Come & Hug Me

Come & Hug Me
< ALEX MENGINAP >



Ternyata banyak hal menyedihkan terjadi di hidup kamu selama ini. Dan kamu menyimpannya sendiri. Andini maafkan aku yang tak bisa memberikan bahuku di saat-saat kesedihanmu itu. Alex.


"Mana mungkin aku becanda yang sama sekali gak lucu Lex." Kali ini tak ada air mata yang Andini teteskan. Semuanya sudah tumpah saat ia bercerita pada Revan.


Alex terdiam dan menatap lekat pada Andini. Andini merasa tak nyaman dengan tatapan penuh rasa iba dari Alex. "Udah gak usah lihat aku kaya gitu, aku gak apa-apa kok." Andini tersenyum. "Aku sudah cukup kuat sekarang."


Andini yang kini terlihat lebih tegar dan tak serapuh dulu. Dia terus menguatkan hatinya agar tak terus terpuruk pada keadaan. Dia tak ingin mengalah dengan takdirnya. Dia yakin bisa bahagia seperti yang dulu dia rasakan.


"Kita bahas yang lain yah." Andini menatap Alex. "Kamu ngapain nunggu aku sambil ujan-ujanan gitu? Kita kan besok juga bertemu di sekolah."


"Aku tadi ke kelas kamu mau ngajak kamu pulang bareng, ternyata kamu udah gak ada aku fikir kamu udah pulang jadi aku susul kamu." Jelas Alex. "Tapi ternyata kamu juga belum nyampe di rumah saat aku tanya satpam rumah kamu, jadi ya aku putuskan untuk nunggu kamu."


Andini mendengarkan yang Alex ucapkan dengan seksama. "Aku masih di sekolah nunggu hujan reda tapi ternyata malah semakin deras."


"Sama anak baru itu?" Tanya Alex datar.


"Namanya Revan, Lex. Iya aku nunggu sama dia." Jawab Andini.


Alex kesal mendengar jawaban Andini. "Terus jaket yang kamu pake tadi juga jaket punya.. Revan?" Andini mengangguk.


"Emangnya kalian sedeket apa sih? Kamu kan belum lama kenal sama dia, Din. Kamu harus hati-hati sama orang baru."


Aku juga gak tahu Lex kenapa aku bisa deket sama dia, mengingat pertama bertemu pun rasanya membuatku malu jika ketemu lagi dengan dia. Tapi rasa nyaman itu muncul begitu saja. Andini.


"Ya kita deket karena kita temen sebangku. Dia juga anaknya enak diajak ngobrol dan tukar pendapat. Aku juga sering ngobrol sama ibunya." Jawab Andini dengan semangat.


"Apa? Ibu? Kamu udah kenal sama ibunya." Alex benar-benar dibakar api asmara. Selama setahun kedekatannya dengan Andini, dia belum pernah mengenalkan pada orang tuanya. Selalu ada alasan ketika Alex akan mengajak Andini untuk main ke rumahnya. Dan dengan gampang murid baru itu mengenalkan Andini kepada ibunya. Alex merasa satu langkah telah tertinggal dari orang baru di hidup Andini itu.


Alex tak akan begitu saja membiarkan kedekatan mereka terus berlanjut. Akan berbahaya baginya untuk mendapatkan hati Andini yang dulu tinggal selangkah lagi ia dapatkan.


Hati wanita memang gampang berubah, sedikit saja kita lengah ketika dia rapuh maka akan ada laki-laki yang dengan sejuta usaha dan kata-katanya bisa membuat kenyamanan.


Dan Alex pastinya tak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia akan terus mencegah usaha Revan.


"Iya kenal, dia ngenalin aku pas pulang sekolah." Andini mulai merasakan kekesalan di raut wajah Alex. "Kita ganti topik yah." Alex terdiam.


Waktu sudah menujukan pukul 10.00 malam, Andini dan Alex masih sibuk mengobrol dan bernostalgia dengan masa lalu mereka. Ada tawa dan juga kesedihan ketika mengingat kebersamaan mereka dengan keluarga Andini.


"Lex udah malem kamu gak mau pulang?" Andini menunjuk jam dinding yang tepat di depan mereka. "Tapi diluar kayanya masih ujan sih."


"Aku nginap disini gak apa-apa kan?" Ucap Alex pada Andini.


Andini berfikir sejenak, dia juga tak tega jika Alex pulang dan kehujanan lagi. "Tapi besok masih hari sabtu, masih masuk sekolah terus seragam kamu gimana?"


"Aku bisa nyuruh Alvin sama Arfan bawain seragam aku di rumah, nanti aku ganti di sekolah." Ucap Alex dan Andini menyetujuinya.


"Kamu tidur di kamar tamu yah. Aku suruh bi Inah buat rapihin kamarnya. Kamu tunggu sebentar." Andini beranjak dan pergi ke dapur untuk menemui bi Inah.


Kamar tamu di rumah Andini ada dua kamar, yang satu di bawah bersebelahan dengan kamar utama yaitu kamar ayah dan ibunya Andini. Dan satu kamar lagi ada di lantai atas dekat dengan kamar Andini yang bersebelahan dengan kamar Kak Mira.


Andini pun kembali menghampiri Alex. "Kamu tidur di kamar tamu dekat kamarku di atas yah." Alex mengangguk.


Mereka berdua berjalan, baru saja langkah mereka akan menaiki anak tangga suara klaksok mobil terdengar sangat kencang dan berkali-kali.


"Itu pasti kak Mira." Andini langsung berjalan ke arah pintu depan rumahnya di susul oleh Alex.


Ketika pintu dibuka, pemandangan tak aneh kembali dilihat Andini. Namun pemandangan itu baru pertama di saksikan oleh Alex. Kakak dari Andini kembali pulang dengan keadaan mabuk, lengkap dengan laki-laki baru yang bersamanya.


"Kak Mira!!!" Suara Andini berteriak dan marah. "Kamu cepat pergi dari sini." Tunjuk Andini pada laki-laki itu. Dan dia pun segera pergi.


Kak Mira yang hampir terjatuh karena laki-laki tadi melepaskannya kini ditahan oleh Alex. "Ehh... ka.. mu... kok pergi." Ucap Kak Mira terbata-bata karena dia sangat mabuk berat.


"Lex bantu aku bawa Kak Mira ke kamarnya." Alex memapah tubuh Kak Mira itu.


Sesampainya di kamar, Kak Mira di tidurkan di atas tempat tidurnya. Tangan Kak Mira menahan Alex. "Wahh A...lex ya. Udah la...ma gak ketemu. Temenin ka...kak tidur yah." Ucap Kak Mira.


"Din..." Ucap Alex meminta pertolongan pada Andini.


Andini pun melepaskan tangan Kak Mira pada Alex, lalu menarik Alex ke dalam pelukannya agar menjauh dari kakaknya itu. Tanpa sadar Andini melingkarkan tangannya di tubuh Alex dari samping. Alex memegang punggun Andini sambil terisak.


"Liat Lex, setiap malam kak Mira selalu seperti itu." Andini membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Alex.


Alex tak berkata apa pun, dia kini memeluk erat tubuh Andini. "Bi tolong urus kak Mira yah." Ucap Alex pada bi Inah yang sedari tadi mengikuti mereka. Bi Inah pun mengangguk karena sudah seperti pekerjaan biasa jika Non Mira pulang dalam keadaan mabuk seperti itu.


Alex membawa Andini keluar dari kamar kakaknya tanpa melepaskan pelukannya. Alex membuka kamar Andini. "Kamu sekarang tidur yah jangan mikirin apa pun, ada aku yang selalu ada buat kamu." Andini membaringkan tubuhnya dan Alex menyelimutinya. Masih dalam tangisnya Andini terus memegang tangan Alex.


Alex mendekat dan dia memberikan kecupan di kening Andini. Andini berhenti dalam tangisnya lalu bangun dari tidurnya dan memeluk tubuh Alex begitu erat. Alex membalas pelukan Andini.


Cukup lama mereka berpelukan, sampai Andini tak terasa tertidur dalam pelukan Alex. Alex yang tak ingin Andini terbangun, dia mencoba untuk bersandar pada tempat tidur Andini agar dia pun bisa tertidur.


Alex dan Andini pun terlelap dalam tidurnya masing-masing.


Bersambung.... :)


Terimakasih readers 😍🌸


Jangan lupa pencet 👍💖 biar aku semangat updatenya 😍