
Andini keluar dari kelas dan berjalan menuju ruangan pribadinya. Langkah Andini terhenti ketika ada seseorang yang memegang tangannya.
πΈπΈπΈ
"Lex, mau ke kelas Andini gak? Kita coba pastiin ancaman kita sama anak baru itu di gubris atau malah dianggap cuma angin lalu aja." Tanya Alvin.
"Ternyata selain jiwa alay, kompor gas juga sudah melekat dalam darah daging loe. Aura loe emang udah panas sih, pantes aja Vivian gak mau ngobrol lama-lama sama loe. Liat aja dia gak pernah betah lama-lama di kelas gara-gara siapa kalo bukan loe." Arfan yang selalu hobi meledek Alvin, karena itulah kebahagiaannya.
Alex tak menghiraukan pertengkaran antara mereka berdua. Alex langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar ketika dia melihat Andini berjalan melewati kelasnya. Arfan dan Alvin yang heran langsung mengikutinya.
"Din, tunggu." Alex berhasil menyusul Andini dan meraih tangannya.
Andini melihat Alex, air mukanya berubah. Dia selalu merasa bersalah karena selalu mengabaikannya.
"Lex.... lepasin. Aku ada urusan, maaf." Andini melepaskan tangan Alex dan berlalu meninggalkannya.
Harusnya permintaan maafku sambil menjelaskan semua yang dulu terjadi. Tapi maaf, Lex. Belum saatnya. Ini belum waktunya. Andini.
Alex melihat Andini berlalu. Entah perasaan Alex begitu dalam pada Andini. Dia tak begitu saja melepaskannya tanpa dia mengetahui terlebih dahulu alasan Andini yang berubah dan selalu menghindarinya. Walau Alex tahu dia bahkan dengan mudah akan menemukan wanita pengganti Andini. Tapi Alex terlalu di terbangkan tinggi oleh harapan-harapan yang di berikan Andini 'dahulu' sebelum ia seperti sekarang.
Setidaknya yang Alex mau adalah penjelasan. Jika tak suka harusnya dari awal tak membuat bahagia. Mungkin rasanya takkan sesakit ini jika pun terbuang dan terlupakan. Fikir Alex.
Andini telah sampai di ruang pribadinya. Seperti biasa dia menyusuri sudut-sudut ruangan itu yang pada akhirnya akan selalu tertuju pada matras yang ada di pojok belakang.
Dia membaringkan tubuhnya di atas matras itu. Menatap langit-langit berharap ia bisa tidur sejenak. Namun pikirannya kembali tertuju pada kenangan bersama Alex dulu.
πΈ Flashback on...
Dulu adalah hari-hari dimana Alex dan Andini merasa bahagia. Alex yang dikenal sebagai ketua geng dari A3 yang sangat digilai oleh para siswi di SMA Star Vision. Bahkan karena ketampanan dan kepintarannya semua wanita dapat dengan mudah ia dapatkan.
Namun itu semua tak berlaku untuk Andini. Perlu perjuangan ekstra yang Alex lakukan untuk meluluhkan hati Andini.
Selain perjuangan ekstra yang Alex lakukan, dia juga membutuhkan kesabaran dalam hal menunggu waktu Andini membuka celah hatinya.
Kurang lebih 1 tahun waktu yang Alex perlukan untuk mendapatkan respon dari Andini bahwa perjuangannya itu tidak sia-sia.
Alex dan Andini memang belum resmi pacaran. Namun kedekatan mereka sering menimbulkan opini siswa lain bahwa mereka telah jadian secara diam-diam.
Alex dan Andini kerap menghabiskan waktu istirahat pertama bersama-sama di perpustakaan. Karena Alex lebih pintar di bidang akademik, maka dia selalu membantu Andini dalam hal pelajaran.
Waktu istirahat makan siang pun mereka selalu bersama. Arfan dan Alvin seperti memaklumi posisi Alex. Dan tak masalah jika A3 tak sering kumpul bersama.
Bahkan Alex rela tidak membawa motor gedenya demi bisa ke sekolah bersama naik bus.
Yang tak bisa disingkirkan dalam benak Andini, sewaktu dia dan Alex pergi kencan untuk yang pertama kalinya. Dimana Alex menjemput Andini dan disaat itulah pertama kali Andini mengenalkan teman laki-lakinya kepada orang tuanya.
Alex sangat bahagia karena keluarga Andini begitu sangat menerima kehadirannya dengan senang hati. Apalagi dengan kak Mira. Alex sudah menganggapnya kakak dan begitu pun kak Mira telah mengaggap dia adik laki-lakinya yang harus selalu menjaga Andini, adik perempuannya.
Kencan pertama mereka adalah kencan remaja pada umunya. Mereka pergi ke berbagai tempat untuk menghabiskan waktu bersama. Pergi ke bioskop menonton film romantis sambil makan popcorn, membeli es krim, mencoba semua permainan di Amazone.
Kencan pertama yang begitu membekas di hati mereka.
Mendekati ulangan kenaikan kelas. Andini dan Alex sibuk persiapan belajar. Alex yang selalu dengan senang hati datang ke rumah Andini untuk belajar dan mengerjakan latihan soal bersama.
Ibu Andini sangat senang kehadiran Alex membuat Andini semangat belajar. Sebagai ucapan terimakasih Ibu Andini selalu membuat susu panas dan menyediakan cemilan untuk menemani mereka belajar.
Seminggu berlalu, semua mata pelajaran telah selesai di ulangankan. Perlombaan olahraga antar kelas sehabis ulangan semester dan kenaikan kelas sudah menjadi tradisi.
Setelah semua perlombaan selesai. Alex telah menyiapkan sesuatu untuk dia mengungkapkan perasaannya pada Andini. Dia ingin segera meresmikan dalam ikatan pacaran.
Alex telah berjanji akan membawa Andini ke tempat yang telah ia siapkan dengan sepenuh hati. Tepat setelah pembagian rapor, yaitu 3 hari ke depan. Namun rencana hanya tinggal rencana saja. Andini tidak datang. Bahkan sejak sehari dia bilang pada Andini akan mengajak ke suatu tempat, esoknya Andini tak masuk sekolah sampai hari yang di janjikan.
Sampai akhirnya libur kenaikan kelas pun telah tiba. Selama 2 minggu mereka tak bertemu selama 2 minggu pula Alex mencoba mencari cara menghubungi Andini.
Kedatangan Alex ke rumah Andini tak lagi seleluasa dahulu, selalu di halang oleh satpam. Begitu juga dengan ponsel Andini yang tak pernah bisa ia hubungi.
Alex selalu yakin ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada keluarga Andini tapi sedikit pun dia tak mendapat informasi bahkan Andini pun seolah bungkam.
πΈ Flashback off...
πΈπΈπΈ
Andini masih saja seperti itu. Apa yang harus aku lakukan, Din. Bicaralah. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Bahkan salahku pun aku tidak tahu. Tapi aku bisa melihat sorot matanya seperti berbicara agar aku menunggunya. Menunggu waktu sampai dia cerita. Tapi mau sampai kapan, Din kalau kamu terus-terusan bungkam seperti itu. Jujur aku sangat tersiksa seperti ini. Bisakah kamu cepat kembali untuk datang dan memelukku. Katakan padaku bahwa 2 bulan yang lalu adalah mimpi buruk yang tak akan pernah menjadi nyata.
"Woy, Lex. Udah ayo ke kelas lagi. Mungkin benar Andini lagi ada urusan." Bujuk Alvin pada Alex.
"Heem bener apa kata Alvin, Lex. Gue yakin kalian bisa bersatu lagi. Kalian hanya butuh waktu yang tepat aja buat ngobrol dari hati ke hati." Arfan menambahi dan mencoba menenangkan Alex agar dia bisa berfikir positif.
πΈπΈπΈ
Tiiittt..... tiiittt...... tiiiiittt...... ttiiiiitttt.......
Bersambung... :)
#hayo...... jadi hati Andini buat Alex masih ada apa dia sudah mulai tertarik pada Revan? hmmmm π±π±
Terimakasih readers π»πΈ
Jangan lupa pencet ππ