Come & Hug Me

Come & Hug Me
< PERPUSTAKAAN >



🌸🌸🌸


Tiiittt..... tiiittt...... tiiiiittt...... ttiiiiitttt.......


Andini yang baru saja akan terlelap dalam tidurnya, terbangun oleh suara alarm dari ponselnya.


"Rupanya aku ketiduran.." Andini langsung bangun dan melihat seragamnya ternyata masih rapi. "Kayanya kali ini aku selamat dari mimpi mantap-mantap itu lagi. Apa karena aku belum lama tidur. Ahh... sudahlah lebih baik ke kelas."


Andini pun bergegas dan kembali ke kelasnya.


#Sementara di kelas


Andini kok masih belum kembali sih, apa dis belum juga selesai dengan urusannya. Urusan apa emangnya. Aku mulai khawatir, gimana kalo dia sedang mimpi mantap-mantap lagi terus ketahuannya sama orang lain...... Revan.


Belum lama Revan mengkhawatirkan tentang Andini yang belum juga kembali padahal sebentar lagi jam pelajaran kedua akan dimulai. Dari pintu terlihat Andini masuk kelas. Revan pun tenang dan bernafas lega.


Akhirnya istirahat makan siang pun tiba, setelah semua siswa mengantuk dan bosan. Belajar sejarah memang membuat waktu seolah berputar lama ke belakang dan lama untuk kembali ke masa sekarang.


#Sama seperti kita, jika terus terpacu pada masa lalu, masa sekarang tidak akan bisa kita nikmati dan masa depan akan jauh untuk di jangkau#


Tapi belajar sejarah perlu, agar kita bisa lebih baik lagi dari masa lalu, agar kesalahan tak terulang, agar menghargai dan mengikhlaskan yang sudah terjadi untuk menjadi pridadi yang lebih baik lagi.


Semua siswa di kelas itu sudah keluar untuk makan siang. Sementara Andini masih sibuk membereskan buku pelajarannya.


Andini sangat menyadari sikap Revan yang sedari tadi seperti segan untuk memulai percakapan.


Apa aku tadi terlalu kasar ya pada dia. Gak seperti biasanya dia diem gitu. Biasanya selalu bawel meski di cuekin jungkir balik juga. Andini.


"Jadi kamu mau aku anter keliling kemana hmmm?" Andini membuka pembicaran setelah lama keheningan diantara mereka.


"Wahh..... bener nih?" Tumben. Apa kamu merasa bersalah ya tadi tapi gengsi buat minta maaf. Revan tersenyum. Aku gak apa-apa kali, Din cuma gak mau bikin mood kamu lebih kacau aja. "Emm.... Aku pengen tahu perpusatakaan, sekalian mau lihat-lihat buku aja, siapa tahu ada yang cocok ya aku bawa pulang."


"Kamu udah punya kartu perpusnya belum? Kalau kamu belum punya mana bisa kamu minjem buku. Berarti kamu itu masih dinyatakan ilegal belum di legalkan." Andini tersenyum sendiri.


"Kamu bisa ngelucu juga ya, Din." Revan pun ikut tersenyum. Aku tahu sebenernya kamu itu cewek yang ceria cuma aku belum tahu alasan kamu cuek dan dingin sama orang lain ya termasuk aku juga. "Aku kan baru 2 hari di sekolah ini, aku pinjem atas nama kamu aja, pake kartu punya kamu. Kamu bawa kan?" Revan memastikan.


"Bentar..." Andini membuka tasnya dan mencari kartu perpustakaan miliknya.


"Eh.. gak mau makan siang dulu?" Cegah Revan pada Andini yang sudah beranjak.


"Engga ahh aku males ke kantin, kalo kamu laper kamu aja sana. Biar aku nunggu disini. Tapi jangan lama-lama juga." Kata Andini yang kini kembali duduk.


"Aku juga engga ahh, kalo kamu gak mau. Aku kan murid baru gak ada temen, gak asik juga kan makan sendirian." Revan beranjak dan mengajak Andini untuk langsung ke perpustakaan.


Andini dan Revan keluar dari kelas dan berjalan berdampingan. Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan penting diantara mereka. Hanya gurauan-gurauan Revan yang membuat Andini sesekali tersenyum.


Kini mereka sampai di perpustakaan sekolah. Andini teringat terakhir kali dia menginjakan kaki di perpustakaan adalah kenangannya bersama Alex. Andini mencoba bersikap biasa saja walau dia sendiri merasakan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Namun sebisa mungkin Andini bersikap tenang seolah tidak ada apa-apa.


"Cepet ya nyari buku nya, kalo udah ketemu buku yang kamu cari kita langsung kembali ke kelas. Aku tunggu di kursi sana." Andini menunjuk kursi yang ada di dekat jendela.


"Hmmm... oke siap." Padahal aku maunya ngobrol, Din ko jadi gini. Revan.


Andini langsung berjalan ke kursi tempat biasa ia belajar dan menghabiskan waktu di perpustakaan bersama Alex. Dia masih bisa mengingat Alex yang begitu berusaha agar dia mau memperhatikan Alex yang mengajarinya. Tapi Andini selalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Dia selalu ingin melihat langit biru. Seperti saat ini langit biru indah namun tak berawan.


Akhirnya Andini memutuskan untuk membantu Revan.


"Buku yang kamu cari buku apa sih? Aku bantu biar cepet."


Sebenarnya Revan pun bingung buka apa yang dia cari. Karena tujuannya hanya ingin bersama dan mengobrol banyak dengan Andini.


"Emmm...." Berfikir "Pokonya kaya buku tentang motivasi-motivasi gitu aja." Revan menjawab sekenanya yang terlintas di benaknya saja.


"Ohh.... yaudah biar cepet kamu cari buku di rak itu dan aku cari di rak yang ini." Andini menaiki tangga khusus untuk membawa buku-buku yang ada di rak atas.


Yah kalo gini ceritanya kita gak akan bisa ngobrol. Revan.


Mereka berdua sama-sama sibuk mencari. Kemudian Andini melihat Vivian yang baru saja datang. Hasrat untuk menjahili Vivian kembali muncul. Padahal sudah lama Andini tidak pernah meladeni Vivian. Tapi semenjak ada Revan dia bersemangat untuk mengerjai Vivian.


Andini sedang berfikir keras harus bagaimana lagi untuk menjahili Vivian. Sewaktu dia berfikir, dia seolah lupa kalau dia sedang diatas tangga. Andini dengan tak sadar melangkah mundur dari pijakannya dan hilang keseimbangan.


"Ehh.... eh..... Van....." Andini hampir saja terjatuh, namun Revan langsung menahan oleh kedua tangannya. Sehingga sekarang mereka saling bertatapan.



Vivian yang sedang lewat tak sengaja melihat mereka dengan posisi seperti itu. Vivian kesal melihat mereka berdua dan langsung menghampirinya. Dan kehadiran Vivian bahkan tak di sadari, mereka masih saja tak bergerak di posisi itu.


"Ehemmmm.... ehemmmm...." Vivian memposisikan tangannya seperti orang yang sedang batuk.


Revan dan Andini terkejut dan langsung berdiri. Andini yang melihat Vivian langsung saja menjalankan misinya :)


"Untung ada kamu, Van. Makasih yaa. Sepertinya Tuhan menghadirkan kamu untuk menjaga aku yahh." Mata Andini sambil melirik ke arah Vivian.


Hahh.... apa yang di barusan omongin. Din, coba kamu bicara sekali lagi. Revan.


Revan yang menganggap serius ucapan Andini itu seolah bertekad pada dirinya bahwa dia akan selalu ada disamping Andini seperti yang Andini maksud tadi. Padahal dia tak tahu Andini hanya ingin bermaksud untuk mengerjai Vivian saja. Andini pun tak terfikir bahwa yang di katakan akan dianggap serius oleh Revan.


"Ehemmm...." Vivian kembali berdehem karena merasa kehadirannya tidak di anggap oleh Andini dan Revan.


"Ehh.. ada orang yaa maaf kita berdua terlalu asik berdua sampe gak sadar ada orang ketiga." Andini tersenyum sinis. "


Hayo loe hayo panas kan. Ayo cepet keluarin kebawelan loe di depan Revan. Ayo cepet tunjukin muka kepiting Rebus itu Vivian. Ayo cepet marah. Andini.


Vivian mencoba tenang agar tidak terpancing emosi, karena dia tahu Andini menyadari bahwa dirinya menyukai Revan dan berusaha untuk membuat dirinya menjauh dari Revan.


Oke tenang Vi tarik nafas. Dia sengaja mancing-mancing supaya aku emosi. Vivian.


Bersambung.... :)


#Duh kayanya Andini kembali jahil ya, apa dia akan kembali ke sifatnya yang ceria seperti dulu? Apa dia juga akan kembali pada Alex? 😁


Terimakasih readers 😻🌸


Jangan lupa pencet πŸ‘πŸ‘