Come & Hug Me

Come & Hug Me
< HAMPIR SAJA >



"Nginep aja Din. Ya kan bu?" Revan meminta persetujuan ibunya.


Ibunya mengangguk, "Iya Din nginep aja yah udah malem lagian gak baik anak perempuan pulang sendirian."


Andini berfikir sebentar. "Aku pulang aja deh bu, biasanya juga jam 7 masih rame kok belum sepi-sepi amat."


"Ya udah hati-hati di jalan ya Nak Andini. Ibu ambilin dulu jaket Revan yah." Ibu Revan melangkahkan kakinya menuju lemari Revan.


Revan memegang tangan Andini. "Bener kamu mau pulang aja?"


Andini mengangguk. "Iya kamu besok sekolah kan udah sehat gini." Sambil mencubit lembut tangan Revan.


"Iya dong pasti sekolah." Revan tersenyum.


"Bener yah, nanti aku ajak kamu ke danau. Mau?


Revan tersenyum lebar dan mengangguk keras, "Iya mau, mau."


Ibu Revan kembali dan memberikan jaket yang telah ia bawa dari lemari Revan. "Pake dulu jaket nya ya, Ibu anter sampai depan."


"Iya aku juga anterin kamu." Ucap Revan sambil turun dari ranjangnya. Lalu mereka keluar dan turun bersama-sama.


Andini berpamitan pada Revan dan juga ibunya. Memang benar suasana kompleks rumah Revan pun masih ramai jadi tak ada yang dia khawatirkan.


Dia telah sampai di halte dan menunggu busnya datang. Ponselnya bergetar. Ia mengeluarkan dari saku roknya.


"Mine??" Andini tersenyum karena ada pesan singkat dari Revan.


📱📱📱


Revan : Hati-hati di jalan, jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah sampai di rumah dengan selamat 😘😘


Andini : Iya siap laksanakan komandan 😚


Andini tersenyum kembali melihat isi pesan singkat dari Revan itu. Rasanya dia sangat di perhatikan dan di jaga dari jauh oleh laki-laki itu, jadi tak ada alasan buat dia takut pulang malam sendiri seperti sekarang ini. Walau pun dia tak bisa membohongi dirinya kalau perasaan takut terus menghantuinya, dia takut akan kejadian pada dirinya dan ibunya 2 bulan yang lalu itu.


Bus yang ia tunggu telah datang, tak terlalu penuh di dalam bus itu. Andini duduk di kursi depan dekat dengan jendela. Dia mengeluarkan earphonenya dan mendengarkan lagu kesukaannya.


Tak lama sampailah dia di halte dekat rumahnya. Dia berjalan dengan sedikit santai karena suasana ramai di dekat pinggir jalan itu. Terlebih jika malam selalu ada para pedagang lesehan.


Dia berjalan menjauhi jalan raya utama untuk menuju rumahnya, suasana berbeda sepi yang kini ia rasakan. Ia terus mempercepat langkahnya, di persimpangan jalan terlihat segerombolan pemuda dari arah danau.


Langkah Andini terhenti, bayang-bayang akan masa lalu bersama ibunya kembali menyelimuti dan memberikan ketakutan yang luar biasa pada Andini. Jarak dari persimpangan ke rumahnya sudah dekat, namun bukannya lari Andini malah diam mematung. Dia berjongkok dan berteriak, sama seperti apa yang ia lakukan dulu.


Segerombolan pemuda yang kini telah dekat dengan Andini merasa bingung melihat tingkahnya. Kemudian salah seorang dari para pemuda itu mendekat dan ternyata itu adalah Arfan.


Arfan pun berjongkok di depan Andini. Terlihat Andini memejamkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kedua tangan yang menutupi telinganya.


Arfan memegang bahu Andini. "Toloooong." Teriakan Andini menjadi-jadi. Para pemuda itu pun merasa tak nyaman dengan teriakan Andini karena bisa menimbulkan ke salahpahaman.


"Din... ini aku Arfan. Hey kenapa kamu tiba-tiba kaya gini?"


Seperti mimpi Andini mendengar suara Arfan, Ia membuka perlahan kedua matanya. "A... Arfan?" Arfan mengangguk. Andini melihat memang itu Arfan dengan segerombolan para pemuda.


"Ahh... tidak-tidak ehh iyaa maaf aku hanya ketakutan saja. Maafkan saya yah." Andini melihat sekeliling para pemuda itu sambil berulang kali mengucapkan kata maafnya.


"Iyaa udah-udah, aku anter kamu pulang dulu deh." Arfan memegang tangan Andini. "Kalian semua pulang duluan gue nganterin dia dulu."


Para pemuda itu pun kembali berjalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sementara Arfan dan Andini masih berdiam di situ.


"Kamu kenapa malem-malem gini baru pulang?" Tanya Arfan sambil melepaskan tangannya dari Andini.


"Iya aku ada kegiatan dulu di ruang seni."


"Haha... bohong sekali kamu Din aku tahu kamu bolos, si anak baru itu juga bolos. Alex terus nyari-nyariin kamu loh."


"Hehe emmm iya sih aku bolos, tadi aku minta buat kamu turunin aku di halte karena aku lihat toko roti milik ibunya Revan buka jadi ya aku ke sana nyari tahu Revan yang engga masuk sekolah dari hari sabtu." Andini menjelaskan dengan detail tanpa di minta Arfan, dan Arfan hanya mengangguk.


"Ngobrolnya sambil jalan aja yuk, sambil aku anterin kamu pulang udah malem gini." Andini mengangguk dan mereka berjalan bersama.


"Oh iya yang tadi itu temen-temen kamu?" Tanya Andini.


Arfan mengangguk. "Iya, mereka tinggal daerah sini juga kok, baik-baik juga kamu gak usah takut kaya tadi gitu." Arfan menenangkan.


Kalau kamu tahu apa yang terjadi sama aku dan ibuku, kamu gak akan ngomong kaya gitu. Andini.


"Hehe iyaa lagian gelap sih gak kelihatan, aku cuma refleks aja."


"Iya sih harus kaya gitu, tapi bagusnya kamu lari terus teriak-teriak. Kalau kamu diem kaya tadi ya kamu bakalan di terkam." Arfan tertawa dan Andini pun tersenyum. "Oh iya sekarang aku yang nanya yah. Kamu seberapa deket emang sama si anak baru itu, sampai bela-belain bolos kaya tadi." Arfan penasaran. "Alex khawatir dari pagi uring-uringan ditambah kamu gak jawab telponnya." Tambah Arfan.


"Ya kami deket kaya temen biasa aja, lagian kita kan sebangku jadi ya masa iya aja aku gak nengok dia. Meskipun malah bolos hehe."


"Sampai-sampai kamu mengabaikan telpon dari calon pacar kamu?" Ucap Arfan dengan nada sedikit tinggi, seperti tak rela sahabatnya di khianati.


Apa? Calon pacar? Itu dulu.... Alex.


"Aku kayanya udah gak bisa sama Alex tapi aku gak tahu gimana cara ngomongnya, aku gak mau Revan terluka kaya waktu itu. Aku gak bisa bohongin diri sendiri kalau sekarang aku lebih nyaman sama Revan dibanding sama Alex." Ucap Andini sebegitu jujurnya di depan sahabat Alex sendiri.


Ya ampun apa yang aku ucapkan tadi. Aishhh... Arfan pasti ngomong sama Alex. Andini menutup mulutnya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memukul-mukul pelan kepalanya.


Jadi Andini menjauh dari Alex karena Revan. Apa yang harus gue lakuin, apa gue bilang sama Alex. Arfan.


"Kenapa? keceplosan ya? Hahaha santai aku gak akan bilang kalau aku gak keceplosan juga." Arfan dengan santai menanggapi pernyataan Andini yang jelas akan begitu menyakitkan jika sahabatnya tahu.


"Hahh apalah daya nasi udah jadi bubur kaya gini, kamu pasti bilang sama Alex kan?" Ucap Andini pasrah.


Aku gak akan tahu apa yang akan terjadi pada Revan besok. Andini.


Bersambung... :)


Terimakasih readers 😍🌸


Jangan lupa pencet 👍💖 biar aku semangat updatenya 😍


Bantu vote juga yaa 😻