
"Van kamu mau nganterin Andini kan? Hati-hati yah."
"Yaudah ayo, Din."
"Sekali lagi makasih bu, nanti aku akan sering-sering mampir kesini." Andini tersenyum.
Revan mengantar Andini dengan sepeda yang ada di depan tokonya tadi. Sepeda itu milik karyawan di toko roti ibunya. Revan pun membonceng Andini.
"Eh.. ehhh Van ko sepedanya goyang-goyang terus kamu bisa engga sih bawanya kalo engga aku turun aja biar jalan kaki." Tanya Andini yang ketakutan terjatuh melihat Revan yang sedari tadi tak seimbang membawa sepedanya.
"Gak tahu ini susah jaga keseimbangannya. Gini deh coba kamu pegangan aja." Revan menahan senyum berharap Andini memeluk dia.
"Udah nih." Andini memegang besi belakang tempat yang ia duduki. "Ko masih goyang-goyang aja.
Revan menunduk dan merasakan tangan Andini belum berpegangan padanya.
"Kamu pegangan kemana?" Revan memastikan pada Andini.
"Aku megang besi yang ada di samping aku."
"Pantes masih goyang-goyang, coba deh kamu pegangan sama aku."
Hehehe ayo, Din peluk aku hehehehe. Revan.
"Ihh apaan, aku gak mau. Masa kalo megang kamu gak bakal goyang-goyang lagi. Mending aku turun aja deh."
"Ehhh coba aja pegangan dulu."
Andini pun mencoba memegang Revan. Dengan perasaan ragu Andini melingkarkan tangannya pada tubuh Revan. Dia hanya senyum-senyum kecil karena bahagia.
"Tuh kan Din, kalo pegangannya kaya gini sepedanya kan jadi seimbang." Revan tak henti-hentinya senyum bahagia.
Andini dengan polosnya hanya ber-oh ria. Dia tidak mengetahui bahwa sebenarnya Revan sedang mengerjainya. #modushhhh😂
Hehehehe duh maaf Din udah bohongin kamu demi kebahagiaanku haha kamu juga akan ku bahagiakan. Revan.
"Din didepan kita belok kanan apa terus lurus aja." Revan bertanya pada Andini karena dia melihat ada persimpangan di depan mereka.
"Kita belok kanan, nanti gak jauh lagi ada rumah dengar cat putih, itu rumah aku."
"Ohh oke siap, kalo lurus itu kemana." Tanya Revan.
"Udah lah kamu juga gak akan tahu."
"Yaa karena aku gak tahu makanya aku nanya supaya aku tahu kan."
"Iyaaa.. Iyaaa murid baru. Kalo lurus itu ke arah danau buatan gitu, tapi bukan cuma itu sih kalo weekend suka rame karena ada car free night sama car free day. Kalo weekday kadang sepi paling cuma beberapa orang aja." Jawab Andini yang begitu lengkap dan jelas.
"Wah bagus gak danaunya. Mau mampir? Aku anterin, aku pengen liat nih." Revan menghentikan sepedanya dipersimpangan sebelum dia belok kanan kearah rumah Andini.
"Nanti ajalah lagian kapan-kapan, aku udah gerah banget pengen mandi. Cepet jalan lagi."
"Beneran yah nanti ajak aku kesini, janji dulu." Revan menengok ke belakang dan mengacungkan jari kelingking pada Andini. "Ayo janji dulu."
"Hmmmm iyaa iyaa aku janji." Andini melepaskan pelukannya dan menyambut tangan Revan untuk saling berjanji.
Revan kembali akan mengayuh sepeda untuk melanjutkan mengantar Andini ke rumahnya. Namun sebelumnya Revan menyadari bahwa dia tak lagi dipeluk Andini.
"Din pegangan lagi biar seimbang."
Hehe aku bener-bener minta maaf Din ahahah. Revan.
Andini pun kembali melingkarkan tangannya pada tubuh Revan.
Selang beberapa menit mereka pun telah sampai. Revan menghentikan sepedanya tepat di pagar rumah Andini. Andini turun dari sepeda.
"Ehh, Din tunggu." Cegah Revan.
"Ada apa?" Andini berbalik dan menatap Revan.
Revan segera mengambil paper bag berisi coklat pemberian ibunya untuk Andini. "Ini ketinggalan." Revan mengacungkan paper bag itu.
Andini kembali dan mengambil paper bagnya. "Iya lupa. Makasih lagi buat ini bilangin sama ibu kamu juga. Sekali lagi makasih." Andini berbalik kembali untuk masuk ke rumahnya.
Seketika Revan menghentikan langkah Andini dengan menarik satu tangannya, sehingga Andini dengan refleks berbalik lagi pada Revan.
"Aku mau minta maaf, tadi ibu aku menyinggung soal ibu kamu, kamu pasti sedih dan kembali..."
Revan belum meneyelesaikan kalimatnya, Andini langsung berbicara.
"Gak apa-apa kok, lagian ibu kamu juga kan engga tahu soal aku. Bahkan kamu juga. Aku mau masuk dulu yah." Andini melepaskan tangan Revan dan berbalik.
"Din....."
"Hmmm apa lagi Revan!?" Andini kembali berbalik.
"Hehe... Soal tadi beneran kan lain kali kita ke danau itu." Revan memastikan pada Andini.
Andini hanya mengangguk kemudian ia berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.
Sebelum dia manggil lagi aku harus cepet-cepet. Andini.
Revan hanya tersenyum melihat Andini yang setengah berlari masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya. Revan memastikan Andini telah masuk ke dalam rumahnya, kemudian dia membalikan sepedanya dan kembali ke toko roti.
"Eh, Non baru pulang?" Bi Inah yang sedang menyiram tanaman sedikit aneh ketika melihat putri bungsu Tuannya itu pulang telat dengan wajah yang terlihat bahagia.
Setahunya, putri Tuannya itu selalu pulang tepat waktu dan mengurung diri dalam rumah sejak sepeninggal ibunya.
"Iya Bi, aku udah main dulu sama temen. Oh iya, ini ada roti buatan temen ibu aku. Aku ambil ini satu sisanya buat Bibi sama pa Anto yahh. Enak loh Bi. Aku masuk ke kamar dulu yah." Andini menyerahkan paper bag yang berisi roti tadi pada Bi Inah.
"Makasih ya Non." Andini mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah.
Temen? Apa Non Andini udah kembali bergaul kaya dulu. Bi Inah.
Keesokan harinya, Andini telah siap dengan seragam sekolahnya. Dia memasukan baju olahraga miliknya ke dalam tas.
Hari ini Andini memang tampil berbeda. Dia mengikat rambutnya satu ke belakang, dengan poni samping yang membuatnya tambah manis.
Dengan rambut yang diikat kebelakang membuat leher jenjang Andini terlihat begitu sangat indah menyempurnakan penampilan Anidini.
Sejak hari kemarin pertemuan pertamanya dengan ibu Revan seakan membuat semangat baru pada Andini. Dia seperti melihat sosok ibunya pada diri ibu temannya itu. Andini terlihat sangat bahagia dari hari kemarin sampai sekarang.
Andini keluar dari kamar, dia menuruni tangga dengan sedikit nyanyian-nyanyian kecil.
Bi Inah di bawah yang sedang menyiapkan sarapan kembali dibuat terheran oleh putri Tuannya itu. Di mata Bi Inah putri Tuannya itu terlihat lebih ceria dan bahagia dari hari-hari kemarin. Bi Inah merasakan kehadiran putri bungsu Tuannya telah kembali membuat keceriaan meski tidak untuk seisi rumah namun Andini telah membuat keceriaan untuk dirinya sendiri. Kebahagiaannya sendiri.
"Pagi, Bi." Andini menarik kursi yang biasa ia duduki dan mengambil sepotong roti tawar lalu melumurinya dengan selai kacang.
"Selamat pagi Non. Non terlihat sangat cantik sekali." Bi Inah melihat putri Tuannya itu mengikat rambut seperti itu membuatnya kembali mengingat sosok Andini yang selalu mementingkan penampilan dan selalu menebar senyumannya yang manis itu. Benar-benar membuat Bi Inah yakin bahwa putri Tuannya itu telah kembali dan bi Inah sangat bersyukur.
"Aku emang selalu cantik kan, Bi." Andini tertawa dan segera menyelesaikan sarapannya.
Bersambung.... :)
Terimakasih readers 😍🌸
Jangan lupa pencet 👍👍 biar aku semangat Updatenya 😍