
Revan tak berkata apa pun dia tak ingin ucapannya malah mengganggu suasana hati Andini.
Aku janji akan hadirkan kembali kebahagiaan dihidup kamu Din. Asal kamu selalu di sampingku. Revan.
"Udah Din, maaf yah aku gak maksud buat kamu nangis kaya gini dengan kamu mengingat masa lalu kamu." Ucap Revan pelan sambil membelai rambut Andini.
Andini menyeka air mata di pipinya. "Gak apa-apa Van, justru aku mau ngucapin makasih. Sekarang aku merasa lega bisa bercerita sama seseorang tentang semua beban yang aku tanggung sendiri selama ini. Dan mulai sekarang aku akan jadi Andini yang dulu bukan karena siapa-siapa, aku hanya ingin mengingat momen indah di hidupku walau aku tak bisa mengembalikan kebahagiaan di keluargaku lagi." Andini membalas pelukan Revan. "Makasih Van udah dateng di hidup aku."
Revan mengangguk, dia semakin bertekad untuk menjaga Andini dan membahagiakannya.
"Kamu nyaman sama aku Din?" Tanya Revan pada Andini yang masih ada dalam pelukannya.
"Sepertinya... Aku gak tahu rasa nyaman ini muncul begitu saja." Jawab Andini.
Revan tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Andini. "Kamu gak harus jawab kapan dan alasan kamu nyaman sama aku, yang harus kamu lakuin sekarang hanya tetap terus bersamaku."
Andini melepaskan pelukannya dan menatap Revan. "Apa kamu juga merasakan nyaman seperti yang aku rasain?" Revan mengangguk. "Apa tidak terlalu dini bagi kita untuk saling nyaman seperti ini?"
"Tidak ada kata terlalu cepat untuk kita menyadari kenyamanan satu sama lain, hanya jangan sampai terlalu cepat rasa nyaman itu hilang." Revan memegang tangan dan menatap dua bola mata indah milik Andini. "Biarkan rasa nyaman itu terus hadir diantara kebersamaan kita sampai kita tak menyadari cinta telah tumbuh dan munculah rasa takut kehilangan antara kita agar kita selalu bersama, semoga. Itu yang aku harapkan sekarang."
Andini tersenyum. "Semoga..."
Obrolan panjang antara Andini dan Revan membuat waktu terasa cepat berputar. Revan baru menyadari bahwa pelajaran terakhir hari ini sudah berlangsung 1 jam, dan tinggal 1 jam lagi menuju pulang. Akhirnya mereka memutuskan untuk membolos lagi di pelajaran terakhir.
"Bolos lagi...." Revan tertawa.
"Hahah iya Van, kamu sih pake adegan nangis segala, jadinya kan suasana jadi melow terus lupa waktu." Revan mencubit pipi Andini dengan gemas.
"Masih 1 jam lagi loh, kita mau ngapain di sini? mana langit udah mendung gitu." Tanya Revan sambil menunjuk langit yang tak lagi biru cerah.
Andini mengangkat bahunya. "Gak tahu, tapi kalo kita ke bawah kita akan kena masalah sama guru piket gara-gara berkeliaran pas jam pelajaran. Paling kalo ujan kita diem di tangga gelap tadi."
"Aku sih gak apa-apa kalo di tangganya bareng kamu, kamu emang gak takut kalo nanti di apa-apain sama aku." Revan tersenyum mencoba untuk menggoda Andini.
"Gak lah aku tahu kamu cowok baik, buktinya 2 kali aku kepergok gak pake baju, kamu sama sekali gak ngapa-ngapain aku, kamu engga tergoda kan?" Tanya Andini.
"Kata siapa? Aku 2 kali mencoba mengendalikan fikiran-fikiran liar saat kamu engga pake baju nyata di depanku. Kamu fikir engga ke goda gitu, emangnya aku cowok apaan Din. Aku ini masih normal cuma ya aku berusaha mengendalikan nafsuku saja." Ucap Revan sambil memegang kepalanya seperti orang pusing.
"Kamu emang baik." Dengan refleks Andini mencium pipi Revan.
Cup.....:*
Revan langsung memegang pipi bekas kecupan Andini, dia terbengong dan jantungnya berdetak begitu cepatnya seperti akan copot. Andini pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Yaa ampun Din apa yang udah kamu lakuin. Andini.
"Ma.... maaf Van aku gak sengaja."
"Sebelah lagi katanya mau di cium juga Din." Tunjuk Revan pada pipinya, membuat Andini tersipu malu.
Tak lama hujan pun turun dengan derasnya, Andini dan Revan berlari menuju tangga yang gelap jalan mereka kembali.
Mereka berdua menunggu di sana sampai jam pelajaran terakhir telah usai.
"Masih setengah jam lagi." Ucap Andini saat melihat waktu di jam tangannya.
"Yaudah kita duduk aja dulu." Revan menarik tangan Andini agar duduk di sebelahnya. "Din jauhan dikit duduknya aku takut khilaf." Revan tertawa mencoba kembali menggoda Andini.
"Ihhh kamu Van, terus aja bikin aku malu." Andini memukul pelan lengan Revan.
"Hehe engga-engga Din, sini." Revan merangkul Andini agar lebih mendekat padanya.
Mereka berdua terus ngobrol walaupun terkadang obrolan mereka sama sekali tidak penting. Tapi keduanya sangat menikmati obrolan yang mereka buat di tengah tangga yang gelap dan hujan deras di luar.
Waktu pun telah menunjukan jam pulang, namun hujan masih belum reda. Andini dan Revan masih tetap di dalam tangga gelap itu, menunggu para siswa keluar dari kelas agar mereka bisa kembali da membawa tasnya masing-masing.
Satu jam berlalu semua murid memutuskan untuk menerobos hujan deras itu agar bisa pulang. Ada yang meminta jemputan dan bahkan memesan taksi online.
πΈπΈπΈ
"Gue mau ke kelas Andini mau ngajak dia pulang bareng, kalian duluan aja." Ucap Alex pada kedua sahabatnya itu sambil berlalu meninggalkan mereka.
Langkah Alex telah sampai di kelas Andini namun hanya tinggal beberapa orang saja dan dia tidak melihat keberadaan Andini. Alex berfikir bahwa Andini telah pulang. Tak fikir panjang Alex langsung berlari ke arah parkir tempat dia menyimpan motor gedenya itu.
Alex memakai helm fullfacenya dan menjalankan motornya ke arah rumah Andini. Tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya, dia hanya memikirkan Andini masih di bus dan dia bisa sampai di rumahnya sebelum Andini sampai.
15 menit yang Alex butuhkan untuk sampai di rumah Andini. Hujan masih turun dengan cukup deras. Alex mencoba bertanya pada satpam rumah Andini, bertanya kepulangan Andini dan ternyata benar Andini belum sampai. Alex menungguinya di depan gerbang dengan hujan yang tak juga reda, karena satpam rumah Andini tidak memperbolehkan Alex menunggu di dalam.
πΈπΈπΈ
Setelah merasa cukup lama menunggu akhirnya Revan dan Andini memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Hujan masih cukup deras, tapi hampir semua siswa sudah pulang hanya tersisa beberapa saja yang menunggu kemungkinan hujan reda.
Setelah mengambil tas, Andini dan Revan sepakat untuk pulang dengan seragam yang basah kuyup karena kehujanan.
Sepanjang jalan menuju halte sekolah Revan melindungi kepala Andini dengan tasnya. Andini merasa tersanjung dengan perlakuan Revan. Hal kecil seperti itu bisa jadi berarti besar bagi insan yang sedang mencoba mengalirkan perasaan cintanya.
Sampai mereka duduk di dalam bus pun Andini masih mendapatkan perlakuan manis dari Revan. Revan mencoba menghangatkan tangan Andini dengan menggosok-gosokan tangannya kemudian ia tempelkan pada tangan Andini dan pada pipinya.
Andini melihat Revan begitu dekat di depan matanya. Tetesan-tetesan air hujan dari rambutnya mengalir pada wajah Revan. Revan tampan sekali, fikir Andini yang kini melihat Revan bukan karena Revan anak baru di sekolahnya namun karena Revan telah membuat halaman baru di hatinya yang lebih berwarna.
Bersambung.... :)
Terimakasih readers ππΈ
Jangan lupa pencet ππ biar aku semangat updatenya π