Come & Hug Me

Come & Hug Me
< KEMBALINYA ANDINI >



"Aku emang selalu cantik kan, Bi." Andini tertawa dan segera menyelesaikan sarapannya.


Bi Inah mengangguk dan tersenyum, ia seolah merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh putri tuannya itu.


"Bi aku berangkat dulu ya, bye." Andini melangkahkan kaki dengan begitu senang dan mood yang sangat baik.


"Iya hati-hati di jalan, Non."


Andini berjalan melewati jalanan yang selalu ia lewati seperti biasa. Namun entah mengapa hari ini semangatnya kian menggebu. Ia seperti terlahir kembali dengan semangat baru yang dua bulan ini telah mati.


Di sepanjang perjalanan Andini memikirkan toko roti milik ibunya Revan. Ia menimbang-nimbang, apakah perlu pagi ini mampir dulu sebentar atau ia langsung saja ke sekolah. Namun disisi lain ia telah berjanji kepada ibu dari temannya itu untuk sering mampir.


Kalau pun pagi ini aku tak mampir dulu, mungkin ibunya Revan akan memaklumi, aku kan harus sekolah dulu. Ahh tak apa lah, mampirnya pulang sekolah aja. Andini.


Tanpa disadari langkah Andini hampir melewati toko milik ibunya Revan. Revan menyadari Andini yang berjalan dengan fikiran bingung seperti menimbang-nimbang sesuatu.


"Hey, Din."


Eh apa bener dia Andini... Wah iya bener dia nengok. Penampilan Andini tampak beda dari biasanya. Tambah manis tambah cantik. Revan.


Langkah Andini terhenti oleh teriakan yang menyebut namanya. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing lagi ia dengar.


Andini melihat Revan yang sedang melambaikan tangan padanya. Dia pun langsung menghampiri Revan.


"Kamu kok disini? Ngapain? Engga sekolah?"


"Aku kan udah bilang sebelum aku...."


"Iya iya sebelum kamu berangkat dan pulang sekolah kamu bantu ibu kamu dulu. Iya?"


Revan tersenyum sambil kembali meneruskan pekerjaannya.


"Mau aku bantuin?"


Hah apa? Aku gak salah denger Andini bilang seperti itu tadi. Revan.


"Udah gak apa-apa Din, lagian udah beres. Tugas aku cuma bantu rapihin meja dan kursi yang ada diluar aja, di dalem juga beres kayanya."


Andini pun melihat ke dalam dari kaca luar, memang terlihat sudah bersih dan rapih.


"Mau berangkat sekarang?" Andini mengangguk. "Tunggu aku pamitan dulu sama ibu yah." Revan berjalan ke dalam toko.


"Aku ikut." Revan menoleh dan mengangguk, Andini mengikuti langkah Revan ke dalam toko.


Emmm... wanginya enak banget, aku bisa tebak roti yang sekarang sedang di open itu pasti rasa stroberi. Aaaaaa... aku mau. Andini.


Di dalam tampak ibu Revan yang sedang sibuk membuat adonan roti dengan di temani 2 pegawainya.


"Bu lihat nih ada tamu datang sepagi ini." Ibu Revan melihat kehadiran Revan dengan Andini.


"Selamat pagi, bu." Andini tersenyum. "Wah, Nak Andini cantik sekali pagi ini terlihat segar dan ceria yah." Andini tersipu malu.


Ibu juga menyadarinya yah, Andini memang tampak berbeda hari ini. Revan.


"Kalo aku gimana, bu?" Revan membusungkan dadanya dan merapihkan rambutnya bergaya so cool.


"Ibu bosan melihat muka tampanmu itu." Ibu Revan tertawa geli dengan omongannya sendiri.


"Ibu bilang bosan tapi masih bilang tampan." Revan sedikit kesal.


Andini hanya tertawa kecil melihat ibu dan anak yang sedang bercanda, kembali mengingatkannya pada kehangatan keluarganya dahulu.


"Yaudah bu, kita pami berangkat dulu ya." Andini tersenyum dan berbalik menyusul Revan.


Revan dan Andini berjalan menuju halte. Baru saja mereka akan duduk di kursi yang ada di halte, bus mereka sudah datang.


Ketika masuk tampak bus yang mereka tumpangi telah penuh, hanya menyisakan 1 tempat duduk.


Revan menyuruh Andini duduk sedangkan dia berdiri dan memegang pegangan yang ada di atas dengan tangan kirinya.


Belum ada percakapan lagi antara mereka karena kondisi bus yang penuh membuat susah untuk melakukan obrolan.


Di tengah perjalanan bus mengerem secara mendadak, karena ada kecelakaan yang membuat bus berhenti.


Bus yang berhenti mendadak itu membuat Andini tidak bisa menahan tubuhnya yang hampir jatuh. Untung di samping Andini ada Revan yang langsung menahannya sehingga kini kedua mata mereka saling bertatapan.


Dua pasang mata yang bertatapan saling mengirim sinyal satu sama lain yang membuat desiran di hati mereka.


Revan mengartikan desiran itu sebagai penguat hatinya bahwa dia benar-benar telah jatuh hati pada gadis yang sekarang ada dalam dekapannya.


Sedangkan Andini mengartikan desiran itu hanya karena dia terkejut karena bus berhenti mendadak dan dia hampir terjatuh.


"Kamu manis sekali, Din."


Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Revan, pelan namun terdengar jelas oleh Andini.


"Hahhh!!" Andini memastikan yang Revan katakan.


"Eh!? Tidak-tidak. Aduh, Din kalo macet gini kita bisa telat loh dateng ke sekolahnya." Revan mencoba mengalihkan pembicaraan.


Andini mengangkat bahunya. "Ya terus mau gimana lagi?"


"Gimana kalo kita jalan aja, sekolah juga gak terlalu jauh lagi."


Andini berfikir sebentar lalu mengannguk pertanda setuju dengan usulan Revan.


Andini dan Revan pun keluar keluar dari bus tersebut. Mereka berdua berjalan berdampingan.


Obrolan sepanjang jalan menuju sekolah kini terasa menyenangkan terutama untuk Revan. Revan tak merasa seperti wartawan yang dulu ia rasakan, yang harus terus-menerus bertanya tanpa di tanya kembali. Mendapat jawaban pun terkadang tak memberikan kepuasan atas pertanyaan yang ia berikan.


Namun sekarang berbeda, Andini dengan penampilan yang berbeda dengan wajah cerianya itu seperti menyuntikan energi pada orang-orang di sekelilingnya. Terutama pada Revan.


Obrolan yang tanpa ada jeda diantara mereka, membuat waktu berputar sangat cepat, singkat dan tak terasa mereka telah sampai di gerbang sekolah.


Mereka berdua berjalan memasuki lingkungan sekolah. Tampak semua pasang mata tertuju pada mereka. Para siswi yang selalu terpesona dan kagum akan ketampanan Revan si murid baru.


"Anak baru itu pesonannya mengalahkan A3 yah."


"Tapi lihat-lihat dia selalu berjalan sama cewe aneh itu."


"Tunggu-tunggu, Andini? seperti Andini yang dulu dengan senyuman yang tak pernah pudar di bibirnya itu."


"Iya benar, Andini kembali."


Dan para siswa yang terkejut melihat Andini yang sekarang, seperti musim salju yang dingin kini kembali hangat karena sang mentari telah kembali menyinari bumi, menyinari SMA Star Vision seperti dulu.


Andini tak henti tersenyum pada semua temannya, sama seperti dulu. Selalu menebar senyum dan keceriaan. Semua siswa dan siswi hanya terbengong heran.


"Eh, woy itu Andini kan?"


"Beneran kan tadi, Andini senyum sama gue."


"Lehernya..... Andini. Aku padamu."


"Andini telah kembali, apa gue tadi malam mimpi ena-ena yaa sampe lihat Andini senyum lagi seceria itu."


"Rasa kangen gue sama Andini yang dulu, kini telah sedikit terobati."


Andini dan Revan terus berjalan melewati semua tatapan-tatapan itu dengan senyuman.


Bersambung...... :)


Terimakasih readers 😍🌸


Jangan lupa pencet 👍👍 biar aku semangat updatenya 😍