
Revan berjalan menuju atap sekolahnya dengan langkah pelan. Dia sudah tak peduli jika pun Andini telah sampai duluan. Dalam benaknya hanya terus terbayang kenyataan bahwa Alex dan Andini tidur bersama dan terus menerka-nerka apa yang mereka perbuat.
Revan telah sampai di atap sekolah, ia mendapati Andini yang sedang duduk di kursi biasa tempat mereka duduk.
"Hey Van." Andini melambaikan tangannya pada Revan namun Revan tak meresponnya. "Kok kamu baru sampai? Perasaan aku tadi nyuruh kamu nunggu disini." Tanya Andini sedikit curiga.
"Emm enggak tadi aku kembali ke kelas ngambil ponsel." Jawab Revan dengan senyuman yang di paksakan.
"Ohhh gitu kirain kamu kemana dulu." Andini bernafas lega, ia khawatir Revan mendengar gosip tentangnya dan Alex.
Aku gak boleh biarin Revan jalan sendirian, aku harus pastikan semuanya aman. Andini.
"Emang kenapa Din? Kok kamu kaya takut gitu. Ada yang kamu sembunyikan ya dari aku?" Revan mencoba memancing Andini untuk bercerita tanpa ia tanya langsung.
"Hah? Emang apa yang harus aku sembunyikan dari kamu?" Andini sedikit gugup.
"Hehe iya kita kan enggak ada hubungan apa-apa ya jadi ya hahaha...." Revan berbicara sambil menatap langit.
Loh Revan kenapa kok ngomong kaya gitu. Apa yang aku takutin dia udah tahu? Andini.
"Kamu kenapa sih Van? Apa aku ada salah ya sama kamu?" Andini memastikan apa penyebab Revan berbicara seperti itu dan sikapnya pun terasa aneh.
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu kaya yang udah melakukan kesalahan di belakang aku aja." Revan tertawa padahal tak ada obrolan lucu diantara mereka.
Andini tak menjawab pernyataan Revan, dia diam memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi saat tadi ia meninggalkan Revan untuk pergi ke toilet.
"Din, kita bolos aja yuk. Aku kayanya gak bakal bisa konsen belajar." Revan memecahkan kecanggungan diantara meraka berdua.
"Ini masih istirahat pertama loh Van masih jauh ke jam pulang."
"Gak apa-apa nanti jam terakhir kita masuk." Revan meyakinkan lalu Andini mengangguk menyetujuinya.
Waktu terus berjalan, keheningan diantara mereka membuat hembusan angin terasa terdengar bahkan detak jantung satu sama lain pun seperti terdengar berdetak bergantian.
Andini masih terus menunggu Revan yang akan membuka pembicaraan seperti biasa. Namun dia melihat Revan malah sibuk dengan dirinya sendiri mentap langit seperti berfikir sesuatu yang serius sampai Andini sendiri tak dapat menyelami apa yang sedang Revan fikirkan sekarang.
"Van..." Andini putus asa menunggu Revan yang tak kunjung bersuara. "Kamu kok beda sih gak kaya biasanya?"
Revan menengok pada Andini, terdiam sebentar. Fikirannya terus menelusuri mata Andini. Mencari-cari kenyataan yang mungkin sedang Andini sembunyikan dari dirinya.
"Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" Revan bertanya pada Andini yang selalu menundukan kepalanya saat pertemuan kedua mata mereka. "Apa kamu mau aku tahu dari orang lain yah?"
"Maksud kamu?" Andini tidak mengerti ucapan Revan yang sedari tadi terus menyindir dan menyudutkannya.
Andini terkejut. "Apa Van? Ada yang bilang apa sama kamu?"
"Enggak aku gak denger apa-apa cuma lagi nunggu kamu aja buat cerita."
Hah.... aku menyerah saja sepertinya Revan juga udah tahu. Siapa lagi kalo bukan Arfan. Dasar mulut lemes, jelas dia akan pro pada Alex dari pada aku.
"Oke okee... kamu udah tahu apa aja? Aku mau denger biar aku bisa ngelurusin kalau ada cerita yang gak bener yang kamu denger."
"Gak! Aku pengen kamu yang nyerita langsung." Ucap Revan datar.
"Hari Jum'at pas kita pulang sekolah sambil hujan-hujanan ternyata Alex udah nunggu di depan rumah aku. Aku juga gak tahu. Aku suruh dia masuk. Kita ngobrol biasa sambil makan cemilan. Gak ada obrolan penting hanya obrolan teman lama yang udah lama gak tegur sapa aja. Waktu itu hujan gak berhenti-berhenti sampai malam. Posisi Alex bawa motor dan aku gak tega lihat dia pulang malem-malem dalam kondisi hujan seperti itu. Bukan karena perasaan dulu masih ada. Ini murni rasa kemanusiaan." Andini berapi-api tak ingin menimbulkan percikan api di hati Revan.
"Emm... itu aja?"
"Eum.. ya Alex nginep terus.."
"Terus kalian tidur sekamar! Hah aku ga bisa bayangin dua orang dewasa dalam satu kamar dalam keadaan hujan. Orang bodoh yang akan berfikir tidak terjadi apa-apa. Dan aku harus jadi orang bodoh supaya aku bisa terus percaya saka kamu, Din."
"Van!! Kamu jangan asal bicara. Tidak pernah terjadi apa-apa selama Alex nginep di rumahku."
"Iya aku percaya karena aku orang bodoh!" Revan menatap Andini tajam.
Mereka berdua kembali terdiam dalam keheningan. Langit mendung seperti mengetahui bahwa dua orang yang tengah menatapnya memberikan perasaan tak bahagia. Tak seperti biasanya.
Revan masih terus berusaha mengalahkan segala pemikiran yang mungkin terjadi agar tak benar-benar terjadi pada Andini dan Alex. Sementara Andini, dia hanya menunggu Revan kembali berbicara. Karena akan sia-sia jika ia terus berusaha menjelaskan dengan keadaan Revan seperti terbakar cemburu.
Aku tahu kita memang tak ada hubungan apa-apa tapi mengetahui hal ini sakit rasanya. Mencoba biasa saja aku gak bisa Din. Aku tahu sekarang aku sedang sangat cemburu. Apa aku salah masuk di hidupmu. Sedangkan kamu masih terjebak dalam masa lalumu. Dan sepertinya kamu tak benar-benar mengusahakan untuk menjauh dari masa lalumu. Aku tak bisa menunggu seperti ini tanpa kepastian tindakan nyata dari kamu. Bukan hanya janji. Revan.
Seberapa pun aku berusaha untuk meyakinkamu saat ini tak akan ada hasilnya. Aku tahu kamu mungkin kecewa tapi aku harus berbuat apa karena memang tak terjadi apa-apa. Aku pun tak bisa mencegah semua hal yang kamu fikirkan tentang aku dan Alex. Tapi percayalah aku akan buktikan itu. Tak akan banyak kata dan janji-janji yang aku umbar. Tindakan nyata agar kamu percaya. Tunggu Van. Andini.
Mereka berdua terus terdiam walau hati mereka sama-sama menguatkan diri sendiri. Memang benar apa yang mereka lakukan sekarang. Semakin banyak kata yang mereka ucapkan, maka perdebatan antara mereka pun tak bisa di elakkan. Mendinginkan fikiran dan hati adalah cara yang paling benar dalam situasi seperti ini.
Revan kembali menatap Andini. "Bukti apa yang akan kamu berikan agar aku percaya?"
Bersambung... :)
Terimakasih readers 😍
Jangan lupa pencet 👍💖 biar aku semangat updatenya 😍
Bantu vote juga yaa 😻