Come & Hug Me

Come & Hug Me
< BERSAMA MENGENANG MASA LALU >



Kini langkah mereka telah sampai. Kursi yang tepat di bawah pohon besar yang berada di belakang sekolah adalah tempat biasa mereka.


Mereka duduk bersebelahan dengan pandangan masing-masing lurus ke depan. Entah siapa yang akan memulai percakapan, suasana canggung menyelimuti mereka.


🌸🌸🌸


Revan melangkahkan kaki, dia berniat ingin ke perpustakaan terlebih dahulu sesuai yang di katakan Andini. Dia yakin ucapan Andini bisa ia percaya, pasti dia akan menyusulnya ke perpustakaan. Itulah yang ada di fikiran Revan saat ia mulai bingung apa yang harus ia lakukan, sementara Andini bersama Alex. Karena tidak mungkin dia mengikuti Andini.


Namun baru saja selangkah, Revan terhenti.


"Loe mau kemana?" Alvin memegang bahu Revan. "Kalo loe berniat ganggu Andini sama Alex mending loe batalin niat loe, sebelum loe menyesal."


Revan berbalik. "Tidak. Saya hanya ingin pergi ke perpustakaan. Permisi." Revan melepaskan tangan Alvin yang berada di bahunya.


"Ehh songong banget ya." Alvin terpancing emosi karena Revan yang seolah tak sedikit pun takut padanya, setelah peristiwa Alex yang melayangkan pukulan padanya.


Revan terus melangkah tanpa mempedulikan Alvin yang merutukinya.


"Udah... udah Vin biarin aja di pergi, lagian sekarang yang penting Alex sama Andini." Arfan mencoba menenangkan Alvin yang memang gampang terpancing emosi walau tak separah Alex. "Mending kita ke lapangan yo. Maen basket bentar sambil nunggu Alex."


Alvin mengangguk. Mereka berdua berjalan ke lapangan.


Sementara Revan kini telah sampai di depan pintu perpustakaan. Dia ragu untuk masuk ke sana.


Mau ngapain juga aku di sini. Emang bener Andini bakal nyusul kesini. Revan.


Dengan langkah ragu Revan masuk, entah apa yang akan ia perbuat di dalam perpustakaan. Dia hanya terus menyusuri rak-rak buku tanpa tahu buku apa yang dia cari. Namun dia hanya terus menyibukan diri dengan memilih-milih buku.


Sementara itu, Vivian yang memang sering menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan menyadari kehadiran Revan di sana. Dia tak langsung menghampiri Revan. Sepasang mata Vivian terus menyusuri sekeliling Revan memastikan keberadaan Andini. Dan dia tidak menemukannya.


Sepertinya Revan kemari sendiri. Hmmm... jalan mulus memang selalu ada untuk orang yang berusaha terus. Vivian.


Tanpa pikir panjang Vivian langsung menghampiri Revan.


"Hey, kamu sendirian aja?" Tanya Vivian sambil memastikan tak ada Andini disana.


Revan mengangguk dan tersenyum pada Vivian. Entah kenapa dia tak bisa bersikap sama pada orang lain seperti yang dia lakukan pada Andini.


"Tumben, Andini kemana?"


"Ada urusan sebentar katanya."


"Kalo gitu aku temenin yah..."


Revan mengangguk.


🌸🌸🌸


"Din...." Akhirnya setelah jeda beberapa saat yang menciptakan keheningan dan kecanggungan antara mereka terpecahkan oleh suara Alex.


"Kamu baik-baik aja kan?" Alex menoleh pada Andini. Dia sendiri bingung harus bagaimana memulai obrolan agar Andini bisa bercerita padanya.


"Ya seperti yang kamu lihat sekarang aku baik-baik saja." Andini tersenyum. "Bahkan dari kemaren-kemaren juga aku selalu baik tak pernah absen."


"Hmm.... tapi maksudku bukan itu aja. Aku ingin tahun alasan......." Kata-kata Alex terhenti, dia berfikir kata apa yang pas ia ucapkan pada Andini.


"Alasan aku berubah selama 2 bulan ini maksud kamu?" Andini seakan tahu apa yang ada di fikiran Alex. Alex tidak merespon apa pun.


Andini menarik nafas panjang. "Hal besar telah terjadi di keluargaku Lex." Andini berhenti sejenak mengingat kembali saat-saat takdir begitu cepat merubah semua keadaan indah dihidupnya.


Alex masih terdiam menunggu Andini menyelesaikan semua yang ingin ia ungkapkan.


"Aku fikir itu semua hanya mimpi. Malam itu tiba-tiba saja orang tuaku cerai." Kata terakhir yang keluar dari mulutnya membuat air mata keluar membasahi pipi Andini yang tak sanggup lagi terbendung. Alex yang mendengarnya, benar-benar tak percaya. Dia benar-benar sangat kasihan pada Andini. Fikirannya dahulu yang ingin marah pada Andini, ia urungkan.


Alex tahu apa yang di rasakan Andini, seperti dahulu ia yang di tinggal ibunya. Perceraian memang selalu menggoreskan luka dalam, dan anak yang selalu menjadi korban.


"Aku sama kak Mira bener-bener gak percaya sama keputusan ayah dan ibu." Andini kini terisak dalam tangisnya. "Waktu itu hujan lebat....." Andini benar-benar tak mampu menahan tangisan yang selama ini ia pendam pada siapa pun. Tangisnya benar-benar tumpah.


Alex menarik tubuh Andini dalam pelukannya. Alex tak ingin melihat wanitanya itu menangis didepannya.


"Sudah... Jangan lanjutkan lagi, Din. Aku mengerti." Alex membelai lembut rambut Andini.


Maafkan aku jika dulu berfikir yang tidak-tidak padamu, Din. Aku tidak tahu keadaan kamu. Pasti sulit menanggung beban selama ini sendirian. Alex.


"Tapi yang membuat aku terpukul sekali.. ibu aku Lex..." Andini terisak membuat kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa berat.


"Udah cukup sampai sini dulu. Aku gak mau lihat kamu seperti ini. Kamu harus tenangin dulu diri kamu." Alex melepaskan pelukannya dan melihat mata Andini.


"Kamu udah jadi wanita hebat yang memendam masalah seperti ini sendirian." Alex menghapus air mata di wajah Andini dengan jemarinya. "Kamu bisa cerita lagi sama aku kapan pun kamu mau, selalu ada bahu untuk kamu bersandar dan melepas semua beban kamu."


Andini dan Alex saling bertatapan.


"Maafkan aku sempat berpikir kamu menjauhiku selama ini karena kamu bukan wanita baik-baik. Maafkan aku yang berprasangka bahwa kamu hanya ingin bermain-main denganku dan kamu hanya ingin membalas perbuatan aku yang sering menyakiti perasaan wanita." Alex kembali menarik Andini dalam pelukannya. "Untuk saat ini sampai nanti aku takkan pernah melepaskanmu lagi. Berbagilah sedikit masalahmu padaku, jangan buat aku menerka yang tidak-tidak lagi." Alex mencium rambut Andini.


Lama Andini dan Alex berpelukan membuat mereka kembali mengingat momen bahagia mereka dulu. Semua selalu dilakukan bersama. Suka cita selalu mereka bagi satu sama lain.


"Oh iya aku lupa aku harus ke perpustakaan." Andini melepaskan pelukannya, begitupun dengan Alex.


"Kamu mau nemuin anak baru itu ya?" Raut muka Alex berubah menjadi kesal.


"Maaf, Lex. Aku udah janji. Lagian dia teman sebangku aku, dia juga murid baru di sekolah kita. Aku harus bersikap baik dan menunjukan bagian-bagian sekolah kita biar nanti dia bisa kemana-mana sendiri." Andini mencoba mencari alasan yang serealistis mungkin agar Alex percaya padanya.


"Yaudah ayo aku antar yah." Alex beranjak dan mengulurkan tangan pada Andini.


"Gak perlu Lex. Revan pasti gak nyaman kalo ada kamu. Pasti juga dia sedikit takut sama kamu, emang kamu lupa waktu kamu nonjok dia gitu aja." Andini meraih tangan Alex dan berdiri.


"Oke okee tuan putri, sialahkan pergi dengan anak baru itu, beri tahu semua sudut sekolah kita biar nanti dia bisa kemana-mana sendiri tanpa kamu. Ingat kamu harus tahu diri. Aku tahu hati kamu masih milikku." Alex tersenyum pada Andini, Andini pun membalasnya.


Andini melangkahkan kakinya menuju perpustakaan meninggalkan Alex yang kini sedang menatapnya yang semakin menjauhinya.


Bersambung....:)


#kalau Andini benar-benar kembali pada Alex gimana nasib Revan? 😭


Terimakasih readers 😍🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘ biar aku semangat updatenya 😍