Come & Hug Me

Come & Hug Me
< MIMPI ITU LAGI (2) >



Sampai akhirnya satu persatu dari mereka meninggalkan lapangan olahraga menyisakan beberapa. Dan Revan baru menyadari Andini tak ada.


Kemana Andini? Apa dia udah ke kelas? Apa dia tidak melihat permainanku tadi. Hmmm... Mikir apa sih aku ini emangnya aku siapanya Andini. Revan.


Karena pelajaran olahraga telah selesai dan waktu istirahat jam ke 2 pun masih lama, akhirnya Revan duduk di pinggir lapangan dan menikmati angin siang sambil meredakan keringatnya.


Andini mungkin aja bolos tadi, mungkin janjian sama Alex. Haha apa-apaan aku ini masih saja memikirkan Andini. Revan.


Setelah cukup lama Revan bangkit berniat untuk pergi ke loker miliknya dan berganti pakaian seragam kembali. Lalu Revan berjalan ke kelasnya dengan sangat pelan. Sesampainya di kelas bahkan ia juga tak menemukan keberadaan Andini.


Sikap tak acuhnya kini berubah menjadi rasa khawatir. Tanpa fikir panjang Revan langsung keluar dari kelas untuk mencari Andini.


Dia mencoba pergi ke taman belakang sekolah, dia berfikir bahwa mungkin Andini kembali kesana untuk melanjutkan obrolannya dengan Alex. Revan dengan tegas tak akan mengganggu jika benar Andini ada disana bersama Alex, dia hanya ingin memastikan Andini baik-baik saja.


Namun ternyata Andini tak ada disana. Revan kembali berfikir, terlintas perpustakaan lah yang ada dalam fikiran Revan. Dia langsung bergegas berjalan ke perpustakaan.


Sesampainya disana dia masuk, menyusuri rak-rak yang ada di perpustakaan satu per satu. Tak juga ia temukan Andini disana.


Ahhhh iya ruangan pribadi Andini. Pasti dia ada disana. Kenapa baru terfikir sekarang sih, harusnya ini tempat pertama yang aku fikirkan. Revan.


Revan segera keluar dari perpustakaan untuk pergi ke ruangan pribadi Andini. Jalannya cukup cepat.


🌸🌸🌸


"Van..... udah van.. mmhhhh ahhhh...." Desahan terus keluar dari mulut Andini dengan mata yang terpejam.


Revan terus melanjutkan aksinya bermain-main dengan dua bukit kenyal milik Andini. Andini benar-benar terangsang dengan apa yang Revan perbuat padanya.


Andini tak henti-henti menyebut nama Revan dalam setiap desahannya.


Revan dan Andini kembali berciuman, lidah mereka saling bertautan satu sama lain. Ciuman mereka semakin dalam ketika Revan benar-benar membenamkan tubuhnya pada tubuh mungil Andini.


**** Revan benar-benar mengeras dan tepat berada di atas milik Andini. Kemudian Revan menggesek-gesekan kemaluannya itu pada milik Andini.


Andini benar-benar sudah tak tahan lagi, keringat membasahi tubuhnya. Desahan yang keluar dari mulut Andini makin kencang.


🌸🌸🌸


Langkah Revan telah sampai di depan pintu ruangan pribadi Andini. Dia mendengar suara desahan namun samar-samar.


Degh....


Andini pasti mimpi lagi. Huft... Revan.


Pintu ruangan itu Revan buka perlahan. Dia langsung menuju ke pojok ruangan yang tertutup kanvas-kanvas dan gambar serta lukisan.


Mata Revan terbelalak mendapati Andini yang tengah terlentang dengan kaki mengangkang serta ia melihat Andini hanya mengenakan celana dalam saja.


Glek...


Revan menelan air liurnya. Dia adalah laki-laki normal yang mana mungkin dia bisa tahan melihat apa yang ada di depannya sekarang. Matanya sulit untuk berkedip. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Andini.


Revan mendekat dan duduk di samping Andini. Dia berusaha meraih baju Andini untuk menutupi tubuhnya. Namun Revan mendengar desahan Andini yang menyebut-nyebut namanya.


"Revan..... mmhhh aahhh Van...."


Apa? aku gak salah denger. Andini mimpi seperti itu denganku? Revan.


Revan terdiam sejenak. Lalu di memegang bahu Andini dengan maksud ingin membangunkannya.


Alih-alih terbangun sentuhan nyata dari Revan padanya, membuat Andini semakin terangsang. Tanpa sadar Andini langsung memeluk Revan sehingga Revan terbaring, dan kini Andini berada di atas tubuhnya.


Sentuhan Revan malah terus membuat Andini bersemangat, dia mencoba menggesekan kemaluannya di atas milik Revan yang kini mulai mengeras.


Revan kelabakan, dia juga benar-benar terangsang sekarang. Dia ingin menghentikan dan menyadarkan Andini namun dia juga menikmatinya.


Revan bangun dan Andini di pangkuannya dengan tangannya melingkar pada leher Revan. Revan menunduk, pemandangan indah disuguhkan Andini lewat bukit kembarnya yang tak terlindungi apa pun. Laki-laki normal mana yang bisa tahan melihat wanita setengah telanjang ada di hadapannya, dipangkuannya!!


"Din....Andini sadar.... woy bangun Din." Revan berteriak tepat di telinga Andini.


Tak lama Andini membuka matanya "Aaaa......!!!!" Andini berteriak namun segera di tahan Revan, dia takut teriakan Andini memancing orang datang dan melihat semua yang terjadi. Akan menimbulkan masalah buat mereka.


"Sssttt.... jangan teriak." Andini mengangguk.


Revan melepaskan tangannya. Andini dan Revan saling bertatapan. Andini menyadari dia hanya memakai celana dalam saja. Bukannya Andini bangun dari pangkuan Revan tapi ia malah memeluk Revan.


Jantung Revan benar-benar tak karuan dibuatnya. Dada Andini benar-benar melekat pada dada bidang milik Revan.


"Van... apa yang terjadi. Kenapa aku gak pake baju. Kamu udah ngapain aku." Tanya Andini gemetar.


Revan mencoba melepaskan pelukan Andini. "Lepasin dulu Din."


"Gak mau, aku gak pake baju aku malu kamu lihat punyaku."


Revan terdiam dan malah membalas pelukan Andini. "Gak ada yang terjadi ko, kamu kayanya mimpi kaya gitu lagi."


"Terus kok aku bisa ada di pangkuan kamu kali gak terjadi apa-apa." Andini mempererat pelukannya membuat Revan benar-benar menikmati bukit Andini.


"Kamu tadi bilang sama aku mau ganti baju terus kita ketemu di lapangan tapi sampai akhir pelajaran kamu gak dateng juga, aku khawatir." Revan mengelus pundak Andini. "Aku nyari-nyari kamu, dan ternyata kamu disini. Aku kaget liat kamu setengah telanjang gitu. Pas aku mau bangunin kamu malah nindihin tubuh aku jadi gini lah jadinya."


Andini melepaskan pelukannya, dia menatap Revan dengan sangat dekat. "Beneran kan cuma itu, gak terjadi apa-apa lagi?" Revan mengangguk.


Beneran Din, aku sama sekali gak apa-apain kamu, tapi kalo kamu susah di bangunin tadi mungkin aku gak bisa ngontrol diri aku. Revan.


Andini bangkit dari pangkuan Revan. "Aku mau di baju dulu, kamu merem yah." Revan pun memejamkan matanya.


Padahal aku udah tahu semua Din, hehe aku udah tahu lekuk tubuh kamu kecuali yg di balik celana itu. Revan.


Andini duduk di samping Revan dengan berseragam rapi.


"Udah Van."


Revan membuka mata. " Kenapa kamu mimpi gitu lagi sih Din. Sengaja banget ya? Udah ke tiga kali loh aku mergoki kamu kaya gitu. Masih untung aku yang nemuin kamu, aku bisa tahan-tahan. Gimana kalo yang lain terus kamu di apa-apain."


Andini tampak berfikir. "Aku juga gak tahu Van, aku kaya gini udah 2 bulan. Dan itu selalu ketika aku ketiduran di sekolah. Makanya aku suka kesini. Tapi yang aku rasain pas kemaren-kemaren sama kamu aku engga mimpi kaya gitu lagi kan?" Tanya Andini pada Revan. Revan mengangguk.


"Kamu engga mimpi gitu lagi karena kamu gak tidur, kemaren-kemaren kan kamu sibuk sama aku keliling sekolah." Ucap Revan.


"Jadi aku harus gimana buat ngilangin kebiasaan ini Van." Andini menghadapkan tubuhnya pada Revan.


"Oke mungkin kamu butuh seseorang buat selalu ada di samping kamu, aku siap untuk tetap di samping kamu." Revan pun menghadapkan tubuhnya pada Andini.


Andini tersenyum, hatinya entah kenapa ia merasakan senang sekali mendengar ucapan Revan.


Revan pun memeluk Andini mencoba menenangkannya. Cukup lama mereka berpelukan seperti itu.


Bersambung.... :)


Terimakasih readers 😍🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ’– biar aku semangat updatenya 😍