Come & Hug Me

Come & Hug Me
< MINE >



Bibir mereka saling mengecup satu sama lain, menimbulkan bunyi khas orang berciuman pada umumnya. Ciuman pertama bagi mereka berdua cukup lama dan mereka seperti sudah ahli walau sama-sama yang pertama mereka lakukan.


Ponsel Andini kembali berbunyi, getaran yang keras itu membuat Revan dan Andini menghentikan ciumannya. Mereka saling bertatapan masih dengan posisi yang sama. Revan tersenyum lalu mengecup lembut kening Andini.


Revan bangkit, dia langsung meraih tas milik Andini yang ada di ujung ranjangnya. Dia ingin melihat siapa yang sedari tadi menelpon Andini. Andini pun ikut bangkit, dia hanya memperhatikan Revan.


"Sudah aku duga pasti dia."


Andini mendekat, melihat nama Alex yang ada dalam layar ponselnya. "Udah diemin aja jangan di angkat."


"Kamu sering telponan sama dia?" Tanya Revan sambil mengacungkan ponsel Andini, berniat ingin memperlihatkan nama Alex yang ada di layar ponsel itu.


"Engga, baru kemaren dia menghubungi aku lagi. Aku juga gak tahu kenapa dia bisa tahu nomor baruku." Ucap Andini menjelaskan yang sebenarnya pada Revan.


"Kamu simpan nomor dia tapi engga simpan nomor aku." Revan mengetikan nomornya di ponsel Andini.


"Ya kan aku gak tahu lagian kamu gak minta, masa iya cewek minta duluan." Ucap Andini membela diri.


Revan menamai dirinya di ponsel Andini dengan nama "Mineโค" dan menelpon nomornya dengan ponsel Andini agar dia juga tahu nomor Andini. Lalu Revan mengambil ponselnya yang ada di meja samping ranjangnya. Dia pun menamai Andini dengan nama "Mineโค".


Andini hanya memperhatikan gerak-gerik Revan. Dia bisa menebak apa yang di lakukan Revan di hadapannya itu. Revan mengembalikan ponsel milik Andini sambil tersenyum.


Andini mengecek ponselnya itu, melihat apa yang di lalukan Revan pada ponselnya. Tak lama ponselnya bergetar, "Mineโค"? Andini menatap Revan yang sedang tersenyum.


Revan mendekat, "You are mine." Ucap Revan sambil memegang dagu Andini.


Degh....


Apa ini, apa aku mau di cium lagi? Andini.


"Ehh ini udah siang loh kamu harus makan sianh dulu terus minum obat kamu ya." Andini bergerak kikuk menjauhi Revan dan segera turun dari ranjangnya. "Aku ke bawah ngambil dulu makan buat kamu." Revan terseyum melihat Andini yang kini telah meninggalkan kamarnya itu.


Andini berjalan perlahan menuruni tangga, dia terus tersenyum sambil memegang bibirnya dan kembali mengingat ciumannya bersama Revan tadi.


Aiishhhh kenapa tadi aku bisa salah tingkah gitu sih... Aku harus bisa bersikap biasa aja. Andini.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Gimana? Masih belum diangkat juga?" Tanya Arfan pada Alex yang sedari tadi mencoba menghubungi Andini.


Alex menggelengkan kepalanya, fikiranya terus di ganggu oleh rasa khawatirnya terhadap Andini. "Apa gue langsung ke rumahnya Andini aja ya."


"Iya loe pastiin aja ke rumahnya, biar gue sama Arfan yang handle urusan ekskul." Ucap Alvin yang menatap Arfan meminta persetujuan lalu Arfan pun mengangguk.


Alex pun bergegas ke parkiran tempat ia memarkirkan motornya. Alex membawa motornya dengan cepat.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Nih kamu minum obatnya dulu." Andini memberikan obat Revan. "Bentar ya aku simpen dulu ini ke bawah." Andini membawa gelas dan piring kotor ke dapur.


Aku harus telpon dulu Pak Anto, Alex pasti bakalan nunggu aku di depan rumah kalo tahu aku belum pulang. Andini.


โ˜Žโ˜Žโ˜Ž


Andini : Pak Anto tolong yah kalo ada Alex dateng ke rumah nanyain aku, bilang aja aku masih belum pulang. Mungkin akan menginap samalam lagi di rumah saudaraku. Tolong yah Pak.


Pak Anto : Iya siap laksanakan, Non.


Andini menutup telponnya dan dia kembali ke kamar Revan.


"Van, ibu kamu suka pulang jam berapa?" Tanya Andini sambil duduk di sebelah Revan.


"Biasanya sih jam 9 malem, Din. Kamu mau pulang sekarang?" Tanya Revan sambil bersandar di bahu Andini seperti tak ingin Andini pergi meninggalkannya.


"Kamu gak apa-apa pulang malem?" Revan khawatir. "Apa kamu mau nginep aja disini biar besok kita berangkat ke sekolah bareng."


"Emm... gak tahu deh gimana nanti. Lagian kalo pulang juga masih rame kok gak sepi. Kamu tidur lagi kan udah minum obat."


"Ah tidur mulu." Ucap Revan manja. "Tapi aku mau tidurnya gini yah." Revan memeluk Andini dari samping dan kepalanya tepat menempel di dada Andini.


Andini merasakan sesuatu yang entah apa itu, tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Andini membalas pelukan Revan sambil mengelus punggung dan kepalanya. "Tidur yang nyenyak yah." Andini pun ikut tertidur.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Alex kini telah sampai di depan rumah Andini, ia menghampiri pos satpam dari luar rumahnya.


"Pak, Andininya ada?" Tanya Alex sedikit berteriak.


Pak Anto mendekat, "Belum pulang, katanya masih mau menginap semalam lagi di rumah saudaranya."


Alex terdiam, "Jadi dia juga tadi gak sekolah ya?"


Pak Anto berfikir sejenak karena dia tahu putri tuannya itu tadi pagi berangkat sekolah terburu-buru dan di bonceng oleh seorang laki-laki. Tapi karena tak ingin membuat kesalahan yang bisa membuat Non-nya marah maka Pak Anto hanya mengangguk.


Alex dengan langkah lesu berjalan kembali ke motornya, dia pun pulang dengan perasaan yang tak karuan karena masih belum mendapat kabar dari Andini seharian ini.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Andini baru keluar dari kamar mandi yang ada di kamsanya itu, dia mendengar ada orang yang membuka pintu pagar rumah Revan.


"Van, kayanya ada yang buka pintu pagar kamu deh. Aku cek ke bawah dulu yah."


"Eh jangan-jangan, gimana kalo orang jahat. Mending kunci kamar aku terus sini kamu aku peluk." Revan tersenyum sambil tangannya di buka lebar.


"Ihh masih aja becanda! Apa itu ibu kamu yah, pulang cepet." Andini menduga-duga.


"Masa iya sih baru jam 7 kok." Ucap Revan menunjuk jam di meja dekat ranjangnya.


"Van.... Van....." Suara wanita terdengar memanggil nama Revan, langkah kakinya pun terdengar mendekati kamar Revan.


Ceklek...


Pintu terbuka, "Loh Nak Andini belum pulang yah." Ibu Revan mendekat, melihat Revan yang sedang duduk bersama Andini.


"Loh ibu udah pulang?" Tanya Revan.


"Eh iya bu, takutnya Revan engga mium obat kalo dia engga ada yang nemenim jadi aku temenin aja sampe ibu pulang." Ucap Andini.


"Ehh makasih yah, Din. Tahu gitu ibu gak nutup toko lebih awal." Ibu Revan tertawa kecil.


"Kalo gitu aku pulang ya bu mumpung masih jam 7, masih rame." Andini meraih tasnya.


"Nginep aja Din. Ya kan bu?" Revan meminta persetujuan ibunya.


Ibunya mengangguk, "Iya Din nginep aja yah udah malem lagian gak baik anak perempuan pulang sendirian."


Andini berfikir sebentar.


Bersambung... :)


Terimakasih readers ๐Ÿ˜๐ŸŒธ


Jangan lupa pencet ๐Ÿ‘๐Ÿ’– biar aki semangat updatenya ๐Ÿ˜


Bantu vote juga yaa ๐Ÿ˜ป