Come & Hug Me

Come & Hug Me
< MERASA PUTUS ASA >



Andini melangkahkan kakinya menuju perpustakaan meninggalkan Alex yang kini sedang menatapnya yang semakin menjauhinya.


🌸🌸🌸


Sementara di dalam perpustakaan Vivian sedang berusaha untuk terus bisa mendekatkan dirinya pada Revan. Apa pun dia bahas agar obrolan mereka terus berlanjut, walau pun jawaban yang ia terima hanya sebantas hmmm, iya, dan mengangguk saja.


Hingga akhirnya Revan yang sedikit jenuh dengan ocehan Vivian, kini terlintas untuk bertanya-tanya soal Andini padanya. Dia fikir satu-satunya cara untuk tahu Andini yaitu melalui Vivian.


"Oh iya Vi, boleh aku nanya sesuatu." Tanya Revan sambil menyusuri buku-buku di depannya, sementara Vivian yang ada di belakangnya kini menghadap Revan.


"Boleh dong, tanya apa saja aku akan jawab." Vivian langsung mendekatkan diri pada Revan.


"Aku boleh tanya-tanya tentang masa lalu Andini?" Revan menoleh pada Vivian dengan wajah yang serius.


Kenapa harus dia lagi sih, gak ada orangnya tapi mau bahas orangnya, huh... Vivian.


"Hmmmm." Vivian mengangguk tanpa ekspresi.


"Sebenernya hubungan Andini sama cowok yang namanya Alex itu apa? Kalo mereka pacaran tapi kok sikap Andini dingin sama cowok itu." Revan bertanya pada Vivian dengan serius.


Vivian menarik nafas panjang, sebenarnya dia sangat malas menceritakan tentang Andini. "Sejak kelas XI Alex emang udah ngejar-ngejar Andini, tapi ya karena Andini cuek bukan membuat Alex mundur tapi malah bikin Alex makin penasaran sama Andini."


Revan mendengarkan semua cerita Vivian dengan seksama, dia tak ingin terlewat momen sedikit pun.


"Terus mereka jadian?" Revan menghadapkan tubuhnya ke arah Vivian.


Vivian menggelengkan kepalanya. "Butuh waktu 1 tahun kurang lebih yang Alex habiskan untuk meluluhkan hati Andini." Vivian pun menghadapkan tubuhnya pada Revan.


Revan belum mengeluarkan komentar apa pun, dia menunggu Vivian melanjutkan ceritanya.


"Pas kenaikan kelas XII Alex udah mempersiapkan segalanya, menyiapkan sesuatu untuk dia menyatakan perasaannya pada Andini. Tapi, Andini gak dateng. Sampai waktunya liburan semester kayanya mereka belum juga ketemu deh. Terus pas masuk ajaran baru kelas XII sekarang tiba-tiba sikap Andini jadi dingin gitu, udah 2 bulanan lah. Dia sering ngehindar dari Alex dari temen-temen yang lain juga."


Revan terdiam.


"Oh iya Van kamu pindahan dari sekolah mana?" Vivian mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka agar tak lagi membahas Andini.


"Jadi Andini dan Alex dulu saling suka tapi belum sampai jadian gitu intinya?" Revan tak mempedulikan pertanyaan Vivian padanya, dia masih terus ingin mengetahui tentang Andini.


Udah ketebak pertanyaanku gak di anggepin.Vivian.


"Hmmm ya bisa di bilang begitu, emang semua siswa disini udah menganggap Andini dan Alex itu pasangan. Tapi ntahlah....." Vivian menjawab pertanyaan Revan dengan terpaksa.


"Ntahlah apa?" Tanya Revan.


"Yaa pokonya mereka itu belum jadian tapi melihat perubahan Andini tadi kayanya bakal ada peluang lagi buat Alex." Jawaban dari Vivian membuat napas Revan sesak dia merasa sedikit kecewa dan hilang harapan.


#Berurusan dengan orang yang belum menyelesaikan masalahnya di masa lalu emang sulit. Terkadang kita ikut terbelenggu dalam masalah itu. Alih-alih mendapatkan hatinya, malah kita di jadikan pelampiasan semata. Cih... begitu jahatnya manusia seperti itu menjadikan seseorang sebagai alat untuk melupakan seseorang.


Revan benar-benar merasa kecewa, kecewa mengapa ia jatuh hati pada hati yang telah memiliki tambatan hati.


"Perubahan? Maksud kamu?" Tanya Revan bingung dengan pernyataan Vivian.


"Ya perubahan Andini tadi, mulai dari penampilan terus raut mukanya itu yang keliatan ceria. Kamu gak merasa ada yang berubah dari Andini yang kemarin emang?"


Revan terdiam, memang benar ia merasakan perubahan pada diri Andini.


"Apakah Andini berubah kembali menjadi Andini sebelumnya, sebelum 2 bulan yang lalu?" Tanya Revan memastikan.


Vivian mengangguk. "Aku juga tahu kok sekarang Andini lagi ngobroo sama Alex, makanya kamu kesini sendiri iya kan?" Revan terdiam dan bertanya-tanya mengapa Vivian bisa tahu sedangkan dia tak ada disana tadi. "Udah jangan heran kenapa aku bisa tahu, disini gosip soal A3 gampang banget nyebarnya." Vivian tersenyum. "Kamu tahu A3?" Revan mengangguk.


Oh rupanya Revan udah banyak tahu soal sekolah ini, pasti cewe itu yang cerita. Semoga setelah ini hubungan kamu sama Andini mulai renggang. Vivian.


"Hey..." Vivian melambaikan tangannya di depan muka "Kamu ngelamunin apa hmmm?"


"Ehh engga apa-apa Vi." Revan tersenyum pada Vivian. "Makasih ya kamu udah mau cerita banyak sama aku."


"Tenang aja lagi Van, pokonya kamu kalo mau tahu apa-apa jangan sungkan sama aku yah."


Asal jangan nanya soal cewe itu lagi arrghh. Vivian.


"Sepertinya dulu kamu berteman baik sama Andini yah?" Tanya Revan penasaran.


"Hah... apa?" Berteman? Kita ini musuh. "Ehh iya.." Vivian mengangguk.


🌸🌸🌸


Langkah Andini telah sampai di depan perpustakaan sekolahnya. Kini dia masuk, matanya sibuk mencari keberadaan Revan diantara rak-rak buku.


Tak lama dia melihat Revan sedang berbicara dengan Vivian, entah kenapa tubuh Andini serasa panas dan sesak melihat pemandangan itu.


Andini mencoba mendekat. Bahkan sekarang jarak Andini dengan mereka cukup dekat tapi Revan ataupun Vivian belum menyadari kehadiran Andini.


"Van." Andini menepuk pundak Revan, Revan langsung berbalik. "Maaf ya agak lama."


Andini melirik Vivian yang memberikannya tatapan tak suka karena telah mengganggu waktunya bersama Revan.


"Gak apa-apa, Din. Lagian juga aku gak sendiri, Vivian mau nemenin aku disini."


Jelas dia mau nemenin kamu lah orang dia suka sama kamu, masa kamu engga ngeuh sih, Van. Andini.


"Yaudah yo kita ke kelas bentar lagi masuk, kita belum siap-siap ganti baju olahraga loh." Andini menarik tangan Revan agar menjauh dari Vivian.


Revan mengangguk, "Kita duluan ya, Vi." Vivian tersenyum dan mengangguk.


Dasar Andini, pengacau, selalu!! Vivian.


Andini dan Revan keluar dari perpustakaan. Mereka berjalan untuk kembali ke kelasnya.


"Van tadi kamu ngobrol apa aja sama Vivian." Tanya Andini penasaran dan takut Vivian bercerita tentang dirinya yang tidak-tidak.


"Ohhhh tadi... ya ngobrol biasa aja kok seputaran sekolah, pelajaran dan apa aja sih kita bahas tadi." Ucap Revan menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya pada Andini.


"Lain kali kalo mau tanya-tanya seputaran sekolah atau apapun kamu kan bisa nanya sama aku gak harus sama Vivian." Andini melirik Revan dan kembali fokus ke depan.


"Tadi kan kamu lagi ada perlu sama Alex, lagian aku malah terimakasih sama Vivian jadi aku engga nunggu kamu sendirian. Lagian kalo nanya sama kamu kadanh suka gak di jawab." Revan tertawa.


Andini melirik, "Itukan kemaren-kemaren, mulai besok ehh enggak-enggak mulai sekarang deh mau nanya apa aja sama aku, oke."


Revan mengangguk "Siap laksanakan Tuan Putri." Andini melirik dan tersenyum.


Perasaan Revan sekarang sebenarnya campur aduk, dia sudah mengetahui masa lalu Andini. Harusnya dia bisa menjaga jarak mulai sekarang dengannya. Tapi sikap Andini sekarang seolah menahannya untuk menjauh.


Tapi bagaimana pun dia tidak bisa begitu saja mengubur rasa sukanya pada Andini.


Bersambung... :)


#Aduh Andini maunya sama siapa sih dia.πŸ˜…


Terimakasih readers 😍🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘ biar aku semangat updatenya 😍