia lebih memilih bangku paling belakang dan sendiri sebelum ada Revan, si anak baru.


"Bi... aku berangkat sekolah dulu ya." Andini menyelesaikan sarapannya dan beranjak keluar.


Bersambung... :)


Terimakasih readers 😻🌸


Jangan lupa pencet 👍👍