
"Ayo kita kesana. Ibu aku udah manggil." Menarik tangan Andini agar berjalan.
"Eh... bentar-bentar. Emang ibu kamu umur berapa sih?" Menahan Revan sampai langkah mereka terhenti.
"Emm..... Berapa ya.... Kamu tanyain aja sama ibu aku yaa." Revan tersenyum pada Andini dan berjalan kembali untuk menghampiri ibunya.
"Wah kamu bawa siapa, Van. Ayo kenalin sama ibu." Ibu Revan tersenyum pada Andini dan Andini membalasnya.
"Kenalin bu, dia Andini temen sekelas aku bahkan kita sebangku, dia anak nya baik banget selalu nemenin aku berkeliling melihat sekolah baruku." Revan dengan senang hati menceritakan Andini pada ibunya. Andini mengangguk dan tersenyum pada ibunya Revan.
"Kenalin tante, namaku Andini."
"Manggilnya ibu aja ya jangan tante." tersenyum ramah. "Oh jadi kamu Andini yang sering di ceritain sama Revan. Makasih ya, Din udah mau jadi temen Revan. Kadang ibu khawatir kalo pindah sekolah Revan akan susah bergaul dan susah mendapat teman."
"Revan emang cerita apa aja tan.. ehh bu?" Sambil melirik tajam pada Revan, dia takut kalau Revan bercerita hal aneh tentang dirinya.
Bagaimana mungkin Revan akan susah dapet teman, orang cakep kaya gini mah pasti gampang bergaul tante. Andini.
"Tenang aja bu, kita akan terus dekat, iya kan Din." Revan menoleh pada Andini meminta persetujuan atas apa yang di ucapkan barusan.
"Hah... Ehh.. Eu.. Iya tante ehh ibu. Kita akan menjadi teman dekat."
Udah tuh denger kamu puas, Van. Andini.
"Syukurlah, ayo duduk nak. Revan kamu ambilin roti deh di dalem sama bikinin Andini minuman. Kalian pasti laper."
Andini dan ibu Revan duduk di kursi yang ada di depan tokonya. Sementara Revan ke dalam untuk mengambil roti dan membuatkan minuman untuk dirinya dan Andini.
Andini masih sangat canggung sekali untuk memulai obrolan dengan ibunya Revan. Dia tidak tahu harus berbicara apa dan bertanya apa pada ibunya Revan.
"Nak Andini ini rumahnya dimana? Jauh dari sini?" Akhirnya obrolan antara mereka akan dimulai karena ibu Revan yang membuka pembicaraan.
"Engga bu, deket ko dari sini paling 5 menitan engga nyampe 10 menit." Andini mencoba rileks "Aku kan sering lewat sini kalo berangkat atau pulang sekolah."
"Kalau begitu karena kamu udah tahu ini toko ibu, sering-sering mampir yah. Sini temani ibu biar ibu ada temen ngobrol."
"Emang Revan gak suka nemenin ibu ya, padahal dia bilang sering nemenin ibu dulu di toko pas mau berangkat sekolah terus pas waktu pulang sekolah." Andini memastikan kebenaran yang Revan katakan padanya.
"Ngobrol sama anak cowo itu beda, Nak. Revan kadang engga ngerti kalau ibu curhat. Anak cowo itu cenderung engga banyak bicara."
Apa tante? Gak banyak bicara? Nah selama ini yang sering bikin aku kesel karena Revan gak bisa berhenti ngomong itu kenapa tante? Apa Revan punya kepribadian ganda kali ya hahahaha...... Andini.
"Revan itu cenderung banyak bicara kalau dia memang suka dengan lawan bicaranya. Kalau sama ibu mungkin dia udah bosen ngobrol banyak-banyak jadi dia banyak action nya aja kalau di suruh nurut terus kalau ibu larang juga nurut. Jadi Revan itu ya kaya gitu, Nak." Ibu Revan yang kembali meneruskan pembicaraan tadi yang belum sempat terjawab oleh Andini.
Ya contohnya sama kamu, Nak. Ibu tahu Revan anak ibu sudah jatuh hati sama kamu. Bagaimana tidak dia selalu bercerita tentang kamu pada ibu, bercerita kalau kamu nyuekin dia, tapi anak ibu engga akan menyerah begitu saja. Dan ibu akan selalu mendukung demi kebahagian anak ibu. Ibu Revan.
"Iya bu, nanti aku sering mampir kemari dan ngobrol sama ibu."
"Wahh.... Ibu senang sekali teman anak ibu juga mau berteman dengan ibu." Wajah ibu Revan begitu sangat bahagia. "Nak Andini sudah haus? Revan lama sekali membuatkan minumnya."
"Engga bu, lagian masih asik ko ngobrol sama ibu."
"Tunggu sebentar deh, ibu ke dalem panggilin dulu yah." Ibu Revan beranjak dan berjalan memasuki tokonya.
Andini akhirnya duduk sendiri diluar toko menunggu Revan keluar sambil melihat mobil dan motor yang berlalu lalang.
Nah kan aku lupa pengen tahu umur ibunya Revan. Pantesan tadi perasaan ko ada yang mau aku utarakan sewaktu ngobrol berasamanya. Huh.... Aku terlalu nyaman mengobrol dengannya mungkin. Jadi kangen sama ibu aku. Udah lama juga aku engga nyekar ke makam ibu. Oke weekend sekarang harus, aku mau bercerita banyak hal sama ibu. Untuk misi cari tahu umur ibunya Revan bisa aku tunda ahahah. Andini.
"Hey Din jangan melamun gitu, maaf ya lama tadi ada sedikit problem hehe." Revan kembali membawa nampan dengan 2 gelas minuman es coklat dengan boba dan 2 roti selai stroberi yang masih hangat. Revan duduk di kursi depan Andini, kursi yang tadi di duduki oleh ibunya.
"Emm... Problem apa? Gak bisa bikin minumannya iya gitu?"
"Udahlah gak apa-apa. Makasih yah. Aku makan nih." Andini langsung menyantap roti yang masih hangat itu dengan minuman es coklat yang membuat segar.
Revan begitu senang Andini makan dan meminum minuman yang khusus dia buatkan untuk Andini.
"Tadi kamu sama ibu aku ngobrol apa aja?" Sambil makan roti dan minuman yang sama.
"Urusan perempuan!! Mana boleh kamu tahu kecuali kamu mau pake rok dulu." Andini tertawa.
Baru kali ini aku melihat kamu tertawa tulus kaya gitu. Manis sekali. Revan.
"Ohhh gitu, gampang aku tinggal nanya sama ibu aku wleee."
Andini tak merespon Revan hanya terus memakan roti dan menghabiskannya.
"Rumah kamu deket gak dari sini? Biar aku anterin."
"Emang kamu mau nganterin pake apa hmm?"
"Tuhh" Revan menunjuk sepeda yang ada didepan toko ibunya.
"Gak ahh takut jatoh. Lagian engga lama ko paling 5 menit."
"Makanya biar jadi lebih cepet jadi aku anterin aja yah."
"Iyaa... Yaaa terserah kamu. Van panggilin ibu kamu dong aku mau pamitan dulu udah sore."
"Oke bentar aku panggilin yah." Revan masuk ke toko dan memanggilkan ibunya.
Tak lama mereka berdua keluar dari toko, Andini langsung menghampiri mereka.
"Ibu makasih ya buat roti sama minumannya, nanti aku bakal beli karena rotinya enaaaak banget." Andini tersenyum dan ibunya Revan pun tersenyum senang.
"Iya, Nak. Nih bawa sedikit roti ini masih hangat buat orang tua kamu dirumah. Salam ya dari ibu."
Andini terdiam dan seperti sedih. Revan yang menyadari itu langsung bertanya.
"Kamu kenapa Din? Apa tadi omongan ibu aku ada yang salah?" Revan menoleh pada ibunya.
"Kenapa Nak? Ibu berkata salah ya tadi?"
"Ehh.. Engga bu." Andini mencoba senyum walau terpaksa "Ibu aku sudah meninggal dunia 2 bulan yang lalu. Aku hanya merasa kangen aja, tapi engga apa-apa kok bu, Van."
Revan dan ibunya saling menatap satu sama lain. Ibu Revan mendekat pada Andini dan memeluknya. Andini pun membalas pelukan itu.
"Jangan segan main dan bercerita banyak sama ibu yah, anggap aja ibu ini seperti ibu kamu juga." Melepaskan pelukannya dan menatap Andini. Andini mengangguk lalu tersenyum.
"Van kamu mau nganterin Andini kan? Hati-hati yah."
"Yaudah ayo, Din."
"Sekali lagi makasih bu, nanti aku akan sering-sering mampir kesini." Andini tersenyum.
Bersambung..... :)
#Wah Andini katanya mau sering-sering mampir, duh gimana ya kalo Alex tahu :(
Terimakasih readers 😍🌸
Jangan lupa pencet 👍👍 Biar aku tambah sengat buat updatenya 😍