
Andini membuka pintu kamar, melihat Revan sedang berbaring diatas tempat tidur. Andini langsung mendekat dengan wajah khawatir. Ia duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Revan. Andini mengusap lembut pipi Revan dan memegang tangannya.
Mata Revan terbuka perlahan.
"Revan..." Suara Andini lirih.
Pasti aku sedang bermimpi. Revan.
Andini kembali membelai pipi Revan dan menatapnya lekat. Revan merasakan belaian itu begitu nyata. Dia mencoba membuka lebar kedua matanya. Tampak Andini ada di depannya memakai baju seragam sekolah rapi.
Andini tersenyum melihat Revan bangun dan melihat dia ada di hadapannya.
Aku gak mimpi. Revan.
Revan yang terkejut terheran bercampur perasaan senang mencoba bangkit dari tidurnya untuk duduk, dan di bantu oleh Andini.
"Andini... kok kamu bisa disini?"
"Kamu kemana aja gak ada kabar?"
"Dari mana kamu tahu rumah aku?"
"Kamu sakit gara-gara kehujanan waktu pulang sekolah itu ya?"
"Kenapa kamu gak masuk sekolah?"
Mereka berdua saling menghujani pertanyaan satu sama lain, tanpa menjawab pertanyaan yang di tujukan untuk diri mereka.
Selang beberapa waktu mereka bertatapan, saling mengirim signal bahwa kerinduan telah mereka rasakan setelah 2 hari tak bertemu.
Memang tak ada ukuran berapa waktu yang di butuhkan untuk merasakan kerinduan. Bahkan ada yang mengatakan 'sehari tak berjumpa bagaikan sewindu'. Lebay? Tidak! Semua orang berhak atas kerinduan yang mereka rasakan dan pertemuanlah yang dirasa akan mengobati kerinduan yang melanda.
Revan dan Andini saling berpelukan melepas kerinduan yang mereka rasakan. Entah air mata Andini menetes begitu saja di pundak Revan. Melihat orang yang ia rindukan selama 2 hari berbaring lemas karena sakit seolah memberikan pula rasa sakit itu pada Andini.
"Kamu sakit apa, Van?" Andini melepaskan pelukannya dan menatap Revan.
"Kamu kok nangis." Mengusap lembut pipi Andini yang basah karena air matanya. "Aku gak apa-apa kok gak parah cuma demam aja, kemaren sih udah turun cuma naik lagi panasnya. Udah gak apa-apa." Ucap Revan menenangkan Andini.
"Udah minum obat? Kamu kapan masuk sekolah lagi?" Memegang kedua tangan Revan.
"Udah tadi. Kayanya besok juga aku udah masuk sekolah." Ucap Revan sambil tersenyum.
"Kamu yakin kamu udah sehatan, sekarang aja kamu pucet lemes banget gitu." Andini kembali khawatir.
"Udah sehat aku yakin kok, malah aku berasa lebih-lebih sehat sekarang apalagi ada kamu." Revan mencubit gemas kedua pipi Andini.
"Aaahhh Revan." Memegang tangan Revan yang mencubit kedua pipinya.
"Kamu gak sekolah? Terus kamu tahu rumah aku dari mana?" Tanya Revan yang penasaran Andini mendadak datang kerumahnya.
"Andiniku ini baik banget yah." Ucap Revan mengusap lembut kepala Andini.
Apa Andiniku? Andini.
"Kamu tidur lagi istirahat biar besok lebih seger buat masuk sekolah, aku temenin kamu." Andini membuka sepatunya dan naik ke atas kasur lalu duduk di sebelah Revan.
"Enggak ahh dari kemaren aku bete cuma diem tiduran terus, sekarang mumpung ada kamu ya aku mau ngobrol banyak dong." Ucap Revan sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Andini. "Kamu hari sabtu ngapain aja di sekolah?"
Andini berfikir sejenak hari sabtunya banyak ia habiskan dengan Alex. Bahkan jum'at malam ia dan Alex tidur bersama dalam satu kamar.
Gak mungkin aku jawab jujur sama kamu, maaf. Andini.
Ia dan Revan memang tak ada ikatan hubungan yang jelas namun entah kenapa satu sama lain dari mereka menjaga perasaan masing-masing agar tak saling menyakiti. Apakah rasa nyaman cukup menjadi alasan mengapa mereka seperti itu, ataukah rasa cinta telah tumbuh diantara mereka.
#Butuh waktu berapa lamakah kalian menyadari cinta tumbuh di hati kalian? ingat cinta!! Bukan rasa suka. Meski memang cinta diawali dengan rasa suka tapi keduanya itu berbeda.
"Ya aku belajar seperti biasanya." Ucap Andini dengan rileks agar membuat Revan percaya dan tak curiga padanya.
"Bagus, kamu gak mimpi lagi kan? Kamu harus kurang-kurangin menyendiri ya." Revan mengangkat kepalanya yang ia sandarkan pada bahu Andini lalu menatap matanya. "Tapi kamu juga gak boleh deket-deket sama yang lain, cowok lain maksudku. Mau itu masa lalu kamu sekali pun, aku mohon kamu jangan berurusan lagi dengannya dan jangan berfikir untuk melibatkan aku untuk menyelesaikan masa lalu kamu. Aku ingin aku bisa selalu di sisi kamu karena kamu nyaman denganku, bukan karena alasan kamu ingin aku membantumu melupakan masa lalu kamu itu. Kosongkan lah dulu hatimu untuk aku yang orang baru ini." Ucap Revan begitu serius.
Perasaan Andini merasa tersentil mendengar apa yang diucapkan Revan. Apa jadinya jika Revan tahu soal yang kemarin terjadi antara dirinya dan Alex.
"Aku gak tahu apakah kamu bicara seperti itu karena kamu suka sama aku atau tidak yang jelas aku percaya sama kamu. Kasih aku waktu untuk membereskan semua yang belum tuntas dari aku dan masa laluku. Untuk itu aku mohon agar kamu jangan gampang percaya omongan orang yang bicara apa pun tentang aku." Andini memeluk Revan. "Cukuplah kamu bertanya padaku tentang apa yang ingin kamu tahu dariku. Karena tak semua orang suka padaku dan akan bicara baik-baik tentangku. Kamu mengerti kan?" Andini menatap Revan dalam pelukannya. Revan pun mengangguk dan mencium kepala Andini.
Pulang dari sini aku harus pastikan lagi sama Alex, jangan sampai ada rumor yang beredar di sekolah tentang Alex yang menginap di rumahku. Maaf, Van bukan aku mau menutu-nutupi tapi emang tak terjadi apa-apa antara aku dengan Alex saat dia menginap di rumahku. Aku bisa menjamin itu. Aku hanya tak ingin ada kesalahpahaman. Aku ingin kita baik-baik saja. Andini.
Andini melepas pelukannya, "Aku laper Van belum sarapan gara-gara kesiangan. Hehe.. ibu kamu masak apa? Tadi kamu makan sama apa? Kamu makan siang nanti mau sama apa?"
"Aishhh... yaudah kamu makan dulu di bawah sana, tadi ibu aku masak sayur sop sama ayam goreng. Kamu makan aja dulu aku tunggu disini yah."
"Ibu kamu masak banyak tapi?" Andini memastikan.
Revan mengangguk, "Iya soalnya kan aku di tinggal jadi ya cukup buat makan pagi siang sama nanti malem. Udah cepet sarapan dulu, aku masih mau ngobrol banyak sama kamu."
Andini turun dari ranjang dan memakai sepatunya itu. "Kamu pakai sandal aku aja biar gak ribet." Ucap Revan. Andini mengangguk.
Andini pun keluar dari kamar Revan menuju dapur rumahnya. Suasana di rumah Revan cukup nyaman. Nuansa putih dan hitam mendominasi ruangan. Semua furnitur rumah bergaya minimalis. Tak banyak foto dan pajangan disana, mungkin karena Revan baru pindah. Batin Andini.
Bersambung.... :)
#Kalian pernah gak menggunakan seseorang untuk melupakan seseorang? Jahat kah? atau sudah sewajarnya seperti itu?
Terimakasih readers 😍🌸
Jangan lupa pencet 👍💖 Biar aku semangat updatenya 😍
Bantu vote juga yaa 😻