Come & Hug Me

Come & Hug Me
< PERASAAN MACAM APA INI (2) >



Tepat sewaktu mereka berdua berjalan di depan kelas XII A, tak sengaja Vivian yang sedang berlari dari dalam kelas menabrak Revan. Dengan refleks Revan menahan tubuh Vivian dengan punggungnya karena dia tak mau melepaskan genggaman tangannya pada Andini.


Deghh


"Ahh... hampir aja. Aduh maaf ya." Ucap Vivian sambil membalikan badannya.


Seketika mata Vivian disuguhkan dengan pemandangan indah yang membuat matanya berat sekali untuk berkedip.


Revan melemparkan senyumnya pada Vivian. Vivian membalas senyum itu dengan hangat dan perasaan yang tak karuan. Andini yang melihat kejadian itu, membuat Andini kembali merasakan yang belum pernah ia rasakan. Tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya. Perasaan yang dia rasakan sekarang lebih ke kesal dan emosi yang menyesakan dadanya "Perasaan macam apa lagi ini" Gumam Andini.


Andini mencoba rileks dan melepaskan genggaman tangannya dan berjalan meninggalkan Revan.


Revan seketika langsung menyusul Andini dan menggenggam kembali tangannya.


"Siapa ya cowok tadi, kayanya dia tipeku. Huhh... Hatiku juga tak karuan gini dibuatnya, baru aja pertama kali melihatnya." Kata Vivian dalam hati yang kini telah diliputi rasa kasmaran pada Revan.


"Hey tunggu sebentar..." Kata Vivian sedikit berteriak.


Revan menghentikan langkahnya, dengan begitu langkah Andini pun otomatis terhenti karena Revan masih menggenggam tangannya. Revan menoleh dan Vivian pun menghampirinya.


"Kamu sepertinya murid baru ya?" Tanya Vivian "Kenalin aku Vivian anak melas XII A." Sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Aku Revan." Menyambut tangan Vivian.


"Sepertinya aku kira kita berdua bisa berteman." Senyum Vivian yang kemudian baru menyadari kehadiran Andini yang sedari tadi berpegangan tangan dengan Revan. Mimik muka Vivian berubah menjadi kesal bercampur dengan rasa cemburu.


🌸🌸🌸


"Sialan, tuh liat Lex, ketakutan gue kejadian juga. Dia lagi dia lagi. Liat tuh Vivian dia ngobrol sama si anak baru itu terus masih pegangan tangan sama Andini. Gak bisa dibiarin." Alvin yang tersulut emosi karena kecemburuannya mencoba ingin mendekati Revan, Andini dan Vivian. Namun segera dicegah oleh Alex dan Arfan.


"Jangan gegabah, kalo loe nyamperin kesana terus loe tiba-tiba aja mukul si anak baru itu, gimana fikir Vivian loe itu? Gimana fikir semua cewek di sekolah ini? Reputasi kita yang akan jatoh." Cegah Arfan dengan sedikit kata-kata yang membuat Alvin mengurungkan niatnya tadi.


"Dinginin dulu kepala loe dan tenangin dulu hati loe. Kita akan kasih dia pelajaran yang halus dan berkelas." Ucap Alex yang langsung berjalan ke kelasnya dan di susul oleh Arfan dan Alvin.


🌸🌸🌸


Andini yang terhenti langkahnya karena Revan dan Vivian, kini membuat Andini bergumam dalam hati. "Apa-apaan sih ini cewek. Kegatelan banget sama anak baru ini, padahal Alvin aja di cuekin. Ini lagi tanganku masih belum juga dilepasin. Emm... sepertinya Vivian tertarik sama si Revan. Haha... oke aku kerjain dia."


"Ehh sayang ko berhenti sih, ayo kita ke kelas bentar lagi masuk loh nanti kita telat." Ajak Andini yang membuat Revan sedikit heran dan begitu saja membuatnya tersenyum bahagia. Andini menarik tangan Revan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Vivian.


"Ahh.. Iya ayo." Jawab Revan kegirangan.


Mereka berdua kembali berjalan. Kini Andini melepaskan genggaman tangannya dan menggandeng tangan Revan dengan kedua tangan Andini. Karena dia tahu bahwa dibelakangnya Vivian masih melihat Andini dan Revan. Andini tersenyum puas.


Vivian yang kesal pada Andini menggerutu dalam hatinya. "Apa mungkin Andini sama anak baru itu pacaran. Ah masa iya sih... si Alex aja terang-terangan dia tolak. Aku harus cari tahu. Kalo perlu aku harus rebut Revan dari pelukan Andini." Vivian pun berbalik dan kembali ke kelasnya.


Andini dan Revan yang telah sampai di kelasnya, membuat semua perhatian tertuju pada mereka berdua. Andini yang langsung menyadari kemudian melepaskan tangan Revan dan berjalan ke arah bangkunya. Revan menyusul dari belakang.


Andini tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya sibuk mengeluarkan buku dalam tasnya. Revan membuka pembicaraan "Din, soal tadi... kamu... bilang sayang... mmm... apa ya maksudnya?" Tanya Revan sedikit sungkan.


"Lupakan!" Jawaban Andini yang singkat, padat dan jelas. Revan terdiam dan mencoba melupakan hal tadi.


Pelajaran selanjutnya pun di mulai. Revan memperhatikan Andini yang sedari tadi tidak memperhatikan pelajaran. Hanya mencoret-coret bukunya. Entah apa yang di gambar karena terlihat abstrak.


Semua siswa keluar untuk makan siang. Di kelas tersisa Revan dan Andini.


"Kamu mau keluar? Aku belum tahu kantin dimana?" Ajak Revan.


"Engga ahh aku males." Jawab Andini.


Kruyuk....


Aduh ini perut bunyi enggak tepat waktunya, malu-maluin. Andini melihat Revan yang sedang menahan senyumnya.


"Jangan ketawa!" Ucap Andini kesal bercampur malu.


"Yaa udah kalau kamu malas, aku keluar sendiri aja ya." Kata Revan sambil beranjak pergi ke kantin.


"Emang harusnya kamu juga keluar, Van." Gumam Andini dalam hati, kemudian dia langsung tidur di bangkunya dengan menghadap tembok yang otomatis akan membelakangi Revan. Tak lama Andini pun terlelap.


"Ahhh... ahhh... mmhhh.... ahhh..." Andini kini mendesah lagi.


Ya.... Andini kembali mimpi mantap-mantap. Andini terus mendesah keenakan dengan tangan kiri m*remas payudaranya dan membuka 2 kacing teratasnya. Andini yang dengan posisi masih telungkup dengan tangan kanan diatas menahan kepalanya yang di baringkan di atas meja.


🌸🌸🌸


Andini memang sangat menggemaskan dan berbeda dari gadis-gadis lain. Revan.


Revan berjalan menuju kantin yang sedari tadi terus memikirkan Andini. Entah apa yang membuat Revan jatuh hati pada Andini saat mereka pertama kali bertemu. Padahal kesan pertama melihat Andini tak begitu mengenakan bahkan itu pasti membuat Andini malu.


Tapi... bisa-bisanya dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa ketika aku memergokinya sewaktu di ruang seni. Ditambah lagi Andini memanggilku dengan sebutan 'sayang' yang terus-terusan membuat hati ini tak karuan jika mengingatnya dan lagi-lagi bisa-bisanya dia bersikap terus biasa saja tampa tahu hatiku selalu dibuatnya berdisko ria..... Gumam Revan sambil tersenyum.


Sesampainya di kantin, Revan langsung membeli 2 bungkus roti rasa coklat dan 1 kotak susu stroberi serta 1 botol air mineral.


Dari kejauhan Vivian menyadari kehadiran Revan tanpa ada Andini di sisinya. Tanpa lama-lama Vivian pun langsung menghampiri Revan.


"Hey.... masih ingat sama aku?" Ucap Vivian yang sedikit mengagetkan Revan.


Revan hanya mengangguk dan tersenyum sekilas dan langsung berjalan meninggalkan Vivian.


Vivian sedikit kesal karena Revan mengabaikannya. Tak menyerah begitu saja, Vivian mengikuti Revan dan berkata "Oh ya Revan, kamu belum menjawab pertanyaan aku tadi pagi loh."


Revan menoleh ke arah Vivian dan menjawab "Pertanyaan yang mana?"


"Aku bilang, sepertinya kita bisa berteman. Bisa kan?" Tanya Vivian mencoba meyakinkan Revan.


"Emmm.......


Bersambung... :)


Terimakasih readers 😻🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘