
"Bi... aku berangkat sekolah dulu ya." Andini menyelesaikan sarapannya dan beranjak keluar.
Andini melihat jam yang ada ditangannya masih pukul 06.10. Dia selalu memilih untuk naik angkutan umum dari pada diantar sopir.
Perjalan dari rumah ke sekolah hanya memakan waktu 15 menit. Andini sudah sampai. Suasana di sekolahnya masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang sudah datang.
Andini terus berjalan namun langkahnya bukan menuju kelas. Dia pergi ke taman belakang sekolah. Andini langsung duduk di kursi tepat di bawah pohon.
Andini memejamkan matanya menikmati udara segar di pagi hari.
Bayangan masa lalu yang selalu terbayang membuat Andini tak percaya takdir yang indah dapat berubah sebaliknya hanya dalam 1 malam saja.
Andini menarik nafas panjang dan perlahan membuka matanya.
"Aaaaaaaaa........"
πΈπΈπΈ
Revan sengaja berangkat sekolah lebih pagi. Dia berangkat bersama ibunya naik bus. Revan sengaja turun di halte pertama untuk membantu ibunya membuka toko.
Tak lama, Revan melihat Andini melewati tokonya. Tanpa berfikir lama Revan mengambil tas dan berpamitan pada ibunya.
Andini belum menyadari kehadiran Revan yang mengikutinya. Revan pun sengaja tak menyapa Andini.
15 menit kemudian mereka sampai di sekeloh. Revan terus mengikuti Andini.
Apa dia engga merasa di ikutin apa ya. Revan.
Loh ko bukan ke kelas sih. Revan menyadari bahwa Andini berjalan tak menuju kelasnya.
*Em... biar aku tebak, pasti dia mau ke ruang pribadinya lagi.
Ha.... apa dia mau tidur dan bermimpi*...... Revan memikirkan bahwa Andini akan kembali bermimpi mantap-mantap di ruangan pribadinya itu.
Loh ko bukan lagi sih... sebenarnya Andini mau kemana.
Langkah Andini ternyata menuju taman belakang sekolah. Andini terhenti di kursi yang berada di bawah pohon besar dan rindang itu.
Revan melihat Andini tengah memejamkan mata, entah apa yang dia sedang fikirkan.
Revan mendekati Andini, dia membungkuk kemudian mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Andini. Revan tengah menebak apa yang sedang dibayangkan Andini.
Kamu manis sekali, Din. Kamu sedikit aja bersikap manis padaku. Aku gak bisa menahan lagi debaran jantung yang selalu tak beraturan bila dekat denganmu. Yaa..... seperti sekarang yang aku rasakan ini. Revan.
Andini membuka mata dan "Aaaaaaaaaaaa........" Dengan spontan Andini mendorong kasar tubuh Revan agar menjauh darinya.
Baru aja bilang, kalo kamu bersikap manis sedikit saja padaku. Malah kamu dorong kasar. Ambyar Din, ambyar...... Revan.
"Hey...kamu murid baru, tiba-tiba di depan wajahku dengan pandangan mesum seperti itu. Kalau aku kagetnya kebangetan terus pingsan gimana? Pergi sana." Andini terus menarik nafas dan membuanya.
"Ya.. aku bakalan gendong kamu ke ruangan pribadi kamu, terus aku akan rawat kamu sampai kamu pulih terus kita bolos sampai jam pelajaran terakhir." Revan tersenyum dan bukannya pergi, ia malah duduk di samping Andini.
Andini memalingkan muka dari Revan.
"Emang kamu engga ngeuh atau kamu cuma pura-pura gak ngerasa aja?"
Lagi-lagi Andini tak merespon Revan.
Bener-bener yaa Andini kamu gemesin, aahhhh.... batinku. Revan.
"Terus aku lihat kamu bukannya ke kelas ehh malah kesini. Apa disini juga tempat pribadi kamu?" Andini melihat Andini lalu tersenyum.
"Enggalah ini kan taman sekolah, ya tentu buat umum."
"Aku kira kamu bakalan mengklaim semua tempat jadi milik pribadi kamu. Hehehe... Tapi disini enak yah dari pada dimana-mana, apa karena ada kamu?" Revan kembali tersenyum dan melihat ke arah Andini.
Terlihat rona merah di wajah Andini, namun Andini segera menyembunyikan ekspresinya itu sebelum Revan menyadarinya.
Lihat rona merah muda di pipimu Din, manis sekali. Revan.
Andini tak bergeming dengan apa yang di katakan Revan. Merrka terus mengobrol. Walau bisa ditebak Revan lah yang akan banyak bicara dalam obrolan itu.
Tak terasa bel pun berbunyi, Andini dan Revan beranjak menuju kelasnya.
Pelajaran pertaman telah selesai. Seperti biasa, sebagian murid keluar untuk bermain di taman atau pun di lapangan dan beberapa ada yang menghabiskan waktu mengobrol di kelas sambil menunggu waktu jam pelajaran kedua dimulai.
Revan sedari tadi membujuk Andini agar mengantarnya keliling sekolah, dia belum tahu letak perpustakaan dan UKS, namun Andini sama sekali tak menggubrisnya sibuk dengan coretan-coretan abstrak di bukunya.
Para siswi yang ada di kelas itu heran dan kesal pada Andini. Mereka tak habis fikir kenapa Andini bisa mengabaikan Revan begitu saja.
"Lihat tuh, si Andini yang sikapnya makin hari makin aneh. Alex di abaikan sekarang bisa-bisanya juga nyuekin pangeranku." Siswi 1
"Apa di udah gak normal sekarang." Siswi 2
"Cih.... dia hanya so jual mahal sama Revan." Siswi 1
"Apaan sih kalian ini, jelas Andini sukanya sama Alex. Apa kalian lupa mereka berdua hampir aja jadian kalo Andini engga berulah itu juga." Siswi 3
"Iyaaa.... dan engga ada angin engga ada ujan dia malah engga sekolah 3 hari pas si Alex udah nyiapin semua buat menyatakan perasaannya. Dan... dan pas banget udah gitu libur akhir semester dan kenaikan kelas XII, udah deh mereka gak ketemu. Daaan lagi nih, pas masuk sekolah sikap Andini berubah drastis." Siswi 1
"Iya... bener gak berperasaan banget emang di tuh. PHP." Siswi 2
"Hey...... sssttttt....." Siswi 3 mengisyaratkan teman-temannya agar diam karena dia melihat Andini sedang memperhatikan mereka.
Dari kejauhan Andini memang memperhatikan mereka. Walau dia tak mendengar jelas apa yang mereka obrolkan. Namun Andini yakin bahwa mereka sedang membicarakannya.
Andini yang sudah terbiasa jadi bahan obrolan karena sudah mengabaikan Alex selama 2 bulan seolah sudah biasa saja dan cenderung seperti sudah kebal.
Andini tahu semua itu memang salahnya. Dia yang sudah menyakiti Alex. Ketua geng A3 yang di gilai para siswi di sekolahnya. Terlebih dia sudah membuat Alex menjadi pribadi yang kasar apalagi pada laki-laki yang mencoba mendekatinya.
Tapi takdir kepergian ibunya 2 bulan yang lalu pun bukan atas keinginannya.
Maaf, Lex. Ibuku sudah meninggal, aku gak tahu harus gimana. Aku malah tak menemuimu di hari kamu akan menyatakan perasaanmu. Ku mohon tolong menunggulah sebentar. Sebentar saja sampai aku bisa terima kenyataan ibuku sudah meninggal dan sudah bisa terbiasa dengan perubahan kakak dan ayahku. Andini.
Kata itulah yang selalu ingin Andini ucapkan pada Alex. Tapi lidahnya seolah kelu, alih-alih mengungkapkan itu Andini malah terus diam menghidar dari Alex.
Andini tersadar dari lamunannya karena Revan sedari tadi terus berbicara dan membujuknya agar mau berkeliling.
"Dieeemmm...." Andini beranjak "Aku ada urusan dulu sekarang. Kita keliling lain kali. Dan jangan ngikutin aku serakang.
Revan kaget dan heran Andini bisa semarah itu padanya.
Apa aku salah ya? Apa aku terlalu mengganggu dia? Tapi kan aku mau dekat sama kamu, Din. Revan.
Andini keluar dari kelas dan berjalan menuju ruangan pribadinya. Langkah Andini terhenti karena ada yang memegang tanganya.
Andini berbalik....
Bersambung... :)
#kira-kira siapa yaaa yang megang tangan Andini? π
Terimakasih readers π»πΈ
Jangan lupa pencet ππ