Come & Hug Me

Come & Hug Me
< HALTE SEKOLAH >



Andini dan Revan terus ngobrol ngalor-ngidul diruangan itu.


Teeeettttttttt........


Suara bell berbunyi lama, menandakan semua mata pelajaran telah selesai hari ini. Andini dan Revan pun mendengarnya. Dan berniat untuk kembali ke kelas.


"Nah udah bell tuh, yuk kita keluar. Kita ambil tas dulu." Ajak Revan pada Andini.


"Tunggu bentar lagi, tunggu semua orang engga ada dulu. Emang kamu mau jadi pusat perhatian, karena udah bolos terus tanpa rasa bersalah kembali pas udah bell buat ngambil tas, mau gitu? Lagian aku takut A3 masih emosi dan mencari kamu." Andini meyakinkan Revan agar tidak buru-buru kembali ke kelas.Revan hanya mengangguk tanda setuju pada Andini.


Setengah jam berlalu tanpa percakapan yang begitu penting, Andini dan Revan memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Lalu mengambil tas dan segera pulang.


"Oh iya, Din. Apa gerbangnya belum di kunci?" Revan bertanya karena takut tak bisa keluar dari sekolah.


"Kita manjat." Jawab Andini dengan santai.


"Hah.... Serius?" Revan terkejut mendengar jawaban dari Andini.


"Kenapa? Kamu takut yaa? Gak bisa naik ya?" Tanya Andini.


"Justru aku itu teramat sangat mengkhawatirkanmu." Jawab Revan dengan spontan membuat pipi Andini merah.


"Hentikan omong kosongmu. Gerbang di tutup jam 07.00 malam. Ini kan masih jam 04.00, lagian banyak yang ekskul juga tuh liat di lapangan." Ucap Andini sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Akhirnya mereka sampai di kelas. Revan langsung menuju bangkunya sedangkan Andini menuju meja guru untuk memastikan absennya.


"Tolong sekalian ambilkan tasku." Kata Andini.


"Apa yang kamu lakuin?" Tanya Revan penasaran sembari berjalan mendekat pada Andini.


"Nah kan lihat kita engga di anggap bolos, inilah kelas XII D." Andini senyum bahagia.


"Kalo gitu kita bisa sering-sering bolos dong." Ajak Revan sambil tertawa.


Andini tak menjawab Revan karena dia tahu bahwa Revan sedang bercanda.


Andini dan Revan keluar dari kelas bersama.


"Oh iya, Din. Kamu." Belum saja Revan menyelesaikan ucapannya, Andini memotong ucapan Revan.


"Hmmm... apa lagi?"


"Ehh gitu amat. Aku cuma mau nanya kamu mau pulang kemana? Eh... Ralat-ralat maksudku rumah kamu dimana? Kamu naik bus apa?" Tanya Revan pada Andini.


"Aku naik bus D, turun di halte pertama." Jawab Andini tanpa bertanya balik pada Revan.


"Oh berarti kita bareng ya hehe asik... Tapi aku turun di halte kedua hmmm."


"Oh......" Andini hanya ber-oh ria.


"Engga nanya balik sama aku?"


"Aku udah tahu kamu turun di halte dua kan?"


"Hehe.... kamu mah suka gitu."


Andini dan Revan berjalan menuju halte yang ada di sebrang sekolah. Kemudian mereka duduk sambil menunggu bus mereka datang.


Belum ada percakapan diantara mereka setelah duduk di kursi yang ada di halte.


Suasana canggung masih menyelimuti mereka berdua, bus mereka pun belum juga datang setelah 10 menit menunggu. Revan berinisiatif untuk membuka pembicaraan.


"Din, kamu gak mau minta maaf lagi sama aku gitu." Ucap Revan sambil memegang pipinya.


Wahh... Kenapa ini? Apa dia bisa menebak isi fikiranku. Batin Andini.


"Kan udah tadi. Malahan kamu yang sekarang harusnya berterimakasih padaku sekarang.Kamu harusnya merasa terhormat sudah aku bawa ke ruangan pribadiku. Bahkan aku menobati lukamu itu." Andini menjawab panjang pertanyaan Revan.


"Kamu imut yaa kalo lagi nyerocos gitu, tuh bibir kamu sampe manyun-manyun gitu." Revan memonyong-monyongkan bibirnya. "Aku suka kamu yang banyak bicara di banding kamu yang diem aja dingin kaya di pegunungan himalaya." Revan mencoba membuat Andini tertawa. Dan berhasil.


Andini tertawa kecil "Apa? Emang kamu pernah ke Himalaya? Aku rasa kamu sedang berhalusinasi dan berimajinasi ria."


"Haha..... Betul. Rasanya kamu tahu aja semua yang ada di benakku. Apa kamu seorang cenayang?" Tanya Revan.


"Kabalik." Andini tertawa.


"Hmmm apa? Apanya yang kebalik?" Tanya Revan tak mengerti apa yang diucapkan Andini.


"Lupakan." Andini menjawab mencoba untuk menghentikan pembicaraan mereka.


Aku seperti tidak asing pada orang yang ada dihadapanku ini. Tawanya yang hangat itu seperti mencairkan segala kebekuan di hati ini. Pelukannya yang nyaman membuatku enggan beranjak. Belum sehari aku mengenalmu, tapi rasanya duniaku kembali seperti dulu. Baru hari ini aku mengeluarkan banyak kata dan mengobrol lagi sesama manusia. Haha.... Terakhir yang aku ingat, aku menjalani kehidupan normal itu 2 bulan yang lalu. Revan..... Bisa kah kita berteman. Ah... Aku tapi aku mengkhawatirkan kondisimu. Benak Andini.


🌸Flashback on..


2 bulan yang lalu, dimana suka cita keluarga Andini 180 derajat terbalik. Perceraian yang membuat luka dihati Andini dan juga kakak perempuannya. Bagaikan disambar petir disiang bolong 'ibaratnya'. Mereka berdua diharuskan memilih diantara ayah dan ibu. Keluarganya pecah. Andini ikut bersama ibunya sedangkan kakaknya bersama ayahnya.


Batin Andini menangis tak tahu apa yang harus dilakukan, tak tahu apa penyebab perpisahan diantara ayah dan ibunya.


Tengah malam Andini dan ibunya keluar dari rumah itu. Mereka berdua tak tahu harus kemana. Menyusuri jalanan yang sepi. Udara dingin sampai masuk melesap ke tulang.


Hujan deras membuat mereka terhenti dan berteduh di sebuah toko yang sudah tutup.


Hujan masih turun dengan sangat deras. Air mata Andini yang sedari tadi tumpah seolah tersamarkan oleh air hujan yang tadi membasahinya.


Ibunya hanya duduk dengan pandangan kosong. Andini masih belum tahu penyebab perpisahan kedua orang tuanya. Dan dia pun belum ingin menanyakan hal itu pada ibunya. Waktunya belum tepat, gumam Andini.


Tengah malam berlalu, Andini masih terjaga melihat ibunya yang kini sudah tidur dalam duduknya. Hujan mereda namun udara dingin semakin menusuk.


Tak berapa lama 4 orang pemuda lewat dengan keadaan mabuk. Andini was-was, mencoba membangunkan ibunya. Benar saja pemuda itu menghampiri mereka. Ibu Andini langsung memberi Andini isyarat agar pergi dan meminta pertolongan. Namun Andini tak ingin meninggalkan ibunya.


Mereka berontak sewaktu para pemuda itu mencoba mendekat dan menyentuh mereka, terutama pada Andini. Teriakan dan perlawanan mereka keluarkan untuk melindungi diri. Dan sial, seorang dari mereka membawa senjata tajam.


Teriakan semakin menjadi-jadi, pemuda yang sedang mabuk itu dengan tak sadar melesatkan pisau ke tubuh ibunya. Andini histeris. Para warga baru datang kemudian menolong Andini dan menyelamatkan ibunya. Para pemuda itu langsung pergi.


🌸Flashback off...


"Din ayo bus kita udah ada tuh." Revan langsung menarik tangan Andini. Mereka berdua duduk bersebelahan. Andini berada di dekat jendela. Tak ada percakan yang keluar dari mulut mereka di sepanjang perjalanan. Andini masih termenung dengan ingatan masa lalunya.


"Din......."


Bersambung.... :)


Terimakasih readers 😻🌸


Jangan lupa pencet 👍👍