
Andini melihat Revan begitu dekat di depan matanya. Tetesan-tetesan air hujan dari rambutnya mengalir pada wajah Revan. Revan tampan sekali, fikir Andini yang kini melihat Revan bukan karena Revan anak baru di sekolahnya namun karena Revan telah membuat halaman baru di hatinya yang lebih berwarna.
Terlalu dini bagi Andini menyadari bahwa benih cinta mulai tumbuh antara mereka. Namun bagi Revan tak ada yang terlalu cepat, karena kita tak bisa menghentikan perasaan itu.
Bus telah sampai di halte pertama, mereka berdua turun dengan seragam yang basah kuyup. Revan beberapa kali bersin membuat Andini tampak khawatir.
"Van kamu gak apa-apa kan?" Andini memastikan keadaan Revan. Revan tersenyum dan menggelengkan kepala. "Jadi kita mau bagaimana sekarang nunggu hujannya reda di sini atau mau langsung ke toko ibu kamu?"
"Kita ke toko ibu aku aja yah, biar kita bisa ngangetin badan, nanti kamu sakit kalo gini terus." Ucap Revan.
Mereka pun berlari di tengah hujan yang masih turun dengan derasnya. Untung saja toko roti milik ibunya Revan tidak terlalu jauh dari halte.
Mereka berdua sampai dan kini tengah berdiri di depan toko. Tampak dari dalam ibu Revan melihat kedatangan mereka lalu berjalan keluar menghampirinya.
"Loh... loh kok kalian malah ujan-ujanan bukannya nunggu hujan reda." Tanya ibu Revan pada mereka dengan nada yang khawatir.
"Udah sore banget bu, jadi kita mutusin buat ujan-ujanan aja dari pada kemaleman di sekolah." Jawab Revan.
"Iya bu lagian hujannya malah tambah deras, engga berhenti-berhenti." Tambah Andini menjelaskan.
"Yaudah kalian duduk dulu ibu buatin coklat hangat yah." Ibu Revan pun kembali masuk untuk membuatkan mereka susu soklat panas.
Revan dan Andini duduk di kursi yang ada di depan toko itu. Kedua tangan mereka sama-sama di silangkan pada tubuh mereka masing-masing.
"Dingin banget Din?" Tanya Revan pada Andini. Andini mengangguk dengan bibir yang gemetar.
Kemudian Revan bangkit dan membawa kursinya dan ia letakan di sebelah kursi Andini.
"Mana tangan kamu." Andini mengulurkan kedua tangannya pada Revan. Revan memegang kedua jemari tangan Andini. Dia mencoba menghangatkannya.
"Makasih Van." Ucap Andini kedinginan.
Tak lama ibu Revan pun keluar membawa susu coklat panas. "Kalian minum dulu yah. Ibu ke dalam lagi mau nyari handuk sama jaket Revan kayanya ada disini." Revan dan Andini mengangguk.
Mereka langsung meminum coklat hangat yang di buatkan oleh ibunya Revan tadi. Teras nikmat sekali, tubuh menjadi hangat walau pun dingin masih saja menyeruak masuk ke dalam tubuh.
Hujan sudah cukup reda, ibu Revan keluar sambil membawa jaket dan baju milik Revan. Revan memang selalu membawa baju ganti karena sepulang sekolah dia harus menemani ibunya sampai toko tutup pukul 09.00 malam
"Van kamu ganti baju dulu deh nanti kamu masuk angin, nanti kamu anterin Andini pulang." Ibu Revan menoleh pada Andini dan memberika jaket milik Revan. "Nak Andini pake dulu aja jaket Revan yah."
Andini menerimanya, ketika Revan beranjak Andini berkata. "Bu aku boleh pinjem payung aja gak? Revan gak usah anterin aku pulang, tadi di halte dia udah bersin-bersin takutnya Revan sakit." Andini menoleh pada Revan khawatir.
"Biarin aja aku gak apa-apa kok." Ucap Revan.
Andini menggelengkan kepala. "Aku pinjam payungnya ya bu."
Ibu Revan pun kembali masuk ke dalam toko untuk mengambil payung."
Sebelum Ibu Revan keluar Andini sudah memakai jaket Revan. Setelah itu Andini pun pamit pulang pada Revan dan juga Ibunya.
πΈπΈπΈ
Dari kejauhan Andini muncul menggunakan jaket milik Revan sambil membawa payung yang ia pinjam tadi.
Itu kaya motor Alex, ngapain dia ujan-ujanan di depan rumah aku. Andini.
Andini mempercepat langkahnya dan menghampiri Alex. "Alex..." Suara Andini memecahkan lamunan Alex yang entah kemana. Andini mendekatkan tubuhnya pada Alex dan berbagi payung dengannya.
"Kenapa kamu baru pulang Din?" Tanya Alex sambil menatap mata Andini, jarak mereka sangat dekat.
"Tadi hujan nya kan deras banget, aku gak langsung pulang. Tapi tetep aja basah karena hujan gak berhenti-berhenti. Kamu udah lama disini?" Alex menganggukan kepalanya.
"Ya sepulang sekolah aja."
Andini merasa kasihan pada Alex. "Kenapa kamu gak tunggu aku di dalem aja?"
Alex tertawa. "Bukannya kamu gak bolehin satpam kamu buat ngasih orang terutama teman-teman kamu buat masuk rumah kamu kan?"
Andini terdiam sesaat. "Yaudah yuk masuk dulu." Andini berjalan di samping Alex yang membawa motornya sambil berjalan. "Pak Anto tolong bukain gerbangnya." Pak Anto dengan sigap langsung membuka pintu gerbang rumah itu. Andini pun masuk bersama Alex.
Andini membawa Alex masuk kedalam rumahnya itu. "Kamu duduk dulu ya, aku ambilin dulu handuk sama nanti aku suruh bi Inah buatin teh hangat buat kamu." Alex menganggukan kepalannya. Andini pun berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Andini mengganti pakaiannya dan membawa handuk buat Alex. Kemudian dia berjalan ke kamar ayahnya untuk membawa baju yang akan ia pinjamkan untuk Alex.
"Lex nih handuk sama baju ayah aku kamu ganti dulu di kamar mandi, biar kamu gak masuk angin." Alex pun berdiri dan pergi ke kamar mandi, dia masih ingat betul letak rumah Andini.
Sementara Andini pergi ke dapur untuk membuatkan teh dan membawakan cemilan buat Alex. "Mas Alex main lagi ke sini ya Non." Tanya bi Inah padanya. Andini mengangguk. "Udah lama ya mas Alex gak main ke sini."
"Iya bi, aku ke depan lagi yah, kalo makan malam udah siap kasih tahu aku ya bi, kasian Alex pasti laper dia." Ucap Andini sambil berlalu membawa dua cangkir teh manis hangat dan sedikit cemilan.
Alex tampak sudah mengganti pakaiannya dan duduk di tempat tadi.
"Minum dulu Lex."
Alex pun meminum teh buatan Andini itu. "Oh ya rumah kamu sepi kemana ibu kamu. Lama juga aku tak bertemu sama kak Mira dan ayah kamu juga."
Andini terdiam. "Aku kan udah cerita Lex ayah dan kak Mira sekarang gak pernah pulang jam segini selalu lewat tengah malam."
Alex merasa bersalah karena kembali mengungkit masalah itu. "Maafkan aku Din."
"Aku juga tadi belum sempet cerita sama kamu, kalau ibu aku udah meninggal 2 bulan yang lalu tepat di malam sebelum pembagian rapor dan hari janjian kita." Andini terdiam.
"Apa?" Alex terkejut mendengar cerita Andini. "Kamu gak becanda?"
Ternyata banyak hal menyedihkan terjadi di hidup kamu selama ini. Dan kamu menyimpannya sendiri. Andini maafkan aku yang tak bisa memberikan bahuku di saat-saat kesedihanmu itu. Alex.
Bersambung... :)
Terimakasih readersππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π