
"Hey." Suara laki-laki yang datang menepuk pundak Andini lalu duduk di sebelahnya.
Andini menoleh. "Ehh Arfan?" Andini terkejut melihat kedatangan Arfan, matanya tak berhenti melihat ke belakang Arfan, dia takut Alex pun ada disana.
"Kenapa kamu nyari Alex ya?" Tanya Arfan.
Andini menggelengkan kepalanya. "Eh engga, kamu kesini sendiri?"
Arfan mengangguk. "Iyah, kamu?" Andini pun mengangguk. "Aku temenin disini yah."
"Silahkan, oh ya emang rumah kamu deket dari sini?" Tanya Andini.
"Iya deket cuma aku jarang keluar, jarang main di sekitaran sini paling kalo maen aku ke rumah Alvin atan Alex." Jelas Arfan. "Oh yaa aku mau nanya sama kamu boleh?"
"Boleh kamu mau nanya apa?"
"Waktu kemaren Alex kan nyuruh aku sama Alvin buat bawa seragam dia dari rumah ke sekolah, terus dia bilang dia nginep di rumah kamu, bener?"
Andini terkejut dia sempat tak kefikiran akan hal itu, "Apa aja yang Alex ceritain sama kalian?"
"Mmhh ya katanya kalian tidur sekamar." Ucap Arfan datar.
"Ya tapi kita gak ngapa-ngapin, karena hujan gak berhenti semalaman jadi dia nginep,padahal aku udah nyiapin kamar tamu buat dia, cuma karena ada sedikit problem jadi mungkin dia ketiduran di kamar aku." Ungkap Andini dengan jelas agar tak ada kesalahpahaman dan gosip yang tidak-tidak di sekolah.
"Ohhh.... iya Din tenang aja aku percaya cuma ya gak tahu yang lain, kamu tahu kan kalo udah kaya gini bisa bocor terus jadi gosip. Tahu sendiri Alvin orangnya kaya gimana. Lemesss!!" Ucap Arfan sambil tertawa sedangkan Andini terus merasa khawatir takut Revan mendengar yang di ada-ada.
"Kalo gitu aku pulang duluan yah Fan." Andini beranjak.
"Ehh.... aku anterin yah."
"Gak usah aku pengen jalan kaki aja."
"Ya aku juga mau jalan kaki nganterin kamunya, aku gak bawa kendaraan kok. Orang niatnya mau olahraga kesini." Arfan pun beranjak. "Rumah kamu ke arah mana?"
Andini menunjukam jalan dengan tangan kanannya. "Sebelah sana lumayan sih gak deket sama gak terlalu jauh juga."
"Wahh kan kita searah. Yaudah yu."
Mereka berdua pun jalan untuk pulang.
πΈπΈπΈ
Tubuh Revan menggigil kembali, keringat dingin keluar dari badannya, mukanya sangat pucat. "Bu..... bu....."
"Tuh kan panas kamu naik lagi. Nanti siang ibu telpon dokter Andri biar ke sini." Ucap ibu Revan sambil kembali mengompres kepala putranya.
"Jadi kayanya aku gak bisa sekolah besok ya bu." Ucap Revan dengan suara serak.
"Ya kalau panas kamu engga turun-turun gimana kamu mau masuk sekolah. Makanya kamu jangan terlalu mikirin apa-apa biar kamu fokus sehat dulu."
Gak mikir apa-apa gimana maksud ibu orang Andini selalu terfikir begitu saja dalam otakku. Revan.
πΈπΈπΈ
Langkah Andini dan Arfan telah sampai di depan gerbang rumah Andini.
"Nah ini rumah aku." Ucap Andini.
"Ohhh... jadi selama ini kita tetanggan loh."
"Masa sih? Emang rumah kamu dimana?"
"Tuh...." Arfan menunjuk rumah berpagar hitam yang terhalang 3 rumah dari rumah Andini. "Yaudah aku pulang dulu yah, sana kamu masuk." Arfan tersenyum dia melambaikan tangan pada Andini dan Andini pun membalasnya lalu masuk ke dalam rumah.
Andini duduk di tepi kasur miliknya, dia berfikir takut gosip Alex dengan dirinya yang tidur satu kasur menyebar dan terdengar oleh Revan.
Derrrrtttt..... Derrrrrttttt....
Ponsel Andini bergetar, nama Alex jelas di layar ponselnya.
"Lex aku mau ngomong." Tanpa basa-basi Andini langsung ingin membahas kekhawatirannya. "Aku gak mau gosip kamu nginap di rumah aku terdebar di sekolah!"
"Gak bakal Din orang aku cuma cerita sama Alvin dan Arfan kok, lagian kalo di gosipin juga emang kenapa? kan kita gak ngelakuin apa-apa."
Andini mematikan ponselnya.
πΈπΈπΈ
Tukk.. tukk.. tukk.. tukk
"Aduh apa si Non, belum bangun ya."
Tukk.. tukk.. tukk.. tukk
"Non.... Non Andini..."
Andini membuka matanya mendengar suara ketukan pintu dan teriakan dari suara bi Inah.
"Iya Bi.. aku udah bangun kok." Andini melihat jam dinding yang ada di depannya. "Hah jam setengah 7."
Andini bergegas masuk ke dalam kamar mandinya, lalu bersiap dengan seragam sekolah.
Jam menunjukan pukul 06.50, 25 menit lagi gerbang sekolah ditutup. Andini tak sempat sarapan. Dia pun tak memilih untuk minta diantarkan karena akan membuat lebih lama di jalan karena macet. Bus memang alternatif jika tak ingin terjebak macet.
Andini keluar dari gerbangnya, dia melihat Arfan baru saja melewati rumahnya dengan motor gedenya.
"Arfaaaan." Teriak Andini, Arfan pun langsung menghentikan motornya. Andini mendekat, " Fan aku nebeng yah, aku bangun kesiangan.
Arfan yang memakai helm fullface tak berkata apa-apa, dia hanya menganggukan kepala saja.
Motornya melaju sangat kecang, Andini tanpa sadar memeluk Arfan. Ketika melewati toko roti milik ibu Revan ternyata sekarang buka kembali.
Andini menepuk bahu Arfan, "Fan aku turun disini, mau ada perlu dulu." Andini pun turun
Arfan membuka helm yang dia pakai. "Mau kemana bentar lagi masuk loh."
"Iya kamu duluan aja aku laper belum sarapan mau ke toko roti dulu. Biarin di hukum juga udah biasa. Udah kamu duluan aja yah. Bye." Andini pun berlari meninggalkan Arfan.
Sesampainya di depan toko roti Andini langsung masuk untuk menemui ibunya Revan.
"Eh ada Nak Andini." Ucap Ibu Revan lalu menghampiri Andini yang berada di dekat pintu.
"Ibu... Revan kemana? Dia sekolah hari ini?" Tanya Andini khawatir.
Ibu Revan menggelengkan kepalanya, "Revan istirahat satu hari lagi, Nak. Mungkin besok dia udah mulai sekolah lagi. Andini kok masih disini apa gak akan kesiangan sekolahnya?"
"Gak apa-apa bu. Bu boleh aku minta alamat rumah ibu. Aku mau lihat kondisi Revan sekarang."
"Nak Andini gak akan pergi sekolah?"
"Aku bisa izin kok, minta ya bu. Pasti sekarang Revan juga sendirian kan bu. Gimana kalo dia lupa makan sama minum obatnya." Bujuk Andini.
Ibu Revan berfikir sebentar. "Yaudah kamu tulis alamatnya di hp kamu aja yah. Jalan Persatuan blok A nomor 07 pagar abu. Andini bisa naik dulu bus D turun di halte ke dua."
Andini mengangguk mengerti. "Aku berangkat dulu ya bu."
Andini berjalan menuju halte, menunggu bus D. Perjalan ke halte ke dua memakan waktu 20 menit. Dia turun dan mencari alamat yang di berikan ibu Revan. 10 menit mencari akhirnya rumah Revan ketemu.
Andini membuka pintu pagar yang tak terkunci itu. Mengetuk pintu depan namun tak ada jawaban atau pun tanda-tanda orang yang akan membukakan pintu untuknya. Akhirnya ia mencoba untuk membukanya, lagi-lagi tidak terkunci.
Andini masuk mencari kamar Revan. Langkahnya langsung tertuju pada lantai 2 rumah itu. Ada 2 kamar, dia melihat 1 kamar di depan pintunya terdapat stiker "Kamar Cowok". Andini langsung berfikir itu kamar Revan.
Andini mengetuk kamar itu. Apa Revan lagi tidur yah.
Andini membuka pintu kamar, melihat Revan sedang berbaring diatas tempat tidur. Andini langsung mendekat dengan wajah khawatir. Ia duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Revan. Andini mengusap lembut pipi Revan dan memegang tangannya.
Mata Revan terbuka perlahan.
Bersambung.... :)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π
Bantu vote juga yaa π»