
Andini tersenyum, hatinya entah kenapa ia merasakan senang sekali mendengar ucapan Revan.
Revan pun memeluk Andini mencoba menenangkannya. Cukup lama mereka berpelukan seperti itu.
*Kruyuuk....
Duh kenapa bunyi disaat yang engga tepat sih. Andini.
"Din, kamu laper?" Revan mencoba melepaskan pelukannya namun Andini malah membenamkan wajahnya di dada Revan karena malu. "Udah gak usah malu gitu, yuk makan siang dulu."
Andini melepaskan pelukannya dan menatap Revan.
"Jangan bilang kamu malas ke kantin lagi." Ucap Revan seolah tahu fikiran Andini. "Kita makan siang di kantin yah." Andini mengangguk.
Mereka pun keluar dari ruangan itu. Berjalan berdampingan sambil berpegangan tangan. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia.
"Van tapi aku udah lama engga makan di kantin." Andini menoleh ke arah Revan.
"Udah gak apa-apa, anggap aja kamu sama kaya aku sama-sama murid baru. Yang baru makan di kantin sekolah." Revan tersenyum.
Mereka pun berjalan untuk mengambil makan siang mereka.
"Udah gak apa-apa sekarang mulai lagi makan di katin, anggap aja kamu sama aku sama-sama murid baru." Revan melihat Andini dan tersenyum.
Mereka pun kini sudah sampai di katin sekolah. Suasananya masih sepi, karena memang bell istirahat belum berbunyi, masih beberapa menit lagi.
"Van kita langsung makan aja ya, mumpung masih sepi." Andini menarik tangan Revan untuk mengambil makan siang mereka.
Setelah itu, Revan dan Andini memilih kursi paling belakang untuk menikmati makan siang mereka. Mereka duduk saling berhadapan.
"Din, makan yang banyak ya biar kamu gak kurus banget." Ucap Revan sambil menyantap makanannya.
"Ehh apa sih, Van aku gak mau gendut nanti." Jawab Andini dengan nada yang sedikit manja dan langsung menghentikan makannya.
Revan tertawa, lalu mencoba untuk menyuapi Andini. "Aaaa.... ayo buka mulutnya." Andini terbengong dan sedikit malu. "Ayo aaa kereta mau masuk nih." Andini tersenyum dan membuka mulutnya, namun ternyata Revan hanya bercanda dan memasukan makanan itu ke mulutnya sendiri.
Andini kesal pada Revan. Revan yang melihat Andini dengan wajah cemberut seperti itu malah membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Revan menjulurkan kedua tangannya dan mencubit gemas pipi Andini.
"Uuuuu kamu kalo kaya gitu bikin greget tau." Revan masih memainkan pipi Andini dengan gemas.
"Iiiiihhhh Van lepasin ahhh."
"Iya...iyaaa.." Revan melepaskan tangannya. "Yaudah cepet abisin makannya ya baby bear"
"Hahhh apa baby bear?"
"Kenapa? lucu kan." Kata Revan sambil meniup pipinya sendiri dan tertawa. Andini pun tersenyum.
Makan siang mereka belum juga habis karena diselingi mengobrol dan saling melemparkan candaan.
Tak terasa satu persatu murid di SMA Star Vision pun datang untuk makan siang. Suasana di kantin yang tadinya sepi kini berubah sedikit berisik dan rame.
Namun Andini dan Revan seolah tak mempermasalahkan itu, mereka seperti punya dunianya sendiri.
πΈπΈπΈ
"Wah Lex lihat tuh siapa yang ada di pojok makan berduaan itu." Ucap Alvin pada Alex.
Alex melihat Andini dengan Revan sedang makan berdua. Wajah Andini begitu sangat bahagia bersama dengan laki-laki baru itu. Terlihat di mata Alex candaan-candaan yang di lakukan Andini dengan Revan.
Harusnya aku yang disana dampingimu dan bukan dia. Alex.
Alex berjalan medekati Andini, di ikuti Alvin dan Arfan seperti biasa.
Alex berdiri tepat di samping Andini dengan menghadap pada Revan. Dia memberikan tatapan yang mematikan pada Revan.
Revan pun menghentikan candaannya dengan Andini, kini ia menatap lurus ke arah Alex. Andini menyadari perubahan sikap Revan. Lalu ia menoleh ke samping tepat ke tempat Alex berdiri.
"Loh Alex, ada apa?" Tanya Andini pada Alex.
Revan yang seolah acuh akan kehadiran Alex, dia hanya terus menyelasaikan makannya. Alex terus menatap tajam Revan, sedangkan Andini bergantian menatap Revan dan Alex.
Lama mereka berdiam dalam situasi seperti itu, anak-anak yang ada di kantin pun menatap mereka penasaran.
"Din, aku udah selesai. Aku ke kelas duluan yah." Revan beranjak, namun seketika tangan Andini menahan tangan Revan. Andini tahu sikap Revan berubah karena kehadiran Alex.
"Aku juga udah selesai, kita ke kelas bareng yah." Andini pun beranjak.
Namun Alex langsung menahan tangan Andini yang akan melangkah. "Tunggu, kita masih belum selesai cerita yang tadi pagi." Revan menatap Andini seolah bertanya-tanya, kemudian Andini menatap Alex. "Kita obrolin lain kali yah. Kamu belum makan kan? Aku mau ke kelas duluan." Andini tersenyum pada Alex, lalu dia mendekat pada Revan dan mengajaknya untuk kembali ke kelas.
Alex menatap Andini yang berlalu meninggalkannya bersama Revan.
Pulang sekolah aku tunggu kamu di rumah kamu, Din. Alex.
Andini dan Revan berjalan kembali ke kelasnya. "Van kamu kenapa tadi kok gitu." Andini menoleh pada Revan.
"Gitu gimana maksud kamu." Revan bertanya dengan nada dingin.
"Engga, ya aku ngerasa kalo sikap kamu jadi aneh pas Alex dateng." Jelas Andini pada Revan.
Masa kamu engga ngeuh sih Din. Kalo aku marah tandanya apa? cemburu kan. Revan.
"Aku gak apa-apa kok." Revan tersenyum.
"Mmmhhhh iya-iya aku percaya. Istirahat masih lama, kamu mau aku bawa ke tempat yang indah gak?" Ucap Andini berharap Revan kembali ke moodnya seperti sebelum bertemu dengan Alex.
"Kemana? perpustakaan?" Tanya Revan, seketika Andini langsung menggelengkan kepalanya.
Andini memegang tangan Revan dengan kedua tangannya. "Kamu pasti bakalan suka."
Tampak di depan mereka Vivian yang sedang berjalan ke arah kantin. Andini melihat ekspresi Vivian yang tak suka dia dekat dengan Revan. Andini langsung menyenderkan kepalanya ke lengan Revan sambil berjalan dan bermanja-manjaan pada Revan. Revan tak menyadari Vivian di depannya, dia terus memperhatikan sikap Andini yang sangat menggemaskan dimatanya, membuat mood dia kembali ceria.
"Hey, Van." Vivian menyapa Revan yang sedang sibuk dengan Andini.
"Eh hey Vi." Revan menghentikan langkahnya, Andini menoleh ke arah Revan.
"Ihh kok berhenti sih Van. Ayo nanti ke buru masuk." Andini menarik tangan Revan tanpa memperhatikan Vivian.
Sialan, cewek itu pasti sengaja. Vivian.
Langkah Andini dan Revan berhenti di lantai kedua. Mereka berhenti di pintu yang tertutup.
"Kita mau kemana, Din?"
"Sssttttt..." Andini membuka pintu itu.
Terlihat ada tangga di balik pintu itu. Andini menarik tangan Revan untuk menaiki tangga itu. Lorong gelap yang mereka lalui ketika berjalan di tangga.
Revan tak banyak bertanya kepada Andini, dia mengikuti terus langkah Andini.
Terlihat ada satu pintu lagi diujung tangga, Andini kembali membuka tangga itu. Perlahan sinar matahari masuk ketika pintu itu di buka.
Revan dan Andini keluar, kini mereka ada diatap sekolah. Semua pemandangan jelas terlihat diatas itu.
"Gimana suka?" Tanya Andini pada Revan. Revan mengangguk.
"Tempatnya bagus Din. Tapi emang gak apa-apa kita kesini." Ucap Revan.
"Gak apa-apa lah emangnya kenapa." Andini menarik tangan Revan untuk duduk di kursi yang ada disitu.
Bersambung....:)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π