
Oke tenang Vi tarik nafas. Dia sengaja mancing-mancing supaya aku emosi. Vivian.
"Aku cuma lewat terus gak sengaja liat kalian gitu ya udah aku samperin. Lagian aku gak ngikutin kalian ko. Aku kan emang selalu ke perpus kalo udah makan siang."
"Emang siapa Vi yang nuduh kamu ngikutin kita berdua." Revan bingung dan melirik kepada Andini, Andini hanya merespon dengan mengangkat bahunya.
Wajah Vivian yang tadinya memanas kini harus ada malu yang ia sembunyikan.
"Eu... Gini.. Emmm.." Vivian tak tahu harus menjawab apa.
"Udah ayo Van kita keluar aja. Nyari bukunya bisa besok lagi." Menarik tangan Revan.
Andini sengaja menyenggol bahu Vivian ketika melewatinya dan tak berkata apa pun.
Terhibur sekali aku lihat Vivian kaya gitu, harus sering-sering nih buat ngilangin kejenuhan. Oke Vivian tunggu yaa. Andini.
Revan dan Andini berjalan kembali ke kelas.
"Oh iya Din. Nanti pulang sekolah bareng ya aku juga mau turun di halte pertama lagi."
Andini menatap Revan dan menyadari tangannya masih memegang tangan Revan kemudian melepaskannya. Revan melihat Andini.
Loh kenapa, Din malah di lepasin. Revan.
"Emang kamu mau kemana sih turun di halte pertama terus, kan rumah kamu turun di halte kedua."
"Ihh kamu pelupa yahh, ibu aku kan punya toko roti. Kemarin aku ajakin kamu mampir, kamu nya gak mau kan." Revan melihat Andini dan meluruskan pandangannya fokus ke depan.
"Emmmm.... Gitu ya."
"Sekarang mau mampir gak? Cobain deh roti buatan ibu aku." Revan mencoba kembali mengajak Andini untuk mampir ke toko roti ibunya.
Ayo bilang iya bilang iya mau gitu. Revan.
Dari kemaren juga sebernya iya aku mau mampir. Apa sekarang aja aku mampir lagian di rumah juga mau ngapain gak ada yang bisa aku ajak ngobrol sebagai sesama manusia. Andini.
"Gimana nanti aja ya aku gak mau janjiin."
Andini dan Revan telah sampai di kelas. Pelajaran terakhir berlangsung sangat cepat rasanya di banding dengan belajar sejarah tadi. Semua siswa termasuk Andini dan Revan bergegas keluar kelas untuk pulang.
πΈπΈπΈ
"Kalian mau pulang duluan? Kayanya gue mau lebih giat lagi buat bisa deket sama Andini kaya dulu." Alex mengentikan langkahnya "Gue mau ajakin Andini pulang bareng." Alex sangat bersemangat.
"Wahh ini nih baru Alex yang kita kenal kan, Vin?" Menepuk bahu Alvin untuk meminta dukungan atas apa yang dia ucapkan barusan.
"Iya nih baru namanya Bro Alex. Gimana kalo kita ikut ke kelasnya Andini Fan. Gue gak mau ketinggalan momen Alex dan Andini kaya dulu lagi." Alvin pun membalas menepuk bahu Arfan dan juga sama untuk meminta dukungan atas apa yang dia ucapkan barusan.
Ternyata kelas Andini belum bubar, mereka bertiga menunggu di depan kelas sampai Andini keluar. Dan tak lama kelas Andini pun bubar. Hati Alex semakin mantap untuk mendekati Andini lagi.
Tapi semangat itu seperti telah di patahkan sekejap mata oleh wanita yang paling dia suka. Alvin dan Arfan merasakan sesak yang Alex rasakan.
Bagaimana mungkin bisa bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa jika orang yang disuka telah dekat dengan yang lain.
Orang baru, yang baru saja masuk di kehidupan mereka seolah menipiskan harapan yang Alex bangun dengan penuh semangat demi cintanya.
Orang baru, mengapa selalu punya tempat dihati yang terluka. Alih-alih memberi kesempatan kedua untuk orang lama memperbaiki luka, apakah tidak bisa menahan diri untuk orang baru agar tak mendapat celah untuk masuk.
Perasaan yang di rasakan Alex membuatnya sesak, kemarahan yang muncul sudah tak bisa ia bendung terhadap anak baru itu.
Alvin dan Arfan yang sangat menyadari kemarahan Alex, mereka berdua menahan agar Alex tak gegabah dengan mencoba memukul Revan, karena kondisi saat itu sangat ramai siswa-siswa yang akan pulang.
"Lex, tenangin diri loe. Banyak banget orang. Gue gak mau citra loe jadi buruk cuma gara-gara anak baru itu." Bisik Alvin pada Alex.
"Ngomong baik-baik, Lex. Loe harus berfikir positif. Mereka kan sekelas terus juga sebangku wajar aja mereka jalan berdua seperti itu." Arfan mencoba meredam kemarahan Alex.
Andini yang baru saja keluar berjalan berdampingan dengan Revan. Andini menyadari kehadiran Alex di depan kelasnya. Alex menghampiri Andini tanpa menghiraukan keberadaan Revan.
"Din, pulang bareng yuk. Aku anterin. Aku udah lama gak main ke rumah kamu ketemu sama ayah dan ibu juga sama kak Mira." Alex mencoba bicara selembut mungkin, dia juga sengaja menyinggung soal keluarga Andini dengan tujuan agar Andini bisa mengingat kalau mereka dulu sedekat nadi tak seperti sekarang yang sejauh matahari.
Ayo, Din. kamu ingat kan betapa kita dulu sedekat nadi. Apa salah aku bersikap seperti ini. Aku butuh alasan yang membuat kamu berubah. Aku tak akan pernah merasa lelah untukmu, Din. Aku selalu yakin kita bisa seperti dulu. Alex.
Revan yang mendengar perkataan Alex kemudian dia mencerna apa yang Alex katakan.
Haah... Apa aku gak salah denger sama yang diucapkan Alex. Apa tadi dia barusan sudah lama tak bertemu dengan ayah, ibu dan kak Mira? Sebegitu dekatkah Alex sama Andini dulu. Hubungan mereka kaya apa, aku penasaran sekali. Haruskah aku bertanya pada Andini nanti. Hah... pasti gak akan ada informasi yang aku dapatkan.Tapi anehnya sikap Andini pada Alex selalu dingin. Apa bener yang aku duga kalau Andini emang wanita ceria dulunya, tapi entah kenapa berubah begitu saja. Apa Alex dulu melakukan kesalah fatal yang membuat Andini enggan untuk mengenalnya lagi.Hmmm Andini..... Revan.
Mendengar Alex mengucapkan ayah, ibu dan kak Mira berhasil membuat hati Andini sesak. Bayangan akan kenangan-kenangan dulu, dan kehangat keluarganya yang sangat menerima Alex berada disisi Andini.
Kata-kata kamu sukses membuat aku sesak, Lex. Terimakasih dan selalu aku minta maaf atas semuanya, semua sikap dan kebodohanku. Mengabaikan orang yang dulu dekat denganku adalah hal berat yang aku jalani selama 2 bulan ini. Lagi-lagi aku masih dengan alasan ludahku kelu untuk menceritakan semua yang terjadi pada keluargaku. Maaf Alex. Beribu maaf untuk kamu Lex. Andini.
"Engga, Lex maaf ya aku udah ada janji sama Revan." Andini melihat Revan, Revan balas menatapnya. Dia sendiri tidak tahu ada janji apa dengan Andini. Namun Revan tahu bahwa Andini hanya mencari alasan agar menghindar dari Alex. Akhirnya Revan pun menganggukan kepala.
"Kalau gitu kita duluan pulang ya, sampai jumpa besok." Andini sekilas tersenyum pada Alex dan berlalu meninggalkannya bersama Revan.
Bersambung....:)
#Pernah ngalamin gak rasanya dulu kita itu dekat, sedekat nadi tapi entah kini kurasa jauh sejauh matahari. Untuk bertanya pun rasanya segan, terus dulu sering chatt saling komen komen story ehh sekarang menjadi viewers sroty ajah :( terus kepikiran takut menganggu dia. pernah gak? kalo pernah mari rapatkan barisan π
Terimakasih readers π»πΈ
Jangan lupa pencet ππ