
"Kenapa? keceplosan ya? Hahaha santai aku gak akan bilang kalau aku gak keceplosan juga." Arfan dengan santai menanggapi pernyataan Andini yang jelas akan begitu menyakitkan jika sahabatnya tahu.
"Hahh apalah daya nasi udah jadi bubur kaya gini, kamu pasti bilang sama Alex kan?" Ucap Andini pasrah.
Aku gak akan tahu apa yang akan terjadi pada Revan besok. Andini.
"Ehh udah sampai, gak kerasa yah. Ya udah kamu masuk gih. Besok jangan bolos lagi. Kamu harus beri Alex penjelasan yah hahaha." Arfan tertawa namun Andini menatapnya dengan tatapan memelas seolah dalam hatinya berkata Please jangan kasih tahu Alex, aku gak mau Revan terluka gara-gara Alex yang emosi.
Arfan berbalik untuk pulang ke rumahnya tanpa memperhatikan wajah Andini yang begitu memelas memohon padanya.
"Ehh tunggu.." Andini memegang tangan Arfan. "Bagaimana mungkin kamu bersikap santai sedangkan aku terus memikirkan hari esok, ntah apa yang terjadi pada Revan. Orang yang benar-benar aku sayangi saat ini." Andini melepaskan tangan Arfan, Arfan melihat wajah Andini yang seperti putus asa. "Ahh... iya kamu kan gak pernah benar-benar menyayangi orang kan? Kamu gak akan tahu perasaan aku sekarang, perasaan aku nanti jika Alex berbuat nekad seperti waktu itu lagi. Aku akan ikut terluka jika melihat Revan kembali terluka." Ucap Andini.
*Orang mana di dunia ini yang tak pernah terluka. Terluka melihat orang yang di sayanginya terluka? Aku tak akan membiarkan itu terjadi padamu. Biar akan terus seperti ini usahaku menjagamu, mencintaimu dalam diam, tetap mendoakanmu yang sedang dalam pelukan orang lain bahkan sahabatku, Alex. Dan sekarang kamu kembali telah menemukan orang baru yang kamu sayang dan semoga benar dia menyayangimu dan menjagamu. Namun tugasku tak akan berhenti di situ, mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja dengan orang baru yang baru masuk di kehidupanmu, mengubah segala perasaanmu pada Alex, sahabatku. Sungguh mencintai dalam diam tak seasik itu, Din. Andai aku punya nyali aku akan menyatakan perasaanku dan bersaing dengan laki-laki manapun yang mendekatimu termasuk sahabatku sendiri. Namun ternyata melihat kamu bahagia walau tak bersama aku juga cukup menghibur hati yang bertepuk sebelah tangan ini.
Kau fikir aku tak tahu kejadian terburuk yang terjadi padamu dan keluargamu dulu, aku tahu semua Din. Aku tahu betapa hancurnya kamu saat itu. Maaf aku tak bisa berbuat banyak padamu dulu, aku hanya bisa menyelatkanmu dan maaf jika keterlambatanku menolongmu membuat kamu kehilangan ibu kamu sendiri. Hmm... setidaknya kamu selamat waktu itu*.. Arfan.
"Fan... Fan..." Andini melambai-lambaikan tangannya di depan muka Arfan.
"Ehh... udah ah kamu masuk sana, aku mau pulang."
"Tapi..." Andini menatap Arfan penuh arti. "Aishhh ya sudahlah aku masuk." Andini berbalik dan membuka pintu pagar rumahnya.
Tenang aja Din aku tak akan bicara apa pun pada Alex, seperti waktu apa yang terjadi pada kamu dulu. Aku akan biarkan kamu yang bicara sendiri dengan cara kamu. Aku akan dukung kamu dengan siapa pun yang bisa menjaga dan menyayangi kamu. Selamat malam semoga kamu mimpi indah, Din. Arfan.
Arfan melihat pintu pagar yang telah kembali Andini tutup, ia pun pulang ke rumahnya.
πΈπΈπΈ
"Bu.... masih lama?" Revan dari tadi menunggu ibunya di teras depan.
"Iyaaa bentar, Van. Kamu semangat banget bukan karena pelajarannya, ibu tahu itu."
"Hehe apa sih bu, kaya yang engga pernah muda aja nih."
Revan dan ibunya berjalan menuju halte dan menunggu bus datang.
"Tuh kan lama lagi nunggu bus. Nanti Andini keburu berangkat."
"Aiiiihhh anak ibu kok jadi kaya anak kecil manja gini ya kalau jatuh cinta. Cinta itu benar-benar membutakan yah. Apa ibu juga harus jatuh cinta lagi supaya ibu awet muda." Ucap ibu Revan sambil tertawa kecil.
Revan melirik ibunya. "Apa sih bu, ibu masih muda kok gak usah mikirin nikah lagi. Aku gak mau ibu di sakitin lagi."
"Iyaaa iyaaa." Mengusap rambut Revan. "Kamu telpon aja Andininya biar nunggu di depan toko."
"Iyaaa ya sekarang kan aku udah punya nomor handphonenya, aihhh benar kata ibu cinta itu benar-benar terlalu sangat-sangat membutakan." Revan terkekeh sementara ibunya hanya menggelengkan kepala.
Revan mengeluarkan ponsel di saku celananya. "Ibu gak boleh nguping." Ngelirik ibunya yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Ya ampun bocah satu ini, ya udah kamu nelponnya disana tuh." Sambil menunjuk kursi taman yang lumayan cukup jauh.
π±π±π±
Revan : Din, tunggu aku di depan toko ibu yah, aku agak telat nih.
Andini : Oh iya santai aja, Van. Ini aku baru beres sarapan. Bentar lagi berangkat.
Tak lama bus yang mereka tunggu pun datang. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di toko roti milik ibunya itu. Revan turun terburu-buru sedangkan ibunya berjalan pelan di belakang Revan.
Terlihat Andini telah menunggunya di kursi depan toko, Revan melambaikan tanganya lalu Andini membalasnya.
"Udah lama, Din."
Andini bangkit dari duduknya. "Ahh enggak kok baru aja. Ibu mana, Van?"
"Tuh ibu." Revan menunjuk ibunya yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Ya ampun kamu tinggalin ibu." Andini menggelengkan kepalanya.
"Aku terlalu antusias sekolah dan yang terpenting sih lihat kamu lagi." Revan cengengesan begitu bahagianya. "Lagian kita kan mau ke danau."
"Iyaaa nanti pulang sekolah itu juga kalau engga hujan yah." Goda Andini sambil tersenyum. "Eh ibu, Revan nakal ya bu engga nunggu ibu. Nanti aku hukum dia yah." Mereka berdua tersenyum sambil melihat ke arah Revan.
"Ya udah kita berangkat langsung aja ya bu, takut kesiangan."
"Ehh kita engga bantuin ibu dulu buka tokonya?" Tanya Andini pada Revan.
"Udah gak apa-apa Nak. Kalian berdua langsung berangkat aja udah siang. Soalnya ibu tadi kesiangan. Ibu nitip Revan ya Nak Andini dia sedang manja-manjanya hari ini ibu aja kewalahan." Sambil tertawa.
Revan dan Andini pun berpamitan untuk pergi sekolah. Mereka berdua merasa canggung satu sama lain, mengingat yang terjadi diantara mereka kemarin. Andini yang malu-malu terus memalingkan muka dari tatapan Revan. Revan pun salah tingkah dan bingung untuk memulai obrolan.
Namun akhirnya seperti biasa Revan membuka percakapan diantara mereka. sepanjang perjalanan ke sekolah mereka terus berbicara hal apa pun. Walau jelas salah tingkah diantara mereka tak bisa di elakkan.
Ternyata sedari tadi Arfan membuntuti Andini sampai toko roti ibunya, sampai dia pun sekarang mengikuti bus yang di tumpangi Andini dan Revan.
Benar... Andini dan Revan terlihat begitu bahagia. Apa mereka saling salah tingkah seperti itu, aihhh geli sekali orang yang sedang sama-sama jatuh cinta. Semoga si Revan bisa terus bahagiain kamu dan juga jagain kamu, Din. Aku selalu mendukung kamu dengan siapa pun yang baik sama kamu. Seperti sekarang ini, kamu tampak bahagia seperti kamu dulu bersama Alex. Arfan.
Bersambung... :)
#Mencintai dalam diam? Hebat yaa. Hatinya terbuat dari apa gitu bisa-bisanya bahagia melihat orang yang di suka bahagia bersama orang lain :" padahal kan sekarang jaman tikung-tikungan, teman makan teman aihhh π
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ supaya aku semangat updatenya π
Bantu vote juga yaa π»