
Sambil membereskan bajunya Andini sekilas melirik celana Revan yang sepertinya di balik celana itu ada yang membesar, dan Andini pun tertawa kecil.
"Ada apa Din?" Tanya Revan bingung dengan Andini yang tiba-tiba tertawa.
"Ehh, emmm engga hahaha." Andini menjawab sambil melangkahkan kaki mendekati Revan lalu berbisik "Oh yaa itu adik kamu bangun deh Van." Ledek Andini sambil tertawa dan berjalan meninggalkan Revan.
Revan terdiam dan mematung wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Gilaaa, Andini hmmmm. Tunggu...." Ucap Revan setengah berteriak.
"Kita kan satu kelas alangkah baiknya kita bareng aja ke kelasnya." Ajak Revan namun Andini tak menjawabnya, hanya terus berjalan.
Mereka berdua berjalan menuju kelasnya. Sewaktu menuruni tangga Andini hampir terjatuh, karena menginjak tali sepatunya sendiri. Namun dengan sigap Revan menahan tubuh Andini dengan kedua tangannya sehingga kini Revan memeluk Andini dan mereka saling bertatapan.
Hati Revan menjadi tak karuan, jantungnya berdegup cukup kencang. Revan merasakn rasa yang belum pernah ia rasakan saat dekat dengan gadis mana pun.
Andini yang terdiam di pelukan Revan, hanya melihat Revan dingin. Lalu berkata "Udah lepasin, aku gapapa ko."
Revan yang sedikit terkejut merasa malu dan melepaskan tangannya yang tadi menahan tubuh Andini.
"Aku benerin ya tali sepatunya." Kata Revan yang langsung membenarkan tali sepatu Andini tanpa menunggu Andini membalas tawarannya.
Andini diam dan tak merespon apa pun, dengan apa yang Revan perbuat padanya. Hanya Andini sedikit merasakan perasaan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. 'semacam jantung berdebar', namun Andini terus bersikap biasa saja.
Revan selesai membenarkan tali sepatu Andini, Revan pun beranjak lalu menatap Andini dengan tersenyum penuh kehangatan dan ketulusan.
"Udah selesai, ayo." Ucap Revan sambil menggenggam jari tangan Andini dan berjalan kembali.
Andini tak menolak genggaman tangan Revan, Andini terheran pada dirinya sendiri entah 'perasaan macam apa ini' begitu dalam benak Andini. Andini seolah tak bisa menolak semua perlakuan Revan padanya. Padahal Andini sangat tak suka laki-laki yang 'so baik' padanya, karena fikirnya pasti akan ada udang di balik batu.
Andini mampu bersikap sedingin es, secuek bebek, berkata kasar dan menolak secara terang-terangan laki-laki yang mencoba mendekatinya. Bahkan Alex sekali pun. Iya benar, Alex dari A3.
Tapi entahlah bersama Revan si murid baru yang baru banget dia kenal, Andini merasakan perasaan nyaman. Namun masih ingin membuang jauh fikirannya itu. Mana mungkin Andini bisa tertarik padanya. Bahkan pertemuan pertama mereka tak ada kesan indahnya, hanya membuat malu Andini jika mengingatnya kembali.
"Ada apa sih sama cowok dan perasaan macam apa yang aku rasakan saat ini?" Batin Andini yang terus mencoba mencerna perasaan apa yang terjadi padanya setelah bertemu laki-laki baru itu.
Revan dan Andini terus berjalan tanpa sedikit pun niatan untuk melepaskan genggaman tangan mereka.
πΈπΈπΈ
"Lex, kayanya kita perlu mencari tahu tentang si anak baru itu deh. Dia kalau terus-terusan dibiarin, popularitas kita sebagai A3 di SMA Star Vision akan redup. Haahhhh..... bisa jadi juga nih ya karena redupnya aura kita, bisa-bisa sekolah ngilangin nama 'Star'nya. Haduh kita memang berpengaruh sekali ya sama sekolah ini. Gak bisa bayangin deh kalo kita lulus nanti para cewek ga akan dapet asupan yang bergizi karena ga ngeliat kita lagi." Ucap Alvin yang terus meyakinkan Alex dan Arfan, agar mereka segera bertindak dengan adanya Revan.
"Vin, lebay loe dari dulu emang gak ilang malah makin menjadi-jadi yah dan sekarang malah mendarah daging dan susah di sembuhinnya. Prihatin gue sama hidup loe." Jawab Arfan sembari terus memainkan ponselnya.
"Wah loe temen b*ngsat. Gak gitu juga. Dari pada loe prihatin sama gue mending loe prihatin sama nasib A3. Kalo kita ga bertindak malah terus diemin si anak baru yang udah so tebar pesona gitu." Ucap Alvin dengan serius.
"Pantesan Vivian gak kepincut sama loe, Vin, Vin." Ledek Arfan.
"Cihhh... Dari pada loe ga punya pendirian suka sama siapa sebenernya. Gue sama Alex lebih dewasa dari loe, walau pun pemain wanita tapi kan itu hanya iseng-iseng aja karena setidaknya kita punya harapan besar buat calon di masa yang akan datang. senakal-nakalnya cowok kan kalo buat istri mah pengen yang baik-baik. Yang susah buat di taklukin. Biar dikata gue yang selalu gagal mendapatkan Vivian terus si Alex yang masih juga di cuekin sama si Andini." Wajah Alvin sedekit lemas :(.
"Dih, sekarang kalian berdua pada ngelamun, bukannya cari cara." Ucap Alvin kesal karena tidak ada yang mempedulikan perkataannya.
Alex yang sedari tadi menutup mata dan mendengarkan lagu lewat earphone nya, kini membuka matanya dan berkata "Aku sedang berfikir jadi berhentilah mengoceh Alvin!"
"Ohh benarkah? Kalau begitu aku akan diam dan menunggu rencanamu, Lex." Alvin tersenyum bahagia.
Arfan melihat jam yang ada di tangannya "Bentar lagi masuk nih, yuk"
A3 yang sedari tadi duduk di pinggir lapangan pun beranjak dari tempat duduk mereka dan berniat kembali ke kelas karena jam pelajaran selanjutnya akan di mulai. Seplayer apa pun mereka, mereka adalah murid teladan dan pintar. Jadi tak heran jika A3 berada di kelas XII A yang utamanya di penuhi siswa dan siswi pintar. Termasuk dalam kelas favorit.
A3 berjalan melewati kelas-kelas dan baru di sadari bahwa di depannya terlihat Andini yang berjalan dengan Revan si anak baru itu dan tangan mereka bergandengan.
Degh..
Langkah Alex seolah terhenti melihat pemandangan yang cukup membuatnya naik pitam. Arfan yang sedari tadi memainkan ponselnya yang terus di ganggu oleh Alvin baru tersadar bahwa Alex yang terus di sampingnya tidak ada.
"Eh tunggu Vin, Alex mana?" Tanya Arfan
Mereka berdua menoleh ke belakang. Dan terlihatlah Alex yang tertinggal beberapa langkah. Kemudian mereka berdua menghampiri Alex.
"Kenapa? Ada apa Lex?" Tanya Alvin.
"Ini udah gak bisa di diemin. Murid baru itu harus kita kasih pelajaran. Dia udah berani-beraninya mendekati gadisku. Gak boleh di biarin." Ucap Alex yang pandangannya terus tertuju pada Revan dan Andini yang kini sudah sedikit menjauh dari pandangannya.
"Nah kan, ini nih yang gue takutin Lex. Belum juga sehari dia disini dah bikin ulah aja tuh bocah bener-bener." Alvin yang terus mengompori Alex agar segera melakukan sesuatu sebelum vivian gadis yang di kerjarnya pun kepincut sama anak baru itu.
"Ok, ok nanti kita fikirin caranya sama-sama, lebih baik kita ke kelas dulu." Ucap Arfan yang memang juga sedikit was-was akan anak baru itu.
πΈπΈπΈ
Andini dan Refan yang terus bergandengan tangan seolah tak menghiraukan tatapan murid lain yang melihat mereka berdua.
"Hihhh... kenapa sih mereka menatapku seperti itu, menjijikan." Kata Andini dalam hati yang tak menyadari bahwa semua siswa dan siswa tertuju pada tangan mereka yang bergandengan.
Tepat sewaktu mereka berdua berjalan di depan kelas XII A, tak sengaja Vivian yang sedang berlari dari dalam kelas menabrak Revan. Dengan refleks Revan menahan tubuh Vivian dengan punggungnya karena dia tak mau melepaskan genggaman tangannya pada Andini.
Deghh
"Ahh... hampir aja. Aduh maaf ya." Ucap Vivian sambil membalikan badannya.
Bersambung... :)
Terimakasih readers π»πΈ
Jangan lupa pencet ππ