
Revan menoleh ke arah Vivian dan menjawab "Pertanyaan yang mana?"
"Aku bilang, sepertinya kita bisa berteman. Bisa kan?" Tanya Vivian mencoba meyakinkan Revan.
"Emmmm...." Revan mengangguk. "Aku ke kelas dulu, sebaiknya kamu habiskan dulu makananmu disini."
"Ah... iya benar." Ucap Vivian sambil melihat makanan di atas nampan yang dibawanya. "Yaudah sampai jumpa lagi ya."
Kini Revan pun sampai di kelas dan mendapati Andini yang sedang tertidur dengan kembali mendesah.
Revan segera berlari ke arah Andini dengan niat membangunkannya karena takut semua teman sekelasnya kembali setelah selesai makan siang dan memergoki Andini seperti itu.
"Din... Din... Andini bangun." Ucap Revan dengan nada khawatir sambil menggoyang-goyangkan tubuh Andini.
"Aaahhhhhhh......." Desahan panjang keluar dari mulut Andini pertanda dia telah mencalai klimaksnya kembali.
Andini tersadar kemudian bangun dan mendapati Revan telah duduk di sampingnya.
"Loh.. ko kamu ada disini? Sejak kapan kamu ada disini? Bukan kah tadi kamu mau makan siang ke kantin kan? Padahal alarm di ponselku saja belum bunyi ko kamu udah kembali ke kelas lagi?" Andini memberondong Revan dengan pertanyaan-pertanyaan keheranannya.
"Kamu benerin dulu tuh seragam kamu." Ucap Revan memalingkan wajahnya.
"Ah... Sialan kenapa harus kepergok lagi sih, sebelumnya selalu aman sampai alarm bunyi semua terkendali." Ucap Andini pelan namun sangat jelas terdengar oleh Revan.
"Haahhh, apa? Sebelumnya selalu aman? Berarti kamu sering mimpi kaya gitu dong? Bukan cuma sekali atau dua kali kan?" Kini pertanyaan bertubi-tubi diluncurkan Revan pada Andini dengan raut yang penasaran.
"Loh ko kamu yg balik mencerca aku dengan banyak pertanyaan sih, jawab dulu pertanyaanku tadi." Kata Andini.
"Aku ke kantin cuma beli roti dan susu ini buat kita makan bersama disini. Aku tahu kamu laper, tapi kamu menahannya. Mana tega aku melihat kamu seperti itu. Ehh.. tunggu-tunggu tadi kamu bilang padahal alarm ponselmu belum bunyi tapi aku udah kesini. Jadi kamu selain suka bermimpi jorok di ruang seni, di kelas pun sama. Dan kamu memasang alarm agar kamu bisa bangun sebelum semua anak kelas ini kembali dari makan siangnya, kan? Benar kataku kan? Apa kamu sengaja ya sebelum tidur kamu terus-terusan memikirkan hal jorok supaya bermimpi seperti itu terus?" Revan yang sedari tadi terus berbicara dengan opininya sendiri, sementara Andini terus memperhatikannya sambil memakan roti yang Revan belikan.
"Udah ngocehnya udah nih?" Andini mencubit sedikit rotinya kemudian menyuapi Revan. Revan kaget campur senang dalam hatinya.
Apalagi sih yang dperbuat gadis ini. Hal biasa seperti ini saja bisa membuat detak jantungku berpacu, napasku serasa terhenti, sesak! namun sangat menyenangkan hati. Gumam Revan dalam hati.
"Aku gak semesum yang kamu fikirin loh. Mana bisa aku mengontrol mimpiku sendiri. Lagian aku gak tau juga kenapa tiba-tiba terus seperti ini. Yang pasti ini jadi sering terjadi sejak.... Ah sudahlah aku tak ingin bercerita sama orang yang baru aku kenal." Andini menghentikan ceritanya, padahal dia sendiri ingin sekali berbagi cerita masalah dan beban yang sedang dia alami. Mungkin dengan begitu akan sedikit mengurangi beban fikirannya. Namun Andini juga sadar bahwa Revan baru saja ia kenal, bahkan belum sehari. Baru dalam hitungan jam.
"Ayolah cerita, Din. Kita bisa berteman sekarang." Ucap Revan memohon sambil memegang lengan Andini.
πΈπΈπΈ
"Ahh..... Selesai." Vivian baru saja membereskan makan siangnya. Lalu beranjak untuk menyimpan kembali nampan kotor bekas makanannya.
Setelah selesai, Vivian berjalan dan melihat jam yang ada ditangannya. "Emmm... Sepertinya masih ada waktu buat aku temui Revan dan melanjutkan obrolan yang sempat terhenti tadi." Fikir Vivian yang langsung melangkahkan kakinya menuju kelas XII D.
Vivian berfikir bahwa Revan pasti ada di kelas karena tadi dia melihatnya membeli roti. Mungkin karena anak baru yang belum punya temen deket jadi dia malu untuk makan siang di kantin.
Aku harus bisa dekat sama Revan, kalau kita udah berteman rasanya untuk berkencan pun tidak akan sulit kurasa. Batin Vivian yang penuh ambisi untuk mendekati Revan.
Eh... ternyata Alvin menyadari bahwa Vivian ada dibelakangnya. Alvin senyum semringah dan berbalik menghampiri Vivian.
"Hey Vi, kamu mau balik ke kelas kan? Bareng yuk, sekalian aku mau ngobrol sama kamu." Ucap Alvin dengan wajah senang namun di balas ketus oleh Vivian.
"Nanti aja lah di kelas ngobrolnya, aku ada urusan dulu." Balas Vivian.
"Di kelas kan kita cuma belajar, mana ada waktu buat ngobrol, Vi." Jawab Alvin dengan wajah memelas dan kecewa.
"Udah ahh aku mau ke perpustakaan dulu, kamu duluan aja ke kelas nanti aku nyusul." Ucap Vivian berbalik arah berniat ke perpustakaan. Padahal Vivian akan bersembunyi dan mengulur waktu agar Alvin cepat menjauh darinya sebelum Rencana ke kelas Revan berantakan.
Alvin yang langsung menuruti permintaan Vivian kini meneruskan jalannya. Alvin juga sebenarnya tak ingin langsung ke kelas karena dia sedang punya misi mencari tahu dimana si anak baru itu.
Langkah Alvin sedikit melambat ketika melewati kelas XII D. Dia memperhatikan 2 orang yang ada di kelas itu. Dan ternyata yang dilihat Alvin adalah Andini dan si anak baru itu.
Alvin kaget karena melihat Andini seperti sudah akrab sekali dengan si anak baru itu, bahkan mereka berdua sedang makan siang berdua di kelas sambil ngobrol.
Mengetahui hal itu, Alvin langsung mempercepat langkahnya untuk memberi tahu Alex dan Arfan atas apa yang dilihatnya barusan.
Vivian yang menyadari bahwa Alvin sudah tidak ada, lalu ia kembali meneruskan niatnya itu. Tapi sesampainya di kelas Revan sontak membuat semangat Vivian yang menggebu tadi menjadi butiran debu yang terbang. Marah, kesal yang di rasakan Vivian.
Vivian melihat Andini dan Revan berduaan di kelas, dan mereka terlihat bahagia. Hati Vivian hancur dan emosi yang kini sudah berkecamuk dan bersarang di kepalanya.
Andini yang menyadari kehadiran Vivian di dekat pintu sedangkan Revan masih terus berbicara membujuk Andini untuk bercerita padanya.
Gepp...
Andini memeluk Revan, tangannya di kalungkan pada leher Revan dan kepala Andini bersandar di pundak Revan. Andini kemudian melihat ke arah Vivian sambil tersenyum bahagia penuh kemenangan.
Revan membalas pelukan Andini dengan tangannya yang memeluk pinggang Andini.
Andini melihat tingakah Vivian yang seperti kebakaran jenggot seolah membuat Andini bersemangat untuk lebih mengerjainya.
Andini terus memperdalam dan mempererat pelukan pada Revan. Hingga sekarang sudah tak ada lagi jarak antara tubuh Andini dan Revan.
"Ada apa, Din." Tanya Revan yang tak sedikit pun berniat melepaskan pelukannya.
"Sebentar..... sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar." Jawab Andini sambil memejamkan matanya.
Andini yang sebelumnya berniat untuk membuat Vivian kesal dan cemburu malah merasakan perasaan nyaman memeluk Revan. Seolah kata 'sebentar' tadi ingin ia ubah menjadi 'selamanya'.
Bersambung... :)
Terimakasih readers π»πΈ
Jangan lupa pencet ππ