
Benar... Andini dan Revan terlihat begitu bahagia. Apa mereka saling salah tingkah seperti itu, aihhh geli sekali orang yang sedang sama-sama jatuh cinta. Semoga si Revan bisa terus bahagiain kamu dan juga jagain kamu, Din. Aku selalu mendukung kamu dengan siapa pun yang baik sama kamu. Seperti sekarang ini, kamu tampak bahagia seperti kamu dulu bersama Alex. Arfan.
Andini dan Revan telah sampai di sekolah lebih dahulu dari Arfan yang naik motor, ya seperti biasa A3 harus bersama ketika datang ke sekolah.
Hmm.... hari ini begitu cerah. Semoga tidak ada bertumpahan darah. Bukan lebay! Tapi apa pun bisa terjadi di sekolah ini, apalagi dengan A3. Tidak ada yang tidak mungkin apa pun terjadi jika sesuatu mengusik mereka. Andini.
"Din, kok malah malah berhenti sih kenapa?" Tanya Revan.
Aku takut Arfan ngomong sama Alex Van. Aku takut kamu malah menjauh jika mendengar gosip yang enggak-enggak soal Alex menginap di rumahku. Andini.
"Engga Van, cuma enak aja ya cuaca pagi ini cerah banget. Kaya udah lama gak ke sekolah." Andini sedikit tertawa untuk menghilangkan kecemasannya.
"Iya semoga cerah terus engga hujan. Pokoknya harus jadi ke danau hari ini." Ucap Revan.
"Iyaa iyaa iyaaa, yuk ahh ke kelas." Andini menarik tangan Revan.
Sementara dari dalam kelas, Vivian dapat melihat Andini dan Revan melewati kelasnya. Dengan senyum licik, Vivian telah merencanakana suatu rencana agar Revan akan menjauhi Andini. Begitu rencananya berhasil maka dia akan dengan mudah mendapatkan Revan.
Cuma butuh waktu yang pas dimana kamu sedang sendirian Van. Dan kamu Din sebaiknya kembali pada Alex dan biarin Revan bersamaku. Vivian.
πΈπΈπΈ
Bell istirahat pertama pun telah berbunyi, Andini dengan cepat mengajak Revan ke atap sekolah berupaya untuk menghindari jika Alex datang menemuinya. Terlebih dia sama sekali belum menghubungi Alex bahkan pesan-pesan singkat dari Alex belum ia baca.
Andini dan Revan berjalan dengan cepat, tingkah Andini sempat membuat Revan curiga. Revan berfikir Andini sedang menghindari sesuatu. Dan tebakan Revan adalah pada Alex. Revan tidak bertanya langsung pada Andini, untuk apa fikirnya. Karena sangat bagus jika benar Andini berusaha menghindar dari Alex.
Aduhh kenapa ini kaya main petak umpet aja di sekolah. Andini.
Andini tiba-tiba terhenti. "Aduh Van, aku pengen ke toilet dulu nih. Kamu ke atap duluan nanti aku langsung nyusul kamu yah." Revan mengangguk, akhirnya mereka berpisah.
Lagi-lagi Vivian melihat kebersamaan Andini dan Revan. Vivian terus merperhatikan arah mereka pergi.
Loh kok mereka jadi jalan masing-masing? hmmm bagus ini waktunya buat aku bilang sama Revan. Vivian.
Vivian pun berlari menyusul Revan yang sedang berjalan ke arah tangga ujung bangunan, mengarah ke tangga yang menuju atap sekolah.
"Van, tunggu!"
Langkah Revan terhenti, ia menoleh ke belakang dan melihat Vivian yang kelelahan mengejarnya. "Ada apa Vi?"
"Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Vivian. "Tapi enggak disini, kita ke taman belakang bentar." Revan tampak berfikir dan Vivian seolah tahu fikiran Revan pasti tentang Andini. "Engga akan lama kok. Bentar aja. Janji."
Sepertinya Andini juga akan lama di toilet, aku juga penasaran dengan apa yang Vivian pengen bicarain. Revan.
"Apa yang mau kamu omongin Vi, jangan lama yah." Revan langsung membuka pembicaraan agar berlama-lama di sana.
"Iyaa yaa, aku cuma mau ngomong soal Andini sama Alex pasti kamu enggak tahu. Bukan apa-apa sih aku cuma pengen kasih tahu kamu. Harusnya sih kamu percaya sama aku." Ucapan Vivian berapi-api agar Revan bisa mencerna terlebih dahulu apa yang dia katakan.
"Iya Vi apaan?" Revan mulai kesal pada Vivian yang terkesan mengulur-ngulur waktunya.
"Kamu tahu soal Andini sama Alex yang tidur berdua?" Ucap Vivian to the point yang membuat Revan terbelalak karena terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang di katakan Vivian.
"Maksud kamu?" Tanya Revan dengan nada tinggi. "Kamu jangan bicara mengada-ngada, aku tahu Andini."
Ya ampun Revan marah sampe segitunya, dia bentak aku? Hhhehh dasar Andini sialan. Vivian.
"Kamu tahu Andini sejak? Sejak kamu masuk sekolah sini kan? Kamu enggak tahu Andini dulu kan?" Vivian terus mengeluarkan kata yang membuat hati Revan terasa panas dan nafasnya sesak. "Aku enggak ngada-ngada. Buat apa juga, emang apa untungnya buat aku. Aku juga tadinya enggak ada niatan buat cerita soal ini. Tapi karena dulu kamu yang nanya sama aku tentang Andini ya jadi aku fikir kamu perlu tahu ini juga dong." Revan tampak berfikir. Vivian merasa dirinya telah menang karena telah mampu membuat Revan percaya.
Benar juga, lagian waktu itu juga Vivian berkata jujur tentang Andini enggak ada yang dia lebih-lebihkan. Aku gak nyangka Din. Revan.
"Kamu tahu soal itu dari mana?" Tanya Revan dengan sedikit tenang namun tak bisa menyembunyikan rasa tak percayanya.
"Aku denger sendiri dari Alex yang lagi ngobrol sama Alvin dan Arfan. Alex nginep di rumah Andini waktu malam sabtu, waktu itu hujan deras banget kan enggak berhenti-berhenti sampai malem. Kalo gak salah kamu hari sabtu gak masuk kan? Nah hari sabtu juga aku lihat Andini boncengan sama Alex. Aku fikir mereka baikan lagi kaya dulu, soalnya pas gak ada kamu juga mereka berduaan terus di sekolah. Ehh tapi sekarang aku lihat kalian berdua lagi. Ya aku jadi keinget, makanya aku ceritain ini sama kamu." Ucap Vivian begitu senang melihat ekspresi wajah Revan yang begitu tersulut emosi. "Aku gak maksa kamu buat percaya kok, aku cuma pengen kamu tahu aja kejadian yang kamu gak tahu. Aku cuma kasihan aja sama kamu, kayanya kamu lagi deketin Andini, tapi Andininya malah kaya masih narik ulur Alex."
Revan terdiam sejenak. "Makasih ya Vi udah mau ceritain semuanya."
Vivian mengangguk. "Yaudah kalo kamu ada urusan yang lain lagi silahkan, aku kan cuma pengen ngobrol sebentar aja."
Revan berdiri dengan lemas, sebenarnya mendengar semua cerita Vivian lantas membuatnya menjadi tak ingin segera bergegas ke atap sekolah, namun ia paksakan.
"Ehh Van." Panggil Vivian pada Revan yang belum jauh meninggalkannya. "Aku mau kamu janji gak akan bilang tahu dari aku yah, aku gak mau Andini berfikir aku mau ikut campur urusan kalian. Kamu hanya perlu menggaris bawahi kalau aku bercerita ini hanya karena aku kasihan sama kamu. Maaf telah lancang mengasihanimu, cuma ya memang seperti itu keadaannya."
"Gak apa-apa Vi, aku malah makasih banyak sama kamu. Kalau kamu gak bicara mana mungkin aku bisa tahu kan. Yaudah aku duluan yah." Vivian mengangguk.
Revan berjalan menuju atap sekolahnya dengan langkah pelan. Dia sudah tak peduli jika pun Andini telah sampai duluan. Dalam benaknya hanya terus terbayang kenyataan bahwa Alex dan Andini tidur bersama dan terus menerka-nerka apa yang mereka perbuat.
Bersambung... :)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π
Bantu vote juga yaa π»